Protected by Copyscape Plagiarism Scanner

Wednesday, 25 January 2012

Calista Kaz "Penyihir Naga Arkhataya" (Chapter 17)


17. NYANYIAN SIHIR LEVIATHAN

Zorca Anthea mengayunkan kedua tangannya ke udara. Bibirnya seperti merapalkan mantra sihir yang menyerupai nyanyian.
Dengan wajah tegang Orion Xander dan Prechia berdiri tegak diikuti dengan beberapa ksatria sihir yang masih tersisa. Kini suara nyanyian sihir Zorca semakin keras. Mendengung seperti suara ribuan lebah yang tengah terbang mencari madu bersama.
 Samar samar terdengar suara gemerisik pepohonan diantara kencangnya angin yang tengah bertiup. Dan sebuah bayangan hitam merayap pelan dari kejauhan. Bayangan itu kini semakin jelas terlihat. Meliuk liuk seolah tengah menari mengikuti irama nyanyian sihir yang dirapalkan Zorca. Kemudian berhenti tepat dihadapan Zorca seraya mendesis.
Untuk sesaat napasku terhenti. Seekor ular raksasa yang sangat mengerikan dengan sisik hitamnya yang besar mendesis keras dengan tujuh kepalanya yang  menatap liar ke segala arah terlihat menunggu perintah untuk membunuh.
Zorca tertawa keras hingga terasa bergema ke seluruh lembah. Wajah wajah tegang bercampur resah tergambar jelas dari wajah Brisa, Titus, Helena dan Shenai yang terlihat mengatur ulang barisan pertahanan dari para ksatria yang tersisa. Prechia menatap wajah lelah Orion yang tak sedikit pun mengalihkan pandangannya pada ular raksasa dihadapannya itu.
”Hari ini kalian semua akan mati! Bahkan penyihir naga Arkhataya pun takkan sanggup melindungi kalian dari kebuasan leviathan ini!!” tawa Zorca membahana sementara ular raksasa itu hanya menggeliatkan badannya dengan tujuh kepalanya yang bergerak kesana kemari tak sabar.
Tersadar dari ketidak berdayaanku. Kucoba untuk menggerakan kedua kaki yang terasa lemas ini. Dengan keteguhan hati aku berjalan perlahan keluar dari tempat persembunyianku selama ini. Kutarik napas panjang dan meyakinkan diri lalu berlari secepat mungkin menuju tempat Orion Xander yang berdiri gagah bersama dengan para ksatrianya.
Dengan langkah tak kalah cepat Brisa mengejarku. ”Apa yang kau lakukan disini!!” seru Brisa marah begitu melihatku keluar dari tempat persembunyianku. Kudorong tubuh Brisa dengan seluruh kekuatanku dan kembali berlari kearah Zorca.
”Akulah yang kau inginkannn! Akulah penyihir naga Arkhatayaaa!!” teriakku lantang menatap marah kearah sepasang mata gelap Zorca dengan mengangkat lengan kananku seraya menunjukkan gelang emas Arkhataya padanya.
Zorca menatapku dingin tak berkedip.
Orion berlari menghampiriku dengan resah dan memegangi bahuku untuk menahan langkahku. ”Jangan bertindak bodoh  Calista!” sentak Orion marah.
Tawa Zorca pecah seketika. Terdengar keras membahana. Sepasang mata gelapnya menatapku dalam.
”Baguss!! Kini bersiaplah untuk matiii!!!” teriaknya seraya mengacungkan tangan kanannya kearahku dan meneriakkan perintah pada ular raksasa itu untuk menyerangku. Makhluk itu merayap cepat dengan tujuh kepalanya yang saling berkejaran sambil membuka mulutnya lebar lebar bersiap untuk menancapkan taringnya yang tajam menghujam seluruh tubuhku.
Dengan cepat Orion menarik tubuhku kebelakang punggungnya dan menjadikan tubuhnya sebagai perisaiku. ”Pergilahh makhluk buas atas perintahkuuu!!!” teriak Orion kencang seraya mengetukkan tongkat sihirnya ke tanah lalu mengangkatnya tinggi tinggi kearah leviathan buas itu.
Seketika itu juga terdengar suara angin puyuh menderu kencang keluar dari tongkat Orion. Dengan cepat angin itu menggulung tubuh leviathan yang nampak menggeliat marah. Namun kekuatan leviathan yang sangat besar, membuatnya mampu keluar dari gulungan angin puyuh buatan Orion meski tubuhnya harus terhempas sepuluh langkah ke tanah.
Zorca berteriak marah dan kembali menyenandungkan nyanyian sihir untuk membangunkan makhluk neraka tersebut, yang terlihat bangun dan mulai kembali merayap pelan. Prechia menarik lenganku namun sayang, Rufus terlebih dulu melancarkan sihir api kearahnya, hingga tepat mengenai lengan kanan Prechia. Prechia menjerit kesakitan. Dengan sigap Brisa membalas serangan Rufus dengan melancarkan hujaman esnya. Namun Herzog Mandal telah terlebih dulu menyerang kaki Brisa dengan sambaran api dari jemarinya. Untungnya serangan itu meleset dan hanya mengenai ujung sepatu Brisa. Namun panasnya sambaran api yang keluar dari jemari Herzog cukup membuat Brisa kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Melihat itu dengan penuh kesadaran kurapalkan sihir es ajaran Brisa dan kuarahkan tepat ke wajah jelek Herzog yang langsung pingsan seketika terkena hujaman batu es yang keluar dari telapak tanganku.
Aku berlari kearah Brisa untuk membantunya berdiri hingga tak menyadari serangan api Rufus yang tertuju kearahku. Asap hitam menggulungku cepat dan membawaku melayang ke udara. Lalu dengan perlahan menurunkanku tepat dihadapan Tristan yang menatapku cemas. Aku selamat dari jilatan api Rufus karena Tristan telah menyelamatkanku. Kupeluk Tristan dengan perasaan haru.
”Kau baik baik saja kan?” tanya Tristan lembut seraya memegangi wajahku dengan kedua tangannya. Sepasang mata ungunya terlihat resah.
”Aku sudah menduga kau akan melakukan itu Readick!!” seru Rufus dengan  sorot matanya yang kejam menatap sinis kearah kami.
Wajah Tristan berubah tegang. Sepasang matanya terlihat waspada menatap lurus kearah Rufus yang berdiri tegak dihadapan kami.
”Aku tak akan membiarkan kau membunuhnya Rufus,” ujar Tristan seraya berdiri didepanku seolah melindungi.
Rufus tertawa parau. ”Bajingan kecil yang tak tahu diri. Kau memohon untuk bergabung dengan kami namun kini kau berbalik melawanku. Seharusnya aku mempercayai ucapan Herzog. Kau sama pengecutnya dengan Arias.”
”Tidak ada yang boleh menghina ayahkuu!!!” seru Tristan marah.
Rufus tertawa puas lalu menatap kami tajam. ”Aku akan membunuh kalian berduaaa!!” serunya seraya melancarkan serangan sihir api yang keluar dari kedua tangannya bertubi tubi.
Tristan mendorong tubuhku hingga terhempas lima langkah kebelakang dan menjadikan tubuhnya sebagai perisaiku. Dalam keadaan tertelungkup ke tanah aku dapat mendengar suara jeritan Tristan yang cukup memilukan. Kuarahkan pandangan kearah Tristan yang kini terbaring memegangi pinggangnya seraya merintih menahan rasa sakit. Aku menjerit histeris meneriakkan namanya.
Shenai Readick berlari cepat dan melayangkan sihir asap kearah Rufus yang langsung mengarahkan serangan balik kearah Shenai. Shenai jatuh terjerembab dengan luka bakar di kaki kirinya sementara Rufus Black tergulung asap hitam Shenai dan terseret lima langkah menghantam pohon oak tua yang sudah separuh hangus. 
Kukerahkan seluruh tenagaku untuk menghampiri Tristan yang terbaring lemah. Pinggangnya terlihat berasap dan menghitam. Sambaran api Rufus telah menghanguskan separuh baju dan kulit dipinggang Tristan. Aku menangis kencang begitu melihat luka bakar Tristan yang begitu dalam. Kurangkul Tristan dalam pelukanku dan mulai menangis lagi.
Wajah Tristan terlihat pucat. Ia mencoba bernapas untuk mengurangi rasa sakitnya. ”Maafkan aku ... aku...tak bisa melindungimu,” bisiknya lemah seraya menatapku.
”Bertahanlah Tristan. Kumohon....” isakku marah.
Tristan tersenyum lembut. ”Aku mencintaimu Calista..,” desahnya dalam kesakitan.
Kubelai lembut wajahnya yang terlihat pucat. Menatap sepasang mata ungunya dengan kesedihan yang tak dapat kulukiskan. Segaris senyum kelegaan tergambar diwajah bekunya yang menawan. Airmataku pun jatuh ketika sepasang mata ungu itu mulai meredup seiring hembusan napas terakhirnya.
Aku meraung memanggil manggil namanya. Mengguncang guncangkan tubuhnya yang terbaring kaku dalam pelukanku. Namun wajah tampan yang biasa tersenyum sinis itu kini telah membeku. Isak tangisku semakin keras dan tak terbendung. Kupeluk tubuh kaku Tristan erat erat seolah tak rela melepaskannya.
Titus menghampiriku. Seluruh tubuhnya nampak basah kuyup.
”Diaa..te..telah pergi.. Calis..ta..” gigilnya, mencoba untuk mengingatkanku.
Aku tak memperdulikan ucapan Titus dan terus menangisi kematian Tristan.
”Apakah ....dia sudah meninggal?” sebuah suara ragu bertanya pada kami.
Kulihat Chaides Borzy berdiri tegak dihadapanku dan Titus, dengan sepasang mata hijaunya yang meredup. Titus seketika berdiri waspada dan bersiap siap merapalkan mantra sihir namun Chaides hanya tertegun menatap Tristan yang terbaring kaku dalam pelukanku.
Pergilah Chaides!!” seru Shenai marah.
Chaides menatap Shenai linglung.
”Kubilang pergi atau aku akan menghabisimu!!” kemarahan Shenai semakin meledak bercampur dengan isak tangis kesedihan.
”Ayo Chaides...,” bisik Amara Pedigo seraya menarik tangan pendek Chaides yang masih terlihat enggan mengalihkan pandangannya dari Tristan yang terbaring kaku dipelukkanku.
Sekilas, Amara melirik kearahku dengan duka dikedua sudut matanya.
Titus tertegun untuk sesaat begitu melihat Chaides dan Amara yang berjalan menjauh dan sama sekali tidak melayangkan serangan sihir mereka pada kami.
Shenai menatap wajahku yang basah oleh air mata. ”Berikan dia padaku..,” ucapnya kaku.
Kulepaskan pelukanku dari tubuh kaku Tristan dengan enggan. Dan membiarkan Shenai berganti memeluknya. Wajah Shenai terlihat basah oleh airmata. Kini ia memeluk Tristan erat seraya bersenandung pelan.
Aku kembali meneteskan air mata begitu menatap pemandangan di depanku. Aku tak sanggup melihat kematian Tristan yang begitu cepat. Rasa sedihku kini bercampur amarah. Dengan napas memburu aku berlari kearah ular raksasa yang berada dalam kendali Zorca. Titus berteriak geram memanggil namaku.
Kulihat Orion Xander tengah berjuang keras menghalau serangan tujuh kepala ular raksasa dengan melancarkan serangan petir berkali kali kearah makhluk buas itu dibantu oleh barisan ksatria psychic yang diarahkan oleh Darren yang sudah terlihat payah karena menahan rasa sakit dibahunya. Barisan psychic itu berusaha sekuat tenaga mencari celah dan menyarangkan serangan dengan pukulan pukulan jarak jauh kesekeliling tubuh leviathan yang nampak tidak merasakan sakit sama sekali.
Dalam kemarahan dan tangis air mata kucoba merapalkan sihir pemanggil sang naga,
 Bangun bangunlah Arkhataya..
            Tunjukan kesetiaanmu padaku..tunjukan kekuatanmu sebagai pelindungku...
            Dengar dengarlah Arkhataya...
            Menyatulah dalam pikiranku.. dengarkan perintahku..
Tidak ada yang terjadi.
Kembali kurapalkan kata kata sihir Obidia untuk membangunkan naga Arkhataya. Namun aku gagal bahkan untuk yang ketiga kalinya. Dengan marah kembali kurapalkan mantra pemanggil Arkhataya tanpa menyadari akan bahaya dari salah satu salah satu kepala leviathan yang meluncur cepat dan telah berada dalam jarak lima langkah diatas kepalaku. Titus berteriak keras mencoba memperingatkanku. Dan ketika aku mendongak, bulu bulu halus ditengkukku seketika itu juga meremang. Kulihat ujung lidah bercabang menjulur cepat dengan mulutnya yang terbuka, siap menancapkan taringnya yang berbisa kearahku. Sepasang matanya yang hitam menatapku liar. Jantungku berhenti berdetak dan tubuhku terasa lemas. Aku hanya tertegun melihat taring leviathan yang terlihat mulai mendekat untuk menghujam tubuhku.
Melihat jiwaku berada dalam bahaya, Orion Xander seketika itu juga mengarahkan tongkat sihirnya yang langsung mengeluarkan cahaya terang kearah makhluk buas itu hingga membutakan pandangannya untuk beberapa saat dan memberikan waktu bagi Titus untuk mendorong tubuhku hingga berguling beberapa langkah menjauhi makhluk mematikan itu.
Aku meringis menahan rasa sakit dikepalaku.
            ”Kau terluka..,” cemas Titus begitu menghampiriku dan melihat darah yang menetes di dahiku yang  sempat menghantam bebatuan kecil ketika terguling tadi.
            Aku terlalu trauma untuk menjawab pertanyaanya. Kuusap tetesan darah di dahiku sembarangan.
”Biar kulihat lukamu,” Titus memegangi dahiku lalu mengamatinya. Kemudian ia mengeluarkan sapu tangannya yang lusuh untuk menahan cucuran darah dikeningku.
            ”Aku tak bisa membangunkannya Titus,” gusarku marah tanpa memperdullikan darah dikeningku atau rasa pusing yang mulai terasa menyakitkan.
            Titus menatapku resah. ”Aku sudah menduganya. Sebaiknya kita mencari tempat yang aman.”
            ”Tidak! Aku tidak akan bersembunyi,” tolakku tegas. ”Aku akan mencoba untuk membangunkannya kembali,” ujarku keras kepala.
”Kau belum siap Calista,” ingat Titus penuh penekanan.
”Jika aku tidak membangunkan Arkhataya. Zorca akan menghancurkan lembah Crystal dan membunuh kita semua dengan ular raksasanya itu,” sahutku marah.
Titus menatapku ragu.
Tanpa kami sadari sosok tinggi dengan air muka tegang telah berdiri disamping kami.  Wajah tampan itu terlihat resah dan sangat pucat. ”Orion menyuruh kita mundur Titus. Makhluk itu terlalu kuat untuk dikalahkan,” desah Ness kesal. Sepasang mata emasnya sekilas melirik ke dahiku. Dengan satu tangan Ness menyentuh keningku dan membisikkan sesuatu. Sebuah cahaya keluar dari telapak tangannya dan menutupi luka dikeningku. Luka kecil dikeningku perlahan menutup dan membuat aliran darah di dahiku berhenti seketika.
”Kau harus lebih berhati hati lagi,” sepasang mata emas Ness terlihat cemas menatapku.
Kutatap Ness hampa. Titus melirik kami sekilas.
Bisakah kau menjaga Calista, Ness. Sepertinya aku harus mengumpulkan ksatria yang tersisa untuk mundur. Meski Zorca takkan melepaskan kita begitu saja,” Titus menyapukan pandangannya kesekeliling arena pertempuran yang porak poranda dengan jasad para ksatria lembah Crystal yang sebagian terlantar.
”Tentu. Aku akan menjaganya,” sahut Ness menatapku dalam tanpa berusaha mengalihkan pandangannya kearah Titus.
 Titus terlihat kikuk melihat sikap protektif yang ditunjukkan Ness padaku. ”Ambil ini Calista,” ujar Titus seraya menyerahkan jurnal Obidia yang sempat terjatuh dibalik hamparan pakis disamping pohon oak tua tempat persembunyianku tadi. 
Orion telah memanggil pegasus untuk meminta bantuan ke Amorilla. Berharap saja pasukan cahaya Zordius datang tepat waktu,” kali ini Ness menatap Titus mencoba memberi harapan.
Begitu Ness menyebut nama Orion seketika itu juga aku melayangkan pandanganku kearah pemimpin lembah Crystal itu.
Orion terlihat tengah berjuang mati matian menghalau serangan buas leviathan bersama dengan Prechia dan Helena. Tapi makhluk itu terlihat semakin ganas dan bertahan oleh serangan yang dilontarkan bertubi tubi. Bahkan Prechia harus merelakan pedangnya yang patah ketika berusaha menghalau salah satu kepala Leviathan yang semakin mengamuk itu.
”Munduuuurrrr!!!” perintah Orion memberi peringatan.
Beberapa penyihir muda yang kelelahan terlihat saling berpandangan.
”Semuanya mundur!!” ulang Orion terdengar marah bernada memerintah.
Brisa, Darren dan beberapa ksatria yang tersisa segera mundur perlahan seraya menyarangkan serangan bergantian.
Dengan cepat Orion mengangkat tongkat kristalnya yang mengeluarkan cahaya yang menyilaukan untuk mengaburkan pandangan ular raksasa itu dan memberi kesempatan pada para ksatrianya untuk bergerak mundur.
”Rufuss..!” teriak Zorca murka begitu melihat Orion menarik mundur pasukan sihirnya.
Seolah memahami perkataan tuannya Rufus memberikan isyarat pada pengikutnya untuk terus menyerang. Seketika itu juga Chaides, Amara dan beberapa penyihir berjubah hitam berlari cepat kearah ksatria ksatria Crystal yang telah mengambil langkah mundur seraya melayangkan serangan sihir. Tiga orang ksatria Crystal tewas ditempat begitu terkena serangan para penyihir Zorca tersebut.
Aku benar benar muak dan tak tahan melihat pembantaian yang diperintahkan Zorca. Kudorong tubuh Ness sekuat tenaga dan berlari kearah Zorca Anthea. Aku berniat menyerangnya dengan segenap kekuatan sihir yang kumiliki. Tak kuperdulikan kecemasan suara Ness yang berteriak memanggil namaku.
Zorca tersenyum puas melihat sosok tubuh rapuhku yang berlari marah kearahnya. Wajah pucatnya nampak senang dan menyambutku. Aku dapat melihat jubah hitamnya berkibar tertiup angin kencang yang menderu disekelilingnya.
”Datanglah padaku penyihir naga Arkhatayaaa. Takdirmu adalah mati ditangankuuu!!” raungnya seraya mengacungkan tangan kanannya memberi isyarat pada leviathan untuk menyerangku.
Tujuh kepala ular raksasa yang terhipnotis berpaling padaku. Belasan matanya yang sehitam malam menatapku buas. Kemudian ular raksasa itu mendesis keras.
”Bunuhhh diaaaa..!!!!” seru Zorca memberikan perintah.
Tujuh kepala ular raksasa itu saling berkejaran dan meluncur cepat kearahku. Aku hanya terpaku mengagumi kecepatan gerak tubuhnya yang merayap cepat dengan masing masing lidahnya yang mendesis dan taring taring besarnya yang siap menghujam.
Jarak kami sudah begitu dekat. Kulayangkan jemariku dan menghujami tubuh makhluk mengerikan itu dengan butiran butiran es ke tubuh dan kepalanya, namun usahaku sia sia. Tubuhnya bagai karang yang sulit dihancurkan. Jantungku berdetak kencang dan mataku hanya dapat menatap leviathan dengan pasrah untuk menerima kematianku.
Namun suara petir yang menggelegar keras menghantam dua dari kepala makhluk buas itu membuat konsentrasi serangan lima kepala lainnya terpecah. Ular raksasa itu meraung kesakitan. Sepertinya serangan petir Orion telah membutakan sepasang mata dari salah satu kepalanya.
”Lari Calista!! Selamatkan dirimuu!!!” seru Orion seraya menatapku tajam.
Belum sempat kulangkahkan kaki kaki rapuhku. Sambaran api meluncur cepat dan mendarat tepat mengenai dada Orion Xander yang langsung terlempar sepuluh langkah dan tertelungkup ke tanah. Tubuh Orion seketika itu juga terbaring kaku.
Aku menjerit histeris dan berusaha menghampiri Orion. Namun Sebuah tangan kekar menyambar tubuhku dan menyeretku dengan cepat. Kutatap sepasang mata emas Ness yang terlihat sedih ketika memeluk tubuhku dan membawaku pergi dari tempat itu.
Tawa kemenangan Zorca membahana keseluruh lembah. Melemahkan mental para ksatria lembah Crystal yang tersisa. Samar samar kulihat Prechia dan Titus berlari ke tempat dimana Orion terbaring.
Kembali tujuh kepala leviathan yang tak pernah merasakan lelah itu meluncur cepat mengejar sosok Prechia dan Titus. Teriakan kemarahan dan tangisku meledak. Tak sanggup melihat kekejaman di depan mataku. Kubenamkan kepalaku dalam dalam kepelukan Ness.
Keajaiban terjadi. Datangnya sebuah cahaya terang menyilaukan ke arena pertempuran mengaburkan pandangan kami. Memberikan kesempatan pada Prechia dan Titus lolos dari serangan leviathan yang menggeliat tak terarah dan mendesis marah.
”Mereka datang...,” bisik Ness dengan nada kelegaan.
Kuangkat kepalaku dan melihat puluhan laki laki bertubuh langsing dengan berpakaian serba putih lengkap dengan jubah berwarna sama dengan gambar kepala unicorn tersulam dengan benang perak. Mereka memegang pedang perak yang masing masing telah terhunus keatas dan membentuk barisan untuk mengepung leviathan.
”Siapa mereka...” isakku.
”Pasukan cahaya Zordius. Mereka datang untuk menyelamatkan kita,” desah Ness seraya menarik tanganku menuju tempat Orion yang telah diamankan oleh Prechia dan Titus.
Aku dapat melihat barisan pasukan cahaya Zordius mengepung rapat makhluk dari neraka tersebut. Sementara sebagian lainnya membentuk barisan pertahanan, membentengi kami dari kawanan Rufus dan para penyihir hitam pengikutnya. Sepertinya perang ini telah diambil alih oleh pasukan cahaya Zordius.
Orion Xander terbaring kaku tak bergerak. Jubahnya hangus terbakar dibagian dadanya yang terlihat menghitam. Kelopak matanya menutup dalam kedamaian. Sepertinya, aku tidak akan pernah lagi menatap sepasang mata biru langitnya yang bijak ketika berbicara padaku. Airmataku mengalir deras. Aku menangis pilu dan tak sanggup memaafkan diriku karena harus kehilangan sosok pemimpin yang telah menyelamatkan nyawaku itu.
”Kita harus membawa tubuhnya ke Amorilla,” tangis Prechia putus asa.
Tangisku kembali pecah layaknya seorang pengecut yang tak berguna.
Seorang laki laki muda yang terlihat tampan berambut pirang menghampiri kami.
”Atas perintah jenderal Odile kami mengambil alih pertempuran ini. Sebaiknya kalian segera meninggalkan lembah ini dan mencari perlindungan ke Amorilla. Yang mulia raja Zordius telah menanti kalian. Aku akan menahan mereka semampuku,” pintanya lembut.
”Terimakasih Amaris,” senyum Titus kaku dengan pipi tirusnya yang basah dengan airmata. 
”Titus kumpulkan ksatria yang tersisa. Kita akan pergi secepatnya dari sini,” perintah Prechia mencoba untuk menguasai diri.
Prechia menatapku dan Ness bergantian. ”Aku akan memanggil pegasus untuk membawa jasad Orion ke Amorilla. Tugasmu menjaga keselamatan Calista sampai negri Amorilla, Ness. sisa airmata masih membasahi pipi Prechia Gold karena telah kehilangan sahabatnya.
Ness mengangguk.
Titus dan Ness menaikkan tubuh Orion keatas punggung pegasus. Prechia membisikkan sesuatu ditelinga kuda gagah bersayap itu sambil mengelus punggungnya. Dengan cepat makhluk indah yang menakjubkan itu meringkik pelan dan mengepakkan kedua sayapnya membawa Orion dipunggungnya dan melambung terbang, menghilang diantara awan menuju Amorilla.
Untuk sesaat kami sempat menatap barisan pasukan cahaya Zordius yang telah mengambil alih pertempuran ini. Amaris nampak berusaha keras menahan mereka untuk memberi waktu bagi kami untuk menyelamatkan diri.
Prechia menatap wajah kami bergantian. Dipandanginya tongkat Crystal Orion yang berada dalam genggamannya itu dengan sedih. Lalu dihembuskan napasnya perlahan dan menatap kami satu persatu.
”Baiklah. Kita berangkat sekarang!” perintahnya seraya bersiul keras.
Seketika itu juga puluhan kuda jantan yang gagah datang berlarian kearah kami dan berhenti tepat dihadapan kami hanya dengan sebuah siulan. Sepertinya Prechia telah menyihir kuda kuda itu untuk datang lalu membawa kami pergi dari sini sebagai persiapan untuk menyelamatkan diri jika sesuatu yang buruk terjadi.
”Kau ikut denganku,” bisik Ness seraya meraih pinggangku dan mengangkat tubuhku keatas kuda jantan berbulu hitam lebat. Lalu dengan lincah Ness meloncat cepat keatas punggung kuda hitam ini dan duduk dibelakangku. Sekilas kulirik Brisa menatap resah kearah kami. Sementara Shenai Readick terlihat menaikkan jasad Tristan keatas kuda jantan berwarna hitam dibantu oleh Titus.
Jiwaku terasa melayang mengingat kematian yang merengut Orion dan Tristan. Aku bahkan tak memperdulikan lagi perhatian Ness lewat sentuhan lembut kedua tangannya yang kekar disekeliling pinggangku saat kami tengah berkendara.
Napasku terasa sesak. Aku tak dapat mengenyahkan kata kata Orion Xander yang terus terdengar ditelingaku, ”Lari Calista. Selamatkan dirimuu!” Kedua mataku terasa panas. Setitik airmata mengalir cepat di kedua pipiku ketika mengingat kembali ucapan terakhir dari Orion padaku menjelang kematiannya saat melindungiku dari serangan leviathan Zorca.
Kuda kuda kami berlari sangat kencang dan cepat seolah melayang terbang.  Seperti pikiranku yang kembali melayang terbang mengingat ucapan terakhir Tristan sebelum menghembuskan napas terakhirnya,”Aku mencintaimu Calista,” kembali tetes airmataku tak terbendung. Kedua pipiku basah seketika. Aku terisak pilu diantara kerasnya suara derap langkah kuda kuda ini. Kedua tangan Ness kini semakin erat memelukku.
”Semuanya akan baik baik saja,” bisik Ness lembut mencoba untuk menenangkan perasaanku.
Kami berkendara ke Amorila selama dua hari tanpa berhenti. Beberapa kuda tunggangan kami menggelepar kelelahan. Bahkan Titus sempat terjatuh dari kuda tunggangannya. Untungnya kami telah mendekati kawasan pengungsian dipinggir hutan Sprhonia.
Beberapa pasukan cahaya yang berjaga jaga disepanjang hutan Sprhonia ini, segera membawa tubuh tubuh lelah kami ke istana Amorila untuk berlindung. Meski terluka cukup parah namun Prechia menyempatkan diri menenangkan penduduk lembah Crystal yang terlihat senang akan kedatangan para ksatrianya dan menunggu kabar baik dari hasil pertempuran. Prechia terlihat sangat tertekan dan menahan diri untuk tidak langsung menyampaikan berita jatuhnya lembah Crystal dan juga kematian pemimpin kami, Orion Xander.
”Kaukah penyihir naga Arkhataya itu,” tanya raja Zordius bijak seraya menatapku yang tengah menunduk memberi penghormatan bersama yang lainnya ketika kami menghadap pemimpin negri para bangsa elf tersebut.
”Benar yang mulia,” anggukku sopan tanpa berani menatap wajahnya.
Kerut di kening Zordius menandakan rasa penasaran yang besar. ”Bangunlah. Dan tatap mataku ksatria,” perintahnya.
Kuberanikan diri menatap wajah halusnya yang tampan. Sepasang matanya yang berwarna abu abu gelap terlihat bersinar cerah dan menatapku antusias. Garis wajahnya terlihat mirip sekali dengan putri Quilla. Begitu elegan dan bersinar. Bangsawan elf memang terkenal bewajah halus dan rupawan.
”Dia begitu muda dan rapuh,” sindir ratu Orelia menatapku tajam. Zordius melirik istrinya sekilas seolah mengiyakan ucapannya.
”Orion mengatakan padaku jika kau adalah cucu dari Ghorfinus Anthea,” tanya Zordius lagi dengan sopan.
Kuanggukan kepalaku degan hormat. Zordius kembali menelusuri gelang emas yang kukenakan dipergelangan tangan kananku dengan sepasang mata abu abunya.
”Sayang sekali kau tidak dapat membangunkan naga itu,” ucapnya bernada penyesalan.
”Sihir Calista belum sekuat Zorca. Tapi aku yakin ia akan segera membangunkan Arkhataya untuk merebut kembali negri kami dari cengkraman Zorca, yang mulia Zordius,” sahut Prechia mengangguk hormat memberikan pembelaannya padaku.
”Baiklah. Meski Orion Xander telah tiada. Tapi aku telah berjanji padanya untuk memberikan perlindungan bagi kalian penduduk lembah Crystal dan menjamin keselamatan penyihir naga Arkhataya ini,” seru Zordius tegas ditengah tengah kami yang masih memberikan penghormatan.
”Sampai batas yang telah kami sepakati bersama. Yakni hingga waktu berpihak pada gadis ini untuk membangunkan sang naga dan memenuhi takdirnya sebagai pelindung negri kalian,” ujar Zordius menambahkan ucapannya.
Hatiku menjadi kecut begitu mendengar ucapan Zordius. Meski Orion telah membuat kesepakatan yang menguntungkan akan keadaanku namun aku tak dapat memungkiri keresahan dihatiku ini. Sepertinya aku harus secepatnya bersatu dengan jiwa dan pikiran Arkhataya jika aku ingin menyelamatkan seluruh penduduk negri lembah Crystal atau kami akan menjadi orang buangan selamanya.
”Baiklah. Para pelayanku akan menunjukkan kamar kalian. Supaya kalian dapat beristirahat terlebih dahulu sebelum makan malam nanti.” ujar raja Zordius menutup sambutannya.
Dan seketika itu juga sepuluh orang pelayan wanita bertubuh langsing dengan wajah mereka yang rupawan berjalan kearah kami dengan senyum ramah yang menghanyutkan. Kami pun pergi menuruti langkah langkah para pelayan itu.
Paginya upacara pemakaman Orion berjalan khidmat. Diiringi dengan pemakaman para ksatria ksatria lembah Crystal yang jasadnya sempat kami selamatkan termasuk Tristan. Tak ada tangis lagi karena airmata kami sudah terasa kering karena terlalu banyak menangis. Kutatap wajah bijak yang telah menutup mata untuk yang terakhir kali. Rasa sesak di dada kembali menghimpit dan terasa sakit. Kulirik Prechia yang terlihat tegar menatap kepergian sahabatnya itu. Sementara para ksatria yang tersisa hanya membisu dan kehilangan semangat.
Malamnya salah satu pasukan cahaya yang telah diutus Amaris kembali dari pertempuran mereka di lembah Crystal melaporkan jika pemimpin mereka yaitu Amaris telah tewas dalam pertempuran. Dan lembah Crystal telah jatuh dalam cengkraman Zorca dan para pengikutnya.
Kami bahkan tak sanggup mengangkat kepala dan menikmati makan malam mewah yang terhidang di meja makan karena kesedihan yang mendalam. Nasib kami benar benar tak jelas. Tersingkir dari tanah leluhur sendiri. Prechia, Helena dan Shenai terlihat lesu. Sementara Brisa dan Titus hanya membisu. Aku dapat merasakan kesedihan yang mendalam di hati mereka karena harus kehilangan rumah dan berlindung dibawah belas kasihan raja Zordius di negri Amorilla.
Kutatap lurus lurus ke depan. Putri Quilla nampak menikmati makan malam ini seolah tak memperdulikan duka di wajah tampan Ness Ferin yang duduk termenung memegangi cangkir tehnya. Berkali kali wajah cantiknya yang sedingin es tersenyum riang menatap cerah kearah Ness yang duduk disampingnya. Sementara Piphylia Ferin menatapku dalam dari tempat duduknya seolah memahami penderitaanku.
Ness Ferin milikku, penyihir ..
Aku tersentak kaget begitu mendengar sebuah suara melengking berdenging tajam ditelingaku. Kuarahkan pandanganku kesekeliling meja. Semuanya nampak wajar dan tak terganggu. Sepertinya tak ada yang mendengar teriakan tadi selain aku. Instingku mengatakan jika suara itu berasal dari depanku. Benar saja. begitu kuangkat kepalaku dan kembali menatap lurus ke ujung meja dihadapanku, kulihat wajah cantik Quilla menatapku dengan sorot mata penuh kebencian.
Kau adalah penyihir sial yang tidak berguna..
Kembali lengkingan tajam itu menembus gendang telingaku. Aku terhenyak kaget. Sepasang mata emas Ness menyipit tajam kearahku. Sepertinya ia dapat merasakan kegelisahanku. Kualihkan pandangan ke piring makan dihadapanku. Aku tak ingin membuat Ness mencemaskan keadaanku mengingat kami tengah berada dalam belas kasihan ayah Quilla.
Suara lengkingan tawa bernada kepuasan kini terdengar kencang dikepalaku. Tak sanggup menahan rasa sakit kututup telingaku rapat rapat. Brisa yang duduk tepat disampingku memegangi lenganku dan menatapku tajam. ”Ada yang salah Calista,” tanyanya curiga.
Kugelengkan kepalaku kuat kuat tak menjawab pertanyaannya.
Kembali kutatap Quilla dengan sedikit kesal. Quilla terlihat tenang dan tersenyum penuh kemenangan. Sementara itu Ness terlihat melamun menatap cangkir kosong dihadapannya.
Quilla hanya memancing kesabaranku. Aku tak ingin memperbesar perselisihan kami sebagai alasan baginya untuk mengusirku dari Amorilla.
Kutatap wajah sedih Titus yang tengah mengaduk aduk makanan dipiring makannya. Waktuku sedikit. Aku harus segera mempersiapkan diri untuk membangunkan Arkhataya. Aku harus membangunkan naga itu jika ingin merebut kembali lembah Crystal. Aku takkan membiarkan kematian Orion dan Tristan menjadi sia sia karena telah mengorbankan nyawa mereka untuk menyelamatkanku.
Aku harus segera memenuhi takdirku sebagai penyihir naga Arkhataya.
Kutegakkan kepalaku menatap lurus ke depan dengan penuh keyakinan. Kulihat sepasang mata emas Ness yang redup menyorot dalam kearahku. Kutarik segurat senyum samar kearahnya sebagai tanda terimakasihku.
Kau benar, Ness. Semuanya akan baik baik saja.
Ness membalasnya dengan senyum indah yang terlukis diwajah tampannya. Dan untuk beberapa saat jiwa ini terasa hangat ditengah bekunya musim dingin yang mengelilingi tembok istana Amorilla.

-------THE END-------  
Writer : Misaini Indra
Image taken from : http://deepseamonsters.blogspot.com/
                                                                                                           
                                                                                                                                                  


Tuesday, 20 December 2011

Calista Kaz "Penyihir Naga Arkhataya" (Chapter 16)

16. PERTEMPURAN

Keadaan semakin genting dan menegangkan. Meski hampir seluruh penduduk lembah Crystal telah mengungsi namun kecemasan tetap meliputi hati kami karena Orion Xander belum juga kembali ke lembah Crystal.
Dan pagi itu aku terbangun dengan ide cemerlang untuk penyelesaian masalahku.
Dengan bergegas aku dan Titus memasuki kastil Crystal. Setelah pengawal memastikan Prechia telah siap menerima kehadiran kami. Seolah tak ingin membuang waktu aku langsung mengungkapkan ideku begitu melihat wajah Prechia tanpa memperdulikan permintaannya untuk menyuruhku duduk terlebih dahulu dan minum teh bersamanya.
”Bagus sekali Calista. Aku bahkan tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya,” ujar Prechia kagum.
”Mungkin karena akhir akhir ini Obidia tak pernah mendatangiku lagi lewat mimpi. Aku hanya berpikir untuk memanggil ruhnya untuk datang dan berbicara padaku.”
”Baiklah. Kalian tunggu sebentar disini. Aku akan mempersiapkan ritual pemanggilan di aula pertemuan. Aku juga membutuhkan Helena untuk mendukungku jika terjadi sesuatu yang tak kita harapkan,” pinta Prechia.
Setelah beberapa saat aku, Titus, Prechia dan Helena Ginka duduk mengelilingi meja bundar dan diterangi lilin lilin yang menyala dan mengeluarkan aroma bunga lili.  Prechia Gold memberi isyarat pada kami berempat untuk berpegangan tangan. Dengan suara pelan Prechia memulai ritual pemanggilan arwah.
”Kami berkumpul disini untuk mencari tahu kebenaran. Kami memanggil arwah dari masa sebelum kami untuk memperlihatkan kepada kami apa yang sedang terjadi dan mencari tahu apa yang harus kami lakukan.”
Keheningan melanda sejenak. Dan aku dapat merasakan ketegangan kala melihat lilin lilin mulai bergerak meliuk liuk tertiup hembusan angin dingin yang datang seketika.
”Tunjukan pada kami apa yang dapat kami lihat. Tunjukan pada kami apa yang dapat kami dengar di masa lalu dan masa mendatang,” ucap Prechia dengan suara bergetar.
Tiba tiba kurasakan dingin diseluruh tubuhku. Aku menggigil hebat namun aku tak bisa melihat apa apa. Tubuhku terasa nyeri luar biasa. Kurasakan sesak di dada dan berusaha menghirup udara sekuat tenaga namun paru paru ini terasa tertekan. Semuanya terasa berat. Aku tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar apapun. Aku tidak dapat merasakan apapun juga. Aku merasa melayang dan pada akhirnya tidak dapat berpikir.
Aku terbangun oleh sentuhan lembut Prechia yang menatapku hangat.
”Bangunlah nak. Kita harus bicara,” pintanya lembut.
Masih dalam keadaan bingung aku mendapati diriku tertidur di kursi panjang diruangan kerja Orion.
”Minumlah ini untuk menyegarkan tubuhmu,” pinta Helena seraya menyorongkan secangkir air padaku. Sementara Titus bersandar dekat jendela besar seraya mendekap buku jurnal Obidia didadanya dengan wajah cemas.
”Kami telah berbicara pada arwah Obidia lewat tubuhmu,” ucap Prechia hati hati.
”Lalu bagaimana hasilnya,” napasku memburu.
Prechia tersenyum pengertian. ”Obidia mengagumi keberanianmu meski ia masih meragukan keyakinanmu.”
Aku menggeleng tak mengerti.
Prechia menghela napas. ”Keraguanmu pada takdirmu, melemahkan keberadaan ruhnya. Itulah sebabnya Obidia berhenti mendatangimu lewat mimpi mimpimu.”
Aku tertegun untuk beberapa saat. Kurasakan pipiku menghangat karena rasa malu tak tertahan pada Prechia.
Prechia menatapku. ”Arkhataya adalah seekor naga yang memiliki keistimewaan. Makhluk cerdas yang luar biasa kuat dan sangat peka. Kau harus menyatukan pikiran dan jiwamu jika kau ingin membangunkannya.”
Aku terdiam sesaat
”Kau seorang penyihir muda yang hebat Calista. Mempelajari sihir dengan mudah hanya dalam waktu yang sangat singkat. Kau memiliki semua kriteria dan kualitas sebagai pewaris pusaka Arkhataya. Berasal dari garis keturunan murni penyihir utara, dari garis keturunan Anthea. Tapi mengapa kau masih meragukan takdirmu sebagai penerus dan pelindung lembah Crystal,” wajah Prechia terlihat sedikit kecewa.
Seperti tertusuk busur panah dadaku terasa perih mendengar ucapan Prechia yang bernada peringatan.
”Meski kau telah bersumpah melindungi lembah ini bersama Arkhataya. Namun kau harus meyakinkan dirimu jika itu merupakan takdirmu. Keraguan akan takdirmu dan menganggapnya sebagai suatu beban menghalangi keinginanmu membangunkan sang naga,” ujar Prechia lagi.
Kutatap Prechia dengan tersipu. Dia benar. Aku harus berusaha sekuat tenaga menyatukan pikiran dan jiwaku dengan Arkhataya tanpa terbebani perasaan apapun.
”Maafkan aku, Prechia” desahku pelan.
”Dengarkan aku nak. Kau tidak sendirian. Kami akan selalu berada disampingmu untuk menjagamu,” yakin Prechia.
Aku mengangguk malu.
”Keyakinan dari dalam diri akan takdir mu yang akan membangunkan Arkhataya dalam tidurnya. Jika kau ingin mengendalikan Arkhataya. Kau harus membuat Arkhataya menyatu dengan pikiranmu dengan begitu ia akan menuruti semua perintahmu.”
Kutatap Prechia mantap. ”Aku akan berusaha Prechia.”
Prechia tersenyum. ”Bagus. Satu hal lagi. Jika kau berhasil membangunkan Arkhataya maka untuk menidurkannya kembali, kau harus menyenandungkan rapalan nyanyian sihir dengan sepenuh jiwamu untuk menujukkan rasa cinta dan sayangmu pada Arkhataya yang akan menjadi pelindungmu.”
Kuanggukkan kepala dengan hormat padanya.
”Obidia telah menyenandungkan syair nyanyian tidur Arkhataya lewat mulutmu. Dan kuharap kau mengingatnya Titus, karena aku dan Helena tengah berkonsentrasi menahan selama mungkin kehadiran ruh Obidia ditengah ritual kami,” seru Prechia pada Titus.
”Tentu saja Prechia,” sahut Titus mantap.
”Bagus. Aku yakin bisa mengandalkanmu. Mengingat kau adalah lulusan terbaik kami di Sandora dalam rapalan mantra,” gurau Prechia.
Titus berdehem kikuk.
Prechia kembali menatapku. ”Kau tahu, Obidia memiliki energi yang sangat luar biasa dan menyerap hampir seluruh tenaga kami,” desah Prechia diikuti anggukkan dari Helena.
Untuk yang satu itu aku sangat setuju pada ucapan Prechia.
Titus menyodorkan secarik secarik kertas padaku. Kuambil dengan ragu dan mulai membacanya dalam hati,
Dengarlah aku Arkhataya yang agung...
Pejamkan mata dan bermimpilah kembali....
Dengarlah aku Arkhataya yang hebat...
Pejamkan mata sampai aku memanggilmu lagi ....
Kutatap Titus, Prechia dan Helena dengan keyakinanku. ”Aku akan berusaha melakukan yang terbaik. Mencoba untuk melepaskan beban pikiran dengan menerima takdirku seperti permintaan Obidia.”
            ”Kami percaya kau bisa melakukan itu,” senyum Prechia lembut.
Kutatap gelang emas Arkhataya yang kini menghiasi lengan kananku. Kuucap janji dalam hati kecilku. Aku akan menyatukan jiwa dan pikiranku dengan sang naga. Karena ini adalah takdirku.
Suara keras terompet peringatan mengejutkan kami seketika. Bulu kudukku seketika meremang. Titus mengisyaratkan padaku untuk tenang.
Prechia mengangguk kearah Titus seraya berlalu bersama Helena meninggalkan aula pertemuan.
Titus menarik tanganku. ”Kita harus berlindung Calista.”
Kutepiskan tangannya lalu menatap wajah tirus itu bingung. ”Apa yang telah terjadi Titus?”
Titus mendehem pelan. ”Mereka disini,” jawabnya singkat.
Jantungku berhenti berdetak.
Titus dan aku berlari menuju benteng Sandora. Suara teriakan para ksatria terpilih dalam barisan terdengar keras dan penuh semangat. Melihat persiapan dan kesibukkan mereka membuat bulu kudukku meremang. Darren dan Ness terlihat berteriak teriak memberikan instruksi pada tiga puluh orang ksatria psychic yang nampak bersemangat.
Sementara itu Helena Ginka meminta Agnes Hearon, Evelyn Keech yang terlihat ketakutan dan tiga orang ksatria sihir untuk mengamankan para murid illusionist tingkat dasar menuju pintu rahasia keluar dari benteng Sandora menuju tepi laut Belma. Yang selanjutnya melakukan perjalanan menuju pinggiran hutan Sprhonia.
Titus menunjuk kearah Brisa dan Shenai yang tengah menyiapkan pasukan inti kastria sihir lembah Crystal yang berjumlah sekitar empat puluh orang.
Laksana ditampar wajah ini terasa memerah dan sangat malu melihat semangat yang berkobar di raut wajah mereka. Kugigit bibir untuk menyembunyikan kekalutanku.
”Aku akan mencari tempat yang aman untukmu,” suara Titus mengejutkanku dari lamunan.
Aku terpaku ditempatku berdiri untuk sesaat. Kurasa inilah saatnya. Pertempuran telah dimulai dan aku harus menyiapkan diriku menghadapi Zorca.
”Tidak,” tolakku.
Kening Titus berkerut. ”Tidak ada waktu untuk menjadi keras kepala di situasi seperti ini,” ujarnya seraya menyeret tanganku dengan paksa.
Dengan cepat kutepiskan dengan kasar.
Wajah Titus berubah garang. ”Kau belum siap menghadapi Zorca,” bentaknya marah
”Aku tidak akan bersembunyi dari mereka,” dengusku putus asa.
Titus menatapku kesal. ”Jangan bodoh, Calista. Kau hanya akan mati sia sia dan menghalangi perjuangan mereka.”
Kutatap Titus dengan gusar. Setitik airmata mengambang disudut mataku.
Titus menatapku canggung. ”Maaf aku tidak bermaksud seperti itu.”
Kugeleng kepalaku kuat kuat. ”Aku tidak akan mati. Setidaknya bukan hari ini. Biarkan aku bertempur bersama kalian,” mohonku.
Titus menghela napas panjang. Kutatap wajah tirus itu tak berkedip.
”Aku tidak akan membiarkanmu ikut dalam pertempuran ini. Tapi aku akan membawamu melihat pertempuran ini dari tempat tersembunyi,” ujar Titus mengalah.
Kuanggukkan kepala tanda persetujuan.
”Prechia pasti akan membunuhku nanti,” gumam Titus gusar.
Tapi aku tak terlalu memperdulikan ucapannya.  Dengan sekuat tenaga aku berlari mengikuti langkah para ksatria di depanku menuju gerbang utama pintu masuk lembah Crystal.
Dua puluh langkah dari gerbang besi pintu masuk lembah kulihat Prechia berdiri tegak mengenakan pakaian kebesarannya yang berwarna emas lengkap dengan pedang dipunggungnya. Prechia Gold berdiri gagah diantara Helena Ginka dan Shenai Readick dengan mimik tegang dan siap untuk berperang. Sementara itu Brisa berdiri dibelakang mereka, memimpin pasukan inti para ksatria sihir dalam posisi siaga. Sementara di lambung kiri lembah Crystal, Ness Ferin memimpin sepuluh orang ksatria psychic dan diujung lambung kanan Darren dengan gagah berdiri tegak memimpin sepuluh orang ksatria psychic pilihan yang juga siap untuk bertempur.
Titus menarik lenganku pelan menjauhi arena pertempuran. ”Sebaiknya kita menunggu disini,” ujarnya seraya membimbingku berdiri dibawah rindangnya pohon oak besar yang agak jauh dari tempat para ksatria berdiri. Posisi kami cukup aman berdiri dibalik lebatnya hamparan pakis hutan yang lebat.
”Apa yang mereka tunggu, Titus?” bisikku.
”Mereka menunggu kedatangan Rufus dan kaki tangannnya,” sahut Oggie yang tiba tiba saja berdiri disamping kami dengan sepasang matanya yang menatap waspada ke depan.
Titus berdehem pelan. ”Lalu mengapa kau masih berada disini Kircey. Bukankah seharusnya kau berada disana bersama mereka.”
Oggie menatap Titus sekilas. ”Oh itu. Yah begini master Titus. Prechia telah memintaku untuk mengawasi Calista jika nanti keadaan menjadi sulit terkendali.”
”Kurasa itu tidak perlu. Karena semua itu sudah menjadi tugasku,” tegas Titus.
”Maafkan aku master Titus. Aku hanya menjalankan perintah Prechia karena kemungkinan anda akan sangat membutuhkan bantuan untuk melindungi keselamatan Calista,” bantah Oggie bersikeras.
Titus mendengus kesal. ”Seharusnya Prechia tidak perlu meragukan kemampuanku seperti itu.”
Belum sempat Oggie menyahut. Gerbang besi pintu masuk utama lembah Crystal terlempar dua puluh langkah dan jatuh tepat dihadapan Prechia. Dengan cepat Brisa memberi isyarat pada sepuluh orang ksatria sihir lembah Crystal berjubah putih berlari ke depan membentuk barisan untuk melindungi Prechia. Sementara Helena dan Shenai nampak mengepalkan kedua telapak tangan mereka dan memusatkan pandangan ke depan dengan waspada.
Rufus Black tersenyum puas dan menatap sinis kearah Prechia. Dibelakangnya berdiri Herzog Mandal, Chaides Borzy, Amara Pedigo dan Tristan Readick yang menatap lurus dengan mimik tak kalah tegang.
Herzog berteriak garang dan memberi isyarat dengan tangannya pada tujuh penyihir berjubah hitam untuk maju. Dengan cepat sepuluh ksatria sihir di depan Prechia melayangkan mantra follones hingga membuat tiga diantaranya terhempas keras dan jatuh tertelungkup ke tanah. Namun lima dari ksatria sihir lembah Crystal menderita luka bakar terkena serangan sihir api dari penyihir berjubah hitam pimpinan Herzog Mandal itu. Herzog tertawa senang dengan suara paraunya yang menyakitkan telinga.
”Serahkan gadis itu padaku!” teriak Rufus menggelegar menatap Prechia dengan garang seolah akan menerkamnya.
”Beraninya kau datang ke negri kami dan memerintahku seperti itu!” seru Prechia Gold tak kalah lantang.
Rufus tertawa keras diiringi tawa jelek piaraannya, Herzog Mandal.
”Sebaiknya kau pergi atau kami akan menghancurkan pasukanmu yang tak berguna itu,” teriak Shenai marah. Sekilas mata ungunya melirik kearah Tristan dengan luapan emosi.
”Oh ho Shenai Readick. Lama sekali kita tidak bertemu,” tawa Rufus keras menatap sinis kearah Shenai.
Tristan membuang pandangannya. Tak berani menatap kilatan kemarahan di kedua mata ibunya.
”Seharusnya kau lebih pintar dan bergabung denganku seperti yang dilakukan putra kesayanganmu, Tristan,” ejek Rufus puas.
Shenai menahan napas sedalam mungkin berusaha untuk tenang dan tidak terpancing ucapan Rufus. Kutatap wajah kaku Tristan dari kejauhan. Untuk sesaat aku merasakan kesedihan mendalam diantara sepasang mata ungunya yang gelap.
”Zorca tidak ada bersama mereka,” ucap Oggie pelan.
”Dia pasti datang. Penyerangan ini sudah direncanakan olehnya,” gusar Titus seraya melayangkan pandangan ke segala arah.
Untuk beberapa saat aku jadi sulit bernapas begitu mendengar ucapan Titus.
”Tinggalkan lembah ini Rufus. Atau kami akan melakukannya dengan kekerasan!” perintah Prechia tegas seraya melirik Shenai yang berdiri disebelah kirinya.
Raut wajah Rufus kini berubah beku dan tajam. ”Kalau begitu. Lakukanlah!”
Dengan teriakan keras Shenai mengacungkan kedua tangannya ke udara yang seketika itu juga mengeluarkan gulungan asap hitam tebal dan berputar sangat cepat. Lebih cepat dan kencang dari yang pernah dibuat Tristan. Asap itu bergulung cepat mengarah kepada Rufus yang langsung melompat cepat untuk menghindarinya.
”Tristannn!” teriak Rufus seraya mengacungkan tangan kanannya kearah Shenai.
Dengan gerakan satu tangan Tristan mengeluarkan sihir asap yang sama dan ditujukan pada ibunya sendiri, Shenai. Suara menderu kencang terdengar menggelegar begitu asap hitam Tristan beradu dengan gulungan asap buatan Shenai hingga terjadi tarik menarik. Seketika itu juga udara disekeliling mereka menderu kencang dan menghancurkan semua benda yang berada didekatnya.
Herzog mengarahkan kedua tangannya yang memercikan api kearah Prechia namun dengan cepat Brisa membuat perisai es di depan Prechia. Sementara itu Chaides Borzy melayangkan jemari jemari pendeknya kearah tiga orang ksatria psychic lembah Crystal yang langsung terlempar sepuluh langkah oleh hempasan bulir air dingin Chaides tanpa sempat membalas. Mereka terbaring kaku ditanah.
Darren segera membalas dengan melayangkan pukulan jarak jauh kearah Chaides yang langsung terjerembab jatuh berbarengan dengan Ness yang juga melancarkan serangan kearah Amara Pedigo yang nampak kurang bersemangat hingga akhirnya jatuh terjerembab tepat disamping Chaides.
Melihat itu Rufus sangat marah dan langsung merapalkan sihir dengan cepat. Percikan api keluar dari kedua tangannya dan dengan murka dilemparkan kearah Ness dan Darren. Dengan lincah Ness berguling menghindari serangan sihir Rufus namun sayangnya, Darren terkena dibagian bahu kirinya. Seketika itu juga Darren berteriak kesakitan akibat luka bakar tersebut. Brisa berlari lincah kearah Darren yang tengah terkapar menahan rasa sakit. Lalu menarik tubuh kekarnya ketempat aman dan segera merapalkan mantra penyembuh ke bahu kiri Darren.
Chaides yang kini sudah menguasai diri berdiri tegak dan dengan marah menyerang lima orang ksatria sihir lembah Crystal yang baru saja datang bergabung dengan hujaman bulir bulir airnya yang membekukan. Seketika itu juga mereka terpental jatuh. Tiga orang diantaranya langsung membeku.
Rufus tidak tinggal diam. Dengan marah ia mengeluarkan bola api yang cukup besar dari kedua telapak tangannya dan mengarahkannya pada Prechia. Prechia segera mengacungkan pedangnya mengarah pada Rufus Black dan dengan gerakan memutar ia mengeluarkan sihir ilusinya. Sinar menyilaukan keemasan membutakan pandangan Rufus yang berteriak marah hingga bola api yang dilemparkan Rufus jadi tak terarah dan hanya mengenai ujung boots Prechia.
”Serahkan dia padaku Rufus. Aku harus membalas rasa sakitku karena ia telah  melukai separuh wajahku!” teriak Herzog mengambil alih serangan Rufus pada Prechia,
Seketika itu aku menelan ludah. Aku tak menyangka jika sayatan luka dipipi kiri Herzog ternyata disebabkan oleh pedang Prechia.
Titus terlihat resah. Ditatapnya Oggie penuh harap. ”Aku akan membantu mereka. Dapatkah kau menjaga Calista untukku.”
”Tentu master Titus. Memang sudah jadi tugasku,” sahut Oggie gugup.
Kutatap Titus cemas. ”Berhati hatilah Titus.”
”Jangan khawatir. Simpan jurnal ini, Calista. Jangan sampai jatuh ketangan mereka,” ujarnya seraya menyorongkan jurnal Obidia ketanganku.
Secepat kilat Titus berlari keluar dari persembunyian kami. Dan langsung melancarkan sihir angin kearah Chaides yang nampak terkejut akan kehadiran Titus. Seketika itu juga butiran air Chaides pecah dan tak sengaja mengenai penyihir penyihir berjubah hitam yang tengah berada disekitar Chaides. Mereka langsung jatuh dan membeku.
Dilain tempat Amara Pedigo berteriak marah dan menyerang Ness dengan mengerahkan sihir panggil. Lima burung gagak beterbangan dan menukik tajam tepat diatas kepala Ness. Dengan lincah Ness menghindar seraya mengerahkan kekuatan telekinetisnya dengan melancarkan pukulan jarak jauh kearah burung burung gagak tersebut. Seekor burung gagak jatuh dan mati seketika. Namun empat lainnya kembali menyerang dan menukik tajam kesekeliling tubuh Ness dan siap mencabik cabik setiap bagian tubuh laki laki tampan tersebut. Belum sempat Ness mengeluarkan kekuatan telekinetisnya lagi sebuah cahaya terang yang cukup membutakan pandangan datang tiba tiba. Keempat burung gagak tersebut tiba tiba saja jatuh bergelimpangan tak bernyawa ke tanah.
Aku berusaha melihat si pembuat cahaya yang menyilaukan tersebut. Namun sia sia. Sinar terang itu terlalu silau untuk ditembus oleh pandangan mata. Akhirnya setelah beberapa saat aku dan Oggie berhasil mengetahui jika pembuat cahaya yang menyilaukan itu adalah Orion Xander yang duduk diatas punggung pegasus yang tengah mengepakkan kedua sayapnya dengan gagah. Wajah Orion terlihat tegang seraya memegang tongkat sihirnya. Kilauan batu kristal yang ada diujung tongkat sihirnya, nampak masih mengeluarkan cahaya terang yang cukup menyilaukan pandangan bagi siapapun yang memandangnya.
Kuhembuskan napas kelegaan. Orion telah kembali dari Amorilla. Kami pasti selamat. Batinku.
Rufus mengangkat satu tangannya, memberi isyarat pada para penyihirnya untuk menghentikan pertempuran sementara. Chaides, Amara, Tristan, Herzog dan beberapa penyihir berjubah hitam yang tersisa bergerak mundur perlahan.
Orion tersenyum bijak dan menatap tajam kearah Rufus Black yang terlihat tegang. ”Aku tidak akan pernah membiarkan lembah Crystal jatuh ketanganmu, Rufus!” seru Orion mengingatkan.
Rufus tertawa kasar. Namun dengan cepat menguasai diri lalu menatap Orion dengan pandangan rendah yang sangat melecehkan. ”Sayang sekali Orion. Karena hari ini adalah hari jatuhnya lembah Crystal di tangan master Zorca.”
Orion terseyum datar. ”Dimana Zorca?”
Rufus kembali tertawa seolah kata kata Orion terdengar lucu ditelinganya. Ditatapnya Orion dengan penuh kebencian. Belum sempat ia menyahut. Sebuah suara berat dan dalam terdengar bergetar. Membuat bulu bulu halus di tengkukku meremang.
”Orion Xander!!” serunya dalam dan sedikit parau.
Semua mata menatap kearah suara itu. Sosok laki laki berjubah hitam panjang berdiri tegak menatap lurus kearah Orion. Perawakannya yang tinggi besar dan garis wajahnya yang terlihat cukup tampan terlihat sangat pucat seputih mayat seolah ia baru saja dibangkitkan dari kematiannya. 
Aku terkesiap. Seluruh tubuhku terasa bergetar hanya dengan mendengar suaranya. Itukah Zorca. Meski aku tidak benar benar melihat wajahnya dalam mimpiku namun aku dapat mengenali sosoknya yang tinggi besar dengan jubah hitamnya yang mendesing berkibaran tertiup angin dan menjuntai hingga ke tanah. 
Orion segera turun dari punggung pegasus dengan elegan. Perlahan ia mengelus punggung kuda gagah tersebut dan membisikkan sesuatu ditelinganya. Dengan cepat pegasus berbalik arah lalu terbang cepat dan meringkik di udara meninggalkan tuannya.
Orion menatap tajam kearah Zorca Anthea. Sementara kami hanya terdiam tegang dan menahan napas menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.
”Kau telah membuat kerusakan dan menimbulkan kesedihan bagi banyak orang Zorca!” seru Orion bijak. Sepasang mata biru langitnya menatap tajam kearah Zorca.
Zorca tertawa lantang. Ditatapnya wajah Orion penuh rasa dendam dengan kebekuan diwajah pucatnya. Sepasang mata hitamnya menyorot penuh kebencian yang sangat besar pada Orion. ”Kau dan Ghorfinus yang membuatku seperti ini. Dan hari ini lembah Crystal akan membayar semuanya jika kau tidak menyerahkan anak dalam ramalan itu padaku,” senyumnya beku.
Orion tersenyum bijak. ”Aku sangat menyesal akan kesedihanmu. Tapi kau tidak bisa menyalahkan Ghorfinus atas pengangkatanku. Bersikaplah ksatria dan terima takdirmu, Zorca,” tukas Orion dingin.
Zorca tertawa keras. Suara tawanya terdengar marah. ”Selalu saja berusaha terlihat bijak,” seringainya melecehkan.
”Kami akan mempertahankan lembah ini dan tidak akan menyerahkan apapun padamu!” seru Orion keras memberikan peringatan terakhir pada Zorca.
Zorca menyeringai kejam. ”Keinginanmu akan kukabulkan!” teriak Zorca seraya menyilangkan kedua tangannya dan mulai merapalkan mantra. Seketika angin kencang menderu disekeliling kami dan menerbangkan apa saja yang ringan ke udara. Orion memegang tongkat sihirnya kuat kuat dan mengangkatnya ke udara. Dan dalam waktu yang bersamaan baik Zorca dan Orion saling berteriak dan menyerukan mantra serangan. Sinar putih menyilaukan layaknya cahaya kilat keluar dari tongkat Orion dengan suara menggelegar. Kilat itu beradu dengan sambaran api yang keluar dari kedua tangan Zorca yang terarah pada Orion hingga menimbulkan suara ledakan besar yang menggetarkan tanah.
Prechia mengacungkan tangan kanannya ke udara dan memberikan perintah penyerangan. Seketika itu juga Shenai dan Titus bergerak cepat melayangkan sihir mereka kearah Rufus dan Herzog. Beberapa ksatria sihir lembah Crystal pun telah terlibat duel dengan penyihir berjubah hitam pengikut Zorca.
Dengan panik Oggie menarik lenganku untuk berbaring merunduk diantara lebatnya hamparan pakis liar disekitar pohon oak raksasa ini. Tubuhku tiba tiba terasa lemas dan tak berdaya demi melihat pertempuran dihadapanku.
”Tetaplah disini Calista. Aku akan membantu mereka!” seru Oggie seraya melompat keluar dari persembunyian kami.
Dadaku berdegup kencang. Rasa takut mulai datang menyelimutiku. Dari kejauhan terlihat Orion nampak kewalahan menahan serangan api Zorca yang semakin besar dan berkobar kobar. Hanya dalam waktu sekedip saja Orion terhempas kencang lima langkah kebelakang.
Zorca tertawa keras dan kembali bersiap untuk menyerang Orion yang terlihat mencoba menguasai diri. Dengan sigap Prechia melompat kearah Zorca seraya menghunus pedangnya namun sayangnya, Zorca lebih cepat. Dengan teriakan kemarahan ia melemparkan bola api yang berkobar dari tangan kanannya kearah Prechia. Malang bagi wanita gemuk itu yang menjerit seketika dan tersungkur ke tanah. Sementara pedangnya terlempar keras jauh dari jangkauannya.
Senyum beku kemenangan terlihat di wajah pucat Zorca Anthea yang seputih mayat. Dengan luapan emosi ia meraung dan mengerahkan seluruh sihir apinya ke segala arah. Api mulai berkobar membakar pepohonan dan beberapa rumah penduduk yang sudah ditinggalkan penghuninya. Bau hangus tercium dimana mana. Sepetinya Zorca benar benar berniat membumi hanguskan lembah Crystal.
Tiga orang ksatria sihir lembah Crystal mengepung Zorca dan berusaha melancarkan mantra pelumpuh namun sia sia. Zorca Anthea bukan tandingan mereka. Kekuatan sihir Zorca terlalu kuat dan berbahaya. Hanya dalam hitungan sekejap mereka tewas terpanggang sihir api Zorca.
Melihat serangan para ksatria lembah Crystal kearah Zorca. Rufus segera bergerak maju untuk melindungi tuannya namun dengan gagah berani Titus melayangkan sihir anginnya tepat kearah laki laki berjubah hitam itu. Rufus terhuyung dua tiga langkah kebelakang. Namun dengan sigap kembali berdiri tegak dan melancarkan serangan balik dengan sihir api yang keluar dari jemarinya. Yang seketika itu langsung dipadamkan Titus dengan sihir anginnya.
Sementara itu Chaides melemparkan buliran buliran air besar yang mnegelembung dan mengenai beberapa ksatria psychic pimpinan Ness termasuk Oggie yang langsung terjebak dalam gelembung air yang dingin dan membekukan itu. Oggie berteriak dan memukul sekuat tenaga gelembung air yang sulit dipecahkan itu. namun sia sia. Untuk beberapa saat ia merasa sesak dan memegangi lehernya dengan kedua tangan kecilnya. Oggie akhirnya menyerah dan pingsan karena rasa dingin yang tak tertahankan dan sesak napas berat.
Brisa melompat sekuat tenaga dan mengeluarkan hujaman batu es dari telapak tangannya untuk memecahkan balon air buatan sihir Chaides. Hujaman batu es yang tajam itu berhasil memecahkan balon air yang mengurung Oggie. Seketika itu juga tubuh mungil Oggie jatuh ke tanah dan seluruh pakaiannya basah kuyup. Wajah Oggie terlihat beku dan membiru. Ness menghampiri Oggie dan menggendongnya dibahu namun sayang Tristan diam diam melancarkan sihir asapnya hingga membuat tubuh Ness tergulung cepat ke udara dan seketika itu juga tubuh Oggie terhempas dari bahunya dan jatuh ke tanah. Sementara tubuh Ness tak berkutik melayang diudara dalam balutan asap hitam yang menderu.
Mata ungu Shenai Readick yang gelap terlihat marah. Dengan satu hentakan ia mengeluarkan asap hitam sepekat milik Tristan. Gulungan awan Shenai menghantam gulungan asap hitam Tristan yang membelit Ness. Kedua gulungan asap hitam yang saling menghantam itu buyar dan asapnya saling berpendar. Ness pun terbebas dari belitan gulungan asap Tristan. Sebelum tubuh kekar Ness terhempas ke tanah Shenai merapalkan mantra avilos yang membuat tubuh Ness melayang layang di udara untuk sesaat sebelum akhirnya menyentuh tanah dengan perlahan. Kedua mata Ness masih terpejam. Dengan cepat Shenai menepuk pipi Ness dan merapalkan mantra untuk menyadarkannya.
Sementara api mulai berkobar kencang dan membakar sekeliling kami. Zorca Anthea berteriak keras melayangkan kobaran api yang lebih besar dari kedua tangannya hingga membuat sebagian dari ksatria lembah Crystal yang tengah bertempur langsung tewas seketika. Bau gosong daging terpanggang dan teriakan kematian bergema di sekelilingku.
Napasku sesak dan aku tak sanggup membuka mata menyaksikan pemandangan mengerikan itu dari balik rimbunnya dedaunan pakis. Tubuhku terasa lemas dan kakiku sedikit bergetar. Kubuka kedua mataku perlahan dan melihat Zorca nampak memberikan isyarat pada Rufus untuk mundur. Zorca Anthea berdiri tegak dengan tatapan kemenangan. Wajah pucatnya tersenyum samar.
”Keluarlah penyihir naga Arkhataya atau aku akan membunuh mereka semua!” teriakan Zorca bergaung keseluruh lembah hingga menciutkan nyaliku.
Dan hal yang paling mengerikan mulai membayangiku. Zorca Anthea mengayunkan tangannya ke udara seolah tengah mengisyaratkan pada sesuatu untuk datang. Wajah pucatnya tersenyum kejam. Dan bibir tipisnya kini merapalkan sebuah mantra bernada seperti senandung.
Jantungku berdebar kencang. Sepertinya Zorca tengah merapalkan nyanyian sihir untuk memanggil makhluk mematikan dari neraka untuk menghancurkan lembah ini.
Tanpa kusadari aku telah menjatuhkan jurnal sihir Obidia ke tanah.


Writer : Misaini Indra
Illustration by : Ketka.deviantart.com