Protected by Copyscape Plagiarism Scanner

Monday, 26 September 2011

Calista Kaz "Penyihir Naga Arkhataya" (Chapter 11)

11. BENTENG SANDORA

Pagi ini aku bersiap siap untuk pergi ke Agara menjemput Tristan. Brisa yang belum pulih benar tidak dapat menemaniku namun kehadiran Ness di depan pintu rumah Brisa membuatku sedikit terkejut bercampur senang.
”Utusan Prechia memintaku untuk mengawalmu ke Agara. Prechia juga akan berada disana saat pembebasan Tristan nanti,” ucap Ness menjelaskan kedatangannya pagi itu.
Kutatap Ness ragu.  ”Apakah ada hal penting yang akan dibicarakan Prechia dengan Tristan?”
”Entahlah. Yang kutahu aku hanya diminta untuk mengawalmu,” Ness menatap lurus kearahku.
Ketika kami tiba di Agara, salah seorang penjaga telah menunggu kedatangan kami. Ia mengantar kami ke sebuah ruangan yang cukup nyaman dan meminta kami untuk menunggu. Dan ternyata Prechia telah berada disana terlebih dahulu bersama dengan seorang wanita separuh baya, berambut hitam panjang. Ia memiliki sepasang mata berwarna ungu gelap dan memiliki garis wajah yang sama yang dimiliki Tristan.
Ness tersenyum riang. ”Prechia benar benar brillian,” ujarnya puas.
Kulirik Ness sedikit bingung. ”Apa maksudmu?”
”Kau lihat wanita yang berdiri disamping Prechia,” bisiknya disampingku.
Kuanggukkan kepala masih dalam keadaan bingung.
”Dia adalah Shenai Readick. Ibunya Tristan,” nada kemenangan terdengar samar dari suara lembut Ness.
Aku tercekat begitu mendegar keterangan dari Ness. Seketika itu juga dadaku berdebar kencang.
Prechia tersenyum lembut kearahku. Ia mengenakan gaun putih terusan dengan jubah panjang berwarna keemasan. Terlihat anggun dan berwibawa.
”Hallo Calista. Senang melihatmu lagi nak,” sapa Prechia ramah.
Kuanggukkan kepala dengan hormat.
Sepasang mata coklat gelap Prechia melayangkan pandangan kearah wanita yang tengah berdiri disampingnya dengan tatapan mata ungunya yang dalam menyorot kearahku. ”Perkenalkan. Ini Shenai Readick. Ibunya Tristan.”
”Senang bertemu dengan anda nyonya Readick,” sapaku canggung seraya menganggukkan kepala.
”Seharusnya kau tidak membawanya kembali,” ujar Shenai sinis dengan tatapan tajam kearahku.
Kutatap Shenai dengan gugup.
”Anak itu tidak akan mau merubah pendiriannya,” kali ini nada suara Shenai penuh penekanan.
”Tenanglah sedikit Shenai. Beri kesempatan pada nona Kaz untuk membuktikan ucapannya,” ingat Prechia lembut.
”Aku tahu Prechia. Aku hanya ingin anak ini mengerti kalau ia telah melakukan suatu kesalahan besar,” nada suaranya mulai meninggi dan sedikit emosi.
Seketika itu juga kepercayaan diriku yang kubangun pagi ini hancur berantakan.
Kugelengkan kepalaku kuat kuat. ”Tidak. Itu tidak benar. Aku membawanya kembali dengan kesadaran penuh dan keyakinan jika ia akan berubah,” lirikku pada Prechia, menolak pendapat Shenai terhadap anaknya sendiri.
Shenai tersenyum sinis. ”Kita lihat saja nanti,” sahutnya seraya menatap kesal kearahku.
Seorang penjaga Agara menghampiri Prechia dan membisikkan sesuatu. Prechia menganggukkan kepalanya perlahan. Laki laki itu mengangguk hormat dan berlalu dari hadapan kami. Tak berapa lama ia telah kembali bersama tiga orang penjaga yang mengawal Tristan dengan sangat ketat.
Wajah beku Tristan terlihat sangat pucat dan nampak lelah.
”Kau bisa meninggalkan tuan Readick bersama kami,” pinta Prechia pada para penjaga yang segera berlalu dan menutup pintu ruangan.
Napas Shenai memburu. Airmukanya terlihat dingin. Ia menghampiri Tristan dan menamparnya sekuat tenaga.
Aku memekik pelan.
Dengan cepat Prechia menangkap tangan Shenai untuk menahannya melakukan hal yang lebih buruk lagi pada Tristan. ”Kurasa sudah cukup. Bagaimanapun juga dia masih anakmu,” perintah Prechia.
Airmuka Shenai sedikit berubah dan terlihat resah. ”Kau tak pantas mendapatkan pengampunan dari siapapun,” serunya masih terbawa emosi dengan amarah yang tertuju pada Tristan.
”Kendalikan dirimu. Masalah apapun itu, kalian bisa menyelesaikannya nanti dirumah,” Prechia kembali mengingatkan Shenai.
Shenai mengatur napasnya yang memburu namun tetap tak mau melepaskan tatapannya dari Tristan.
Sementara Tristan hanya menatap ibunya itu dengan tegar.
Prechia Gold mengalihkan pandangannya pada Tristan yang hanya diam mematung. ”Mulai hari ini dan seterusnya kau akan tinggal dan berada dalam pengawasan penuh ibumu didampingi beberapa orang ksatria Crystal yang telah kupilih.”
Kutatap wajah Tristan dengan perasaan was was. Airmukanya tetap sama, dingin dan membeku.
”Kau akan melakukan hal hal baik untuk menebus kesalahanmu. Kembali mengajar sihir di Sandora seperti dulu dan Calista akan menjadi salah satu muridmu. Satu kesalahan saja maka aku tak akan mengampunimu. Jadi kuharap kau mengerti dan tidak mencoba melakukan hal bodoh dengan mencoba melarikan diri dari lembah ini,” sambung Prechia bernada penekanan.
”Aku mengerti,” sahut Tristan dingin.
Prechia mengalihkan pandangannya kearahku. ”Jangan pernah mencoba melarikan diri dari lembah ini bersamanya. Karena jika kau melakukan hal itu, maka akan kunyatakan kalau kau adalah musuh dari lembah Crystal dan aku takkan memberimu kesempatan sekecil apapun,” senyumnya bijak.
Kuanggukkan kepala dengan ragu.
”Baiklah. Kurasa untuk saat ini cukup. Semuanya kuserahkan padamu Shenai. Dan Ness tolong pastikan jika Titus dan para pengajar lainnya di Sandora mengetahui semua ini.”
Shenai dan Ness mengangguk bersamaan.
”Bagus,” ucap Prechia puas. ”Sepertinya aku harus kembali ke kastil untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkan Orion untukku,” desah Prechia sambil menggelengkan kepalanya kemudian segera berlalu meninggalkan ruangan.
Shenai menatap putra semata wayangnya itu dengan getir. ”Jangan membuat kesalahan lagi atau aku sendiri yang akan mengejarmu dan menghukummu dengan kedua tanganku ini,” ujarnya dingin.
Sepasang mata Tristan menyipit kesal namun tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Kutatap Shenai Readick dengan gugup. ”Nyonya Readick. Bisakah aku berbicara berdua saja dengan Tristan.”
Shenai hanya menatapku dengan pandangan sinis dan berlalu dari hadapanku. Kuhampiri Tristan yang tak bergeming sedikit pun dari tempatnya berdiri.
”Aku akan selalu berada disisimu Tristan,” ucapku dengan perasaan bersalah seraya menggenggam kedua tangannya yang dingin.
Tristan tersenyum tipis. ”Jangan terlalu mencemaskan aku. Aku akan baik baik saja. Aku hanya tengah berpikir, seharusnya aku bersikap lebih baik padamu mengingat kau telah banyak membantuku melalui semua ini.”
”Aku melakukannya karena aku menyayangimu,” desahku haru.
Wajah tampan yang membeku itu mulai sedikit mencair. ”Bila aku tidak melihat kesungguhan di wajahmu itu. Kurasa kau hanya berusaha merayuku saja,” bisiknya mencoba menghiburku.
Wajahku terasa hangat karena ucapannya namun aku berusaha menepisnya dengan bersikap wajar.
Tristan melirik kearah Ness yang kini tengah berbicara dengan Shenai. ”Apakah dia terus mengekorimu selama aku ditahan,” tanyanya sinis.
”Ness hanya melakukan tugasnya,” ujarku mencoba meluruskan.
”Tentu saja,” sahut Tristan sinis.
Kutatap Tristan lembut. ”Mengapa harus memikirkan hal yang tak penting. Besok kita akan memulai hari bersama.”
Tristan mempererat genggaman tangan kami. ”Kau benar sayang,” desahnya pelan.
”Apakah kalian sudah selesai bicara,” sela Shenai kesal dengan nada tinggi.
”Ya. Terimakasih nyonya Readick,” sahutku sopan seraya melepaskan kedua tanganku dari genggaman Tristan dengan enggan.
Shenai tak memperdulikan ucapanku. Sebaliknya ia malah mengalihkan pandangannya kearah Ness. ”Sampai nanti Ferin.”
Ness menganguk hormat pada Shenai. Sekilas Tristan melirikku dan melemparkan senyum datar kearahku. Sebelum berlalu mengikuti langkah langkah ibunya.
Kupejamkan kedua mataku sesaat dan menghembuskan napas kelegaan. Ketika kubuka sepasang mata lelah ini, Ness menatapku dalam.
Malam itu hujan turun cukup lebat. Suara petir menyambar dan menggetarkan jendela kamar. Untuk beberapa saat aku tak bisa memejamkan kedua mataku. Pikiranku melayang membayangkan pagi yang akan kumulai bersama Tristan di lembah Crystal. Ada rasa resah bercampur bahagia. Aku hanya berharap mereka akan menerima kehadiranku dan Tristan di Sandora.
Aku bangun pagi pagi sekali. Brisa telah menungguku diruang makan. Wajahnya terlihat cerah dan bersemangat. Ada sedikit kelegaan dihatiku karena aku takkan sendirian pergi ke Sandora.
Sandora adalah sebuah bangunan yang dikelilingi benteng batu yang terletak di tepi laut Belma. Brisa menjelaskan padaku jika Sandora, dulunya adalah sebuah benteng pertahanan yang dibangun pada masa kepemimpinan Ghorfinus Anthea untuk mengamati  datangnya ancaman yang berasal dari arah laut Belma yang penuh misteri.
Dan seiring waktu berjalan benteng Sandora akhirnya dipergunakan sebagai tempat belajar bagi para penyihir penyihir muda untuk memperdalam sihir mereka. Tidak hanya itu, Ghorfinus juga menyambut hangat para psychic dan illusionist muda yang berasal dari negri lain untuk belajar dan memperdalam kemampuan mereka dalam bimbingannya.
Dua orang penjaga tersenyum kearah Brisa dan berbasa basi. Ketika mereka menatap kearahku, rasa keingintahuan yang besar nampak terlihat jelas di wajah penasaran mereka. Namun aku berusaha mengabaikan tatapan mereka dan mencoba untuk bersikap wajar.
Di dalam benteng Sandora terlihat beberapa kelompok orang tengah melakukan berbagai kegiatan. Brisa mengalihkan pandangannya kearahku. ”Sekelompok remaja berbaju biru yang tengah duduk dekat pepohonan cemara adalah para psychic yang tengah mendapatkan pengarahan dari Ness dan Darren,” ujar Brisa menjelaskan.
Kualihkan pandangan satu persatu kearah para psychic muda tersebut. Dan tanpa sengaja, kutemui sepasang mata berwarna biru gelap tengah menatapku dengan tajam. Aku dapat merasakan kebencian yang cukup mendalam terlihat dari sinar mata Cleo yang saat ini menyorot tajam kearahku.
Brisa melambaikan tangan kearah Ness yang tengah berbicara. Ness balas mengangguk kearah Brisa tanpa sedikit pun menoleh padaku. Ada sedikit rasa kecewa melihat sikapnya yang acuh itu.
Brisa kembali mengajakku berkeliling dan menunjuk kearah beberapa remaja lainnya yang tengah duduk membentuk lingkaran seraya berpegangan tangan dan memejamkan kedua mata mereka. Mereka mengenakan baju berwarna ungu terang.
”Siapa mereka?” tanyaku penasaran.
”Para illusionist muda yang tengah bermeditasi.”
Keningku berkerut. ”Apakah mereka benar benar dapat melihat masa depan?”
Brisa memutar bola matanya. ”Kudengar begitu. Mereka bahkan dapat memanggil jiwa yang telah tiada. Dan sebagian lagi memiliki keahlian untuk menghipnotis,” terangnya.
Tiba tiba saja aku teringat akan bukit Foresse. Tempat bermukim para illusionist hebat yang pernah kulewati ketika menuju perjalanan ke lembah Crystal.
Brisa menyipitkan matanya dan menatap lurus kearah sosok wanita berambut hitam panjang yang tengah memejamkan kedua matanya. ”Dan wanita yang duduk ditengah mereka itu adalah ...
”Shenai Readick, ibunya Tristan,” sela ku mendahului ucapan Brisa.
Brisa menatapku sedikit terkejut. ”Aku tak tahu jika Tristan telah memperkenalkan ibunya padamu.”
Aku tersenyum kecut. ”Tidak secara resmi. Wanita itu bahkan tidak menyukaiku.”
Seketika itu bibir Brisa sedikit mengerucut.
”Bisakah kita melanjutkan perjalanan ini,” pintaku mencoba mengalihkan pembicaraan seputar Shenai Readick.
Brisa hanya mengerutkan dahi dan tak berkata apa apa.
Kami meneruskan perjalanan dan tiba disebuah pondok yang cukup besar dan teduh karena disekelilingnya ditumbuhi hamparan pakis dan jejeran pohon cemara.
”Ini adalah tempat kami beristirahat dan makan siang setelah berlatih. Beberapa orang yang bekerja di dapur kastil telah ditugaskan oleh Orion untuk menyiapkan makan siang kita. Jadi kau tidak perlu khawatir akan kelaparan selama berada disini.”
Wajahku berseri seri. ”Kuharap mereka menyuguhkan jus plum yang enak disini,” gumamku pelan.
”Tentu saja. Kau tak perlu takut kehabisan karena sebagian penduduk lembah Crystal menanam pohon plum sebagai mata pencaharian mereka.”
Akhirnya ada satu hal yang menyenangkan di tempat ini. Batinku senang.
Kami pun meneruskan perjalanan hingga tiba ditempat sekumpulan remaja seusiaku yang mengenakan baju dan jubah putih.
”Dan kau akan berada dalam kelompok berjubah putih yang tengah diberi pengarahan oleh Titus dan Oggie disana,” tunjuk Brisa kearah Titus yang begitu bersemangat mendemonstrasikan sihirnya di depan sekelompok remaja berjubah putih dihadapan kami yang tengah berdecak kagum.
Lesung pipit Oggie tergambar jelas saat tersenyum kearah kami. Dengan lincah laki laki berperawakan kecil itu berlari menghampiri kami.
”Hey Bris. Kau sudak membaik rupanya,” sapa Oggie riang.
”Seperti yang kau lihat..” sahut Brisa pelan.
”Aku senang kau pulih lebih cepat,” ucapnya tulus. Lalu mengalihkan pandangannya kearahku. ”Kudengar ini hari pertamamu di Sandora?”
Seulas senyum terlukis di wajahku. ”Begitulah. Mohon petunjuknya master Oggie,” gurauku mencoba berbasa basi.
Oggie tertawa keras. ”Kurasa kau salah orang jika menyebutku seperti itu. Karena master nya berada disana,” lirik Oggie kearah Titus yang nampak asik mengajar tanpa memperdulikan kehadiran kami.
”Tristan Readick akan kembali mengajar di Sandora, Ogg.” ujar Brisa seketika.
Dahi Oggie berkerut. ”Ya aku sudah mendengarnya. Menurutku itu sebuah lelucon yang kejam,” hela Oggie.
”Tidak. Kurasa kau salah mengerti. Orion telah mempercayai Prechia Gold untuk menentukan keputusan akan kasus Tristan,” sanggahku menatap Oggie lekat lekat.
Oggie menatapku ragu. ”Aku bisa mengerti perasaanmu Calista. Tapi jika kau dan Readick mengkhianati kepercayaan kami. Aku takkan memafkanmu.”
Kutatap Oggie nanar. ”Aku tahu itu.”
Dari kejauhan sosok Prechia Gold muncul bersama seorang wanita berambut merah dengan perawakan tubuhnya yang tinggi kurus. Sepasang matanya berwarna abu abu terang dan terlihat ramah. Sementara Tristan berjalan dibelakang mereka didampingi oleh dua orang pengawal kastil. Wajah Tristan terlihat jauh lebih segar.
Titus menghentikan arahannya pada para remaja berjubah putih yang langsung membentuk barisan. Kemudian laki laki berwajah sedih itu menghampiri aku, Brisa dan Oggie dengan sedikit tergesa. Prechia Gold menghentikan langkahnya di depan kami. Lalu tersenyum menatap Titus. ”Tristan akan kembali mengajar Titus. Tolong bantu dia dengan jadwal pengajaran hariannya.”
”Tentu Prechia,” angguk Titus sopan.
Kali ini tatapan Prechia beralih padaku. ”Ini Helena Ginka. Helena adalah pengawas benteng Sandora. Datanglah padanya jika kau butuh bantuan Calista.”
Aku mengangguk hormat. ”Senang berkenalan dengan anda nyonya Ginka.”
Helena Ginka tertawa riang. ”Tentu saja sayang. Aku juga senang berkenalan denganmu.”
Aku mengangguk hormat.
”Baiklah. Kalian bisa kembali melanjutkan latihan,” ujar Prechia memberi perintah.
Kami serempak menganggukkan kepala.
Setelah Prechia berlalu bersama dua orang pengawalnya dan Helena. Dengan tak sabar Tristan menghampiriku. Seulas senyum samar terlihat di wajah tampannya yang dingin.
”Aku merindukanmu Calista,” bisiknya lembut.
Meski ada perasaan canggung namun aku berusaha untuk mengabaikan tatapan Brisa yang terlihat tak begitu menyukai pertunjukan yang diperlihatkan Tristan padaku.
”Kau tahu, aku lebih senang jika hanya mengajari kemampuan sihirku padamu. Karena aku baru saja mengetahui alasan licik Prechia yang sengaja memberikan persyaratan itu semata mata kerena ia ingin aku membagi sihirku dengan penyihir penyihir bodoh itu,” lirik Tristan kesal pada sekelompok remaja berjubah putih yang kembali disibukkan dengan rapalan mantra oleh Oggie.
Kutatap Tristan nanar. ”Kurasa kita tidak punya pilihan lagi selain melakukan semua persyaratan perjanjian yang telah dibuat Prechia. Jadi cobalah untuk bekerjasama dengan mereka,” pintaku lembut.
Tristan menatapku gamang untuk sesaat. Lalu menghembuskan napas perlahan. ”Baiklah jika itu yang kau inginkan.”
Sepanjang hari itu terasa berat bagiku. Melakukan hal yang bukan keinginan dari dalam hati adalah sebuah siksaan yang melelahkan. Aku tak pernah bermimpi memiliki kekuatan sihir apalagi untuk memperdalamnya.
Sepekan sudah aku belajar di Sandora. Kemajuanku terlihat sangat pesat dibandingkan murid lain. Materi dasar yang Oggie berikan telah selesai kulampaui. Berkali kali Oggie menepuk pundakku, tak dapat menyembunyikan rasa kekagumannya.
Memang sulit dipercaya jika aku dapat merapal mantra sihir dasar dengan mudah tanpa penghayatan seperti yang lainnya. Pikiran dan suaraku seakan menyatu ketika meneriakkan rapalan kata kata sihir dasar seperti Follones sebuah mantra untuk menjungkalkan atau menjatuhkan lawan atau Avilos, mantra untuk menerbangkan tubuh lawan hingga melayang layang diudara.
Beberapa murid nampak cemburu dan mulai menjauhiku. Apalagi begitu mereka mengetahui kedekatanku dengan Tristan. Orang yang selama ini dianggap pengkhianat di lembah Crystal. Otomatis aku tak memiliki teman. Hanya Brisa dan Oggie yang masih mau bicara padaku.
”Aku bangga padamu sayang,” bisik Tristan pelan ditelingaku saat kami tengah duduk bersandar disebatang anak pohon cemara di sela sela waktu istirahat kami.
Aku hanya termenung seraya menatap Ness Ferin dari tempat duduk kami, tak memperdulikan ucapannya.
”Para pemula itu tidak dapat menandingimu. Mereka hanya membuang waktu saja. Tapi kau benar benar menunjukkan kemampuan sihir yang sebenarnya,” suara Tristan terdengar antusias.
Cleo Maltese kini tengah menjejeri langkah langkah lincah Ness dengan wajah berbinar binar. Sementara Darren Dash terlihat lesu menatap punggung gadis berbadan kekar itu dari belakang.
”Kurasa Otto Cursen ada benarnya. Kau seperti ditakdirkan untuk sesuatu yang besar. Apalagi mengingat roh Obidia sering mendatangimu lewat mimpi,”  sorot mata ungunya mengarah penasaran padaku.
Kulirik Tristan dengan enggan. ”Otto Cursen, salah. Hanya suatu kebetulan saja jika aku dapat menyerap ajaran sihir dasar yang kalian berikan selama seminggu ini.”
Ia menggeleng dan menyorot hangat ketika menatapku. ”Berhentilah menyangkal dan mulai belajar menerima takdirmu sebagai seorang penyihir, Calista,” wajahnya terlihat penuh keseriusan.
Aku tak menanggapi ucapannya. Sebaliknya malah melemparkan pandanganku kearah Ness yang nampak tergesa menghindari Cleo Maltese yang masih berusaha keras menjejeri langkahnya.
Cleo pasti sudah kehilangan kesadarannya. Senyumku samar. Seharusnya ia menyadari jika Ness sengaja menghindarinya. Kurasa seseorang harus memberitahu gadis itu jika Ness Ferin adalah milik putri Quilla.
”Jika kau terus seperti ini dan mengacuhkanku. Sebaiknya aku pulang saja,” hela Tristan dengan wajah kesal.
Aku terkejut dan menatapnya malu malu. ”Maaf. Hari ini aku lelah sekali. Sepertinya pikiranku tidak berada ditempat ini.”
Aku mencoba memberi alasan logis yang dapat diterima olehnya.
Tristan menatapku dalam. ”Aku ingin sekali mengantarmu pulang. Tapi pengawal pribadiku sepertinya telah menunggu,” lirik Tristan kearah Titus yang berdiri di depan kami dengan canggung.
Lelucon Tristan sama sekali tidak membangkitkan keinginanku untuk tertawa. Kulambaikan tangan kearah Titus yang tersenyum kikuk kearahku.
”Sampai besok sayang,” bisik Tristan lembut ditelingaku seraya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Titus. Kupandangi punggung keduanya hingga menghilang dari pandanganku.
Malam itu aku benar benar tak dapat memejamkan mata. Kata kata Tristan sore tadi benar benar membuatku resah. Mengetahui diriku adalah seorang penyihir sudah merupakan suatu beban berat bagiku, ditambah lagi jika memang benar adanya, aku ditakdirkan untuk melakukan sesuatu yang besar dan tidak aku inginkan.
Kuhela napas panjang. Sepertinya aku tetap harus menjalankan perjanjian kami dengan Prechia untuk belajar sihir di benteng Sandora dan segera mengenyahkan rasa cemasku jauh jauh.
Menginjak minggu kedua aku telah menguasai sebuah materi ilmu sihir tingkat menengah yang diajarkan Brisa. Rapalan sihir tingkat menengah sebenarnya mudah. Karena aku telah menguasai materi dasarnya maka yang harus kulakukan hanyalah memfokuskan pikiran dan mengeluarkan seluruh kemampuanku untuk menekannya ke tingkat yang lebih tinggi.
Brisa menjerit kegirangan begitu aku merapalkan mantra dan melayangkan serangan ke pohon cemara tua yang mulai mengering. Serangan sihirku meninggalkan lubang yang cukup besar. Bukan decakan kagum namun cemoohan yang kuterima dari teman teman kelompokku. Situasi ini benar benar membuatku merasa tak nyaman.
Dan di minggu ketiga Tristan memberikan lonjakan drastis dengan mengajarkan sihir asapnya padaku. Sihir tingkat tinggi kebanggaan keluarga Readick. Tristan sengaja mengajariku terpisah dan mengabaikan teman teman belajarku yang lain. Hal ini membuat mereka marah dan melaporkannya pada Titus.
Situasi semakin sulit ketika Tristan sengaja mengabaikan peringatan Titus. Akhirnya aku terpaksa membujuknya untuk menuruti keinginan Titus. Meski begitu aku telah menguasai sedikit rapalan mantra sihir keluarga Readick yang telah diwariskan turun temurun itu, yakni mendatangkan gulungan asap kecilku sendiri untuk mematikan serangan musuh.
”Sepertinya kau sudah bukan anak cengeng yang selalu gemetar ketakutan lagi sekarang.”
Suara parau bernada ejekan terdengar jelas dibelakangku. Kubalikkan tubuh untuk melihat si pemilik suara. Cleo Maltese telah berdiri tegak dan menyorot tajam kearahku.
”Apa maumu Cleo?” tanyaku malas.
Cleo tertawa sinis. ”Sama seperti yang lain. Melihat kau dan kekasihmu yang angkuh itu angkat kaki dari sini.”
”Apakah kau selalu bersikap kasar seperti ini,” tanyaku acuh.
”Jika melihat wajah munafikmu rasanya aku selalu ingin bersikap seperti itu,” seringainya garang.
Aku menghela napas panjang untuk sesaat. ”Kau benar benar menyedihkan. Sebaiknya kau bercermin dan melihat dirimu sendiri. Lugu sekali jika kau berpikir dirimu jauh lebih baik dariku,” ucapku sedikit lelah akan sikapnya padaku.
Dengan gerakan tiba tiba Cleo melontarkan tinjunya yang langsung mengenai pipi kananku. Seketika itu juga darah segar menetes dari bibirku.
”Kaulah yang menyedihkan penyihir. Kau tak pantas berada disini. Kelakuanmu menodai kesucian lembah ini, mengerti!” teriak Cleo ketus membuat para murid yang tengah beristirahat nampak berbisik bisik dan mulai berdatangan untuk menonton.
Tubuhku gemetar menahan marah. Namun aku masih sanggup menguasai diri untuk tidak membalas pukulannya.
”Kau tidak ingin membalas tinjuku penipu rendahan?” ejek Cleo senang diiringi sorak sorai para murid yang terlihat berpihak padanya.
”Sayangnya aku masih menggunakan akal sehatku untuk memaafkanmu,” sahutku parau seraya mengusap tetesan darah yang terus mengalir dari bibirku.
”Kau memang seorang pengecut. Tadinya aku sempat berpikir kau sudah menjadi seorang penyihir hebat. Ternyata aku salah,” ejek Cleo dengan suara melengking diringi suara suara bernada ejekan dari penonton kami yang ditujukan padaku.
Cleo benar benar merasa diatas angin sekarang.
Aku berbalik dan berusaha menghindari pertengkaran kami dengan tak memperdulikan kata katanya. Sayangnya, gadis itu tidak mau melepaskan aku begitu saja. Tiba tiba saja tubuhku melayang dan terhempas keras jatuh ke tanah. Kurasakan nyeri luar biasa disekujur tubuhku.
”Jangan melarikan diri, pengecut! Tunjukkan kemampuanmu!” teriak Cleo marah.
Susah payah aku mencoba bangun namun Cleo tak mau memberiku kesempatan dan kembali melemparkan serangan jarak jauh hingga tubuh rapuhku kembali terguling di tanah. Sorak sorai semakin riuh. Cleo berdiri dengan angkuh dan tersenyum lebar penuh kemenangan. Dan hal yang kutakutkan terjadi. Amarahku meluap. Dengan kesadaran penuh kuserukan kata kata Dizzante dan melayangkan sepasang tanganku kearah tubuh kekarnya.
Dari kedua telapak tanganku keluar asap hitam yang menggulung dan bergemuruh. Kuarahkan tangan kananku yang penuh dengan gulungan asap hitam kearahnya. Asap hitam itu kini semakin membesar,  melayang dan berputar cepat menuju tempat Cleo yang berdiri dengan wajah panik. Cleo mencoba untuk menghindar namun sihir asapku terlanjur menggulung tubuh kekarnya dan membawanya berputar putar hingga membumbung tinggi ke udara. Wajah Cleo saat itu juga menjadi sangat pucat. Kedua matanya menatap kosong seolah terbius.
Tidak hanya itu, tangan kiriku dengan sengaja melayangkan gulungan asap hitam yang kumparannya juga semakin membesar kearah penontonku yang kini terlihat berteriak panik. Suara sorak sorai kini berganti dengan suara jeritan ketakutan. Beberapa murid terhempas jatuh dan sebagian lagi berlarian tak terarah mencari perlindungan dari serangan sihir asapku yang kuayunkan ke segala arah dengan tangan kiriku.
Diantara kerumunan yang berlarian nampak sosok Ness, Oggie dan Darren terlihat menyeruak diantara mereka. Disusul Brisa, Titus dan Tristan. Rasa amarah yang meluap telah menutup alam sadarku dan mengacuhkan teriakan mereka yang memintaku untuk segera menghentikan serangan sihirku.
Sebuah angin kecil datang bergulung dengan cepat dan menjadi besar lalu menghantam gulungan asap yang tengah menggulung tubuh Cleo. Membuyarkan gulungan asapku yang solid. Dan membuat tubuh Cleo terbebas dari gulungan asapku. Seketika itu juga tubuh Cleo meluncur jatuh namun seruan Avilos Brisa jauh lebih cepat menahan tubuh Cleo yang nyaris menghantam tanah dan membuatnya melayang layang diudara. Dengan hati hati telunjuk Brisa menurunkan tubuh Cleo yang tak sadarkan diri ke tanah dengan perlahan. Dengan bergegas Ness memeriksa keadaan Cleo.
Saat aku tersadar dan berhasil menguasai emosiku. Beberapa pasang mata nampak marah dan menatapku dengan tatapan aneh. Kecuali sepasang mata ungu gelap yang menyorot puas dan tersenyum samar seolah aku telah melakukan suatu prestasi yang membanggakan.
Brisa menarik sebelah tanganku dengan geram. ”Apa kau sudah sinting! Kau hampir saja membunuhnya!” serunya histeris.
”Kurasa kau terlalu berlebihan,” sahut Tristan membelaku.
”Sebaiknya kau simpan pendapatmu atau aku akan melemparmu kembali ke Agara,” ujar Darren sewot.
Sorot mata ungunya menatap tajam kearah Darren. ”Kalian para psychic sama saja. Lebih senang mengandalkan otot daripada otak kalian,” tawa Tristan terdengar sumbang dan melecehkan.
”Brengsek!” Darren bersiap untuk menyerang namun dengan sigap Titus menghalangi.
”Cukup tuan Dash,” perintah Titus seraya menahan bahu lebarnya dengan kedua tangan kurusnya.
”Kau seharusnya tidak mengajari sihir tingkat tinggi seperti itu padanya, Readick. Karena Calista belum tentu sanggup mengendalikan sihir itu jika ia belum bisa menahan emosinya,”  seru Brisa mengingatkan.
Tristan tertawa puas. ”Sihir asap keluarga Readick tidak dapat dikuasai oleh sembarang penyihir kecuali dia seorang penyihir berbakat. Sihir itu telah memilih. Dan Calista telah berhasil menguasainya bahkan menyatu dengannya.”
”Omong kosong! Sihirmu itu bukan satu satunya yang terbaik di negri ini,” kecam Oggie kesal.
”Hentikan pertengkaran kalian. Sebaiknya kita segera membawa nona Maltese ke ruang perawatan!” seru Titus marah.
”Aku tak berniat melukainya Titus,” ujarku tertahan tak memperdulikan suara suara sumbang disekelilingku.
Wajah Titus terlihat kecewa dan semua mata menatapku resah.
Tak sanggup menahan rasa malu, dengan perasaan hancur akhirnya aku berlari meninggalkan tempat ini. Aku tak sanggup menatap wajah wajah kekecewaan yang tergambar jelas diwajah mereka seolah menghakimiku.
Tak kuperdulikan lagi teriakan Brisa memanggil namaku. Aku terus berlari meninggalkan benteng Sandora. Aku benar benar menyesal telah terpancing ke dalam perkelahian yang dirancang Cleo. Kini semua orang di lembah Crystal akan semakin membenciku.
Semalaman aku menangis dan menolak membuka pintu kamar ketika Brisa membujukku untuk makan malam. Kutumpahkan seluruh kemarahan dengan menguras seluruh airmata. Paginya aku memutuskan untuk menemui Brisa di meja makan dengan kedua mata yang bengkak dan perut keroncongan.
Senyum datar Brisa membuatku sedikit lega dan melupakan rasa bersalah yang membebaniku. Apalagi begitu mengetahui jika Cleo sama sekali tidak mengalami cedera serius.
Hari itu Brisa membiarkan aku tinggal dirumah dan tidak pergi ke Sandora untuk berlatih sihir. Tapi ia membuatku berjanji untuk datang keesokannya dan menyelesaikan perselisihan diantara aku dan Cleo.
Kutatap kebun mawar Brisa dengan hampa. Menghabiskan waktuku seharian seperti ini di dalam rumah benar benar membuatku tertekan.  Kuputuskan untuk beranjak dan pergi keluar, mencari udara segar untuk sedikit melepaskan beban pikiran.
Aku berjalan lurus mengikuti jalan setapak yang berujung pada jalan utama lembah Crystal. Jalan utama lembah ini cukup ramai dengan lalu lalang penduduknya yang tengah berkegiatan.
Udara lembah yang sejuk benar benar menyegarkan dan membuatku merasa tenang. Angin bertiup perlahan memainkan ujung ujung rambutku. Beberapa anak anak nampak berlari larian dan tertawa riang. Aku tersenyum sendirian melihat keceriaan mereka.
Suara terompet yang nyaring dan merdu dari kejauhan mengejutkan kami. Semua orang yang lalu lalang dijalan utama seketika itu juga menyingkir dan mengosongkan jalan utama seakan memberi jalan pada sesuatu. Seorang wanita yang tengah menggendong anak laki lakinya menjelaskan padaku jika itu adalah pertanda datangnya rombongan tamu kehormatan ke lembah Crystal.
Benar saja, rombongan kecil yang datang dari arah pintu gerbang lembah Crystal mulai terlihat dari tempatku berdiri. Enam orang pengawal berpakaian serba putih lengkap dengan jubah dan pedang di pinggang kiri mereka berjalan beriringan dengan airmuka yang tegang dan kaku. Tiga diantaranya memegang tongkat berlambang sebuah bendera kebangsaan yang bergambar kepala Unicorn. Dibelakang para pengawal tadi terlihat Orion Xander tengah menunggangi seekor kuda putih yang besar dan gagah didampingi dua orang pengawal kastil Crystal. Orion tersenyum ramah seraya melambaikan tangannya kepada penduduk yang menyambutnya dengan keriuhan yang mengelu elukan namanya.
Sementara itu, disamping Orion terlihat seorang gadis berambut pirang keemasan. Ia memakai gaun terusan berwarna putih dengan jubah perak yang sangat indah. Gadis itu sangat cantik dan bercahaya. Meski terlihat cantik namun airmukanya sangat angkuh dan dingin. Rambut pirangnya yang keemasan terlihat melambai dimainkan angin yang berhembus cukup kencang hari ini. Dibelakang mereka kembali terlihat enam orang pengawal yang juga berpakaian serba putih dengan pedang tersemat di pinggang kiri mereka.
”Lihat itu putri Quilla dari negri Amorilla!” seru seorang laki laki menunjuk kearah gadis berwajah angkuh yang tengah duduk diatas kuda hitam yang besar dan gagah.
Untuk sesaat aku tercenung. Sepertinya Orion telah kembali dari Amorilla bersama putri Quilla. Putri kesayangan raja Zordius. Dia sangat cantik dan berkelas. Tak dapat dipungkiri jika Ness adalah pasangan yang sepadan untuknya. Tiba tiba saja ada perasaan kecut didadaku.
Menuju perjalanan pulang tak henti hentinya aku merutuki diri. Perasaanku tiba tiba menjadi semakin resah. Seharusnya aku tidak pergi keluar hari ini. Melihat putri Quilla yang duduk diatas kuda dengan kecantikannya yang bercahaya sedikit menggangguku. Kutepiskan perasaan buruk ini. Aku benci mengakuinya tapi aku benar benar iri padanya. Kurasa kehidupan putri kesayangan Zordius pasti sangat menyenangkan dan sempurna karena ia memiliki segalanya. Kedudukan tinggi dengan gelar kebangsawanan dan juga seorang kekasih yang sangat mengagumkan.
Malamnya Brisa tak henti hentinya membicarakan kehadiran Quilla siang itu di Sandora. Semua ksatria lembah Crystal sempat dibuat repot karena salah satu pengawal Quilla meminta penjagaan yang sangat ketat atas permintaan ayah Quilla, raja Zordius. Jadi suasana makan siang mereka di benteng Sandora menjadi tegang dengan adanya pengawal pengawal Quilla yang berjalan mengelilingi meja makan, memperhatikan gerak gerik siapapun demi kelancaran dan keamanan makan siang Quilla dan Ness.
Aku tertawa geli begitu mendengar penuturan Brisa.
”Kau seharusnya melihat wajah Ferin yang begitu tegang saat makan siang bersama kami tadi,” gelak Brisa.
Seketika aku mendongak. Kata kata Brisa barusan membuatku tergelitik.
”Kamar kamar tamu yang telah dipersiapkan Prechia di kastil Crystal untuk tempat bermalam terang terangan ditolak Quilla. Ia menginginkan bermalam dirumah mungil keluarga Ferin dengan alasan ingin lebih dekat dengan Ness,” seringai Brisa geli.
Kuatur napas berusaha untuk tidak terlihat antusias. ”Darimana kau mengetahui semua itu.”
”Bagaimana tidak. Quilla sendiri yang mengucapkannya dengan lantang dihadapan Prechia dan ditengah makan siang kami. Jika kunjungannya kali ini adalah karena kerinduannya yang mendalam pada Ness dan suasana lembah Crystal. Gadis itu benar benar telah membuat Ness bungkam dan kehilangan ketenangannya,” kerling Brisa.
Aku tergelak puas membayangkan reaksi Ness. ”Sulit dipercaya. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Ferin?” tanyaku masih tak percaya.
”Menurut hasil curi dengar Darren, Ness menunggu hingga makan siang berakhir dan meminta Quilla bermalam di kastil Crystal dengan wajah kesal,” tawa kencang Brisa memenuhi ruangan.
Terbayang olehku airmuka Ness yang biasa terlihat datar tanpa ekspresi berubah menjadi pucat dan terganggu.
”Dua belas pengawal ditambah seorang putri dengan begitu banyak tuntutan.  Piphylia bisa pingsan kelelahan,” gumam Brisa seraya mereguk jus plumnya.
Tanpa sadar aku tersenyum. ”Apakah Quilla menuruti permintaan Ness.”
”Sepertinya. Apalagi begitu melihat airmuka Ness yang begitu tegang menahan marah. Aku tak pernah melihat wajah Ness begitu kesal.  Seharian ini nada suaranya selalu meninggi saat berbincang denganku,” kikik Brisa geli.
Aku tertawa lepas. Rasanya ingin sekali melihat ketenangan di wajah Ness yang tengah terusik itu,  lamunku gemas.
”Datanglah ke Sandora besok pagi karena pertunjukan masih akan berlangsung. Sepertinya Quilla berencana untuk datang melihat kegiatan kekasih tercintanya sepanjang hari esok,” kerling Brisa seraya menghabiskan sisa jusnya.
Aku tersenyum sendirian. Kedengarannya Ness Ferin benar benar mati kutu. Dan aku ingin sekali berada disana untuk menikmatinya.
Brisa benar. Ketika aku tiba di Sandora esok paginya, dua belas pengawal Quilla terlihat berjaga jaga disekeliling benteng Sandora. Sebagian diantaranya berada di dalam benteng untuk menemani putri kesayangan raja Zordius itu.
Wajah tenang Ness terlihat tegang dan berkerut. Quilla yang tengah duduk tak jauh dari tempat Ness berdiri nampak bercahaya dan terlihat cantik mengenakan gaun terusan berwarna biru laut dengan mantel bulu berwarna perak.
Ketika Ness tengah memberi pengarahan pada sekelompok psychic muda, tak sengaja kedua mata kami saling bertatapan. Sepasang mata keemasan Ness menatap tajam kearahku. Dengan cepat kualihkan pandanganku pada Titus yang tengah mendemonstrasikan serangan sihir tingkat menengah. Namun rasa penasaran kembali membuatku melirik kearah Ness. Betapa terkejutnya aku ketika tak sengaja kulihat tatapan dingin Quilla tengah tertuju kearahku. Begitu dalam hingga menembus kesadaranku. Untuk beberapa saat aku tertegun namun dengan cepat aku menguasai diri dan mengalihkan pandanganku pada Titus. Jantungku berdetak cepat. Semoga itu hanya suatu kebetulan saja. Aku sangat tak ingin Quilla berpikiran macam macam padaku. Tatapannya yang dingin membuat bulu bulu halus di leherku meremang.
Makan siang tiba. Rasa lapar membuat kami segera berkumpul di pondok yang telah menghidangkan sejumlah makanan. Makan siang kali ini agak sedikit berbeda. Makanan yang terhidang terlihat jauh lebih banyak dan bervariasi. Sepertinya kedatangan Quilla membuat kami ikut merasa istimewa.
Quilla duduk berdampingan dengan Ness. Mereka terlihat sangat serasi dari jarak pandangku. Entah mengapa aku melihat raut wajah Ness terlihat seperti tertekan tidak seperti biasanya.
”Apakah kau akan terus melihat mereka sepanjang siang ini,” tegur Tristan ketus. Wajah tampannya menatap dingin kearahku.
Aku terkejut dan membuang pandangan menatap piring makanku. ”Maaf aku hanya sedikit terbawa demam pangeran dan putri peri seperti mereka,” dustaku seraya melirik kerumunan teman teman kelompok sihirku yang juga tengah asik mengamati Ness dan Quilla.
Tristan tersenyum sinis. ”Menurutku mereka hanya omong kosong.”
Aku terdiam tak menanggapinya.
”Ferin hanya menginginkan tahta dan warisan Zordius. Bukan putri manja yang menjengkelkan itu,” lanjutnya lagi mengungkapkan pendapatnya.
Aku masih  terdiam. Tristan melirikku denga ekspresi wajah yang sulit kupahami. ”Setidaknya sekarang ia takkan mengusik ketenangan kita selama Quilla disini,” tandas Tristan penuh kemenangan.
Aku hanya menghembuskan napas panjang mendengar ucapannya.
Sisa hari itu kuhabiskan dengan kelesuan. Kata kata Tristan sewaktu makan siang tadi melekat erat diingatanku. Benarkah Ness hanya mengincar tahta Zordius. Seingatku Ness bukanlah tipe orang yang suka memanfaatkan keadaan seseorang.
Perhatianku teralih pada sosok kekar berambut hitam kebiruan. Cleo terlihat murung dan tidak bersemangat. Serangannya pada boneka kayu nampak meleset berkali kali. Darren terlihat berteriak teriak memarahinya. Kasihan sekali Cleo jika harus bersaing dengan seorang putri peri yang selalu terlihat bercahaya dengan gaun gaunnya yang indah itu.
Melihat Cleo membuatku teringat perselisihan kami dua hari yang lalu. Kucoba untuk menghampirinya ketika ia tengah sendirian namun wajah masam Cleo dan sikapnya yang memunggungiku lalu berjalan menjauh, semakin menyulitkanku untuk menciptakan perdamaian. Dia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mengungkapkan permintaan maafku.
Kutatap punggung kekar itu dengan perasaan iba. Aku tak pernah menyangka bila ia menyimpan perasaan benci yang begitu mendalam padaku.


Writer : Misaini Indra


Tuesday, 20 September 2011

Calista Kaz "Penyihir Naga Arkhataya" (Chapter 10)


10. SEBUAH PERJANJIAN

Setelah melalui diskusi yang berat dan panjang akhirnya Prechia memutuskan untuk membebaskan Tristan dari sel tahanan tanpa persidangan dengan dua syarat perjanjian, yang pertama adalah menjadikan Tristan sebagai salah satu pengajar sihir di lembah ini dengan pengawalan ketat dari ksatria lembah Crystal lain dan persyaratan kedua adalah mengharuskan aku juga tinggal dan belajar sihir di lembah Crystal ini.
 
Ada sedikit kelegaan dan kecemasan yang bercampur di hati kecilku. Meski terbilang ringan namun Tristan tidak akan begitu senang mendengarnya. Dengan tatapan lembut Prechia menambahkan jika kami berdua akan selalu berada dibawah pengawasan para ksatria lembah Crystal lainnya. Dan jika kami berdua melanggarnya dan melarikan diri bersama maka Prechia akan menetapkan kami sebagai musuh lembah Crystal yang harus diburu dan diadilli di lembah Crystal tanpa kesempatan kedua.
Kulirik Brisa yang nampak tersenyum puas disampingku.
”Itu sama saja berada dalam penjara hanya caranya saja yang berbeda,” rengutku  kesal.
Prechia tersenyum bijak. ”Hidup memang tak pernah adil nak. Tapi syarat yang kuajukan pada perjanjian ini adalah hal yang paling masuk akal untuk saat ini. Semua itu demi keselamatanmu sendiri dan juga keamanan lembah Crystal.”
Kuhela napas panjang dan membuang pandanganku dari tatapan Prechia.
”Aku tahu Tristan jauh sebelum kau mengenalnya. Dan aku pun memiliki keyakinan yang sama jika ia masih tetap Tristan yang dulu. Aku percaya Tristan akan berubah jika ia menemukan orang yang tepat untuk mengubahnya. Dan kurasa kau adalah orang itu,” senyum Prechia melembut.
Kutatap Prechia dengan kelegaan hati. ”Aku senang masih ada yang mau mempercayainya seperti aku. Terimakasih nyonya Gold. Aku akan membicarakan syarat yang kau ajukan ini pada Tristan.”
Prechia mengangguk.
”Apakah kau yakin itu keputusan yang bijak Prechia. Membiarkan Readick menjadi salah satu pengajar sihir di Sandora,” protes Brisa pelan.
Prechia tertawa lembut. ”Brisa Ackron. Jika kau meragukan keputusan yang kubuat untuk tuan Readick dan gadis muda ini apakah kau memiliki solusi yang lebih baik?” balas Prechia balik bertanya.
Brisa mendengus salah tingkah.
”Aku hanya menjaga tradisi yang telah diciptakan Orion Xander selama ini. Mengambil keputusan bijak yang akan mendamaikan semua pihak.”
Brisa terdiam.
”Sebaiknya kau antarkan Calista ke ruang tahanan kita di Agara untuk menemui Tristan. Aku yakin Tristan akan mengambil keputusan bijak akan perjanjian yang kubuat untuknya,” senyum Prechia lagi.
Dengan anggukkan sopan dan rasa terimakasih yang tersirat dari senyumanku, kami berlalu dari hadapan Prechia.
Sepanjang perjalanan keluar dari ruangan Orion menuju aula kami terdiam. Kening Brisa terlihat berkerut dan sepasang mata birunya melirikku tajam. ”Jujur saja aku tak suka keputusan yang telah diambil Prechia. Tristan terlalu berbahaya untuk dilepas berkeliaran di lembah Crystal,” gusarnya dengan nada tinggi.
Aku tak menyahutinya.
”Mengapa kau begitu keras kepala membelanya. Sebaiknya kau segera menghentikan rasa simpatimu padanya, Cal. Aku yakin dia sengaja membuatmu berada dalam perangkapnya,” cetus Brisa kesal.
Hatiku memanas mendengar tuduhan Brisa.
”Sudahlah Bris. Aku terlalu lelah untuk mendengar prasangkamu terhadapnya,” sahutku emosional.
”Hebat. Sepertinya Tristan telah membuat mata dan kupingmu tertutup hanya untuknya,” cemooh Brisa.
Kuhentikan langkahku seketika. ”Haruskah kau mengucapkan kata kata itu Bris. Kau benar benar keterlaluan,” ujarku dengan nada bergetar menahan marah.
”Aku tidak akan menahan diri untuk mengatakan apa yang ada dipikiranku. Sebaiknya kau membiasakan diri, Cal. Karena mulai sekarang kau akan tinggal bersamaku dan berada dalam pengawasanku setiap hari. Dan tak ada yang dapat kau lakukan akan hal itu,” senyum puas Brisa terlihat melebar dibibirnya yang indah.
”Brengsek...” makiku pelan seraya berlalu darinya.
”Hey,  jaga ucapanmu itu!”  teriak Brisa marah seraya mengejar langkahku.
”Menjauhlah dariku,” ujarku penuh emosi seiring dengan getaran hebat yang tiba tiba saja kurasakan disekujur tubuhku.
Masih dalam keadaan tegang dengan tingkat emosi yang tinggi, tanpa kusadari perasaan itu telah membangkitkan sebuah energi kuat terpancar keluar dari tubuh rapuhku. Membangkitkan sebuah hembusan angin yang perlahan lahan mulai berputar cepat mengelilingi tubuh kecil ini yang mulai terasa ringan seolah melayang dengan rambut dan jubahku berkibaran tak karuan terkena hembusannya.
”Calistaa..!!” seru Brisa cemas.
Kutatap wajah pucat Brisa dengan rasa amarah yang meluap.
”Berhentilah menghakimi Tristan!” teriakku marah seraya melayangkan kedua telapak tanganku kearah tubuh Brisa.
Brisa yang tak sempat menghindar langsung terjengkang sepuluh langkah dihadapanku. Tubuh langsingnya menghantam tanah dengan sangat keras. Darah segar mengucur dari mulutnya dengan cepat.
Rasa terkejut luar biasa membuatku tersadar. Dan hemabusan angin yang tadi berputar mengelilingiku pun mulai mereda lalu menghilang dengan perlahan.
Kutatap Brisa yang terkapar tak sadarkan diri dihadapanku dengan nanar. Kuhirup udara segar sebanyak banyaknya untuk menghilangkan rasa sesak di dada. Mencoba untuk menguasai emosi dan bernapas teratur.
”Apa yang telah kau lakukann..!” teriak Darren yang kini berdiri dibelakangku bersama Cleo dan Oggie.
Wajahku pucat seketika.
”Apakah kau baru saja menyerang Brisa dengan sebuah sihir anginn!!” teriak Darren kasar seraya menghampiri tubuh Brisa yang tergeletak kaku diiringi langkah Oggie dan Cleo yang menatapku sinis.
”Aaku tak bermaksud melukainya....,” sahutku panik.
”Sepertinya, pikiranmu sudah mulai sinting sejak tertawan para penyihir Zorca!” tukas Cleo sengit.
Aku hanya terdiam kehilangan kata kata.
Sementara Darren dengan cepat menggendong Brisa dipundaknya. ”Aku akan membawa Brisa ke rumah perawatan.”
”Tunggu Darr. Sebaiknya kau membawanya ke rumah Ferin. Sepertinya Brisa terkena serangan sihir dari jarak dekat. Nyonya Ferin, satu satunya orang yang dapat menyembuhkan luka Brisa dalam waktu singkat,” saran Oggie kalut.
”Tunggu. Biarkan aku ikut bersamamu. Semua ini salahku. Tapi aku benar benar tak mengerti mengapa aku melakukannya,” mohonku cemas.
Cleo mendorong tubuhku. ”Jangan sok suci. Merengek seperti itu seolah kau tidak bersalah!” bentaknya kasar.
”Tenanglah Cle,” ingat Oggie.
”Kumohon ijinkan aku ikut dengan kalian,” pintaku setengah menangis tak memperdulikan sama sekali perkataan kasar yang ditujukan Cleo padaku.
Dengan enggan Darren mengangguk lemah. ”Kurasa kita harus cepat membawanya ke rumah Ferin sebelum terlambat,” gusarnya.
Oggie dan Cleo mengangguk pelan. Sementara aku hanya dapat mengusap airmata menahan rasa sesal di dada.
Tanpa membuang waktu kami segera bergegas menuju rumah Ness.
Dan sepanjang perjalanan, tak henti hentinya Cleo melayangkan pandangan benci sekaligus jijik luar biasa padaku.
Kedatangan kami mendapat sambutan hangat dari seorang wanita yang nampak tenang ketika melihat sosok Brisa yang menggantung tak sadarkan diri dibahu Darren.
Piphylia Ferin adalah sosok wanita lembut yang sangat ramah. Gerak geriknya begitu luwes dan anggun seperti orang yang tengah menari. Rambut pirangnya yang panjang nampak lurus dan terawat. Wajahnya masih menyisakan guratan guratan kecantikan di masa mudanya. Begitu halus dengan nada suaranya yang lembut. Nampaknya Ness mewarisi aura ketenangan dari sosok ibunya yang berasal dari keturunan bangsa elf itu.
Kami berkumpul diruang tamu keluarga Ferin, menunggu Piphylia bekerja menyembuhkan Brisa di dalam kamar. Tak ada yang bersuara. Suasana sedikit tegang  dan sangat tidak nyaman. Namun kami hanya diam membisu dan enggan mengucapkan kata kata.
Begitu tegangnya hingga kami tidak memperhatikan sosok tinggi langsing yang berdiri di pintu rumah dan menatap kami dengan sedikit terkejut. Namun dengan cepat ia dapat menguasai diri dan raut wajahnya kembali tenang dan datar.
”Seingatku, aku tak pernah mengundang kalian datang kerumahku hari ini,” suara lembut Ness menyadarkan lamunan kami.
Kutundukkan kepalaku dalam dalam tak berani menatap sosoknya yang masih berdiri menanti jawaban.
Darren menghela napas. ”Brisa terluka dan ibumu tengah menyembuhkannya saat ini.”
Tidak ada perubahan drastis yang terlihat dari wajah Ness. Airmukanya masih nampak tenang dan datar namun seketika itu juga pandangannya mengarah padaku.
Wajahku memanas. Entah mengapa aku merasa ia telah menuduhku sebagai pelakunya ketika ia menyipitkan pandangannya padaku.
”Anak itu tiba tiba saja mulai kerasukan dan kehilangan kendali lalu menyerang Brisa. Kurasa dia sudah menjadi gila!” lirik Cleo padaku dengan nada sinis yang sangat menyudutkan.
”Wow, berhentilah memojokkan Calista. Kurasa ia sendiri tak sadar akan perbuatannya pada Brisa,” sahut Oggie seraya melirik kearahku.
”Dia memang selalu bertingkah polos dan terlihat bodoh, Ogg. Tapi dia hanya berpura pura. Harus kau ingat, dialah yang sengaja membawa musuh kembali dan membahayakan lembah ini. Apakah kau masih berpikir ia tak sadar akan perbuatannya yang konyol dan menggelikan itu,” serang Cleo bertubi tubi menghancurkan harga diriku.
”Aku tak bermaksud membelanya hanya saja kita harus mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Mengapa ia menyerang Brisa dengan sihirnya. Seingatku ia tak bisa menyihir apapun,” ujar Oggie dengan nada tinggi.
Kepalaku tiba tiba terasa penat dan aku merasa sangat muak mendengar penuturan Oggie tentang kekuatan sihir yang tiba tiba saja muncul pada diriku.
”Bisakah kalian berdua berhenti berteriak satu sama lain. Benar benar mengganggu. Membuat kepalaku pening saja,” sela Darren pada Oggie dan Cleo dengan wajah kesal.
”Darren benar. Brisa telah berada ditangan yang tepat. Dan ibuku butuh ketenangan untuk  menyembuhkannya,” sambung Ness pelan.
Seketika itu juga Oggie dan Cleo pun terdiam. Kuatur napasku perlahan untuk menyembunyikan keteganganku. Tak sedikitpun aku berani menegakkan kepalaku dihadapan mereka. Namun aku dapat merasakan sepasang mata coklat keemasan menatap lurus tepat kearahku.
”Kalian terlihat manis jika sedang bersedih seperti itu,” sebuah sapaan lembut menyapa riang dan mencairkan ketegangan.
 Piphylia Ferin tersenyum lembut menatap kearah kami satu persatu. Lalu perhatiannya tertuju pada anaknya, Ness.
”Kau sudah pulang rupanya,” ujar Piphylia lagi lembut.  
Ness mengangguk pelan.
”Bagaimana keadaan Brisa, nyonya Ferin?” tanya Darren tak sabar.
”Dia akan baik baik saja. Brisa seorang wanita yang tangguh,” sahut Piphylia seraya tersenyum riang.
Kelegaan terlihat di wajah Darren, Oggie dan Cleo. Seketika itu juga air mata mengalir di sudut mataku.
Piphylia menatapku lembut. ”Oh sayang. Jangan menangis seperti itu. Brisa akan bertahan hidup. Percayalah padaku, dalam waktu tiga hari ia akan kembali normal,” hiburnya seraya menghampiriku sambil memegangi bahuku dengan gerakan tangannya yang luwes.
Dengan cepat kuseka airmata yang jatuh dikedua pipiku. Kurasakan wajahku memanas, mungkin saat ini seluruh wajahku telah berubah menjadi merah muda.
”Mari ikut aku, nak. Aku akan membuatkan secangkir teh hangat untuk menenangkanmu,” ujar Piphylia seraya membimbingku berdiri dari tempat dudukku menuju meja makan diruang tengah.
Seketika itu juga Cleo melemparkan pandangan sinisnya kearahku.
Dengan ragu aku mengikuti langkahnya. Kedua tangannya yang lembut memelukku hangat dari samping dan mendudukkanku dikursi makan. ”Aku akan membuatkan teh yang enak untukmu. Apakah kalian juga mau?” tawarnya pada Darren, Oggie dan Cleo.
”Oh tidak terimakasih nyonya Ferin. Aku bukan seorang peminum teh,” sahut Darren menolak halus tawarannya.  
”Ya aku juga tidak nyonya. Tapi apakah kita bisa melihat keadaan Brisa sekarang,” sela Oggie.
”Jangan sekarang sayang. Brisa butuh istirahat. Lagipula ia tengah tertidur lelap saat ini, kembalilah besok jika ingin berbincang dengannya,” desah Piphylia pelan.
Oggie segera bangkit dari tempat duduknya. ”Baiklah, kalau begitu aku pulang saja karena hari sudah mulai gelap,” angguknya pada Piphylia dan Ness.
Ness mengangguk.
Oggie pun berlalu menuju pintu depan dan segera menghilang dari balik pintu rumah Ness.
”Sepertinya aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku lelah sekali setelah seharian ini mengajar di Sandora,” ujar Darren seraya beranjak dari kursi.
”Tentu saja nak,” senyum Piphylia mengembang seraya menuangkan teh yang masih mengepulkan asap kedalam cangkir cangkir dihadapannya.
”Apakah kau akan ikut denganku?” tawar Darren mengalihkan pandangan kearah Cleo yang masih menatapku dengan penuh kebencian.
”Tentu saja. Terimakasih untuk tawaran tehnya nyonya Ferin,” angguk Cleo kaku pada Piphylia.
Piphylia mengangguk lembut kearah Cleo.
”Baiklah. Sampai besok di Sandora, Ness.” lambai Darren seraya bergegas menuju pintu depan diiringi langkah langkah enggan Cleo dibelakangnya.
Ness mengangguk pelan dan sedikit termenung menatap kepergian Darren dan Cleo.
”Apakah kau mau duduk bersama kami untuk minum secangkir teh Ness,” tawar Piphylia pada anak laki lakinya itu.
”Tentu saja,” sahut Ness datar seraya berjalan ke meja makan dan duduk dihadapanku.
Kualihkan tatapanku lurus lurus pada cangkir teh ditanganku yang masih mengepulkan asap tipis.
”Apalagi yang kau perbuat kali ini,” tanya Ness tanpa basa basi seraya mengamati wajahku.
”Jaga sikapmu, Ness. Bicaralah yang sopan pada seorang gadis,” ingat Piphylia pelan seraya menuangkan teh ke dalam cangkir dihadapan Ness.
Ness menghela napas.
”Tidak apa nyonya Ferin. Semua memang salahku,” sahutku gemetar tanpa berani menatap pandangan dua orang mengagumkan dihadapanku ini.
”Lihat aku nak. Tidak ada yang perlu kau takutkan. Boleh kutahu namamu?” ujar Piphylia lembut layaknya seorang ibu pada anaknya.
Kuangkat kepalaku dan memberanikan diri menatap wajah Piphylia. Sepasang mata coklat keemasan yang lembut, seperti milik Ness tengah menatapku ramah. Kedua tangannya yang halus menggenggam kedua tanganku.
”Calista Kaz..”
”Kau terlihat bingung dan kehilangan arah Calista Kaz. Seharusnya kau membaginya bersama seseorang untuk sedikit menenangkan pikiranmu.”
Kutatap Piphylia sendu.
Ness hanya terpaku ditempat duduknya.
”Kau tahu. Wajah cantik itu akan terlihat redup jika kau terus bersedih,” tambahnya lagi meninggalkan kesan yang dramatis akan keadaanku.
”Aku baik baik saja,” sanggahku halus.
Piphylia melepaskan pegangan tangannya lalu meraih secangkir teh dihadapannya. ”Baiklah jika kau merasa begitu.”
Aku terdiam gugup.
Kulirik Ness yang nampak tak memperdulikan perbincangan kami.
Kedua ibu dan anak itu kini terlihat tenggelam dan menikmati secangkir teh mereka dalam diam.
Aku merasa sedikit canggung dan baru kusadari aku belum menyentuh sedikitpun secangkir teh dihadapanku ketika Piphylia mengingatkan aku untuk meminumnya. Dengan perlahan kuhirup teh buatan Piphylia yang beraroma herbal dan ternyata memang nikmat dan sangat menenangkan.
”Apakah kau punya tempat untuk tidur malam ini,” tanya Ness memecahkan kesunyian.
Piphylia sontak tertawa geli. ”Kau harus memaafkannya Calista. Untuk keterusterangannya dalam berbicara,” geleng Piphylia dengan segaris senyum yang tersamar dibibirnya.
Ness terlihat jengah namun tak mengomentari ucapan ibunya itu.
 Aku tersenyum tipis. ”Tidak apa. Sebenarnya aku tinggal bersama Brisa namun karena aku telah melukainya, aku berharap kalian mengijinkan aku untuk bermalam disini. Setidaknya malam ini saja, untuk menemani Brisa,” pintaku sopan.
”Tentu saja nak. Rumah ini terbuka untukmu,” Piphylia tersenyum ramah.
”Aku janji tidak akan merepotkan,” ujarku meyakinkannya.
Ness tergelak.
Kutatap Ness dengan gemas.
Seolah mengetahui bahasa tubuh kami yang terlihat memancarkan aura perselisihan. Piphylia hanya menatap bijak. ”Apakah rumah Brisa satu satunya tempatmu bermalam, Calista.”
”Ya ....” sahutku pelan.
”Jika kau tidak sebegitu keras kepala dan sedikit menyenangkan. Ada kemungkinan banyak orang yang mau menampungmu selain Brisa,” tukas Ness santai.
Bola mataku membesar. Kutatap wajah Ness lekat lekat. ”Berpikirlah dua kali jika kau merasa lebih menyenangkan daripada aku,” tandasku kesal.
Ness kembali tertawa. ”Itukan hanya menurut pendapat pribadimu saja,” sahutnya tak mau kalah.
Ucapan Ness benar benar membuatku tak berkutik.
Piphylia tersenyum penuh arti. ”Seharusnya kau menjadi tuan rumah yang baik dan menunjukkan kamarmu untuk Calista beristirahat, Ness.” sela Piphylia tak memperdulikan nada ketegangan akan ucapan ucapan yang terlontar dari mulut kami.
Kamar Ness.  Batinku resah.
”Maaf nyonya Ferin tapi kurasa itu tidak perlu. Bisakah aku tidur disamping Brisa malam ini. Aku ingin menjaganya,” tolakku panik.
”Kamar tamu kami terlalu sempit untuk kau tempati. Lagipula aku telah memberinya ramuan hingga ia tertidur lelap sampai besok pagi untuk memulihkan kekuatannya. Kau tidak perlu menungguinya,” angguk Piphylia mencoba untuk meyakinkanku.
 Ness berdiri dari kursinya dan menatap penuh kemenangan kearahku. ”Jangan sungkan. Aku sama sekali tidak keberatan. Aku tahu, kau pasti sudah tak sabar untuk merebahkan tubuh lelahmu itu dikamarku,” balas Ness seraya tersenyum samar kearahku.
Kutatap Ness dengan geram.
Satu alis Ness terangkat tinggi saat membalas tatapanku. ”Aku dapat membaca pikiranmu Kaz,” bisiknya pelan memancing rasa emosiku.
Aku beranjak dari kursi dengan setengah hati. Kutatap raut muka Ness yang tersenyum datar dihadapanku itu dengan perasaan tak karuan.
Sepertinya aku tak punya pilihan selain mengikutinya. Kuanggukkan kepala dengan sopan pada Piphylia yang tersenyum lembut kearahku.
Kami menaiki tangga menuju ruang atas. Kamar Ness terletak di ujung ruangan. Dengan cepat Ness membuka kamarnya yang tidak terkunci dan memberiku jalan untuk masuk.
Dengan langkah ragu aku memasuki kamarnya. Aroma khas Ness seketika mengisi hidungku. Begitu menenangkan dan membuatku merasa nyaman.
Ness yang hanya berdiri di pintu kamar dengan kedua tangannya yang bersedekap di dada nampak memperhatikan air mukaku dengan rasa penasaran.
Aku memilih untuk bersikap acuh. Kusapu pandangan kesekeliling ruangan kamar yang bernuansa coklat terang. Kamar ini begitu rapih dan bersih. Sebuah kapal rakitan dari kayu tergeletak diatas meja disudut dinding kamar dekat jendela yang tertutup.
Dengan rasa ingin tahu, kuhampiri dan dengan hati hati, kupegang kapal rakitan lengkap dengan layarnya itu dengan lembut.  ”Apakah ini punyamu?” gumamku pelan.
Ness berjalan pelan menghampiriku. Kini kami berdiri sejajar dan memandangi kapal rakitan yang berada dalam genggaman tanganku ini.
”Ayahku yang membuatnya. Kurasa dia berharap akan berlayar bersamaku suatu hari nanti,” gumam Ness pelan.
Ada segurat ketidaknyamanan terlihat sekilas di wajah tampannya.
”Setidaknya kau beruntung karena ayahmu meninggalkan sesuatu untukmu sebagai kenangan,” desahku seraya memberanikan diri untuk mencuri pandang kearahnya. Wajahnya masih terlihat sama. Sempurna. Dan sangat menawan dari jarak sedekat ini.
Ness terpaku menatap kapal layar rakitan yang berada dalam genggaman tanganku ini dan tak memperdulikan ucapanku.
”Jika aku tidur di kamar ini lalu bagaimana denganmu,” ujarku berusaha memecahkan kesunyian seraya menaruh kembali kapal rakitan miliknya ke tempat semula.
Sepasang mata coklat keemasan itu menatapku seolah tengah tersenyum. ”Mengapa kau begitu mencemaskanku.”
”Aku hanya tak ingin merepotkanmu. Apalagi kau pasti lelah setelah seharian pergi. Kau pasti menginginkan tempat tidurmu yang nyaman malam ini,” sahutku acuh.
Wajah tampan Ness menatapku dalam. ”Kau benar. Mungkin aku bisa tidur disampingmu malam ini jika itu yang kau inginkan,” godanya dengan wajah serius.
Jantungku berhenti berdetak beberapa saat ketika mendengar ucapan konyolnya. Kutatap wajah tampannya yang kini terlihat menyebalkan itu dengan rasa kesal.
Ness tertawa merdu. ”Mengapa begitu tegang. Tenang saja, aku juga tak menginginkan hal itu terjadi,” ujarnya santai seraya membalikkan tubuhnya yang sempurna dari hadapanku.
”Kau tahu Ness, kau sama sekali tidak membuatku juga terpesona padamu,” seruku marah.
Ness membalikkan tubuhnya dan menatapku dengan sorot matanya yang agak berbeda.
”Mungkin gadis gadis lain tergila gila padamu. Tapi aku tidak. Jadi berhentilah mengodaku karena aku sama sekali tidak tertarik padamu,” seringaiku garang seraya berdiri tegak menantangnya.
Seketika itu juga Ness melompat lincah dan menerkamku bagai seekor binatang buas yang tengah menerkam mangsanya. Dan dengan cepat kedua tangannya yang kokoh merengkuh tubuh rapuhku dalam pelukannya lalu memojokkanku ke dinding kamar. Garis mukanya terlihat serius kala menatapku.
Kuatur napasku yang memburu dan mencoba mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga namun sia sia kedua tangan kokohnya malah semakin erat dan dengan sengaja ia mempererat pelukannya lalu mendekatkan tubuhku dalam pelukannya yang terasa hangat.
”Lepaskan aku,” getarku menahan marah.
Ia meraih daguku dengan tangan kanannya, sedikit kasar. Kini wajah kami sangat dekat. Aku bahkan dapat merasakan hembusan napasnya yang begitu hangat dan harum diwajahku. Perpaduan dari raut wajahnya yang tampan dengan airmukanya yang selalu terlihat tenang membuat laki laki ini menjadi sangat mempesona dan sulit ditolak. Mata coklat emasnya terlihat sedikit liar dan menyorot tajam.
”Apa yang kau inginkan Ness!” seruku mencoba menahan debaran hebat di jantungku.
Bukan melepaskan pelukannya, Ness malah menekan wajahnya yang dingin ke wajahku. Kini hidung kami saling bersentuhan. Sepasang mata keemasannya yang indah menatapku tak berkedip. Tatapannya membuatku terbuai dan hilang akal. Hampir saja aku tak dapat menguasai diri dan hanyut dalam pesonanya.
”Lepaskan aku atau ...
”Atau Tristan akan membunuhku,” bisiknya merdu.
Kata katanya membuatku terperanjat.
Ness mengendurkan pelukannya dengan kesal kudorong tubuh kekarnya dengan segenap kekuatanku.
Pangeran peri itu tertawa datar. Diamati wajahku dengan seksama. ”Wajahmu sedikit memerah,” ucapnya tanpa perasaan.
”Tinggalkan kamar ini Ferin..” pintaku marah.
Mata emas Ness menyorot dalam. ”Selamat malam Calista,” senyumnya datar kemudian berlalu dari hadapanku.
Aku hanya dapat menatap punggungnya yang menghilang dari balik pintu kamar dengan perasaan tak karuan. Tingkah pangeran peri itu benar benar keterlaluan. Selalu saja menggangguku dengan sindiran sindiran halusnya atau perilakunya yang sengaja menggodaku.
Dan kejadian itu pun terulang lagi.
Keesokan paginya aku terbangun oleh sosoknya yang tengah berdiri di depan pintu kamar dengan tatapan matanya yang tengah mengamatiku.
”Sudah berapa lama kau berdiri disana?” tegurku panik berusaha untuk bersikap wajar seraya bergerak duduk dan merapihkan rambutku yang berantakan.
Ness tersenyum tipis. ”Piphylia menyuruhku untuk membangunkanmu. Jangan salahkan ketidaksopananku ini.  Tapi .. sepertinya kau lupa mengunci pintu ini,” ujarnya seraya menunjuk pintu kamar.
Kuberanikan diri menatap sorot matanya yang tengah mengamatiku. Rambut hitamnya yang kecoklatan sedikit basah. Ness terlihat segar dan tampan. Namun aku bertekad untuk bersikap acuh dan tidak terpancing oleh pesonanya.
”Saat tertidur, kau terlihat cukup menyenangkan untuk dipandang,” gumamnya pelan. Matanya yang indah menjelajahi wajahku tanpa malu.
Tatapannya membuatku jadi salah tingkah. Namun aku telah bertekad untuk melawan pesonanya itu. ”Harus kuakui tempat tidur ini sangat nyaman dan menyenangkan dibandingkan pemiliknya,” cetusku kasar membalas perkataannya.
Ness tertawa merdu untuk beberapa saat. Lalu ia menatapku dengan ekspresi wajah yang sulit kubaca. Sorot matanya begitu dalam mengarah padaku. Membuatku jengah dan sedikit tersipu.
Kalau terus begini aku bisa gila akan pesonanya batinku kesal. Dengan cepat aku berusaha menguasai diri. Dan menatapnya sedatar mungkin.
Kedua mata Ness menyipit. ”Kau mungkin tidak terbiasa sarapan pagi tapi Piphylia telah memasak untukmu. Kuharap kau tidak mengecewakannya.”
Sulit dipercaya dia masih ingat akan kebiasaanku yang tidak pernah sarapan pagi.
Satu alis matanya terangkat. ”Kami menunggumu dibawah.”
”Tunggu. Apakah Brisa sudah sadar,” tanyaku tegang.
Ia menghembuskan napasnya perlahan. ”Belum. Tapi jangan khawatir, kondisinya sudah semakin membaik. Ramuan obatnya telah bekerja dan menyembuhkan lukanya dari dalam.”
Aku terpaku.
Ness membalikkan badan dan segera berlalu meninggalkan aku yang masih tak ingin beranjak dari tempat tidur ini. Dengan perlahan, kembali kubenamkan wajahku dalam dalam pada bantal Ness yang harum dan baunya terasa menyenangkan terhirup dihidungku.
Benar benar aneh. Segala sesuatu tentang Ness selalu membuatku merasa tenang dan nyaman. Wajahku kembali memanas. Pikiran akan Ness mengalihkan perasaaanku sesaat pada Tristan. Dengan cepat kusingkirkan jauh jauh bayangan Ness dari benakku. Aku harus turun dari ranjang ini dan membersihkan diri. Aku harus segera menemui Tristan untuk memberitahukan syarat yang telah diajukan Prechia pada kami.
Makan pagi bersama keluarga Ferin terasa sedikit janggal. Piphylia dan Ness hanya minum secangkir teh hangat. Sementara sepiring daging asap dan telur buatan Piphylia yang masih hangat terhidang lezat dihadapanku.
Ketika Ness pergi untuk mengambil baju hangatnya untukku. Piphylia memegang tanganku dengan lembut dan menatapku hangat. ”Belum pernah kulihat wajah Ness secerah itu ketika menatapmu. Bahkan Quilla sekalipun tak sanggup menghadirkan keceriaan diwajahnya.”
Kata katanya membuatku sedikit tersipu. Kutatap wajah Piphylia.  ”Aku yakin putri Quilla akan membuat Ness bahagia nyonya Ferin.”
Piphylia terdiam untuk sesaat. ”Kuharap kau benar,” ucapnya ragu ragu.
Piphylia kembali menatapku namun kali ini wajahnya terlihat sedikit sendu. ”Regina adalah seorang penyihir yang hebat. Kurasa kau akan menjadi seorang penyihir yang sama hebatnya seperti ibumu.”
”Kau mengenal ibuku,” bisikku berkaca kaca.
”Tentu saja. Dia salah satu ksatria sihir di lembah Crystal yang berbakat. Regina, Arman dan suamiku, Aisling berjuang bersama sama melawan pemberontakan Zorca kala Ghorfinus mengangkat Orion sebagai penerusnya. Kurasa aku takkan sanggup memaafkan Rufus karena telah membunuh Aisling dan Regina,” ujarnya menerawang.
”Aku benci laki laki itu. Dia juga telah membunuh ayahku,” isakku pelan.
Piphylia menatapku iba. ”Aku turut berduka untukmu.”
Kuhembuskan napas perlahan untuk menguasai emosi. Setiap aku mengingat kematian orang tuaku ada rasa sakit terasa menusuk di dadaku seketika.
”Ness baru berumur delapan tahun ketika mengetahui Aisling tewas di tangan Rufus. Sejak hari itu ia berubah menjadi seorang anak yang sangat pendiam.”
Kutatap wajah sedih Piphylia.
”Aisling dan Arman adalah sahabat baik. Mereka sama sama seorang psychic dan berasal dari desa yang sama. Yaitu sebuah desa kecil bernama Torment yang berada tak jauh dari kota Hordos.”
Aku hanya termenung mendengar penuturannya. Terus terang saja aku bahkan sama sekali tidak mengetahui asal usul kedua orangtuaku.
Piphylia tersenyum lembut. ”Datanglah kapan saja kau mau. Rumah ini selalu terbuka untukmu Calista,” ujarnya seraya mengusap lembut pipi kananku.
”Terimakasih nyonya Ferin,” sahutku terharu.
Hari itu Ness mengantarku ke Agara. Sebuah penjara bawah tanah yang terletak di wilayah selatan lembah Crystal. Tristan terlihat begitu resah ketika kutemui. Saat kuberitahukan perjanjian yang dibuat oleh Prechia untuknya, airmukanya mulai menegang. Awalnya ia menolak. Namun dengan penuh kesabaran kuyakinkan dirinya jika itu adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
”Kurasa Prechia menganggap semua ini hanyalah suatu bentuk kekhilafan yang dapat diperbaiki,” tandasku meyakinkan mata ungunya yang kian meredup. Sepertinya berada dalam sel tahanan seperti ini semakin melemahkan jiwanya.
Tristan termenung untuk beberapa saat. Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuknya berpikir dan menimbang nimbang keputusannya sebelum akhirnya menyetujui perjanjian yang diajukan Prechia.
Senyumku melebar. Kupegang erat jemarinya dari balik jendela tahanan dengan berseri seri. ”Semuanya akan baik baik saja,” bisikku.
Tristan hanya membeku dan menatapku ragu. ”Kuharap begitu,” sahutnya pelan.
Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir Ness ketika aku memberitahukan perihal perjanjian yang dibuat Prechia untukku dan Tristan setelah kunjungan dari Agara.
”Rasanya begitu menyenangkan tidak mendengar satu keluhan pun keluar dari bibirmu itu,” sindirku senang.
”Aku tak menyangka Prechia membiarkan Readick kembali mengajar di Sandora,” Ness yang tadinya bungkam kini buka suara.
”Aku akan membuat Tristan berjanji padaku untuk tidak melakukan hal buruk yang dapat menyakiti orang orang di lembah ini Ness,” ujarku mencoba untuk membela keputusan Prechia dan kepentingan Tristan.
Wajah tampan Ness menatapku tegas. ”Sebaiknya begitu. Karena jika tidak aku akan mengejarnya kemana pun ia pergi. Dan menghabisinya dengan kedua tanganku sendiri.”
Wajah yang biasa terlihat datar kini berubah menjadi tegang dan menatapku serius. ”Dan, jika saat itu tiba kuharap kau tidak berada diantara kami untuk menghalangiku.”
Bulu kudukku meremang begitu mendengar ucapan Ness. Nampaknya ucapannya itu tidak main main.
Sekembalinya aku ke rumah Ness. Brisa sudah siuman. Bahkan ia sudah dapat berjalan tegak walau agak sedikit sempoyongan. Meski aku menangis dan meminta maaf berkali kali wajah Brisa tetap menujukkan keramahan seolah tidak pernah terjadi perselisihan diantara kami. Sebaliknya ia begitu senang karena mengetahui jika kekuatan sihirku sudah mulai kembali.
Brisa bersikeras untuk kembali ke rumah meski Piphylia melarangnya. Akhirnya Piphylia mengalah dan memberikan tambahan ramuan obat untuk memacu pemulihan kekuatan Brisa.
Setibanya dirumah, Brisa yang sangat tidak sabaran, mengetahui juga keputusan akhir yang kuambil bersama Tristan.
”Cobalah memintanya untuk sedikit tenang dan menuruti kemauanmu. Demi kebaikan kita bersama. Sepertinya Tristan mau mendengarkan semua ucapanmu,” ujar Brisa seraya mengamati wajah gundahku.
Kuhela napas panjang. ”Akan kucoba sebaik mungkin Bris. Ini adalah resiko yang harus kuhadapi karena telah membawanya kembali pulang ke lembah Crystal.”
Brisa menatapku sayu.
”Aku berjanji akan merubahnya menjadi lebih baik dari sekarang,” tandasku.
”Bagaimana jika ternyata ia tidak menjadi seperti yang kau inginkan.”
Aku terdiam untuk sesaat. ”Aku akan meninggalkannya,” desahku dengan berat hati.
Brisa menatapku datar. ”Kau yakin?”
Kutatap Brisa dengan tegar. ”Kurasa itu jalan terbaik bagi aku dan Tristan.”
Brisa memelukku hangat. Rasa haru mulai merasukiku. Aku tak ingin mengecewakan Brisa karena ia telah kuanggap seperti kakakku sendiri. Dan untuk Tristan, aku takkan memberinya kesempatan kedua jika ia mengecewakanku nantinya.

Writer : Misaini Indra