Protected by Copyscape Plagiarism Scanner

Tuesday, 6 December 2011

Calista Kaz "Penyihir Naga Arkhataya" (Chapter 14)











14. HUTAN FARFASIAN

Orion menatapku bimbang. Disebelah kanannya duduk Prechia dalam keheningan. Sementara Otto Cursen terlihat lesu menatap kearahku.
”Kita tidak bisa mengabaikan apa yang telah dilihat oleh Calista. Besar kemungkinan Zorca telah membangunkan leviathan,” ujar Orion membuka percakapan.
Otto membetulkan letak duduknya lalu menatap Orion resah. ”Zorca akan semakin kuat dan tak terkalahkan dengan kekuatan leviathan. Sebaiknya kau mempersiapkan gadis itu karena dia satu satunya harapan kita,” sarannya penuh harap seraya menatapku.
Aku benar benar tidak menyukai ucapannya. Wajahku menegang.
Orion menghela napasnya perlahan. ”Jangan membebani masalah Zorca hanya pada satu orang. Sudah kewajiban kita semua disini untuk mencegah Zorca melakukan kerusakan yang lebih parah lagi.”
Ada sedikit kelegaan didadaku begitu mendengar ucapan bijak Orion.
”Sudah ada kabar dari Hordos?” tanya Titus yang sejak tadi hanya berdiri mematung.
Orion menggeleng. ”Sepertinya Gorick Valdes tidak begitu memperdulikan peringatanku.”
”Biarkan aku pergi ke Hordos untuk meyakinkannya, Orion,” sela Titus lagi.
Orion menatap Titus ragu. ”Kurasa tidak perlu. Tugasmu kali ini adalah membantu Calista memahami isi jurnal Obidia dan mempelajari sihirnya.”
Orion mengeluarkan sebuah buku jurnal tua yang pernah kulihat sebelum ini. Lalu menyorongkannya pada Titus. Dengan cepat Titus memegang buku jurnal tersebut.
”Mulai sekarang kau akan berada dalam bimbingan Titus dan Prechia. Kuharap kau memanfaatkan waktu yang sedikit ini dengan sebaik baiknya Calista,” mata biru Orion menatapku tajam.
Aku mengangguk pelan masih dengan ekspresi wajah tegang.
”Ini salah, Orion. Bagaimana jika ia gagal membangunkan Arkhataya seperti yang kita inginkan. Hanya karena sebuah ramalan kau ingin mempertaruhkan seluruh negri dalam genggaman seorang penyihir pemula,” protes Shenai dengan nada tinggi.
”Sudah cukup Shenai. Kau tidak bisa terus menerus menyalahkan nona Kaz karena terpilih dalam ramalan,” ingat Prechia galak.
Shenai menggerutu kesal. Namun ia hanya duduk bersedekap dan melirik masam kearahku.  
Orion menghembuskan napas. ”Sebaiknya kita memikirkan masalah ini dengan tenang. Beri kesempatan pada nona Kaz. Karena aku percaya jika ia akan menjadi seorang penyihir hebat yang akan membangunkan naga Arkhataya,” lirik Orion seraya tersenyum padaku.
Tubuhku bergetar. Meski aku senang Orion memberi dukungannya padaku tapi bagaimana jika Shenai Readick benar. Bagimana jika aku tidak dapat membangunkan naga Arkhataya dan melindungi lembah ini.
Kebimbangan yang merasuki pikiranku semakin mengacaukan rangkaian latihan sihirku dengan Titus. Aku bahkan tidak dapat berpikir jernih membaca rapalan rapalan sihir yang tertera dalam jurnal Obidia.
Titus menatapku resah. Instingku mengatakan jika ia sedikit kecewa padaku.
Namun aku tak ingin terhanyut oleh pikiran kalutku. Keesokan harinya suasana hatiku terasa jauh lebih baik. Dan aku bertekad untuk berusaha lebih baik pada latihan sihir kali ini.
Kubaca buku jurnal Obidia dengan cermat. ”Aku pernah mendengar rapalan sihir naga Arkhataya ini sebelumnya dalam mimpiku Titus,” ucapku mantap seraya menutup jurnal Obidia sedikit kasar.
Titus menatapku kagum. ”Benarkah. Itu hebat sekali Calista. Ceritakan padaku.”
”Obidia selalu datang dalam mimpi mimpiku hampir setiap saat. Tapi kurasa ada sesuatu yang kurang.” Kucoba untuk mengingat kembali mimpiku akan Obidia yang memanggil naga Arkhataya beberapa hari yang lalu.
Titus menatapku setengah berharap.
Kugelengkan kepala sambil mendengus kesal.
”Cobalah mengingatnya kembali secara perlahan. Jika Obidia hanya memberikan penggalan rapalan sihir ini dalam jurnalnya, besar kemungkinan ia sengaja melakukan hal itu dengan maksud tertentu.”
”Aku tak mengerti. Mengapa ia tidak menulis seluruh rapalan sihir Arkhataya di jurnalnya,” sahutku putus asa.
Titus menatapku lembut. ”Karena ia tak ingin jurnal ini jatuh ke pihak yang salah. Obidia telah memilihmu sebagai pewaris gelang pusaka Arkhataya. Itulah sebabnya ia datang dalam mimpimu dan memberitahu seluruh rapalan sihir Arkhataya.”
Aku mendesah ragu. Kurasa teori Titus ada benarnya.
”Kau akan menyelamatkan kami dari kehancuran yang akan dibuat Zorca,” ujar Titus mencoba meyakinkanku.
Kutatap Titus haru. Titus benar aku tidak boleh menyerah. Aku harus memanfaatkan waktu yang singkat ini untuk memperkuat sihirku.  Meski aku tahu, tidak mudah untuk mengalahkan kekuatan sihir Zorca. Tapi aku membutuhkan semua bantuan yang ada.
Titus mengajariku sihir angin. Dan dalam waktu yang cukup singkat aku berhasil menguasai sihir angin itu. Titus bilang aku telah memiliki kekuatan sihir itu sejak lama namun aku tidak terlalu menyadarinya. Seolah mengejar waktu mereka tidak membiarkan aku mengambil napas sedikit pun. Keesokan paginya Prechia telah menungguku di benteng Sandora untuk berlatih beberapa sihir tingkat tinggi yang dimilikinya.
Prechia berdiri tegak menatapku ramah. Dipunggung besarnya tergantung sebuah pedang dengan sarung kulit yang berhias manik manik emas disekililingnya.
”Kau sudah siap menerima pelajaran sihir dariku hari ini, Calista?” tanyanya riang.
Keriangannya membuatku ikut terbawa perasaan senang.
”Tentu saja nyonya Gold. Anda terlihat berbeda sekali. Bukan seperti seorang penyihir melainkan lebih menyerupai seorang ksatria,” selorohku.
Kutelusuri pakaian terusannya yang tebal dan panjang selutut serta celana ketatnya yang menyerupai pakaian seorang ksatria dengan sepatu bootnya yang berwarna keemasan.
Prechia terkikik geli. ”Kau terlalu berlebihan memujiku. Aku memang agak sedikit berlebihan dalam berpakaian untuk latihan hari ini. Tapi siapa yang perduli. Aku sedang bersemangat jadi kuharap kau memakluminya,” ujarnya seraya mengerjapkan matanya kearahku.
Salah satu sifat Prechia yang kusuka. Tidak pernah bersedih dan selalu berpikiran positif. Terbukti dari caranya melatih sihirku. Sabar dan selalu menyemangati. Prechia memiliki kekuatan pengendalian pikiran tingkat tinggi. Meski ia terlahir sebagai seorang penyihir bukan sebagai illusionis tapi ia berhasil menggabungkan dua kekuatan itu dan menjadikannya sebuah sihir ilusi.
Meski awalnya aku mengalami kesulitan untuk mengerti sihir ilusinya namun Prechia dengan sabar mengajariku secara perlahan. Sihir ilusi adalah sebuah rapalan sihir untuk mengecoh lawan dengan kekuatan cahaya yang membutakan. Pendaran Cahaya emas yang keluar dari pedang Prechia benar benar sangat menyilaukan dan membuat pandanganku jadi teralihkan. Untuk sesaat aku hanya melihat cahaya cahaya emas yang bergerak gerak ekstrem kesana kemari menyerupai liukan seekor ular kecil yang lama kelamaan menjadi besar dan membuatku panik hingga mengurungkan niatku untuk melancarkan serangan sihir. Dan dengan mudah Prechia menjatuhkan tubuhku hanya dengan satu gebukan ringan ujung pedangnya di punggungku.
”Kau telah merusak konsentrasiku, Prechia,” decakku kagum.
”Sayang sekali kau tidak bisa melihat seluruh kemampuan bermain pedangku yang hebat,” celotehnya riang.
”Sepertinya kalian mengalami waktu berlatih yang menyenangkan,” seru Orion dari belakang kami.
Prechia tertawa senang. ”Tentu saja Xander.”  Bola matanya kini berputar dan  ditatapnya Orion lekat lekat. ”Kuharap kedatanganmu untuk suatu hal yang penting,” ucapnya penuh nada penekanan.
Orion tertawa lepas. Lalu mengalihkan pandangannya kearah Titus, Shenai, Ness, Brisa dan Helena yang juga sudah berdiri disamping Orion. Sementara dari arah yang berlawanan Darren, Oggie, Agnes dan sebagian para pengajar sihir tingkat dasar dan menengah telah berdiri mengelilingi aku dan Prechia.
Perasaan gugup seketika menyelimutiku. Orion memberikan isyarat pada Brisa untuk mendekat. Brisa menghampiri Orion dengan sebuah kotak beludru persegi panjang dikedua tangannya. Orion segera membuka kotak berwarna biru tersebut. Kedua tangannya mengeluarkan sebuah gelang emas yang terukir gambar naga yang tengah tertidur melingkar. Gelang emas tersebut seolah bersinar saat tertimpa sinar matahari pagi.
”Mendekatlah Calista,” panggil Orion pelan.
Seluruh tubuhku terasa lemas. Sulit kupercaya jika aku pemilik pusaka yang memiliki kekuatan yang sangat dashyat itu. dengan ragu kuhampiri Orion. Kini posisi kami sudah sejajar. Orion mengangkat gelang Arkahtaya tinggi tinggi dan memutar tubuhnya kesekeliling kami.
”Atas nama ruh suci Obidia penemu lembah Crystal. Dengan ini aku, Orion Xander mengembalikan gelang Arkhataya pada pewarisnya yang sah. Cucu dari pemimpin hebat lembah Crystal, Ghorfinus Anthea yang telah diwariskan oleh ayahnya, penemu lembah Crystal sebelumnya yaitu Staphilas Anthea.”
Kini Orion berdiri tegak dihadapanku. Kedua matanya menatapku dalam. ”Calista Kaz. Dengan ini kunyatakan kau adalah penyihir naga Arkhataya sekaligus ksatria sihir pelindung lembah Crystal. Terimalah warisanmu.”
Kemudian Orion memakaikan gelang emas Arkhataya ke lengan kananku diiringi dengan tundukan kepala hormat dari para pengajar yang tengah mengelilingiku.
”Pergunakan dengan sebaik baiknya Calista,” bisik Orion seraya menundukkan kepala sebagai tanda penghormatannya padaku.
Setitik air mata haru menetes dipipiku. Aku bahkan tidak dapat menahan emosiku yang begitu dalam  kala mereka kembali berdiri tegak dan menatapku penuh harap.
Kutatap mereka dengan pandangan haru. ”Aku berjanji akan melindungi lembah Crystal dengan nyawaku,” desahku pelan.
Semua pasang mata menatapku dengan keyakinan mendalam meski itu sulit kutemukan di sepasang mata gelap Shenai Readick.
Kutatap gelang emas Arkhataya yang kini berada dilengan kananku. Begitu pas dan nyaman berada disana. Masih sulit kupercaya jika aku adalah pewarisnya.
”Selamat Calista. Sekarang kau adalah bagian dari lembah ini.”
Kutatap sepasang mata keemasan  yang menatapku dalam.
”Sepertinya kita akan sering bertemu,” gurauku mencoba berbasa basi.
Ness tertawa. ”Sepertinya begitu.”
Aku terdiam sesaat. Kutatap langit biru yang terlihat cerah dengan gundah.
”Kami akan selalu berada disampingmu untuk melawan Zorca,” suara Ness melembut seolah merasakan keresahanku.
Aku tertawa sumbang. ”Terimakasih. Aku memang membutuhkan itu.”
Kedua mata kami saling bertatapan. Aku bisa merasakan jika percakapan ini adalah keakaraban kami yang terakhir.
Malam itu aku tertidur cepat. Rasa lelah yang kurasakan tak hanya secara fisik tapi juga batin. Obidia mendatangiku dalam mimpi. Mimpi yang sama yang pernah kualami sebelumnya. Dan kali ini aku berhasil mengingat sebagian rapalan mantra pemanggil naga Arkhataya yang hilang dari jurnal Obidia. Bisa kubayangkan wajah sedih Titus berganti cerah jika mendengar semua ini.
Tapi keadaan tidak secerah yang kuharapkan karena keesokannya lembah Crystal kedatangan tamu kejutan dari kota Hordos. Sebagian dari mereka datang dalam keadaan terluka parah.
Kota Hordos telah jatuh. Rufus, kaki tangan Zorca telah menghanguskan sebagian kota penghasil batu terbesar itu. Banyak para pejuang Hordos yang memiliiki kekuatan telekinetis mati atau berada dalam penawanan. Sedangkan pemimpin mereka Gorick Valdes tewas ditangan Rufus.
Yera, janda pemimpin Hordos berhasil melarikan diri dengan luka didada bersama lima orang pengawalnya ke lembah Crystal. Dan malam itu kastil Crystal kembali mengadakan pertemuan yang kini diiringi perdebatan sengit karena sebagian mulai meragukan pertahanan lembah Crystal dan meminta Orion meminta bantuan ke negri Amorilla pada raja Zordius.
”Kita belum membutuhkan Amorilla dalam pertempuran ini,” ujar Orion bijak.
”Jangan naif Orion. Kau tidak akan dapat membendung kekuatan Zorca. Dia bertambah kuat setiap harinya seiring bergabungnya kembali para pengikut Tisco yang dulu melarikan diri,” singgung Otto kesal.
”Tapi kita belum mengetahui secara pasti apakah Zorca benar benar memiliki kekuatan leviathan,” nada suara Orion meninggi menanggapi ucapan Otto yang semakin meresahkan semua orang diruangan ini. Otto Cursen  terdiam kesal.
Wajah Yera terlihat pucat menahan sakit. Wanita separuh baya dengan perawakannya yang tinggi besar terlihat menegang. ”Maafkan aku Orion yang agung. Aku rasa Zorca telah memiliki kekuatan yang kau maksudkan tadi. Ia telah membawa makhluk dari neraka itu ke jantung kota Hordos dan menghancurkan hampir seluruh negri kami hanya dalam hitungan jari!” serunya dramatis.
Seluruh orang yang berada diruang pertemuan langsung bergumam tak dapat menutupi rasa takut mereka. Mereka nampak resah dan mulai saling berbicara menyuarakan keinginannya.
”Tenang!” seru Orion marah.
Seketika mereka terdiam
”Katakan padaku Yera. Seperti apa makhluk iblis itu?” tanya Orion
Wajah Yera terlihat pucat dan menciut. ”Ular raksasa berkepala tujuh yang mengerikan. Semua senjata dan pukulan kami tak dapat melukainya. Kulitnya seperti baja yang tak dapat ditembus. Ia memakan apa saja yang ada dihadapannya,” getar Yera marah.
Semua kembali panik dan berseru resah.
”Makhluk itu juga akan menghancurkan lembah Crystal dalam sekejap jika anak itu tidak sanggup membangunkan Arkhataya!” teriak Shenai dengan nada tinggi diiringi seruan persetujuan dari penyihir lainnya.
Prechia dan Helena mencoba untuk menenangkan semua orang. Kugigit bibirku, berusaha menyembunyikan amarah yang tertahan pada Shenai. Ia selalu saja membuat keberadaanku semakin kecil dihadapan orang orang ini.
”Kita sudah mempercayai Calista sebagai pewaris sekaligus pelindung lembah Crystal. Kuharap kau menghargai itu, Shenai.” Ingat Brisa mencoba untuk membelaku.
Ditatapnya Brisa dengan senyum mengejek. ”Kau terlalu muda untuk memahami apa yang tengah terjadi Bris,” sindirnya halus.
Brisa mendengus kesal. Shenai tersenyum puas.
”Keadaan semakin genting Orion. Kau harus memutuskan nasib kami saat ini juga,” pinta Helena memberanikan diri berbicara.
Pikiran Orion menerawang untuk sesaat. Lalu ia menghela napas panjang. ”Aku akan pergi ke Amorilla malam ini juga. Aku akan kembali secepatnya. Semoga saja kita mendapatkan kabar baik dari Zordius nanti,” tatapnya kesekeliling ruangan menunjukkan keyakinan bahwa semuanya akan terkendali.
Semua orang diruangan ini tampak puas meski terlihat masih tegang.
Malam itu Orion pergi ke Amorilla dengan mengendarai pegasus. Tiga hari perjalanan ke Amorilla ditempuhnya hanya dalam waktu sehari bersama dengan pegasus.  
          Sementara itu Prechia semakin memperketat pengawasan dan mengirim beberapa ksatria untuk mengamati keadaan di luar lembah. Keadaan ini tidak memadamkan semangatku untuk meningkatkan kemampuan sihirku. Aku harus siap untuk kemungkinan terburuk. Tapi terus terang aku tak ingin mati ditangan Zorca.
          Siang itu Titus membawaku pergi ke sebuah perbukitan yang terletak diperbatasan laut Belma. Di dalam jurnal sihir Obidia berisi petunjuk mengenai sejarah lembah Crystal. Dan dalam jurnal tersebut, Obidia juga menyinggung legenda naga Arkhataya. Disana dikatakan jika Arkhataya tertidur di salah satu gua terbesar. Namun Obidia tidak menyebutkan secara spesifik letak gua tersebut. Titus mengatakan padaku disekitar perbukitan dekat perbatasan laut Belma banyak terdapat gua. Dengan wajah senang yang sulit kusembunyikan, akhirnya aku dan Titus berjalan mendaki menyusuri perbukitan yang curam. Beberapa kali aku hampir tergelincir jatuh namun dengan cekatan Titus memegangku dan membantuku berdiri. Awalnya banyak gua gua kecil yang membingungkan namun akhirnya kami berhasil menemukan sebuah gua besar yang gelap dan terlihat licin karena ketebalan lumut didalamnya.
”Kemungkinan ini gua tempat Arkhataya tertidur,” gumam Titus seraya membaca kembali jurnal Obidia dengan serius.
Kugelengkan kepalaku. ”Kurasa ini bukan gua yang dimaksud. Gua itu tersembunyi. Tertutup air terjun besar yang aliran airnya sangat deras dan berisik,” desahku ragu.
Titus menatapku bingung. ”Tapi sedari tadi kita telah menyusuri bukit ini. Dan gua ini adalah satu satunya gua terbesar yang ada. Disini tidak ada air terjun seperti yang kau maksudkan Calista, kecuali...” ujarnya agak ragu ragu.
”Kecuali apa Titus?” tanyaku penasaran.
Titus menatapku dengan wajah sedihnya yang berkerut. ”Sebenarnya ada sebuah air terjun yang kau maksudkan,” dengusnya.
Kutatap Titus mantap. ”Lalu apa yang kita tunggu. Antarkan aku kesana, Titus.”
Titus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ”Tapi air terjun itu tidak ada di lembah ini,” sahutnya penuh teka teki.
”Jangan membuatku bingung. Aku tidak suka menebak nebak,” rengutku kesal.
”Air terjun itu berada di dalam hutan Farfasian. Dan kita harus melakukan sedikit perjalanan kearah barat daya untuk menuju hutan itu,” ujar Titus seraya mengangkat kedua bahunya.
Aku tersenyum hambar.  Kutatap Titus lurus lurus. ”Baiklah. Aku tak perduli jika kita harus melakukan sedikit perjalanan kesana.” Aku berusaha meyakinkannya dengan kata kataku.
Titus terdiam sesaat. ”Situasi sangat berbahaya diluar sana. Aku tak yakin Prechia mengijinkan kita melakukan perjalanan saat ini.”
”Kalau begitu cobalah untuk membujuknya Titus. Kita tidak memiliki banyak waktu. Atau kau lebih memilih leviathan Zorca menghancurkan lembah ini,” sentakku kesal. Aku tahu nada suaraku sangat tidak sopan tapi aku benar benar buntu.
Titus menghela napas panjang. Kemudian duduk disebuah batu besar dengan pikirannya yang menerawang. ”Aku akan mencoba bicara padanya,” ucapnya ragu.
Keraguan Titus terbukti. Wajah Prechia menegang ketika mendengar permintaanku dan Titus. Ditatapnya Titus dan aku bergantian.  ”Apakah kau yakin dengan penglihatanmu itu Calista,” nada suara Prechia terdengar lebih serius.
Kuanggukan kepalaku. ”Ya Prechia. Aku sangat yakin.”
Lalu Prechia mengalihkan pandangannya kearah Titus. ”Bagaimana denganmu Titus. Mengapa kau begitu yakin sekali jika air terjun yang dimaksudkan Calista berada di dalam hutan Farfasian?”
Titus menatap Prechia ragu. ”Sebenarnya aku tidak begitu yakin Prechia, tapi setahuku hanya hutan Farfasian yang memiliki air terjun terbesar yang dimaksudkan Calista dalam mimpinya.”
”Tidak ada salahnya jika kami mencoba untuk melihatnya kesana, Prechia. Hanya untuk meyakinkanku!” seruku tertahan mencoba meyakinkan Prechia.
Prechia mendesah. Ditatapnya wajahku dan Titus bergantian.
”Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai kesana,” kali ini sepasang mata coklat gelapnya menatap Titus meminta jawaban pasti.
”Tiga hari penuh tanpa istirahat,” sahut Titus.
”Jadikan empat hari. Aku tak ingin kau membuat penyihir naga Arkhataya kita kelelahan dan jatuh sakit di saat penting nanti,” kerling Prechia.
Aku hanya tersenyum getir mendengar candaannya.
Keesokan paginya aku dan Titus telah memacu kuda kuda kami menuju arah barat daya. Seharian sudah kami memacu kuda tanpa berhenti. Semangat yang berkobar didadaku membuat aku sempat menolak peringatan Titus untuk beristirahat sebentar demi kuda kuda kami yang kelelahan.
Wajah sedih Titus terlihat tegang dan selalu waspada menatap kesekeliling kami. Sepertinya ia sangat memperhatikan keselamatan kami lebih dari apa pun. Bahkan disela sela perjalanan kami Titus menyempatkan diri untuk mengajarkanku beberapa trik sihir angin yang ia punya. Menurutnya aku harus memiliki segala keahlian sihir yang berbeda untuk mempertahankan diri. Apalagi mengingat sekarang aku telah menjadi ksatria sihir pelindung lembah Crystal. Sudah pasti banyak penyihir jahat yang menginginkan pusaka Arkhataya yang berada ditanganku.
Menginjak hari kedua menuju hutan Farfasian kami mengalami sedikit masalah. Kuda jantan tungganganku mengamuk tiba tiba dan menggulingkan tubuhku hingga terhempas keras ke tanah. Dengan cepat Titus mengejar kuda itu membisikkan sesuatu untuk menenangkannya. Titus menghipnotis kudaku dan membiarkannya tertidur dalam keadaan berdiri.
”Aku tak mengerti mengapa kuda itu menjadi gila dan tak terkendali, Titus,” gerutuku kesal seraya menahan rasa nyeri dibahu kananku.
Titus tak langsung menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangannya kesekeliling kami.
”Sampai berapa lama kita akan tertahan disini,” ucapku lagi tak sabar.
Titus menatapku linglung. ”Sampai kuda ini tenang dan cukup istirahat,” sahutnya acuh. Kedua mata sedihnya kini terlihat waspada dan kembali mengarahkan pandangan kesekeliling kami.
”Apa ada yang aneh. Kau seperti kehilangan sesuatu,” kataku datar mencoba membaca airmukanya.
Sadar telah membuatku curiga Titus menatapku serius. ”Sepertinya kita diikuti,” ucapnya terus terang tanpa berusaha untuk menakutiku.
Jantungku berdebar cepat. ”Kau yakin,” bisikku mencoba bersikap tenang.
”Nampaknya penguntit kita telah melakukan sesuatu pada kuda tungganganmu ini. Kurasa orang itu tidak terlalu jauh dari kita. Aku hanya tidak dapat merasakan kehadirannya. Aneh sekali,” gumam Titus sendirian.
Kucoba meredam rasa takutku. Sia sia. Jantungku malah berdebar lebih kencang dari yang tadi. Aku benci dengan kepengecutanku ini.
”Cobalah bersikap wajar. Siapapun dia kurasa tidak terlalu berbahaya,” Titus mencoba menenangkan.
”Darimana kau tahu itu,” tandasku sengit berusaha merendahkan nada suaraku.
”Karena, sejauh ini orang itu tidak melakukan apa apa ditempat terbuka seperti ini. Sepertinya ia menunggu kelengahan kita jadi berhati hatilah Calista,” sahut Titus setengah berbisik seraya mengelus elus leher kuda tungganganku yang tengah tertidur.
Aku mengikuti saran Titus dan berusaha bersikap biasa. Berbaring dengan satu mata terbuka bukanlah hal yang menyenangkan. Tapi aku terlalu takut untuk memejamkan kedua mataku hingga pulas meski Titus menyuruhku untuk tidur dan tak perlu cemas karena ia akan berjaga disampingku.
Ini sangat menyebalkan. Bagaimana jika Titus kelelahan dan tertidur. Orang itu pasti akan membunuh kita berdua dalam keadaan tak sadar. Tengkukku merinding. Bukan karena dinginnya malam. Namun karena rasa cemas berlebihan akan takutnya ancaman dari pengintai kami.
Paginya wajah Titus terlihat kusut. Dia benar benar terlihat lelah dan tidak tidur semalaman hanya untuk menjaga keselamatan kami. Kutatap Titus iba. ”Sebaiknya aku yang berjaga nanti malam supaya kau bisa sedikit beristirahat,” ujarku menawarkan.
Titus tersenyum hambar. ”Tenang saja Calista. Sebelum makan siang kita pasti sudah sampai diperbatasan hutan Farfasian. Kuharap pengintai kita tidak akan mengikuti hingga kita masuk Farfasian.”
”Apa yang membuatmu seyakin itu,” desahku cemas.
Titus tersenyum tipis. ”Kebanyakan orang tidak berani memasuki hutan Farfasian karena mereka berpikir hutan itu menyeramkan dan sangat berbahaya.”
Kutatap Titus serius. ”Tapi itu tidak benar kan?”
Titus menatapku ragu ragu. ”Mungkin ada benarnya. Karena hampir semua penghuninya adalah makhluk buangan.”
Bagus. Ucapan Titus kembali menciutkan nyaliku. Kurasa aku harus mengumpulkan seluruh keberanianku untuk memasuki hutan tempat kelahiran Zorca tersebut.
Kami tiba diperbatasan hutan Farfasian menjelang makan siang. Kusodorkan roti mentega kearah Titus yang langsung melahapnya hingga tersedak. Kutepuk punggungnya pelan sewaktu roti mentega itu tersangkut ditenggorokannya.
”Aku tahu kau kelaparan. Tapi cobalah memakan roti itu perlahan lahan,” ujarku geli seraya menyorongkan tempat minumku padanya.
Titus langsung menenggak isinya tak memperdulikan peringatanku.
”Hey sisakan sedikit untukku,” protesku kesal.
Wajah Titus memerah. ”Maaf,”sahutnya malu malu.
Kupandangi hutan di depanku ini. Begitu hijau dan lebat. Sepertinya hutan ini menyimpan sejuta misteri didalamnya. Begitu dingin dan misterius.
Titus menatapku was was. ”Sebaiknya kau menyiapkan serangan sihir terbaikmu untuk kemungkinan terburuk di depan kita nanti,” kata katanya membuatku berpikir dua kali untuk memasuki hutan ini.
Kuhembuskan napasku kuat kuat. Lalu menganggukkan kepala dengan mantap.
Kami memasuki Farfasian perlahan. Menembus jejeran pohon pinus yang sebagian telah menggugurkan daun daunnya disepanjang jalan setapak hutan ini yang tak nampak karena tertutup tebalnya daun daun kering yang telah berguguran. Sepertinya angin dingin yang bertiup kencang dalam hutan ini ingin menyampaikan pada kami jika musim panas mulai berganti dengan musim gugur.
Kurapatkan jaket dan meyakinkan perasaanku yang terasa ganjil. Kulirik Titus yang terlihat santai menyusuri jalan tiga langkah didepanku. Tiba tiba kurasakan ujung sepatu boots ku tersandung benda keras. Tepatnya sesuatu entah apa telah menendang ujung kakiku sangat keras hingga aku terjerembab jatuh ke depan. Kurasakan wajahku menghantam tanah yang tertutup dedaunan kering yang telah berguguran. Belum sempat aku tersadar dan mencoba untuk bangun. Sesuatu yang tidak terlihat menarik lengan kananku mencoba melepaskan gelang pusaka Arkhataya yang tengah kukenakan. Aku menjerit berusaha untuk mempertahankannya dari sesuatu yang tak terlihat dan kini tengah berusaha melucutinya dari lengan kananku.
Melihat itu, Titus langsung menyerukan rapalan mantra seraya mengacungkan tangan kanannya kearahku. Tubuhku terpental keras hingga jatuh terduduk di tanah. Dan entah darimana datangnya, tiba tiba sosok laki laki cebol dengan wajah tua menyeramkan, berjanggut panjang dengan sekujur tangannya dipenuhi bulu bulu muncul begitu saja dan ikut jatuh terduduk disampingku. Suara paraunya terdengar berteriak kesakitan seraya mengelus elus kepalanya seolah tengah kesakitan atau telah kehilangan sesuatu. Sepasang matanya yang bulat berwarna hitam pekat menyorot tajam kearahku.
Aku terpekik ketakutan. Ia menyeringai marah lalu mengalihkan pandangannya pada sebuah helm yang menyerupai topi logam berwarna keperak perakan yang tergeletak tak jauh dari kakiku. Seperti seekor monyet, dengan lincah ia bangun dan melompat kearah helm logam itu berada. Namun ia kalah cepat karena Titus telah memantrai helm logam itu yang langsung melayang di udara lalu melesat cepat dan mendarat tepat di atas tangan Titus.
Ia mengeram marah. Dan melampiaskan marahnya dengan melayangkan kapak kecilnya kearahku, tapi aku jauh lebih siap berkat peringatan Titus. Kuteriakan mantra dasar untuk melayangkan kapak kecil itu diudara sekaligus mengarahkan mantra  pelumpuh ke tubuhnya hingga membuatnya jatuh berdebam dan tak bergerak. Kedua mata hitamnya mendelik marah dan mulutnya menyumpah nyumpah dengan mengeluarkan kata kata kasar yang terdengar parau di kupingku.
Aku bangun dari tempatku terjatuh dan berdiri disamping Titus dengan sikap waspada. Titus tersenyum bangga kearahku. ”Bagus Calista. Kau berhasil melumpuhkan si pengintai kita,” seraya menepuk nepuk bahuku.
”Siapa dia,” tanyaku resah.
Titus tertawa. ”Kau belum pernah melihat dwarf sebelum ini, ya?” tanyanya heran.
Aku menggeleng. ”Dia berusaha mengambil gelang Arkhataya dariku,” sengitku seraya menatap marah kearah manusia kurcaci yang disebut oleh Titus sebagai dwarf itu.
”Brengsek! Lepaskan aku makhluk rendahan,” maki si dwarf marah sambil meronta ronta.
Titus mengamati helm berbahan logam dalam genggaman tangannya. Sang pemilik helm tersebut langsung saja naik pitam dan berteriak seperti orang gila. ”Kembalikan helmku, manusia tolol tak berguna!” teriak si dwarf marah.
Titus menatapnya dengan rasa penasaran. ”Mengapa kau mengikuti kami?” tanyanya sopan.
”Jangan bodoh Titus. Tentu saja untuk merebut gelang Arkhataya ini,” bisikku kesal.
Titus mendengus resah. ”Siapa namamu?” Ia masih berusaha menjaga sikap sopannya.
Dwarf tersebut kembali tertawa keras seolah melecehkan pertanyaan Titus.
Benar benar membuang waktu. Gusarku. Kulihat Titus kembali mengamati helm logam ditangannya itu. Dan dengan perlahan ia memakai helm logam itu ke kepalanya. Hal aneh pun terjadi, sosok Titus seketika itu juga menghilang.
Aku terpekik kaget dan menyerukan namanya. Sementara dwarf yang tak berkutik itu langsung berteriak marah dan menyumpah nyumpah agar Titus segera melepaskan helm itu atau ia berjanji akan membunuhnya.
”Ini hebat!” seru Titus senang seraya melepas helm logam tersebut dan seketika itu juga sosoknya kembali terlihat.
”Apakah helm itu yang membuatnya menghilang?” tanyaku setengah berteriak pada Titus untuk menandingi suara parau makhluk menyebalkan yang dirundung marah itu.
”Sepertinya begitu,” gumam Titus seraya mengusap usap helm logam yang berada ditangannya itu pelan.
”Kembalikan helm itu. Helm itu milikku,” gerutu si dwarf geram.
”Pantas saja aku sempat tak dapat merasakan kehadiranmu untuk beberapa waktu. Kau pasti menggunakan helm ini untuk melindungi keberadaanmu,” gumam Titus setengah berpikir.
Si dwarf semakin menggila. Kali ini ia berteriak teriak minta dibebaskan dari mantra pelumpuh yang membelitnya. Sepasang mata gelapnya kini menatap liar kearah kami seolah telah bersiap siap untuk membunuh kami kapan saja. Kuambil kapak kecil miliknya yang tergeletak di tanah.
”Katakan pada kami siapa kau dan mengapa kau ingin mengambil gelang pusaka milikku!” ancamku setengah berteriak.
Ia menggerutu untuk beberapa saat. Kupegang erat kapak miliknya dalam genggamanku. Kapak ini cukup berat mengingat ukurannya yang kecil, sepertinya terbuat dari logam besi.
Sepasang mata hitamnya mengawasiku tajam. ”Aku Alberich sang penjaga harta Amon dan pemilik Tarnhelm yang kau pegang itu,” gerutunya kesal.
”Amon? Maksudmu negri dwarf di wilayah barat dekat perbatasan hutan Farfasian ini?” tanya Titus penasaran.
”Dimana lagi bodoh! Hanya itu satu satunya negri dwarf yang tersisa,” geramnya menahan marah.
Titus menelan ludah. Keningnya sedikit berkerut.
Dengan kesal kutatap wajah Alberich. ”Kau kasar sekali,” tukasku dingin.
Perkataanku hanya membuatnya tertawa. Kini Alberich menatapku tajam. ”Aku belum pernah menemui penyihir sebodoh kalian berdua, sebelumnya,” sindirnya mengejek kami.
”Dengar Alberich. Kami tidak memiliki banyak waktu. Tapi kami tak bisa melepaskanmu begitu saja mengingat kau telah mencoba merebut gelang Arkhataya. Jadi kami terpaksa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini,” nada suara Titus terdengar mengancam.
”Kalian memang penyihir rendah. Bebaskan aku dari mantra ini atau aku akan menghabisi kalian,” teriakannya kali ini lebih keras dan terdengar putus asa.
Belum sempat Titus menyahut. Sebuah jeritan nyaring mengejutkan kami seketika. Titus menengadahkan kepalanya keatas untuk menatap langit. Wajah sedihnya terlihat resah. ”Harpy,” gumamnya sendirian.
Alberich tertawa senang. Dipandanginya kami satu persatu dengan sorot mata licik. ”Kalian takkan selamat dari mereka. Kecuali kalian membebaskanku,” ujarnya sombong.
Kulayangkan pandangan kearah Titus. ”Apa itu Harpy?” tanyaku bingung.
”Sekelompok manusia penuh cela yang dikutuk menjadi hewan pemakan bangkai manusia,”  desis Alberich menjawab pertanyaanku.
Seketika itu juga jantungku berdebar kencang. Kulirik Titus dengan cemas.
”Jangan dengarkan dia, Calista. Harpy tidak akan menganggu kita karena kita belum menjadi bangkai,” gumam Titus mencoba menenangkanku.  
Perkataan Titus membuat hatiku berlubang.
Alberich tertawa licik. ”Mereka akan menemukan cara agar kalian mati,” seru Alberich menakutiku.
”Bisakah kau tutup mulutmu itu,” seru Titus kesal.
”Jika kau kembalikan helmku!” seru Alberich tak mau kalah.
”Dan memberikan kesempatan bagimu untuk menghilang dan mengambil gelang Arkhataya? Jangan berharap teman!” wajah Titus menegang.
Jeritan itu kini kembali terdengar. Dan kali ini sangat dekat, seakan akan berada diatas kepala kami. Kudongakkan kepala menatap langit diantara tingginya pepohonan pinus yang menghalangi pandanganku. Samar samar dari jarak tempatku berdiri dua burung raksasa melayang layang dan kembali mengeluarkan suara jeritan tinggi yang sangat mengganggu.
”Sepertinya burung burung itu tidak berbahaya,” kutatap Titus meminta persetujuan.
Alberich kembali terkekeh geli. ”Sebaiknya kau tarik ucapanmu dan lihat mereka lebih jelas. Karena mereka sama sekali tidak mirip dengan burung, gadis tolol!” sindirnya sinis padaku.
Meski kesal dengan olok oloknya namun kuturuti saran Alberich dan kembali menatap langit untuk memastikan bentuk dua burung raksasa melayang layang diatas langit itu. Seketika itu wajahku menjadi pucat. Hewan bersayap yang menyerupai burung diatas sana ternyata memiliki bentuk yang aneh. Tubuhnya terlihat menyerupai tubuh manusia dengan kedua tangan dan kakinya seperti cakar burung elang. Ia memiliki kepala wanita dengan rambut merah yang acak acakan. Namun wajah itu sangat menyeramkan dengan hidung, dan dagu yang lancip serta gigi giginya yang bertaring. Harpy memiliki bentuk mata yang agak menonjol dan menyorot tajam. Pandangannya terlihat tegas dan jeli mengamati kesekeliling seolah olah mencari sesuatu.
”Cepat lepaskan mantra sial ini. mereka pasti sudah dapat mencium bau kita dalam jarak sedekat ini!” teriak Alberich kesal.
Alberich benar. Belum sempat Titus menyetujui permintaannya, seekor Harpy terbang rendah dengan kedua tangannya berusaha meraihku dengan cakar cakarnya yang  tajam. Aroma busuk tercium kental diujung hidungku seiring kehadiran makhluk terkutuk itu. Dengan cepat aku berguling seraya melancarkan mantra sihir untuk menjungkalkannya namun sayangnya meleset.  
Alberich berteriak panik meminta Titus melepaskan belitan mantra pelumpuh ditubuhnya. Titus bergegas menghampiriku namun Harpy kedua bergerak lebih cepat. Terbang lebih rendah lagi dan menancapkan kedua kakinya yang memiliki cakar cakar yang sangat tajam ke tubuh gempal Alberich yang menjerit kesakitan.
Titus tidak tinggal diam dan segera melontarkan sihir anginnya kearah Harpy kedua yang membawa Alberich. Kali ini berhasil, Harpy kedua melengking kesakitan terkena angin kencang yang menghantam tubuhnya dan hilang keseimbangan. Cengkraman cakar cakar kedua kakinya terlepas dan menghempaskan Alberich jatuh tujuh langkah dari ketinggian hingga ke tanah. Alberich mengerang kesakitan. Dengan cepat kulafalkan mantra sihir asapku yang menggulung tubuh gempal kurcaci menyebalkan itu dan membawanya kehadapanku.
”Tunjukkan tempat persembunyian yang aman dari para Harpy terkutuk itu,  Alberich!” teriak Titus panik. Mencoba melakukan penawaran.
”Helmku,” erang Alberich kesakitan.
”Kau akan mendapatkannya setelah mengeluarkan kami dari sini,” teriak Titus kesal.
Alberich menganggukkan kepala tanda persetujuan. Dengan anggukkan dari Titus aku segera membebaskan Alberich dari mantra pelumpuh. Kedua Harpy tadi kini terlihat menjerit jerit mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.
”Mereka memanggil kawanannya,” desis Titus dingin.
”Ayolah kita harus bergerak cepat!” teriakku panik menahan keresahan.
Dengan cekatan Titus memapah Alberich yang meringis menahan rasa nyeri disekujur tubuhnya. Seolah telah mengetahui rencana pelarian kami. Mereka terbang rendah dan menukik tajam kearah kami. Kembali aroma busuk menembus hidungku membuat perutku terasa mual. Dengan cepat kulayangkan sihir asapku kearah mereka. Kini kedua Harpy tersebut berada dalam gulungan asap hitam buatanku. Mereka menjerit dan berusaha mengepakkan sayap besar mereka sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Tapi sihir asapku terlalu kuat untuk dipatahkan.
Ketakutanku semakin menjadi. Sepasang Harpy kembali datang dan menjerit kencang siap untuk menyerang kami. Aku dan Titus segera angkat kaki secepat mungkin dari tempat ini dan berlari sekuat tenaga diantara deretan pohon pohon pinus mengikuti langkah langkah pendek Alberich yang berlari di depan kami. Sepasang Harpy yang baru datang seakan tak rela membiarkan kami lolos, terus terbang rendah dan menukik tajam diantara pepohonan pinus untuk memburu kami.
”Sudah dekat! Bertahanlah!” parau Alberich dengan napas terengah engah.
Follones!” teriak Titus menjungkalkan satu Harpy yang nampak bernapsu mengejar kami.
”Sekarang lompat!” teriak Alberich memberikan peringatan pada aku dan Titus.
Kami melompat berbarengan ke dalam sebuah galian tanah yang sangat dalam dan gelap. Tubuh kami terus berguling dan terperosok masuk lebih dalam hingga akhirnya berhenti dan terhempas ke tanah lembek yang lembap karena genangan air.
Titus membantuku berdiri. Dengan kesal kucoba untuk mengibaskan kotoran kotoran tanah yang menempel di bajuku. Pekerjaan sia sia. Kotoran tanah itu malah semakin meresap ke dalam serat serat di bajuku. Kulirik Titus yang berdiri mematung disampingku. Lalu menatap ke depan kami dan mendapati Alberich tengah tersenyum licik seraya memegangi helm logamnya.
”Dia mendapatkan kembali helm itu Titus!” seruku panik.
”Brengsek! Kau telah menjebak kami kan!” teriak Titus marah.
Alberich tertawa sumbang. Dengan cepat ia mengenakan helm logamnya dan seketika itu juga sosoknya menghilang.
”Kembali dwarf sial! Kau harus membawa kami keluar dari sini!” teriakku putus asa dan terduduk lemas di tanah lembap yang menjijikkan ini.
Titus menghela napas. ”Perjanjian yang adil. Setidaknya ia telah menyelamatkan kita dari para Harpy itu,” gumamnya.
”Dan membawa kita ke lubang kelinci yang menjijikkan ini,” tukasku sinis.
Titus mengangkat bahu. ”Jika Alberich membawa kita kesini. Aku yakin ada jalan keluar dari sini, Calista.” gumamnya pelan.
Kupandangi terowongan tanah yang gelap dan panjang di depan kami dengan kesal. Sepertinya perjalanan menuju air terjun tempat bersemayam naga Arkhataya tidak semudah seperti perkiraanku.
Writer : Misaini Indra

Tuesday, 15 November 2011

Calista Kaz "Penyihir Naga Arkhataya" (Chapter 13)

13. TAKDIR

Berita jatuhnya bukit Foresse dalam kekuasaan Zorca menggemparkan seluruh lembah. Orion telah memerintahkan penjagaan yang lebih ketat dan mengirim utusan ke negri Hordos untuk memperingati pemimpin mereka. Sementara itu, raja Zordius dari Amorilla telah mengirim sebuah pasukan cahaya khusus untuk mengawal putri Quilla yang tengah berkunjung di lembah Crystal agar segera kembali ke Amorilla demi keselamatannya.
Orion memerintahkan Prechia, Titus dan Shenai untuk secepatnya mengajariku sihir tingkat tinggi. Gunjingan dan tatapan sinis kembali ditujukan sebagian murid yang tidak menyukai kebenaran akan terpilihnya aku sebagai penyihir naga Arkhataya. Brisa mencoba menghiburku disela sela pelatihanku yang padat dan melelahkan. Berbeda sekali dengan  sikap Tristan yang dingin dan sedikit menjauhiku.
Perasaan cemas dan takut hinggap. Aku dapat merasakan jika Tristan tengah merencanakan sesuatu. Suatu hal yang sangat tidak menyenangkan, tentunya.
Apa yang aku takutkan menjadi kenyataan. Tristan mengingkari janjinya padaku. Wajah bekunya yang tampan menatapku tegang. Kupandangi ia dengan segudang pertanyaan akan keberadaannya dikamarku malam ini.
”Kita harus pergi dari sini Calista.”
Kutatap nanar. ”Mengapa? Kita sudah sepakat pada Prechia untuk tetap tinggal.”
Tristan berteriak marah. Kucoba mengingatkan jika teriakannya itu akan membangunkan Brisa di kamar sebelah. Dengan sinis ia mengatakan padaku telah membuat Brisa terlelap dengan sihirnya hingga tak ada yang perlu dikuatirkan.
”Ikutlah bersamaku. Kau dalam bahaya dan aku berjanji akan menjagamu.”
Kebimbangan menyergapku. Mungkinkah Tristan akan benar benar melindungiku atau justru malah membawaku langsung pada Zorca untuk menghadapi kematianku. Meski aku menyukainya namun aku masih meragukan tujuannya.
”Apakah kau akan membawaku pada Zorca?”
Tristan tertawa lemah. ”Kau gadis tolol yang pernah kutemui. Aku takkan mungkin mengkhianatimu dengan cara hina seperti itu.”
Aku terdiam sesaat.
”Bagaimana?” tanya Tristan tak sabar.
Kutatap Tristan resah.
”Percayalah padaku. Zorca tengah merencanakan sesuatu. Ia membuat sebuah perjanjian dengan kekuatan ruh hitam untuk membangunkan makhluk jahat dari neraka. Jika kau tetap berada di tempat ini, jiwamu dalam bahaya,” ujarnya tertahan.
Napasku memburu. ”Mengapa kau baru mengatakannya padaku sekarang,” desisku marah.
”Karena kau begitu keras kepala dan ingin tetap tinggal tanpa memperdulikan keselamatanmu,” sentak Tristan tak kalah marah.
”Tapi...aku adalah pewaris pusaka Arkhataya, Tristan. Aku harus memenuhi takdirku demi keselamatan orang orang ini dari ancaman Zorca,” desahku putus asa.
Tristan terdiam. Wajah bekunya terlihat lelah dan sepasang mata ungu gelapnya menatapku bingung. ”Dia mengorbankan banyak sekali, darah para penyihir hitam untuk persembahannya. Dia memberikan dua pilihan sulit, bergabung dengannya atau mati ditangannya. Dan Zorca tidak akan berhenti sampai ia membalaskan dendamnya pada Orion dan lembah ini.”
Aku terduduk lemas di sisi tempat tidurku.
”Begitu ia tahu kau adalah gadis dalam ramalan itu. Dia tidak akan mengampunimu,” ujar Tristan dalam.
Kuhembuskan napas perlahan. ”Berjanjilah kau akan membawaku ke tempat yang aman dan jauh darinya,” mohonku padanya.
Tristan menarik tubuhku dan memelukku erat erat seolah tak ingin melepaskannya. ”Aku berjanji,” bisiknya lembut ditelingaku.
Kuanggukan kepalaku dengan ragu ragu.
Malam itu kami menyelinap dari rumah Brisa menuju lorong lorong gelap lembah Crystal. Tristan menggenggam erat tangankku seolah ingin menunjukkan bahwa ia akan selalu menjaga keselamatanku.
Kuseret langkahku dengan perasaan ragu. Ada rasa takut menjalariku. Aku tahu ini sebuah kesalahan. Tapi demi melihat wajah beku yang seolah kehilangan arah itu membuatku iba dan tak dapat menolaknya permintaannya.
Ketika kami tiba tepat di depan pintu gerbang keluar lembah Crystal. Tristan mulai merapal sebuah mantra. Hanya dalam waktu singkat kedua penjaga tertidur lelap. Tristan telah berhasil membius mereka.
Dengan sekuat tenaga Tristan menarik lenganku dan menyeretku keluar melewati pagar. Kami berlari kencang menembus dinginnya malam. Sekelebat bayangan nampak mengikuti kami dari belakang. Nyaliku mendadak ciut. Dadaku berdebar kencang. Namun dengan sigap Tristan memelukku. Dengan setengah berbisik Tristan memintaku untuk tenang.
Kami berlindung disebuah pohon oak tua yang rimbun. Dapat kurasakan desahan napas Tristan ditengkukku yang mulai terasa dingin. Kami menunggu namun tak ada suara apapun yang terdengar mencurigakan. Hanya derik jangkrik yang bersahutan. Suara gemerisik dedaunan sempat mengejutkan kami bersamaan.
Wajah Tristan terlihat putus asa. ”Tunjukkan dirimu!” serunya tegang.
Tak ada sahutan. Kutahan napasku.
”Keluar pengecut!” kali ini Tristan mulai kehilangan kesabarannya.
Diterangnya bulan purnama, sebuah bayangan muncul bersamaan dengan sosok tinggi berjubah biru langit yang sudah terlihat familiar dimataku.
Orion Xander berdiri tegak dihadapan kami dengan seulas senyum bijak diwajahnya yang ramah. Jubah biru langitnya melayang layang tertiup dinginnya angin malam yang berhembus kencang.
”Selamat malam tuan Readick. Maaf jika kehadiranku membuatmu sedikit resah.”
Tristan menatap sinis kearah Orion. Namun Orion lebih tertarik untuk mengalihkan pandangannya padaku yang tengah menguasai rasa keterkejutanku. ”Apakah kau berencana untuk melakukan sebuah perjalanan bersama dengan tuan Readick, Calista?” selidiknya ramah.
”Simpan basa basimu. Jika kau ingin menghalangiku. Aku tak kan segan untuk membunuhmu,” seru Tristan marah.
Aku hanya terpaku tak dapat berkata apapun.
Orion menatap Tristan dengan sorot mata datar dan tenang.
”Sebaiknya kalian kembali. Aku berjanji akan melupakan peristiwa malam ini.” pintanya tegas.
Tristan kembali menatap sinis kearah Orion. Namun Orion tidak terlalu memperdulikannya. Sepasang mata biru laki laki tua itu tetap tertuju padaku.
”Aku tak bisa membiarkan kau pergi Calista. Kami semua membutuhkanmu,”  ujar Orion lembut.
Tristan menatap kesal kearah Orion. ”Omong kosong. Kalian hanya ingin memanfaatkannya saja.”
Kini sepasang mata ungunya menyorot tajam kearahku. ”Kita harus pergi dari sini. Aku akan menjamin keselamatanmu,” tegasnya sengit.
 Kutatap Tristan penuh kebimbangan.   
”Aku takkan membiarkan kau membawa Calista pergi untuk menanggung semua kesalahan yang telah kau perbuat di masa lalu, tuan Readick.” tatap Orion  tajam.
Tristan mendengus marah. ”Kaulah yang membuat kesalahan itu padaku Orion. Kau telah membunuh ayahku!” serunya meluapkan amarahnya.
Airmuka Orion sedikit berubah. Dahinya mengernyit. ”Maafkan aku. Tapi saat itu kami tengah bertarung antara hidup dan mati. Tak ada keinginanku untuk membunuh Arias dengan kesengajaan. Aku benar benar menghormati ayahmu.”
Tristan berteriak marah. ”Berhentilah bersikap munafik. Kau sama sekali tidak akan mendapatkan simpatiku. Aku tidak seperti Shenai yang lemah. Aku takkan memaafkanmu sampai kapanpun.”
”Dia benar Tristan. Ini suatu kesalahan!” seruku tertahan.
Orion menatapku tajam. Sepasang mata biru langitnya seolah menembus pandanganku. Kutatap wajah bijak Orion dalam kebimbangan. Orion mengangguk pelan meyakinkanku.
Seruan kedua Tristan yang bernada kemarahan terlontar seiring rapalan sihir yang dilayangkan kearah Orion yang nampaknya sudah dapat menebak serangan sihir dadakannya. Dengan gerakan elegan, Orion memutar tangan kanannya yang membentuk lingkaran dan seketika itu juga gulungan asap hitam Tristan terserap dalam lingkaran tangan Orion. Menghilang tak berbekas.
Wajah Tristan menjadi pucat seketika.
”Calista memiliki takdir yang harus dijalaninya di lembah ini. Aku tidak akan membiarkanmu membawanya. Tapi aku akan membiarkanmu pergi dengan ketenangan,” ucap Orion dengan nada tegas.
Tristan menatap Orion penuh kebencian. Orion mengalihkan pandangannya kearahku. ”Hanya kau yang dapat membangunkan Arkhataya untuk melawan kekuatan leviathan yang tengah dibangunkan kembali oleh Zorca,” ujar Orion padaku tak memperdulikan tatapan Tristan yang nampak terkejut mendengar penuturannya.
”Ternyata kau telah mengetahuinya selama ini!” seru Tistan gusar.
Orion tersenyum bijak. ”Otto Cursen memberikan penglihatan persis seperti yang ada dalam benakku.”
Kutatap Tristan gugup dengan mata berkaca kaca. Kebimbangan meliputiku tapi melihat sepasang mata biru langit Orion yang teduh dan memohon membuatku menjadi serba salah.
”Kau harus menerima takdirmu dan menolong orang orang ini dengan membangunkan naga Arkhataya. Jangan biarkan kekuatan leviathan yang dimiliki Zorca menghancurkan dunia tengah. Kami semua sangat berharap padamu,” bujuk Orion padaku.
”Jangan dengarkan dia, Calista. Kita harus segera pergi dari sini, mengerti!” seru Tristan tak sabar.
Kutatap wajah beku yang bingung itu pilu. Orion Xander benar. Melarikan diri dari takdirku bukanlah jalan keluar.
”Maafkan aku Tristan,” ujarku penuh penyesalan.
Sepasang mata ungu itu meredup. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam. Saat ini Tristan terlihat begitu rapuh dimataku.
Kuanggukkan kepala kearah Tristan yang mencoba tegar dan berdiri tegak di depanku. Kulayangkan senyum terbaikku kearahnya. Seolah memahami keinginanku, segaris senyum beku terlukis di wajah tampannya. Hanya dalam sekelebatan saja Tristan telah menghilang diantara gelapnya malam dan jejeran cemara didepanku.
Orion menatapku lega. ”Kau telah melakukan hal yang benar.”
Aku hanya termenung menatap kepergian Tristan digelapnya malam.
Kepergian Tristan semalam nampaknya belum diketahui banyak orang. Aku bahkan takkan perduli jika nanti semua orang di Sandora menjadi gempar ketika mengetahui perihal pelarian Tristan. Aku hanya berharap Orion menepati janjinya untuk melepaskan kepergian Tristan dan tidak memburunya.
Brisa mendatangiku saat makan siang. Wajah cantiknya nampak berkerut dan menatapku seolah menuntut penjelasan.  ”Shenai Readick ditemukan dalam keadaan tak sadar pagi ini. Sepertinya Tristan telah membius ibunya sendiri.”
Kuputar kedua bola mataku. ”Dia seharusnya tidak melakukan itu,” acuhku mencoba untuk menelan makan siangku.
”Mengapa aku merasa jika kau tahu persis perihal kaburnya Tristan dari lembah Crystal,” sepasang mata birunya menatapku tajam.
Sepertinya aku tidak bisa mengelabui Brisa. Lagipula aku adalah seorang pembohong yang payah.  ”Dia membujukku pergi bersamanya semalam,” desahku mengalah.
Wajah Brisa memerah. ”Mengapa kau tidak mengatakannya padaku sejak tadi pagi Cal,” ingatnya tajam.
”Aku tak ingin merusak harimu,” sahutku pelan seraya melirik kearah Cleo Maltese yang kini menatapku sinis bersama dengan beberapa orang temannya yang menunjukkan sikap permusuhannya padaku secara terang terangan.
”Terlambat. Ceritakan padaku yang sebenarnya,” perintah Brisa seenaknya seraya menarik kursi dan duduk dihadapanku.
Dengan singkat kuceritakan kejadian semalam pada Brisa. Untuk beberapa saat ia terdiam kemudian menatapku dalam. ”Lalu apa rencanamu sekarang?”
”Entahlah. Mungkin menghadapi takdirku seperti yang disarankan Orion,” desahku ragu.
Brisa hanya memandangiku dengan segudang tanda tanya terlihat jelas di wajahnya.
Sisa hari di benteng Sandora kujalani dengan malas. Titus berkali kali mengingatkanku untuk berkonsentrasi. Tapi pikiranku terlalu lelah untuk menurutinya. Dengan sedikit kesal Titus memutuskan menghukumku untuk membereskan seluruh peralatan yang biasa dipergunakan sehabis berlatih milik tiap kelompok.
Kumasukan alat alat aneh tersebut ke dalam lemari di gudang penyimpanan dengan kasar. Aku sama sekali tidak menyusunnya dengan benar hingga membuat pintu lemari penyimpanan tidak mau menutup. Dengan jengkel kubanting pintu lemari tersebut sekuat tenaga. Hasilnya sama. Bukannya menutup tapi tindakan kasarku justru membuat  beberapa barang kembali berjatuhan keluar dan pinggiran kayu pintu lemari tua itu menjadi retak dan terlihat semakin menyedihkan.
”Kau ini seorang penyihir. Mengapa tidak menggunakan mantra sederhana untuk menyelesaikan masalah kecilmu itu,” sapa suara merdu dibelakangku.
Ness Ferin berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap di dada dan menatapku datar. Postur tubuhnya yang sempurna terlihat begitu kekar dengan wajah tampannya yang semakin terlihat menawan dimataku.
”Titus melarangku menggunakan sihir,” acuhku mencoba untuk tidak memperdulikan kehadirannya dan terus berusaha memasukkan seluruh peralatan sial ini.
Ness tertawa senang. ”Kau pasti telah membuatnya sangat kesal padamu ya.”
Aku hanya mengangkat bahu seraya melempar satu persatu peralatan latihan dengan tergesa. Kedua tangan kekar Ness kini ikut memunguti satu persatu sebagian peralatan yang masih tergeletak dilantai dan dan menaruhnya kembali ke dalam lemari. Kini kami bekerjasama membereskan peralatan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tak kuasa manahan perasaan aneh ini. Kulirik Ness dengan rasa penasaran. Wajah Ness terlihat santai tak terbebani.
”Ada sesuatu diwajahku?” tanyanya pelan mengejutkanku.
Dengan kikuk aku melempar sarung tangan kedalam lemari. ”Tidak. Aku hanya, yah terimakasih telah membantuku,” sahutku gugup.
Ness kini menatapku. Sepasang mata emasnya terlihat mengawasiku.
”Aku senang kau memutuskan untuk tinggal,” ucapnya pelan.
Aku meringis kesal. Sepertinya ia tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Ia hanya ingin membahas kepergian Tristan dariku.
 ”Aku dan Tristan memiliki takdir yang berbeda,” sahutku malas malasan.
Ness menatapku dalam namun penuh kelembutan.
”Mungkin akan terdengar sedikit aneh. Tapi jika kau butuh seorang teman. Kau dapat mengandalkanku,” desahnya.
Aku tergelak seketika. ”Kau benar. Ucapanmu memang terasa aneh dikupingku. Tapi aku akan mempertimbangkan tawaranmu itu, tuan Ferin,” ujarku setengah meledeknya.
”Jangan memulainya Kaz. Aku mengatakannya karena merasa kasihan padamu,” balas Ness dengan senyum tipis tersamar di bibirnya.
”Oh benarkah. Mengapa begitu,” tukasku dingin.
Sepertinya ia telah berhasil memancing emosiku.
”Karena kau telah menghabiskan waktumu sia sia dengan seseorang yang tidak pantas untukmu.” Ia mengangkat satu alisnya. Nada suaranya terdengar tegang.
Kusipitkan pandangan tepat kearah sepasang mata emasnya yang tengah menyorot tajam padaku hingga nyaris menembus jantungku. ”Lalu siapa yang pantas untukku. Kaukah orangnya,” ucapku melecehkan pendapat pribadinya akan kehidupan percintaanku.
Sorot mata emasnya terlihat bercahaya. Raut mukanya kini berubah kaku.  ”Entahlah. Menurutmu?” Kini ia menatapku lembut.
Aku terdiam seketika. Dia pasti asal bicara. Tapi kedua tangan Ness yang kini meraih tubuhku lembut sepertinya tidak bergurau. Sepasang mata coklat keemasannya menatapku tak berkedip. Jantungku berdegup kencang ketika ia merapatkan tubuh kekarnya dan mulai meletakkan kedua tangannya melingkari pingggangku. Kini ia memelukku erat. Wajah kami begitu dekat. Aku bahkan dapat mencium harum napasnya. Tangan kanan Ness mulai bergerak keatas. Jemarinya yang lembut menelusuri pipiku. Lalu ia meraih wajahku untuk lebih dekat ke wajah tampannya yang lembut mempesona. Hidung kami saling bertautan. Tubuhku terasa lemas dalam pelukan hangat Ness. Bibirnya mulai menekan bibirku dengan lembut dan perlahan. Aku tak kuasa menolak. Tanpa sadar bibir ini telah membalas ciumannya yang hangat. Begitu mendapatkan respon dariku, bibir Ness seolah tak mau berhenti dan terus melumat bibirku. Ciuman lembutnya berubah menjadi sedikit kasar dan mendominasi. Aku sedikit kewalahan dan hampir kehabisan napas. Aku benar benar telah jatuh dalam pesonanya dan tak kuasa menolak ciumannya yang begitu bergairah. Kubiarkan ia melumat bibirku hingga puas. Sampai akhirnya berakhir perlahan lahan dan kembali ke awal. Bibir indah itu mulai menjauh pelan. Namun kami masih menyisakan napas yang sedikit memburu.
Jemarinya kembali membelai pipiku lembut dan menatapku tajam. Kurasakan kedua pipiku menghangat. Namun kami hanya diam dan saling memandang seolah tak ingin merusak kebersamaan ini dengan ucapan.
”Rupanya kau ada disini,” sebuah seruan tajam menyadarkan kami dari mimpi indah ini.
Putri Quilla berdiri tegak dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak bersama dengan dua orang pengawalnya yang tengah berdiri disampingnya.
Dengan perlahan Ness melepaskan pelukannya dariku. Namun tangan kanannya tetap menggenggam tanganku lembut seolah mencoba untuk menenangkan. Sepasang mata emasnya menatap lurus kearah Quilla. Tetap terlihat tenang dan datar.
”Lepaskan aku Ness,” dengusku panik melihat raut wajah Quilla yang terlihat begitu dingin dan angkuh menyorot tajam kearah kami bergantian.
Tapi laki laki disebelahku nampaknya sudah kehilangan akalnya. Ia tak memperdulikan peringatanku namun malah mempererat genggaman tangannya.
”Aku tak menyangka kau masih disini. Bukankah kita telah mengucapkan salam perpisahan,” ujar Ness datar.
Dasar bodoh. Seharusnya ia berlari untuk menenangkan tunangannya itu. Bukan malah mempersulitku.
Quilla menatapku berang lalu mengalihkan pandangannya pada Ness.
”Aku hanya berpikir untuk memintamu ikut bersamaku ke Amorilla. Tapi kelihatannya kau tengah disibukkan oleh sesuatu.” Quilla berusaha keras menjaga nada suaranya yang bergetar.
Dengan sekuat tenaga kuhentakan tanganku dari genggaman kuat Ness.
”Maafkan aku putri Quilla tapi ini sebuah kesalah pahaman,” ujarku memberanikan diri untuk menatap sepasang mata indah Quilla.
Quilla tertawa kesal. ”Kalian penyihir sama saja. Tidak bisa dipercaya,” lengkingnya dingin. Seketika itu juga bulu tengkukku meremang.
Sepasang mata abu abunya menyorot tajam kearahku. ”Aku akan melupakan semua yang kulihat hari ini. Tapi, sebaiknya kau segera menyingkir dari hadapanku,” Quilla kembali berusaha keras menjaga nada ucapannya padaku di depan Ness.
”Maafkan aku. Aku akan pergi dari sini,” ujarku sopan seraya mengangguk hormat dan berlalu dengan cepat meninggalkan Ness untuk menyelesaikan semuanya dengan Quilla.
Quilla menatapku dengan penuh kebencian. Tiba tiba sebuah bisikan terdengar pelan ditelingaku seiring kepergianku berlalu dari hadapan mereka.
Kau tidak akan pernah mendapatkan dia, penyihir.
Seketika itu bulu tengkukku kembali meremang. Putri Quilla seolah telah membisikkan kata kata itu meski aku telah berada jauh darinya.
Quilla telah melemparkan ancamannya. Tubuhku sedikit bergetar dan tanganku terasa dingin namun aku terus berjalan dan berusaha melupakan kejadian hari ini.
Pagi itu aku tak beranjak dari tempat tidur. Kutatap langit langit kamar dengan sejuta pikiran. Kejadian kemarin sore di ruangan peralatan membuatku makin malas untuk bangun dan mempersiapkan diri untuk pergi ke Sandora. Meski begitu aku tak dapat melupakan hangatnya ciuman Ness yang begitu membara.
Terbayang kembali wajah cantik Quilla yang sangat marah. Kemarahannya membuatku merasa lemah dan tak berdaya. Keresahan kini timbul. Rasanya semakin banyak saja masalah yang datang padaku.
Kubenamkan kembali wajahku dalam dalam pada bantal mungil Brisa dengan kesal. Semua ini salah Ness, bukan salahku. Seharusnya ia tidak menciumku. Perbuatan pangeran peri itu tidak hanya menambah beban pikiran tapi juga menambah panjang deretan musuh musuhku. Terus terang saja, aku adalah pilihan terakhir bagi sebagian orang untuk dijadikan teman kesayangan.
Sudah bukan rahasia lagi jika semua orang di Sandora tidak ada yang menyukaiku. Bisa kurasakan denyut jantung mereka yang berdetak tak karuan dengan wajah berkerut menatapku kesal setiap aku berjalan memasuki Sandora. Pandangan mencemooh dan tatapan permusuhan selalu tertuju padaku.
Dan hari ini pun semakin menjadi jadi. Aku tahu telah terlambat datang untuk latihan sihirku mengingat sebentar lagi makan siang. Namun aku memilih untuk tidak perduli dan tetap datang ke Sandora karena telah berjanji pada Orion untuk belajar sihir lebih serius dan memenuhi takdirku.
Beberapa orang terlihat berkelompok dan berbisik terang terangan didepanku. Kucoba untuk melangkah tegar dan tak memperdulikannya. Tak berapa lama kulihat para pengajar terlihat keluar dari ruang pertemuan dengan Orion, Prechia dan Helena. Tatapan aneh Titus dan Shenai yang mengarah padaku membuatku sedikit gugup.
Sementara Darren, Agnes dan Oggie melayangkan pandangan ragu yang terarah padaku. Tak sengaja mataku bersirobok dengan tatapan tenang Ness. Airmuka Ness terlihat dingin namun sorot mata emasnya menatap cemas kearahku.
Akhirnya kuketahui jika Orion Xander telah memberitahukan takdirku sebagai penyihir naga Arkhataya pada para pengajar di Sandora dan meminta mereka untuk membantuku mempelajari sihir tingkat tinggi. Brisa juga mengatakan jika keadaan semakin genting. Kelompok Zorca mulai bergerak menguasai kota kota pertambangan kecil disepanjang jalan menuju kota Hordos.
Makan siang hari itu benar benar tak tertelan olehku.
Hari hari berikutnya terasa semakin berat untukku. Aku harus berpacu dengan waktu untuk menguasai sihir tingkat tinggi yang diajarkan Prechia dan Titus sebelum Zorca menyerang lembah Crystal. Untungnya kemajuanku sangat pesat. Apalagi mengingat darah murni Anthea mengalir ditubuhku.
Prechia bilang aku mewarisi kekuatan sihir yang sama yang dimiliki kakekku, Ghorfinus. Sihirku tajam dan akurat. Aku bahkan dapat merapal mantra hanya dengan mendengarnya sekali saja.
Tidak hanya itu. Aku juga mendapat kesempatan belajar beberapa trik psichic dari beberapa pengajar psychic termasuk Darren dan Ness. Sikap Ness yang dingin saat mengajariku seolah ingin menunjukkan keseriusannya membantuku. Kami bahkan tak sempat membahas masalah ciuman kemarin yang sepertinya telah menguap dan terlupakan begitu saja.
Kemampuan telekinetisku yang kurang terlatih menunjukkan kedashyatannya. Meski tak banyak berkomentar namun aku dapat merasakan senyum kepuasan terlintas dari bibir Ness. Sementara Darren tak henti hentinya berdecak kagum dan dengan sportif memberikan tepukan bahu berkali kali padaku. Sepertinya aku memang mengantungi beberapa keuntungan dengan memiliki ayah seperti Arman yang memiliki kekuatan psichic yang hebat.
Tak diduga sambutan hangat datang dari kelompok berbaju ungu terang. Para ilusionist muda itu menyambut hangat kehadiranku dengan senyum cerah terpancar dari wajah mereka. Hari ini adalah giliranku mengasah keterampilan pikiranku dengan kelompok illusionist. Helena Ginka tersenyum lebar menerima kehadiranku.
Seorang gadis berambut ikal merah dengan perawakannya yang tinggi tersenyum kearahku. Sepasang matanya yang berwarna coklat tua menatapku ramah.
”Halo Calista. Masih ingat aku?”
Kusipitkan pandangan. ”Tentu saja. Kau gadis yang berteriak ketakutan sewaktu kelompok Zorca menyerang Oggie, kan?” sahutku ragu.
Gadis itu tertawa. ”Benar sekali. Aku Evelyn Keech. Kau tahu, Agnes mencambak rambutku keras sekali ketika ia menyusulku kedalam hutan dalam keadaan panik. Dia benar benar kejam dan tak berperasaan,” geramnya.
”Apakah kau baik baik saja waktu itu?” tanyaku bersimpati.
Ia mengangguk riang. ”Untungnya. Dan aku senang kau selamat dari cengkraman para penyihir jahat itu.”
Aku mengangguk bingung.
”Jadi. Kau adalah anak dalam ramalan Zorca rupanya. Tapi aku sudah menduganya,” ujarnya sedikit pamer.
”Hebat sekali. Tapi bagaimana kau mengetahui itu?”tanyaku berbasa basi.
Evelyn tertawa riang. ”Aku bisa merasakan energi yang besar dan kuat terpancar dari wajah pucatmu itu.”
Aku tersenyum getir ketika mendengar ia menyinggung wajah pucatku.
”Kau pasti bertanya tanya mengapa kami menyambutmu begitu hangat?”
Aku tersenyum bingung. ”Yah pasti. Sambutan kalian membuatku terkesan.”
Evelyn kembali tertawa riang. ”Kami bukan orang orang picik yang mengucilkan seseorang dengan kelebihan mereka yang menakjubkan. Kami dapat merasakan ketulusan yang kau sebarkan lewat auramu. Kau akan selalu diterima di kelompok kami.”
Para ilusionist muda ini seolah mengalami euphoria akan statusku sebagai penyihir naga Arkhataya. Beberapa diantaranya malah terang terangan menyatakan aku sebagai tamu kehormatan diberbagai kegiatan para ilusionist muda yang seringkali bermeditasi bersama.
Mereka membantuku belajar mengendalikan pikiran dan membaca ramalan. Meski terkadang aku mendapat penglihatan lewat mimpi namun itu tidak banyak membantu dan seringkali tidak akurat. Helena mengatakan selama beban pikiran masih terlalu banyak maka aku takkan bisa melepaskan aura positif ditubuhku untuk melihat atau membaca suatu pertanda dengan jernih.
Kekuatan para ilusionist tidak bisa dianggap remeh. Terbukti ketika Evelyn berhasil mendemonstrasikan kekuatannya mengendalikan pikiran seseorang dengan cara menghipnotisnya. Aku jadi teringat Tristan. Menurut Evelyn seorang penyihir biasanya akan lebih cepat menguasai tehnik ini mengingat ia memiliki rapalan mantra yang dapat membantu proses pengendalian pikiran. Dan keluarga Readick adalah pengendali pikiran yang hebat di lembah Crystal.
Makan siangku hari ini jadi terasa menyenangkan dengan keberadaan teman teman ilusionisku. Evelyn mengaku tak kuasa menahan haru ketika melihatku selalu makan siang sendirian sejak Tristan meninggalkanku. Suatu perhatian yang berlebihan menurutku.
Malam itu aku memimpikan Tristan. Kami berlari bebas ditengah padang rumput yang melambai lambai tertiup angin kencang. Cuaca musim panas yang cerah dan hangat membuat wajah beku Tristan terlihat hangat dan cerah kala menatapku. Kami berpegangan tangan seolah tak ingin melepaskan satu sama lain.
Tiba tiba awan hitam bergerak menutupi matahari yang bersinar terang. Wajah Tristan kembali membeku. Sosok laki laki asing berjubah hitam berdiri dihadapanku dan Tristan. Laki laki itu kini menatap tajam kearah kami. Meski samar namun wajahnya terlihat pucat seputih kapas. Ia tertawa keras dan lantang. Dengan cepat Tristan memelukku dan menjadikan tubuhnya sebagai perisaiku.
Laki laki itu berteriak memanggil namaku. Membuat seluruh tubuhku bergetar kencang ketakutan. Kemudian ia mengacungkan tangan kanannya kearah kami seolah memberi perintah pada sesuatu yang tak terlihat. Ia merapalkan sebuah kata kata yang menyerupai nyanyian sihir. Tristan menatapku panik seraya meneriakkan kata kata yang tak dapat kumengerti. Tiba tiba sesuatu yang besar merayap pelan dibelakang laki laki berjubah hitam tadi. Makhluk itu meliuk liuk seolah tengah menari mengikuti nyanyian sihir yang terdengar parau ditelingaku. Ular raksasa itu kini mendesis keras dengan tujuh kepalanya yang menatapku marah.
Tristan kembali berteriak dan mendorongku untuk menjauh namun terlambat. Nyanyian laki laki itu kini berganti dengan teriakan keras seperti kata kata perintah. Tujuh kepala ular raksasa itu saling berkejaran dan meluncur cepat kearah kami. Seketika itu juga aku menjerit kencang dan sangat ketakutan. Aku tersadar dari mimpi burukku oleh guncangan tangan Brisa di kedua bahuku.
”Aku melihatnya Bris.” getarku ketakutan.
Brisa menatapku tegang. ”Tenangkan dirimu.”
”Dia memanggilnya. Zorca memanggil makhluk jahat dari neraka itu.” seruku marah.
Brisa terpaku menatapku.

Writer : Misaini Indra