Protected by Copyscape Plagiarism Scanner

Tuesday, 14 February 2012

PART II : Calista Kaz “Bangkitnya Sang Naga” (Chapter 1)


1. AMORILLA

Fajar telah datang untuk mengakhiri gelapnya malam. Namun mentari seolah malas menyapa pagi. Kupertajam penglihatanku pada cahaya cahaya redup dikejauhan. Cahaya tersebut perlahan lahan merayap dan menyusup dalam keheningan negri Amorilla yang beku. Mencoba membawa keceriaan bagi negri peri ini.
Aku menguap lebar lebar seraya mengusap pelan kedua mataku yang terasa gatal. Aku tidak tidur semalaman. Sekeras apapun usahaku untuk tertidur namun semua itu sia sia. Tetap saja mataku tak mau terpejam. Kulemparkan bantal bantal empuk disekelilingku sembarangan. Kutatap wajah Brisa yang tertidur diranjang sebelahku. Begitu tenang dan damai. Dengkuran halusnya menandakan jika wanita itu sangat menikmati waktu tidurnya.
Untuk sesaat aku termenung. Sudah beberapa hari ini aku bermimpi tentang Tristan. Masih jelas teringat, wajah tampannya yang dingin, senyum bekunya yang sinis serta sorot mata ungunya yang dalam ketika memandangku. Aku tak dapat menepis bayangnya dibenakku. Dan saat ini aku sangat merindukan sosoknya untuk hadir menemaniku, melalui masa sulit seperti ini.  Sebagian dari diriku seolah menolak kepergiannya dan selalu  berpikir jika Tristan selalu ada di sini. Dihatiku.  
Airmata mulai jatuh disudut kedua mata lelahku. Rasa kehilangan yang menghantui dan kurang lebih sama dengan yang kurasakan ketika kehilangan ayahku sewaktu di Essendra, telah menyita seluruh energiku. Kubenamkan wajah ini pada kedua telapak tanganku yang terbuka. Mencoba untuk meredam rasa hampa yang kurasakan. Sayangnya, aku selalu gagal melakukan itu. Ditambah lagi oleh rasa bersalah yang menjadi beban terbesarku adalah, pengorbanan Orion Xander untuk keselamatan jiwaku. Aku telah membuat lembah Crystal kehilangan sosok pemimpin hebat yang sangat dicintai rakyatnya itu.
Kususuri karpet kamar dengan seretan langkah gundah. Dengan hanya mengenakan gaun tidur sutra pinjaman aku keluar dari kamar melewati susuran tangga teras untuk membunuh rasa kehilangan ini. Kusapu pandangan seraya mengamati luasnya taman istana yang diterangi lentera lentera yang tergantung di batang batang cemara dengan tatapan terpesona.
Kolam air mancur ditengah taman istana, bergemerisik, memperdengarkan irama merdu yang teratur. Tak kuperdulikan dinginnya hembusan angin di awal musim dingin yang sangat membekukan ini. Kududuki kursi kayu tua yang masih basah karena embun pagi. Untuk sesaat aku termenung. Angin dingin yang berhembus keras kini mempermainkan rambut coklatku yang terurai. Kakiku yang telanjang mulai terasa kedinginan. Badanku pun ikut bergetar merasakan dinginnya hembusan angin yang menyelinap diantara gaun sutraku yang tipis. Gaun sutra pinjaman dari negri Amorilla ini mungkin saja salah satu gaun tidur bekas milik putri Quilla yang sudah tak terpakai. Aku tersenyum sendirian begitu memikirkannya.
“Kau akan membeku jika berlama lama berada disini.”
Ness Ferin menatapku penuh perhatian. Ia bersandar pada salah satu pohon cemara yang hampir mengering. Sepasang mata emasnya menyorot tajam kearahku, membuatku terpesona dan hanya tertegun tak menyahutinya.
“Seingatku kau tidak suka bangun pagi, benarkah?” sepasang matanya menyipit meminta jawaban.
Wajahku menghangat. Kuatur posisi dudukku. “Kebiasaan seseorang bisa dirubah kan,” desahku pelan seraya membuang pandangan jauh ke depan.
Ness tertawa, dengan nada rendah dan merdu. “Sepertinya kau selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan,” gelengnya.
Segaris senyum kaku tergurat diwajahku.
Ekor mata Ness melirik sekilas kearahku. “Kau memang banyak berubah.”
Kuhembuskan napas perlahan dan memberanikan diri untuk memandangnya. “Maaf jika mengecewakanmu.”
Ia tergelak. Kemudian mengusap lehernya dengan tangan kanannya yang kokoh. Lalu kembali bersedekap dan menatapku riang. Wajahnya terlihat begitu menyenangkan dan sayang untuk dilewatkan walau sekedip saja.
Kau selalu membuatku terpesona  batinku resah.
Kami terdiam untuk beberapa saat.
“Menurutmu berapa lama batas waktu yang pantas untuk memenuhi takdirku sebagai pelindung lembah Crystal,” tanyaku pelan.
Kutatap Ness penuh harap.
Dahi Ness berkerut. Raut wajahnya terlihat tidak terlalu senang dengan pertanyaanku. “Kau mulai terdengar lelah dan kehilangan kepercayaan diri,” tukas Ness sarkastis.
Kupalingkan wajah ke kolam air mancur. Ucapannya membuatku malu.
“Takdir atau bukan. Kau telah terpilih. Lebih baik kau persiapkan dirimu daripada mengeluhkan hal yang tak penting,” desah Ness mengingatkanku.
Kuhembuskan napas dengan sedikit keras.
Ness menatapku tak berkedip.
Kucoba mengabaikan tatapannya, “Aku akan selalu mengingat ucapanmu itu,” desahku ragu.
“Sebaiknya kau bersiap siap. Sebentar lagi keluarga kerajaan akan mengadakan sebuah upacara,” ujar Ness seraya berlalu dari hadapanku.
Kutatap punggung Ness yang perlahan menjauh dengan tanda tanya atas perkataannya.
Dengan malas aku beranjak dari kursi tua ini. Kuseret langkah menuju susuran tangga teras dengan sedikit bergegas. Kuusap kedua bahu dengan telapak tanganku yang terasa dingin seraya memasuki kamar tamu dengan pikiran melayang.
Sesampainya di kamar kulihat Brisa telah bangun dan berpakaian rapih. Sudut matanya menatapku dengan pandangan nanar.
“Bergegaslah. Kita akan menghadiri upacara pemakaman salah satu kerabat kerajaan,” ujarnya datar.
Kini aku mengetahui jawaban dari perkataan Ness. Aku hanya menganggukkan kepala tanpa banyak bertanya.
Setelah selesai mandi dan mempersiapkan diri, Brisa mengatakan padaku jika hari itu adalah hari berduka bagi negri Amorilla. Karena salah satu kerabat dekat raja Zordius, yakni Anella telah tutup usia.  
Anella, adalah adik perempuan Thaddeaus, ayahanda Zordius yang telah tiada. Dan hari ini raja Zordius mengundang para ksatria lembah Crystal untuk mengikuti upacara pemakamannya.
Raja Zordius berdiri tegak mengenakan jubah perak yang indah didampingi ratu Orelia yang terlihat anggun, mengenakan jubah dengan warna senada. Dibelakang mereka nampak putri Quilla berdiri angkuh dengan dagu yang sedikit terangkat keatas seraya menatap sekelilingnya dengan dingin. Quilla terlihat cantik dengan gaun sutranya yang berwarna perak. Rambut pirangnya yang keemasan tergulung rapih dihiasi jepit yang juga berwarna perak berbentuk bintang.
Pandanganku beralih pada Ness Ferin yang terlihat dibarisan belakang para kerabat raja bersama ibunya, Piphylia yang terlihat sedih.
Sepasang mataku tak kuasa untuk melepas pandangan dari sosok Ness. Meski pagi ini kami telah lebih dulu bertemu namun rasanya aku tak pernah bosan memandangnya. Wajah tampannya terlihat bercahaya. Ia mengenakan jubah perak dan pakaian berwarna sama dengan kerabat raja lainnya. Ness terlihat gagah dan mempesona dari jarak pandangku.
Sepuluh orang datang dengan memakai pakaian serba putih lengkap dengan jubah panjang yang tersulam gambar kepala unicorn dan pedang yang tersarung di pinggang masing masing. Mereka mengawal seorang laki laki tua yang masih terlihat gagah. Laki laki itu menggunakan jubah yang berwarna sama dengan yang dikenakan raja Zordius. Sorot matanya terlihat tajam. Untuk sesaat ia melirik kearah Zordius dan mengangguk hormat. Sementara Zordius hanya membalas senyumnya dengan kaku. Kemudian laki laki tadi kembali menghadap ke depan mengikuti jalannya upacara pemakaman. Untuk sesaat aku sempat melirik raut wajah Ness yang menegang begitu melihat kearah laki laki tua tersebut.
Jasad Anella dibaringkan pada sebuah altar batu pualam. Wajahnya yang seputih kapas masih menunjukkan sisa sisa kecantikan. Tujuh wanita cantik mengelilinginya sambil memegang lilin yang menyala ditangan mereka masing masing. Tujuh wanita cantik tersebut mulai menyenandungkan nada seperti nyanyian. Rendah dan merdu.
Disini terbaring seorang wanita mulia..
Dengan ketegaran dan cinta yang ditinggalkannya..
Disini terbaring seorang wanita tercinta..
Senandungkan lagu perpisahan untuknya..
Kami takkan melupakan selamanya ...
Raja Zordius menghampiri jasad Anella dan menaruh setangkai mawar putih diikuti oleh ratu Orelia yang juga melakukan hal yang sama. Sepertinya mawar putih adalah sebuah lambang perpisahan atau mungkin saja merupakan sebuah bunga kesayangan Anella.
Tujuh wanita yang memegang lilin tadi kembali menyenandungkan nada pujian dengan nada rendah yang terdengar memilukan seperti sebuah nyanyian perpisahan.
Kini empat orang pengawal kerajaan Amorilla yang mengenakan jubah putih panjang berlambang unicorn membawa sebuah tandu yang sangat indah. Tertutup kelambu perak disekelilingnya. Laki laki tua yang memakai jubah perak yang datang bersama serombongan pasukan cahaya dengan perlahan menghampiri jasad Anella. Ia membungkuk untuk sesaat dan mencium kening Anella dengan raut wajah penuh kegetiran.
Suara isak tangis Piphylia pecah seketika. Beberapa dari kami sempat mengarahkan pandangan pada Piphylia yang kini berada dalam dekapan Ness. Sorot mata Ness terlihat tajam dan penuh kekesalan mengarah tepat pada laki laki tua yang tadi mencium kening Anella.
Hanya raja Zordius, ratu Orelia ataupun putri Quilla terlihat tenang dan sepertinya tidak terganggu oleh isak tangis Piphylia yang semakin terdengar jelas dalam upacara pemakaman ini.
Kulirik kearah sebagian dari para ksatria lembah Crystal yang hadir dalam upacara pemakaman ini sama bingungnya denganku dan hanya saling berpandangan melihat reaksi Piphylia Ferin yang terisak pilu menangisi jasad Anella. Hanya Prechia, Helena, Shenai dan Titus yang bersikap tenang seolah isakan tangis Piphylia adalah hal yang wajar.  
Kulirik wajah sedih Titus yang kebetulan berdiri disampingku. Kusikut lengannya perlahan. Titus menatapku bingung. Kuputar kedua bola mataku seraya memiringkan kepalaku tepat kearah Ness yang tengah mendekap ibunya yang masih menangis.
Kedua mata Titus menyipit. Kuhembuskan napas panjang dan kembali memiringkan kepalaku kearah Ness dan Piphylia, berharap ia mengerti maksudku. Wajah bingung Titus kini terlihat tegang. ”Nanti saja,” bisiknya kaku.
Aku merengut kesal.
Laki laki tua tadi kini menggendong jasad Anella dan membaringkannya ke dalam tandu seraya menutup kelambunya. Lalu ia memberikan isyarat dengan tangan kanannya pada sepuluh orang pasukan cahaya untuk berjalan bersama di depan. Diiringi oleh tujuh wanita cantik tadi yang menyenandungkan lagu perpisahan. Baru kemudian keempat pengawal kerajaan yang mengusung tandu berisi jasad Anella kemudian dikuti oleh iring iringan keluarga kerajaan dibelakangnya dan rombongan tamu termasuk kami para ksatria lembah Crystal.  
Iring iringan ini berjalan keluar istana Amorilla. Menyusuri jalan utama dimana para rakyat Amorilla, para bangsa peri, yang telah bercampur dengan para pengungsi dari lembah Crystal lainnya tengah menunduk hormat begitu melihat iringan pemakaman Anella melewati mereka. Kulirik sekilas rakyat Amorilla yang mulai bermunculan dari balik hutan Sprhonia. Tak sadar aku berdecak kagum memandangi raut wajah mereka yang begitu rupawan dengan airmuka yang terlihat dingin pada garis wajah mereka. Jujur saja aku tak pernah melihat sosok mereka sedekat ini. Dan memandangi wajah mereka sekarang, membuatku berpikir betapa bahagia dan damai sekali kehidupan yang mereka jalani disepanjang pinggiran hutan teduh selebat ini.
Barisan pohon pinus yang dahannya bergoyang karena hembusan angin musim dingin seolah merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan oleh laki laki tua yang memimpin di depan kami. Namun dengan gagah ia berjalan mendaki, menuju bukit yang dikelilingi pepohonan cemara dan hamparan pakis hutan. Disana sudah ada empat orang pengawal kerajaan yang menunggu dengan tanah yang sudah tergali.
Keempat pengawal menurunkan tandu dengan sangat hati hati. Laki laki tua tersebut membuka kelambu tempat dimana jasad Anella terbaring. Ia kembali menggendong tubuh kaku Anella lalu mencium keningnya dengan wajah penuh kepiluan. Meski tak ada setitik airmatapun yang menetes. Namun aku dapat merasakan dukanya yang mendalam. Setelah itu dengan wajah tegar, ia membaringkan Anella ke sebuah peti kayu yang telah dilapisi kain sutra dengan sulaman gambar unicorn berwarna perak sebagai alas tidurnya. Kemudian menutup peti kayu tersebut diiringi raut kesedihan.
Empat orang pembawa tandu bergegas memanggul peti kayu tersebut dan menaruhnya pada tanah yang telah tergali lalu menguburkan Anella dibawah rindangnya pepohonan cemara.
Gundukkan tanah segar telah diratakan. Dan jasad Anella telah terbaring damai di dalamnya. Belakangan baru kuketahui jika laki laki tua yang tengah berduka dan mengantarkan jasad Anella pada pembaringannya yang terakhir itu adalah suaminya sendiri. Laki laki itu bernama Odile. Seorang jenderal pasukan cahaya di masa pemerintahan raja Thaddeaus. Odile adalah ayah dari Piphylia Ferin. Yang artinya adalah,  kakek dari Ness.
Kutatap Titus penuh rasa bingung bercampur kekaguman. ”Apakah semua orang di lembah Crystal mengetahui hal ini,” tanyaku penasaran.
Titus menggeleng. ”Kurasa hanya orang tertentu saja.”
Melihat ekspresi wajah Prechia yang tenang ketika mendengar isak tangis Piphylia. Aku berpendapat jika dia dan Orion sudah pasti mengetahui hal ini. Begitu pula dengan Shenai dan Helena.
”Aku tidak mengerti Titus. Mengapa mereka tidak membiarkan Piphylia mendekati jasad ibunya sendiri di pembaringan terakhirnya,” ujarku penasaran.
Titus menghela napas perlahan. Ditatapnya wajahku dengan ragu ragu. Sebelum akhirnya ia menceritakan kisah dibalik kehidupan keluarga Ness yang sesungguhnya. ”Waktu masa pemerintahan raja Thaddeaus, ayah dari Zordius. Odile membawa kejayaan bagi negri Amorilla sebagai negri yang disegani. Thaddeaus mempercayakan keamanan negrinya dibawah kendali Odile dan pasukan cahayanya yang tangguh.”
Titus berhenti sebentar untuk menarik napas. ”Sebagai balas budi, Thaddeaus meminta Odile untuk menikahi Anella, adik perempuannya. Dan menjadikan Odile sebagai bagian dari keluarga kerajaan Amorilla, bangsawan elf. Pernikahan Odile dan Anella dikaruniai seorang anak perempuan yaitu Piphylia. Piphylia kecil yang gemar berkebun, mewarisi bakat Anella untuk meracik ramuan obat dari berbagai jenis tanaman. Piphylia adalah satu satunya peri penyembuh dari Amorilla yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit apapun. Bahkan sebuah kutukan sihir terburuk yang di derita seseorang,” desah Titus menerawang.
”Kesetiaan dan kehebatan Odile melindungi raja Thaddeaus dan kerajaan Amorilla membuat Thaddeaus semakin kagum dan memiliki gagasan gila untuk menikahkan putra putri mereka. Namun takdir berkata lain. Beranjak dewasa, Piphylia yang sedang mencari tanaman untuk racikan obatnya dan tengah berada di dalam hutan Sprhonia, menyenandungkan sebuah lagu yang indah dengan suaranya yang merdu hingga terdengar oleh seorang pemuda yang bukan berasal dari keturunan peri hingga jatuh cinta seketika, begitu mendengar suara indahnya.”
”Aisling Ferin tengah berada dalam hutan Sprhonia untuk berburu rusa. Begitu melihat kecantikan Piphylia yang bersuara merdu seketika itu juga terpesona. Mereka bertemu dan saling jatuh cinta. Belakangan diketahui Aisling adalah seorang pemuda yang memiliki kekuatan telekinetis dan tengah mengembara. Akhirnya Aisling memutuskan untuk tinggal sementara di pinggiran hutan Sprhonia demi bertemu dengan Piphylia.”
Titus menarik napas perlahan.
”Ketika Odile menyampaikan keinginan rajanya pada anak perempuannya itu. Piphylia menolak dengan alasan telah menemukan cintanya pada Aisling. Odile murka begitu mengetahui putrinya telah jatuh cinta pada pemuda biasa yang bukan berasal dari kalangan bangsawan elf. Dengan seluruh kekuatan cahaya yang dimiliknya Odile melampiaskan kemarahannya dengan menyerang Aisling yang tengah menunggu Piphylia ditempat pertemuan rahasia mereka dipinggir hutan Sprhonia. Dalam keadaan terdesak dan hampir kalah dari Odile, Piphylia yang datang bersama ibunya, Anella, meraung meminta ayahnya untuk menghentikan serangannya pada pemuda yang dicintainya itu. Namun semua itu hanya membuat Odile semakin menggila dan tak mau berhenti untuk terus menyerang Aisling yang telah terluka parah. Melihat jeritan pemohonan putri satu satunya, Anella gundah dan merasa iba, lalu ia menjadikan tubuhnya sebagai perisai dari serangan Odile untuk menyelamatkan laki laki yang dicintai putri satu satunya itu.”
Aku menahan napas untuk beberapa saat mendengar penuturan Titus.
”Anella roboh ke tanah. Ia terluka parah dan separuh tubuhnya menjadi lumpuh karena serangan Odile. Odile yang kecewa dan terluka hatinya mengusir Piphylia selamanya dari Amorilla dan tak mau mengakuinya sebagai anak. Dalam keadaan bingung dan sedih Piphylia membawa Aisling yang terluka parah dan merawatnya. Hingga akhirnya mereka menikah dan pergi mencari tempat damai untuk hidup bersama,” ujar Titus menutup cerita singkatnya akan kisah hidup Piphylia Ferin.
”Isak tangis Piphylia tadi adalah ungkapan kesedihannya akan kebekuan Odile yang tak pernah membiarkan ia melihat keadaan Anella hingga akhir hidupnya,” desah Titus seraya menatap langit biru yang cerah.
Kutatap Titus dengan raut penasaran. Seakan mengerti arti tatapanku ia memicingkan matanya. ”Ness membenci Odile, dan separuh darah peri yang mengalir ditubuhnya itu.”
Kuhembuskan napas perlahan. Sepertinya aku bisa mengerti alasan Ness.
”Lalu mengapa Ness memilih Quilla,” tanyaku tertahan. Untungnya Titus tidak terlalu memperhatikan wajahku yang sedikit memerah ketika menanyakan perihal hubungan Ness dan Quilla.
”Ketika Ness beranjak remaja. Dia tumbuh menjadi pribadi yang cukup, yah mempesona,” dehem Titus canggung.
Segaris senyum hangat tergambar diwajahku.
Titus memutar kedua bola matanya. ”Maksudku begini. Ness sangat pendiam dan tertutup sejak kematian Aisling sewaktu serangan Zorca dan para pengikutnya pada upacara pengangkatan Orion,” ralat Titus.
Aku mengangguk dan berlagak bodoh.
”Namun ia tumbuh menjadi pemuda tangguh dan memilki kekuatan telekinetis hebat yang dimiliki ayahnya. Orion membujuknya untuk mengembangkan kekuatannya itu di Sandora sebagai salah satu ksatria lembah Crystal dibawah bimbinganku. Itulah sebabnya aku sangat mengetahui latar belakang kehidupannya,” suara Titus terdengar kaku.
”Tapi itu tidak menjawab pertanyaanku barusan padamu Titus,” gumamku memojokkannya seraya menaikkan kedua bahuku.
Titus terdiam untuk beberapa saat. Dahinya terlihat sedikit berkerut. ”Oh masalah perjodohannya dengan Quilla ya,” gumamnya balik bertanya.
Aku terkesiap. Perjodohan. Kupikir mereka hanya menjalani percintaan biasa yang  bersifat sementara.
Titus mengernyitkan dahinya. ”Begini. Odile mengirim seorang utusan untuk mengundang Ness. Mungkin diambang masa tuanya ia memutuskan dan merasa perlu untuk melihat seperti apa cucunya itu. Desakan Piphylia untuk menemui Odile, membuat Ness tak kuasa menolak undangan Odile ke Amorilla. Awalnya Odile begitu angkuh dan memandang Ness sebelah mata. Namun kekaguman yang tersorot di kedua mata tajam Odile tak dapat ditutupi begitu melihat sosok Ness. Odile menawarkan tempat tinggal untuk Ness di Amorilla dan berniat mendidik cucunya itu menjadi seorang prajurit cahaya yang tangguh. Namun Ness menolaknya. Dan saat Ness menghadiri undangan makan malam di istana dari raja Zordius bersama Odile, saat itulah putri Quilla jatuh cinta begitu melihat pesona yang terpancar dari wajah Ness yang tampan,” kali ini suara Titus terdengar melengking dengan sikapnya yang terlihat tak nyaman akan pernyataannya sendiri terhadap Ness.
Aku menggigit bibirku untuk menyembunyikan tawa.
”Bagaimana kau bisa tahu begitu banyak tentang hal ini,” selidikku.
Titus menatapku kesal. ”Karena aku mendampingi kepergian Ness ke negri Amorilla atas perintah Orion Xander. Padahal aku memiliki tugas yang jauh lebih penting daripada sekedar mengantar Ness ke Amorilla,” ujarnya menjelaskan dengan wajah berkerut.
Tawaku pecah. Aku tak sanggup lagi menahan rasa geliku.
”Aku seorang mentor ksatria sihir di lembah Crystal tapi Orion selalu memberikan misi untuk mengasuh ksatria ksatria sihir muda yang kehilangan arah,” ucap Titus sedikit kesal.
Kuhentikan tawaku dengan napas terputus putus. ”Maaf.”
”Dan kau adalah salah satunya,” lengking Titus seraya meletakkan telunjuknya tepat didahiku.
”Heyy, itu sangat tidak sopan master Titus,” protesku pelan.
Dengan wajah jengah Titus mengalihkan tatapannya dariku. ”Nanti malam ada jamuan makan malam untuk mengenang kepergian Anella. Raja Zordius mengundang Prechia dan para ksatria Crystal untuk datang,” dengus Titus.
Kuanggukkan kepala tanda mengerti. ”Kalau begitu sampai ketemu nanti malam,” gumamku pelan.
Titus mengangguk sebelum akhirnya berlalu dari hadapanku.
Kutarik napas panjang seraya menatap punggung Titus dari belakang.

Para peri sangat menghormati leluhurnya. Mereka menghormati kelahiran sama seperti mereka menghormati kematian. Anella adalah kebanggaan negri Amorilla. Bibi Zordius itu adalah seorang peri penyembuh yang terkenal ramah dan penolong. Sifat rendah hati Anella pun menurun pada putrinya Piphylia. Yang tak pernah membedakan siapapun yang ditolongnya.
Odile terlihat duduk dengan tenang disamping raja Zordius. Sementara ratu Orelia dan putri Quilla duduk disebelah kiri Zordius dengan anggun. Kali ini para anggota kerajaan mengenakan pakaian berwarna keemasan. Sesekali mata tajam Odile mengawasi ke sekeliling meja, mengamati para undangan yang tengah duduk satu persatu. Ketika sepasang matanya menatap kearahku aku dapat merasakan getaran kuat jika Odile tengah menajamkan pandangannya dan mengamati wajahku. Sementara Zordius nampak membisikkan sesuatu di kuping Odile begitu ia mengetahui jika Odile tengah mengawasiku.
Kualihkan pandanganku mencoba untuk menghindari tatapan Odile. Seolah merasakan keresahanku. Odile mengalihkan pandangannya pada cucu satu satunya yaitu, Ness yang terlihat duduk mendampingi Piphylia yang terlihat lesu. Sepasang mata wanita lembut itu nampak sembab karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Tangan Ness tak henti hentinya mengusap bahu ibunya itu seolah mencoba memberikan ketenangan padanya.
Tanpa sadar sepasang mata kami bertemu. Mata coklat keemasannya yang indah menatapku datar. Kucoba melempar senyum tipis sebagai tanda rasa dukaku. Ness memahami arti senyumku. Ia mengangguk pelan dan kembali mengalihkan tatapannya pada Piphylia.
Odile bangkit dari tempat duduknya dan seisi ruangan seketika berhenti bersuara. ”Kuucapkan terimakasih yang paling dalam atas kehadiran para ksatria lembah Crystal yang telah menghadiri pemakaman istriku, Anella,” ujarnya lantang membuka percakapan. Yang disambut dengan anggukkan hormat kami padanya.
”Dan untuk Prechia Gold dan para ksatria lembah Crystal yang pemberani. Aku turut berduka atas keadaan negri kalian dan kepergian pemimpin kalian Orion Xander. Orion adalah sahabatku yang berhati mulia sekaligus seorang pemimpin yang hebat,” dengusnya bersemangat.
Prechia berdiri dengan senyum penghormatan ditujukan pada Odile. ”Terimakasih, teman baikku Odile. Kata katamu memberikan semangat bagi kami semua untuk memperjuangkan kembali tanah leluhur kami yang telah terampas.”
Odile membalasnya dengan mengangguk hormat.
Zordius kini ikut berdiri disamping Odile dan mengangkat gelas ditangan kanannya tinggi tinggi. ”Sebaiknya kita bersulang untuk Anella. Semoga kedamaian selalu bersamanya.”
Kami pun mengangkat gelas bersama sama dan bersulang untuk Anella.
Sepanjang malam ini kuhabiskan waktu dengan melamun di meja makan. Di waktu yang begitu sempit aku berusaha keras memutar otak, mencari cara mudah untuk segera merapalkan mantra membangunkan sang naga. Kulirik Titus yang tengah sibuk berbincang dengan Prechia. Laki laki kurus itu adalah seorang mentor yang hebat namun sayangnya ia terlalu berhati hati jika mengambil keputusan hingga seringkali memperlambat kemajuanku.
Paginya aku berniat menemui Prechia untuk meminta ijin padanya untuk kembali ke hutan Farfasian. Karena hanya itulah satu satunya jalan bagiku berlatih mantra untuk membangunkan Arkhataya. Tapi sepertinya, aku harus menahan keinginanku karena Prechia kini tengah disibukkan oleh Shenai dan Helena yang tengah mendiskusikan nasib rakyat lembah Crystal yang kini seluruhnya bergantung padaku. Aku tak sengaja mendengar perkataan tajam Shenai yang menyudutkanku dari balik pintu kamar Prechia. Dan berlari kesal meninggalkan kamar Prechia dengan perasaan kacau.
Kucoba menenangkan pikiran dengan duduk di kursi kayu tua dekat kolam kecil disamping taman istana Amorilla. Aku menyukai tempat ini karena letaknya yang agak tersembunyi. Kupandangi kolam kecil yang berada di depanku itu. Begitu tenang dan datar. Kuhembuskan napas panjang perlahan untuk sekedar melepaskan beban pikiranku. Aku benci seperti ini. Menjadi tak berguna dan menyusahkan. Sementara nasib penduduk lembah Crystal bergantung padaku. Inikah yang dinamakan takdir. Sungguh menggelikan, dengusku marah.
Samar samar kudengar suara keras seperti bernada amarah. Ternyata aku tak sendirian. Sosok yang telah kukenal nampak saling berhadapan tepat sepuluh langkah dari tempatku duduk dan terlihat tengah bersitegang. Odile nampak terlibat perdebatan dengan Ness. Mereka berdiri disebuah jembatan kecil di taman utama. Raut muka Ness terlihat marah sementara Odile menatapnya dengan pandangan menyudutkan.  
Aku tak dapat menahan kedua mataku untuk tidak melepaskan pandanganku kearah mereka. Perdebatan kecil mereka terhenti karena Ness mengakhirinya dengan berjalan lurus lurus memunggungi Odile dan tak mau memberi kesempatan pada kakeknya itu untuk meneruskan pembicaraannya. Odile terlihat marah dan menatap tajam kearah punggung Ness sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan taman utama.
Wajah Ness terlihat sama kacaunya dengan perasaanku. Kini sosok laki laki tampan itu menghentikan langkahnya begitu tiba di depanku. Mata emasnya menatapku dengan sorot aneh. Kubalas tatapannya itu dengan mencoba bersikap tenang menutupi rasa tersipuku.
”Sepertinya kau mendapatkan tontonan yang menarik hari ini,” ujarnya sinis seraya menyipitkan pandangannya kala menatapku.
”Tidak juga. Aku tidak tertarik dengan urusan orang lain,” hembusku keras mencoba mengacuhkannya.
Ness tergelak parau. Kini ia memandangiku dengan raut mukanya yang kembali  tenang dan datar. ”Boleh aku duduk disampingmu?”  tanyanya sopan.
Aku hanya mengangguk pelan.
Ia menghempaskan tubuh kekarnya ke kursi tua ini hingga berderit. Kemudian menatap lurus ke depan. Memandangi kolam kecil di depan kami. Kunikmati wajah tampannya yang indah dari tempat dudukku dengan sembunyi sembunyi.
”Kau tahu. Lebih baik aku menghadapi puluhan pengikut Zorca daripada berurusan  dengan laki laki tua itu,” desahnya sendirian. Wajah tampannya kini terlihat redup.
”Apa yang diinginkan Odile padamu, hingga kau terdengar begitu putus asa,” helaku penasaran.
Ness tersenyum getir. ”Untuk orang yang tidak tertarik dengan urusan orang lain, pertanyaanmu itu menyiratkan rasa keingintahuan yang dalam.”
”Kau tak perlu menjawab pertanyaanku jika kau tak mau,” sungutku kesal.
Sudut bibir indah Ness hanya membentuk senyuman. Ia melirik kearahku sekilas. ”Ia menginginkan aku dan Piphylia kembali padanya,” desahnya.
Kulirik laki laki itu sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan.
”Kurasa permintaannya sangat sederhana. Memiliki kembali keluarganya setelah mengalami rasa kehilangan yang menyakitkan,” sahutku datar.
Satu alis matanya terangkat. ”Kerinduannya pada kami dapat ku mengerti tapi..,” kini ia menggantung kalimatnya seolah menimbang nimbang apakah akan meneruskan ucapannya atau tidak. Kini ia membalikkan tubuh kekarnya sejajar kearahku dan mencoba untuk membaca raut wajahku.
”Apa yang akan kau katakan pada Ghorfinus seandainya ia masih hidup saat kau mengetahui ia telah mewariskan gelang pusaka itu padamu,” tanya Ness penasaran seraya melayangkan pandangannya pada gelang Arkhataya yang melingkar di lengan kananku.
Kutatap Ness nanar. ”Saat ini kita sedang tidak membicarakan tentang aku, Ferin” sindirku tajam.
Ness menggeleng kuat kuat. ”Tidak. Aku hanya ingin mengatakan padamu jika sekarang aku mulai memahami perasaanmu ketika kau harus menanggung beban yang sebenarnya tidak kau inginkan,” dengusnya dingin seraya menatapku dalam.
”Pernyataan simpati mu sama sekali tidak menghiburku,” tandasku kesal seraya berdiri dengan posisi tegang.
Ness hanya duduk bersedekap dan menghindari tatapanku. ”Odile ingin mewariskan pusaka Griffin padaku sebagai penerusnya,” gumamnya hampir tak terdengar.
Kuputar kedua bola mataku. Pusaka Griffin, apa maksud ucapannya. Batinku.
”Permintaannya untuk menikahi Quilla saja sudah sangat membebaniku. Ditambah lagi mewariskan Griffin dan menjadikanku jenderal pasukan cahaya Amorilla. Laki laki tua itu pasti sudah sinting,” gumam Ness setengah memaki.
Wajahnya terlihat sedikit garang dan dingin.
Aku tersentak. Jadi Odile yang meminta Ness untuk menikahi Quilla. Pantas saja ia nampak tersiksa jika Quilla tengah berada disampingnya. Itu berarti Ness tidak memiliki perasaan apapun pada Quilla. Dengan perlahan aku kembali duduk disampingnya dengan napas lega. Kini kami terdiam. Setelah kusadari, untuk beberapa saat, aku melihat Ness sudah tak lagi mengenakan anting perak pemberian Quilla yang biasa tersemat di kuping kirinya.
”Kurasa kau telah menghilangkan antingmu,” ujarku ragu.
”Aku mengembalikan anting itu pada pemiliknya,” sahut Ness pelan.
Dadaku berdesir. Apakah ini menandakan perjodohan mereka batal, kerutku penuh tanda tanya.
”Itulah salah satu penyebab perdebatan kami yang baru saja kau lihat,” tandasnya sedikit geram menjelaskan padaku tanpa aku memintanya.
Kutatap Ness dari tempat dudukku. Ada perasaan bingung dan senang mendengar kabar tersebut. Kuhembuskan napas perlahan untuk mengatur degup jantungku yang berdetak cepat.
”Aku masih sangat muda dan bangga sewaktu aku mengetahui memiliki seorang kakek yang hebat. Seorang jenderal pasukan cahaya dari negri peri seperti Amorilla,” hembusnya pelan membuka percakapan. Kemudian ia tersenyum getir. ”Kebanggaan yang membutakan, membuatku berjanji memenuhi permintaannya untuk menikahi Quilla demi memperbaiki nama baik keluarga yang telah dihancurkan oleh ibuku dengan menikahi seseorang yang bukan berasal dari keturunan bangsawan kerajaan elf,” tukas Ness dingin mencoba membuka diri padaku.
”Odile selalu menyalahkan Piphylia atas penderitaan Anella. Namun sekarang ia menaruh harapan besar terhadapku. Sungguh tidak adil,” gumamnya sendirian.
Ada keinginan kuat untuk mengusap tangannya dan berkata sesuatu yang lembut untuk sedikit menenangkan perasaannya. Namun keinginan itu hanya kusimpan dalam anganku saja.
”Pernahkah terpikir olehmu jika ia melakukan semua itu karena ia mulai menyayangimu,” tanyaku hati hati.
Ness hanya membisu.
”Kurasa ia hanya seorang kakek yang merindukan cucu laki laki yang telah diabaikannya selama ini. Dan menjelang masa tuanya, ia baru menyadari jika ia ingin memberikan yang terbaik untukmu,” sambungku pelan mencoba memberikan pandangan yang berbeda dalam pikirannya.
Ness menghembuskan napasnya pelan.
”Kau tahu, Ness. Seseorang dapat berubah,” ingatku pelan.
Sepasang mata emas itu kini menoleh kearahku. ”Mungkin kau benar. Aku akan mempertimbangkan ucapanmu itu,” desisnya seraya berdiri.
Kutatap punggungnya dari samping. Sosoknya yang gagah, yang selalu mempesonaku, kini berbalik menatapku dari tempatnya berdiri.
”Terimakasih. Aku menyukai perbincangan kita hari ini,” kerlingnya menggodaku.
”Hari ini, kau juga tidak terlalu menyebalkan seperti biasanya,” tandasku membuatnya tergelak.
Ness berjalan meninggalkan aku yang kembali duduk sendirian melayangkan pikiranku pada Arkhataya.
 
Writer : Misaini Indra
 Image taken from : http://desktoplace.com

Wednesday, 25 January 2012

Calista Kaz "Penyihir Naga Arkhataya" (Chapter 17)


17. NYANYIAN SIHIR LEVIATHAN

Zorca Anthea mengayunkan kedua tangannya ke udara. Bibirnya seperti merapalkan mantra sihir yang menyerupai nyanyian.
Dengan wajah tegang Orion Xander dan Prechia berdiri tegak diikuti dengan beberapa ksatria sihir yang masih tersisa. Kini suara nyanyian sihir Zorca semakin keras. Mendengung seperti suara ribuan lebah yang tengah terbang mencari madu bersama.
 Samar samar terdengar suara gemerisik pepohonan diantara kencangnya angin yang tengah bertiup. Dan sebuah bayangan hitam merayap pelan dari kejauhan. Bayangan itu kini semakin jelas terlihat. Meliuk liuk seolah tengah menari mengikuti irama nyanyian sihir yang dirapalkan Zorca. Kemudian berhenti tepat dihadapan Zorca seraya mendesis.
Untuk sesaat napasku terhenti. Seekor ular raksasa yang sangat mengerikan dengan sisik hitamnya yang besar mendesis keras dengan tujuh kepalanya yang  menatap liar ke segala arah terlihat menunggu perintah untuk membunuh.
Zorca tertawa keras hingga terasa bergema ke seluruh lembah. Wajah wajah tegang bercampur resah tergambar jelas dari wajah Brisa, Titus, Helena dan Shenai yang terlihat mengatur ulang barisan pertahanan dari para ksatria yang tersisa. Prechia menatap wajah lelah Orion yang tak sedikit pun mengalihkan pandangannya pada ular raksasa dihadapannya itu.
”Hari ini kalian semua akan mati! Bahkan penyihir naga Arkhataya pun takkan sanggup melindungi kalian dari kebuasan leviathan ini!!” tawa Zorca membahana sementara ular raksasa itu hanya menggeliatkan badannya dengan tujuh kepalanya yang bergerak kesana kemari tak sabar.
Tersadar dari ketidak berdayaanku. Kucoba untuk menggerakan kedua kaki yang terasa lemas ini. Dengan keteguhan hati aku berjalan perlahan keluar dari tempat persembunyianku selama ini. Kutarik napas panjang dan meyakinkan diri lalu berlari secepat mungkin menuju tempat Orion Xander yang berdiri gagah bersama dengan para ksatrianya.
Dengan langkah tak kalah cepat Brisa mengejarku. ”Apa yang kau lakukan disini!!” seru Brisa marah begitu melihatku keluar dari tempat persembunyianku. Kudorong tubuh Brisa dengan seluruh kekuatanku dan kembali berlari kearah Zorca.
”Akulah yang kau inginkannn! Akulah penyihir naga Arkhatayaaa!!” teriakku lantang menatap marah kearah sepasang mata gelap Zorca dengan mengangkat lengan kananku seraya menunjukkan gelang emas Arkhataya padanya.
Zorca menatapku dingin tak berkedip.
Orion berlari menghampiriku dengan resah dan memegangi bahuku untuk menahan langkahku. ”Jangan bertindak bodoh  Calista!” sentak Orion marah.
Tawa Zorca pecah seketika. Terdengar keras membahana. Sepasang mata gelapnya menatapku dalam.
”Baguss!! Kini bersiaplah untuk matiii!!!” teriaknya seraya mengacungkan tangan kanannya kearahku dan meneriakkan perintah pada ular raksasa itu untuk menyerangku. Makhluk itu merayap cepat dengan tujuh kepalanya yang saling berkejaran sambil membuka mulutnya lebar lebar bersiap untuk menancapkan taringnya yang tajam menghujam seluruh tubuhku.
Dengan cepat Orion menarik tubuhku kebelakang punggungnya dan menjadikan tubuhnya sebagai perisaiku. ”Pergilahh makhluk buas atas perintahkuuu!!!” teriak Orion kencang seraya mengetukkan tongkat sihirnya ke tanah lalu mengangkatnya tinggi tinggi kearah leviathan buas itu.
Seketika itu juga terdengar suara angin puyuh menderu kencang keluar dari tongkat Orion. Dengan cepat angin itu menggulung tubuh leviathan yang nampak menggeliat marah. Namun kekuatan leviathan yang sangat besar, membuatnya mampu keluar dari gulungan angin puyuh buatan Orion meski tubuhnya harus terhempas sepuluh langkah ke tanah.
Zorca berteriak marah dan kembali menyenandungkan nyanyian sihir untuk membangunkan makhluk neraka tersebut, yang terlihat bangun dan mulai kembali merayap pelan. Prechia menarik lenganku namun sayang, Rufus terlebih dulu melancarkan sihir api kearahnya, hingga tepat mengenai lengan kanan Prechia. Prechia menjerit kesakitan. Dengan sigap Brisa membalas serangan Rufus dengan melancarkan hujaman esnya. Namun Herzog Mandal telah terlebih dulu menyerang kaki Brisa dengan sambaran api dari jemarinya. Untungnya serangan itu meleset dan hanya mengenai ujung sepatu Brisa. Namun panasnya sambaran api yang keluar dari jemari Herzog cukup membuat Brisa kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Melihat itu dengan penuh kesadaran kurapalkan sihir es ajaran Brisa dan kuarahkan tepat ke wajah jelek Herzog yang langsung pingsan seketika terkena hujaman batu es yang keluar dari telapak tanganku.
Aku berlari kearah Brisa untuk membantunya berdiri hingga tak menyadari serangan api Rufus yang tertuju kearahku. Asap hitam menggulungku cepat dan membawaku melayang ke udara. Lalu dengan perlahan menurunkanku tepat dihadapan Tristan yang menatapku cemas. Aku selamat dari jilatan api Rufus karena Tristan telah menyelamatkanku. Kupeluk Tristan dengan perasaan haru.
”Kau baik baik saja kan?” tanya Tristan lembut seraya memegangi wajahku dengan kedua tangannya. Sepasang mata ungunya terlihat resah.
”Aku sudah menduga kau akan melakukan itu Readick!!” seru Rufus dengan  sorot matanya yang kejam menatap sinis kearah kami.
Wajah Tristan berubah tegang. Sepasang matanya terlihat waspada menatap lurus kearah Rufus yang berdiri tegak dihadapan kami.
”Aku tak akan membiarkan kau membunuhnya Rufus,” ujar Tristan seraya berdiri didepanku seolah melindungi.
Rufus tertawa parau. ”Bajingan kecil yang tak tahu diri. Kau memohon untuk bergabung dengan kami namun kini kau berbalik melawanku. Seharusnya aku mempercayai ucapan Herzog. Kau sama pengecutnya dengan Arias.”
”Tidak ada yang boleh menghina ayahkuu!!!” seru Tristan marah.
Rufus tertawa puas lalu menatap kami tajam. ”Aku akan membunuh kalian berduaaa!!” serunya seraya melancarkan serangan sihir api yang keluar dari kedua tangannya bertubi tubi.
Tristan mendorong tubuhku hingga terhempas lima langkah kebelakang dan menjadikan tubuhnya sebagai perisaiku. Dalam keadaan tertelungkup ke tanah aku dapat mendengar suara jeritan Tristan yang cukup memilukan. Kuarahkan pandangan kearah Tristan yang kini terbaring memegangi pinggangnya seraya merintih menahan rasa sakit. Aku menjerit histeris meneriakkan namanya.
Shenai Readick berlari cepat dan melayangkan sihir asap kearah Rufus yang langsung mengarahkan serangan balik kearah Shenai. Shenai jatuh terjerembab dengan luka bakar di kaki kirinya sementara Rufus Black tergulung asap hitam Shenai dan terseret lima langkah menghantam pohon oak tua yang sudah separuh hangus. 
Kukerahkan seluruh tenagaku untuk menghampiri Tristan yang terbaring lemah. Pinggangnya terlihat berasap dan menghitam. Sambaran api Rufus telah menghanguskan separuh baju dan kulit dipinggang Tristan. Aku menangis kencang begitu melihat luka bakar Tristan yang begitu dalam. Kurangkul Tristan dalam pelukanku dan mulai menangis lagi.
Wajah Tristan terlihat pucat. Ia mencoba bernapas untuk mengurangi rasa sakitnya. ”Maafkan aku ... aku...tak bisa melindungimu,” bisiknya lemah seraya menatapku.
”Bertahanlah Tristan. Kumohon....” isakku marah.
Tristan tersenyum lembut. ”Aku mencintaimu Calista..,” desahnya dalam kesakitan.
Kubelai lembut wajahnya yang terlihat pucat. Menatap sepasang mata ungunya dengan kesedihan yang tak dapat kulukiskan. Segaris senyum kelegaan tergambar diwajah bekunya yang menawan. Airmataku pun jatuh ketika sepasang mata ungu itu mulai meredup seiring hembusan napas terakhirnya.
Aku meraung memanggil manggil namanya. Mengguncang guncangkan tubuhnya yang terbaring kaku dalam pelukanku. Namun wajah tampan yang biasa tersenyum sinis itu kini telah membeku. Isak tangisku semakin keras dan tak terbendung. Kupeluk tubuh kaku Tristan erat erat seolah tak rela melepaskannya.
Titus menghampiriku. Seluruh tubuhnya nampak basah kuyup.
”Diaa..te..telah pergi.. Calis..ta..” gigilnya, mencoba untuk mengingatkanku.
Aku tak memperdulikan ucapan Titus dan terus menangisi kematian Tristan.
”Apakah ....dia sudah meninggal?” sebuah suara ragu bertanya pada kami.
Kulihat Chaides Borzy berdiri tegak dihadapanku dan Titus, dengan sepasang mata hijaunya yang meredup. Titus seketika berdiri waspada dan bersiap siap merapalkan mantra sihir namun Chaides hanya tertegun menatap Tristan yang terbaring kaku dalam pelukanku.
Pergilah Chaides!!” seru Shenai marah.
Chaides menatap Shenai linglung.
”Kubilang pergi atau aku akan menghabisimu!!” kemarahan Shenai semakin meledak bercampur dengan isak tangis kesedihan.
”Ayo Chaides...,” bisik Amara Pedigo seraya menarik tangan pendek Chaides yang masih terlihat enggan mengalihkan pandangannya dari Tristan yang terbaring kaku dipelukkanku.
Sekilas, Amara melirik kearahku dengan duka dikedua sudut matanya.
Titus tertegun untuk sesaat begitu melihat Chaides dan Amara yang berjalan menjauh dan sama sekali tidak melayangkan serangan sihir mereka pada kami.
Shenai menatap wajahku yang basah oleh air mata. ”Berikan dia padaku..,” ucapnya kaku.
Kulepaskan pelukanku dari tubuh kaku Tristan dengan enggan. Dan membiarkan Shenai berganti memeluknya. Wajah Shenai terlihat basah oleh airmata. Kini ia memeluk Tristan erat seraya bersenandung pelan.
Aku kembali meneteskan air mata begitu menatap pemandangan di depanku. Aku tak sanggup melihat kematian Tristan yang begitu cepat. Rasa sedihku kini bercampur amarah. Dengan napas memburu aku berlari kearah ular raksasa yang berada dalam kendali Zorca. Titus berteriak geram memanggil namaku.
Kulihat Orion Xander tengah berjuang keras menghalau serangan tujuh kepala ular raksasa dengan melancarkan serangan petir berkali kali kearah makhluk buas itu dibantu oleh barisan ksatria psychic yang diarahkan oleh Darren yang sudah terlihat payah karena menahan rasa sakit dibahunya. Barisan psychic itu berusaha sekuat tenaga mencari celah dan menyarangkan serangan dengan pukulan pukulan jarak jauh kesekeliling tubuh leviathan yang nampak tidak merasakan sakit sama sekali.
Dalam kemarahan dan tangis air mata kucoba merapalkan sihir pemanggil sang naga,
 Bangun bangunlah Arkhataya..
            Tunjukan kesetiaanmu padaku..tunjukan kekuatanmu sebagai pelindungku...
            Dengar dengarlah Arkhataya...
            Menyatulah dalam pikiranku.. dengarkan perintahku..
Tidak ada yang terjadi.
Kembali kurapalkan kata kata sihir Obidia untuk membangunkan naga Arkhataya. Namun aku gagal bahkan untuk yang ketiga kalinya. Dengan marah kembali kurapalkan mantra pemanggil Arkhataya tanpa menyadari akan bahaya dari salah satu salah satu kepala leviathan yang meluncur cepat dan telah berada dalam jarak lima langkah diatas kepalaku. Titus berteriak keras mencoba memperingatkanku. Dan ketika aku mendongak, bulu bulu halus ditengkukku seketika itu juga meremang. Kulihat ujung lidah bercabang menjulur cepat dengan mulutnya yang terbuka, siap menancapkan taringnya yang berbisa kearahku. Sepasang matanya yang hitam menatapku liar. Jantungku berhenti berdetak dan tubuhku terasa lemas. Aku hanya tertegun melihat taring leviathan yang terlihat mulai mendekat untuk menghujam tubuhku.
Melihat jiwaku berada dalam bahaya, Orion Xander seketika itu juga mengarahkan tongkat sihirnya yang langsung mengeluarkan cahaya terang kearah makhluk buas itu hingga membutakan pandangannya untuk beberapa saat dan memberikan waktu bagi Titus untuk mendorong tubuhku hingga berguling beberapa langkah menjauhi makhluk mematikan itu.
Aku meringis menahan rasa sakit dikepalaku.
            ”Kau terluka..,” cemas Titus begitu menghampiriku dan melihat darah yang menetes di dahiku yang  sempat menghantam bebatuan kecil ketika terguling tadi.
            Aku terlalu trauma untuk menjawab pertanyaanya. Kuusap tetesan darah di dahiku sembarangan.
”Biar kulihat lukamu,” Titus memegangi dahiku lalu mengamatinya. Kemudian ia mengeluarkan sapu tangannya yang lusuh untuk menahan cucuran darah dikeningku.
            ”Aku tak bisa membangunkannya Titus,” gusarku marah tanpa memperdullikan darah dikeningku atau rasa pusing yang mulai terasa menyakitkan.
            Titus menatapku resah. ”Aku sudah menduganya. Sebaiknya kita mencari tempat yang aman.”
            ”Tidak! Aku tidak akan bersembunyi,” tolakku tegas. ”Aku akan mencoba untuk membangunkannya kembali,” ujarku keras kepala.
”Kau belum siap Calista,” ingat Titus penuh penekanan.
”Jika aku tidak membangunkan Arkhataya. Zorca akan menghancurkan lembah Crystal dan membunuh kita semua dengan ular raksasanya itu,” sahutku marah.
Titus menatapku ragu.
Tanpa kami sadari sosok tinggi dengan air muka tegang telah berdiri disamping kami.  Wajah tampan itu terlihat resah dan sangat pucat. ”Orion menyuruh kita mundur Titus. Makhluk itu terlalu kuat untuk dikalahkan,” desah Ness kesal. Sepasang mata emasnya sekilas melirik ke dahiku. Dengan satu tangan Ness menyentuh keningku dan membisikkan sesuatu. Sebuah cahaya keluar dari telapak tangannya dan menutupi luka dikeningku. Luka kecil dikeningku perlahan menutup dan membuat aliran darah di dahiku berhenti seketika.
”Kau harus lebih berhati hati lagi,” sepasang mata emas Ness terlihat cemas menatapku.
Kutatap Ness hampa. Titus melirik kami sekilas.
Bisakah kau menjaga Calista, Ness. Sepertinya aku harus mengumpulkan ksatria yang tersisa untuk mundur. Meski Zorca takkan melepaskan kita begitu saja,” Titus menyapukan pandangannya kesekeliling arena pertempuran yang porak poranda dengan jasad para ksatria lembah Crystal yang sebagian terlantar.
”Tentu. Aku akan menjaganya,” sahut Ness menatapku dalam tanpa berusaha mengalihkan pandangannya kearah Titus.
 Titus terlihat kikuk melihat sikap protektif yang ditunjukkan Ness padaku. ”Ambil ini Calista,” ujar Titus seraya menyerahkan jurnal Obidia yang sempat terjatuh dibalik hamparan pakis disamping pohon oak tua tempat persembunyianku tadi. 
Orion telah memanggil pegasus untuk meminta bantuan ke Amorilla. Berharap saja pasukan cahaya Zordius datang tepat waktu,” kali ini Ness menatap Titus mencoba memberi harapan.
Begitu Ness menyebut nama Orion seketika itu juga aku melayangkan pandanganku kearah pemimpin lembah Crystal itu.
Orion terlihat tengah berjuang mati matian menghalau serangan buas leviathan bersama dengan Prechia dan Helena. Tapi makhluk itu terlihat semakin ganas dan bertahan oleh serangan yang dilontarkan bertubi tubi. Bahkan Prechia harus merelakan pedangnya yang patah ketika berusaha menghalau salah satu kepala Leviathan yang semakin mengamuk itu.
”Munduuuurrrr!!!” perintah Orion memberi peringatan.
Beberapa penyihir muda yang kelelahan terlihat saling berpandangan.
”Semuanya mundur!!” ulang Orion terdengar marah bernada memerintah.
Brisa, Darren dan beberapa ksatria yang tersisa segera mundur perlahan seraya menyarangkan serangan bergantian.
Dengan cepat Orion mengangkat tongkat kristalnya yang mengeluarkan cahaya yang menyilaukan untuk mengaburkan pandangan ular raksasa itu dan memberi kesempatan pada para ksatrianya untuk bergerak mundur.
”Rufuss..!” teriak Zorca murka begitu melihat Orion menarik mundur pasukan sihirnya.
Seolah memahami perkataan tuannya Rufus memberikan isyarat pada pengikutnya untuk terus menyerang. Seketika itu juga Chaides, Amara dan beberapa penyihir berjubah hitam berlari cepat kearah ksatria ksatria Crystal yang telah mengambil langkah mundur seraya melayangkan serangan sihir. Tiga orang ksatria Crystal tewas ditempat begitu terkena serangan para penyihir Zorca tersebut.
Aku benar benar muak dan tak tahan melihat pembantaian yang diperintahkan Zorca. Kudorong tubuh Ness sekuat tenaga dan berlari kearah Zorca Anthea. Aku berniat menyerangnya dengan segenap kekuatan sihir yang kumiliki. Tak kuperdulikan kecemasan suara Ness yang berteriak memanggil namaku.
Zorca tersenyum puas melihat sosok tubuh rapuhku yang berlari marah kearahnya. Wajah pucatnya nampak senang dan menyambutku. Aku dapat melihat jubah hitamnya berkibar tertiup angin kencang yang menderu disekelilingnya.
”Datanglah padaku penyihir naga Arkhatayaaa. Takdirmu adalah mati ditangankuuu!!” raungnya seraya mengacungkan tangan kanannya memberi isyarat pada leviathan untuk menyerangku.
Tujuh kepala ular raksasa yang terhipnotis berpaling padaku. Belasan matanya yang sehitam malam menatapku buas. Kemudian ular raksasa itu mendesis keras.
”Bunuhhh diaaaa..!!!!” seru Zorca memberikan perintah.
Tujuh kepala ular raksasa itu saling berkejaran dan meluncur cepat kearahku. Aku hanya terpaku mengagumi kecepatan gerak tubuhnya yang merayap cepat dengan masing masing lidahnya yang mendesis dan taring taring besarnya yang siap menghujam.
Jarak kami sudah begitu dekat. Kulayangkan jemariku dan menghujami tubuh makhluk mengerikan itu dengan butiran butiran es ke tubuh dan kepalanya, namun usahaku sia sia. Tubuhnya bagai karang yang sulit dihancurkan. Jantungku berdetak kencang dan mataku hanya dapat menatap leviathan dengan pasrah untuk menerima kematianku.
Namun suara petir yang menggelegar keras menghantam dua dari kepala makhluk buas itu membuat konsentrasi serangan lima kepala lainnya terpecah. Ular raksasa itu meraung kesakitan. Sepertinya serangan petir Orion telah membutakan sepasang mata dari salah satu kepalanya.
”Lari Calista!! Selamatkan dirimuu!!!” seru Orion seraya menatapku tajam.
Belum sempat kulangkahkan kaki kaki rapuhku. Sambaran api meluncur cepat dan mendarat tepat mengenai dada Orion Xander yang langsung terlempar sepuluh langkah dan tertelungkup ke tanah. Tubuh Orion seketika itu juga terbaring kaku.
Aku menjerit histeris dan berusaha menghampiri Orion. Namun Sebuah tangan kekar menyambar tubuhku dan menyeretku dengan cepat. Kutatap sepasang mata emas Ness yang terlihat sedih ketika memeluk tubuhku dan membawaku pergi dari tempat itu.
Tawa kemenangan Zorca membahana keseluruh lembah. Melemahkan mental para ksatria lembah Crystal yang tersisa. Samar samar kulihat Prechia dan Titus berlari ke tempat dimana Orion terbaring.
Kembali tujuh kepala leviathan yang tak pernah merasakan lelah itu meluncur cepat mengejar sosok Prechia dan Titus. Teriakan kemarahan dan tangisku meledak. Tak sanggup melihat kekejaman di depan mataku. Kubenamkan kepalaku dalam dalam kepelukan Ness.
Keajaiban terjadi. Datangnya sebuah cahaya terang menyilaukan ke arena pertempuran mengaburkan pandangan kami. Memberikan kesempatan pada Prechia dan Titus lolos dari serangan leviathan yang menggeliat tak terarah dan mendesis marah.
”Mereka datang...,” bisik Ness dengan nada kelegaan.
Kuangkat kepalaku dan melihat puluhan laki laki bertubuh langsing dengan berpakaian serba putih lengkap dengan jubah berwarna sama dengan gambar kepala unicorn tersulam dengan benang perak. Mereka memegang pedang perak yang masing masing telah terhunus keatas dan membentuk barisan untuk mengepung leviathan.
”Siapa mereka...” isakku.
”Pasukan cahaya Zordius. Mereka datang untuk menyelamatkan kita,” desah Ness seraya menarik tanganku menuju tempat Orion yang telah diamankan oleh Prechia dan Titus.
Aku dapat melihat barisan pasukan cahaya Zordius mengepung rapat makhluk dari neraka tersebut. Sementara sebagian lainnya membentuk barisan pertahanan, membentengi kami dari kawanan Rufus dan para penyihir hitam pengikutnya. Sepertinya perang ini telah diambil alih oleh pasukan cahaya Zordius.
Orion Xander terbaring kaku tak bergerak. Jubahnya hangus terbakar dibagian dadanya yang terlihat menghitam. Kelopak matanya menutup dalam kedamaian. Sepertinya, aku tidak akan pernah lagi menatap sepasang mata biru langitnya yang bijak ketika berbicara padaku. Airmataku mengalir deras. Aku menangis pilu dan tak sanggup memaafkan diriku karena harus kehilangan sosok pemimpin yang telah menyelamatkan nyawaku itu.
”Kita harus membawa tubuhnya ke Amorilla,” tangis Prechia putus asa.
Tangisku kembali pecah layaknya seorang pengecut yang tak berguna.
Seorang laki laki muda yang terlihat tampan berambut pirang menghampiri kami.
”Atas perintah jenderal Odile kami mengambil alih pertempuran ini. Sebaiknya kalian segera meninggalkan lembah ini dan mencari perlindungan ke Amorilla. Yang mulia raja Zordius telah menanti kalian. Aku akan menahan mereka semampuku,” pintanya lembut.
”Terimakasih Amaris,” senyum Titus kaku dengan pipi tirusnya yang basah dengan airmata. 
”Titus kumpulkan ksatria yang tersisa. Kita akan pergi secepatnya dari sini,” perintah Prechia mencoba untuk menguasai diri.
Prechia menatapku dan Ness bergantian. ”Aku akan memanggil pegasus untuk membawa jasad Orion ke Amorilla. Tugasmu menjaga keselamatan Calista sampai negri Amorilla, Ness. sisa airmata masih membasahi pipi Prechia Gold karena telah kehilangan sahabatnya.
Ness mengangguk.
Titus dan Ness menaikkan tubuh Orion keatas punggung pegasus. Prechia membisikkan sesuatu ditelinga kuda gagah bersayap itu sambil mengelus punggungnya. Dengan cepat makhluk indah yang menakjubkan itu meringkik pelan dan mengepakkan kedua sayapnya membawa Orion dipunggungnya dan melambung terbang, menghilang diantara awan menuju Amorilla.
Untuk sesaat kami sempat menatap barisan pasukan cahaya Zordius yang telah mengambil alih pertempuran ini. Amaris nampak berusaha keras menahan mereka untuk memberi waktu bagi kami untuk menyelamatkan diri.
Prechia menatap wajah kami bergantian. Dipandanginya tongkat Crystal Orion yang berada dalam genggamannya itu dengan sedih. Lalu dihembuskan napasnya perlahan dan menatap kami satu persatu.
”Baiklah. Kita berangkat sekarang!” perintahnya seraya bersiul keras.
Seketika itu juga puluhan kuda jantan yang gagah datang berlarian kearah kami dan berhenti tepat dihadapan kami hanya dengan sebuah siulan. Sepertinya Prechia telah menyihir kuda kuda itu untuk datang lalu membawa kami pergi dari sini sebagai persiapan untuk menyelamatkan diri jika sesuatu yang buruk terjadi.
”Kau ikut denganku,” bisik Ness seraya meraih pinggangku dan mengangkat tubuhku keatas kuda jantan berbulu hitam lebat. Lalu dengan lincah Ness meloncat cepat keatas punggung kuda hitam ini dan duduk dibelakangku. Sekilas kulirik Brisa menatap resah kearah kami. Sementara Shenai Readick terlihat menaikkan jasad Tristan keatas kuda jantan berwarna hitam dibantu oleh Titus.
Jiwaku terasa melayang mengingat kematian yang merengut Orion dan Tristan. Aku bahkan tak memperdulikan lagi perhatian Ness lewat sentuhan lembut kedua tangannya yang kekar disekeliling pinggangku saat kami tengah berkendara.
Napasku terasa sesak. Aku tak dapat mengenyahkan kata kata Orion Xander yang terus terdengar ditelingaku, ”Lari Calista. Selamatkan dirimuu!” Kedua mataku terasa panas. Setitik airmata mengalir cepat di kedua pipiku ketika mengingat kembali ucapan terakhir dari Orion padaku menjelang kematiannya saat melindungiku dari serangan leviathan Zorca.
Kuda kuda kami berlari sangat kencang dan cepat seolah melayang terbang.  Seperti pikiranku yang kembali melayang terbang mengingat ucapan terakhir Tristan sebelum menghembuskan napas terakhirnya,”Aku mencintaimu Calista,” kembali tetes airmataku tak terbendung. Kedua pipiku basah seketika. Aku terisak pilu diantara kerasnya suara derap langkah kuda kuda ini. Kedua tangan Ness kini semakin erat memelukku.
”Semuanya akan baik baik saja,” bisik Ness lembut mencoba untuk menenangkan perasaanku.
Kami berkendara ke Amorila selama dua hari tanpa berhenti. Beberapa kuda tunggangan kami menggelepar kelelahan. Bahkan Titus sempat terjatuh dari kuda tunggangannya. Untungnya kami telah mendekati kawasan pengungsian dipinggir hutan Sprhonia.
Beberapa pasukan cahaya yang berjaga jaga disepanjang hutan Sprhonia ini, segera membawa tubuh tubuh lelah kami ke istana Amorila untuk berlindung. Meski terluka cukup parah namun Prechia menyempatkan diri menenangkan penduduk lembah Crystal yang terlihat senang akan kedatangan para ksatrianya dan menunggu kabar baik dari hasil pertempuran. Prechia terlihat sangat tertekan dan menahan diri untuk tidak langsung menyampaikan berita jatuhnya lembah Crystal dan juga kematian pemimpin kami, Orion Xander.
”Kaukah penyihir naga Arkhataya itu,” tanya raja Zordius bijak seraya menatapku yang tengah menunduk memberi penghormatan bersama yang lainnya ketika kami menghadap pemimpin negri para bangsa elf tersebut.
”Benar yang mulia,” anggukku sopan tanpa berani menatap wajahnya.
Kerut di kening Zordius menandakan rasa penasaran yang besar. ”Bangunlah. Dan tatap mataku ksatria,” perintahnya.
Kuberanikan diri menatap wajah halusnya yang tampan. Sepasang matanya yang berwarna abu abu gelap terlihat bersinar cerah dan menatapku antusias. Garis wajahnya terlihat mirip sekali dengan putri Quilla. Begitu elegan dan bersinar. Bangsawan elf memang terkenal bewajah halus dan rupawan.
”Dia begitu muda dan rapuh,” sindir ratu Orelia menatapku tajam. Zordius melirik istrinya sekilas seolah mengiyakan ucapannya.
”Orion mengatakan padaku jika kau adalah cucu dari Ghorfinus Anthea,” tanya Zordius lagi dengan sopan.
Kuanggukan kepalaku degan hormat. Zordius kembali menelusuri gelang emas yang kukenakan dipergelangan tangan kananku dengan sepasang mata abu abunya.
”Sayang sekali kau tidak dapat membangunkan naga itu,” ucapnya bernada penyesalan.
”Sihir Calista belum sekuat Zorca. Tapi aku yakin ia akan segera membangunkan Arkhataya untuk merebut kembali negri kami dari cengkraman Zorca, yang mulia Zordius,” sahut Prechia mengangguk hormat memberikan pembelaannya padaku.
”Baiklah. Meski Orion Xander telah tiada. Tapi aku telah berjanji padanya untuk memberikan perlindungan bagi kalian penduduk lembah Crystal dan menjamin keselamatan penyihir naga Arkhataya ini,” seru Zordius tegas ditengah tengah kami yang masih memberikan penghormatan.
”Sampai batas yang telah kami sepakati bersama. Yakni hingga waktu berpihak pada gadis ini untuk membangunkan sang naga dan memenuhi takdirnya sebagai pelindung negri kalian,” ujar Zordius menambahkan ucapannya.
Hatiku menjadi kecut begitu mendengar ucapan Zordius. Meski Orion telah membuat kesepakatan yang menguntungkan akan keadaanku namun aku tak dapat memungkiri keresahan dihatiku ini. Sepertinya aku harus secepatnya bersatu dengan jiwa dan pikiran Arkhataya jika aku ingin menyelamatkan seluruh penduduk negri lembah Crystal atau kami akan menjadi orang buangan selamanya.
”Baiklah. Para pelayanku akan menunjukkan kamar kalian. Supaya kalian dapat beristirahat terlebih dahulu sebelum makan malam nanti.” ujar raja Zordius menutup sambutannya.
Dan seketika itu juga sepuluh orang pelayan wanita bertubuh langsing dengan wajah mereka yang rupawan berjalan kearah kami dengan senyum ramah yang menghanyutkan. Kami pun pergi menuruti langkah langkah para pelayan itu.
Paginya upacara pemakaman Orion berjalan khidmat. Diiringi dengan pemakaman para ksatria ksatria lembah Crystal yang jasadnya sempat kami selamatkan termasuk Tristan. Tak ada tangis lagi karena airmata kami sudah terasa kering karena terlalu banyak menangis. Kutatap wajah bijak yang telah menutup mata untuk yang terakhir kali. Rasa sesak di dada kembali menghimpit dan terasa sakit. Kulirik Prechia yang terlihat tegar menatap kepergian sahabatnya itu. Sementara para ksatria yang tersisa hanya membisu dan kehilangan semangat.
Malamnya salah satu pasukan cahaya yang telah diutus Amaris kembali dari pertempuran mereka di lembah Crystal melaporkan jika pemimpin mereka yaitu Amaris telah tewas dalam pertempuran. Dan lembah Crystal telah jatuh dalam cengkraman Zorca dan para pengikutnya.
Kami bahkan tak sanggup mengangkat kepala dan menikmati makan malam mewah yang terhidang di meja makan karena kesedihan yang mendalam. Nasib kami benar benar tak jelas. Tersingkir dari tanah leluhur sendiri. Prechia, Helena dan Shenai terlihat lesu. Sementara Brisa dan Titus hanya membisu. Aku dapat merasakan kesedihan yang mendalam di hati mereka karena harus kehilangan rumah dan berlindung dibawah belas kasihan raja Zordius di negri Amorilla.
Kutatap lurus lurus ke depan. Putri Quilla nampak menikmati makan malam ini seolah tak memperdulikan duka di wajah tampan Ness Ferin yang duduk termenung memegangi cangkir tehnya. Berkali kali wajah cantiknya yang sedingin es tersenyum riang menatap cerah kearah Ness yang duduk disampingnya. Sementara Piphylia Ferin menatapku dalam dari tempat duduknya seolah memahami penderitaanku.
Ness Ferin milikku, penyihir ..
Aku tersentak kaget begitu mendengar sebuah suara melengking berdenging tajam ditelingaku. Kuarahkan pandanganku kesekeliling meja. Semuanya nampak wajar dan tak terganggu. Sepertinya tak ada yang mendengar teriakan tadi selain aku. Instingku mengatakan jika suara itu berasal dari depanku. Benar saja. begitu kuangkat kepalaku dan kembali menatap lurus ke ujung meja dihadapanku, kulihat wajah cantik Quilla menatapku dengan sorot mata penuh kebencian.
Kau adalah penyihir sial yang tidak berguna..
Kembali lengkingan tajam itu menembus gendang telingaku. Aku terhenyak kaget. Sepasang mata emas Ness menyipit tajam kearahku. Sepertinya ia dapat merasakan kegelisahanku. Kualihkan pandangan ke piring makan dihadapanku. Aku tak ingin membuat Ness mencemaskan keadaanku mengingat kami tengah berada dalam belas kasihan ayah Quilla.
Suara lengkingan tawa bernada kepuasan kini terdengar kencang dikepalaku. Tak sanggup menahan rasa sakit kututup telingaku rapat rapat. Brisa yang duduk tepat disampingku memegangi lenganku dan menatapku tajam. ”Ada yang salah Calista,” tanyanya curiga.
Kugelengkan kepalaku kuat kuat tak menjawab pertanyaannya.
Kembali kutatap Quilla dengan sedikit kesal. Quilla terlihat tenang dan tersenyum penuh kemenangan. Sementara itu Ness terlihat melamun menatap cangkir kosong dihadapannya.
Quilla hanya memancing kesabaranku. Aku tak ingin memperbesar perselisihan kami sebagai alasan baginya untuk mengusirku dari Amorilla.
Kutatap wajah sedih Titus yang tengah mengaduk aduk makanan dipiring makannya. Waktuku sedikit. Aku harus segera mempersiapkan diri untuk membangunkan Arkhataya. Aku harus membangunkan naga itu jika ingin merebut kembali lembah Crystal. Aku takkan membiarkan kematian Orion dan Tristan menjadi sia sia karena telah mengorbankan nyawa mereka untuk menyelamatkanku.
Aku harus segera memenuhi takdirku sebagai penyihir naga Arkhataya.
Kutegakkan kepalaku menatap lurus ke depan dengan penuh keyakinan. Kulihat sepasang mata emas Ness yang redup menyorot dalam kearahku. Kutarik segurat senyum samar kearahnya sebagai tanda terimakasihku.
Kau benar, Ness. Semuanya akan baik baik saja.
Ness membalasnya dengan senyum indah yang terlukis diwajah tampannya. Dan untuk beberapa saat jiwa ini terasa hangat ditengah bekunya musim dingin yang mengelilingi tembok istana Amorilla.

-------THE END-------  
Writer : Misaini Indra
Image taken from : http://deepseamonsters.blogspot.com/