Protected by Copyscape Plagiarism Scanner

Wednesday, 21 March 2012

PART II : Calista Kaz “Bangkitnya Sang Naga” (Chapter 4)


4. SEBUAH RENCANA

Sinar mentari yang menembus sela sela pepohonan pinus dan menyilaukan penglihatan membuatku tersadar dari tidur. Hari semakin siang. Dan sepertinya aku telah tertidur lama sekali. Kulirik kesekelilingku namun aku tak menemukan sosok Ness dimanapun juga. Dengan cepat aku bangkit dari pembaringanku dan duduk waspada.
“Maaf aku tak membangunkanmu,” suara merdu yang sudah sangat familiar terdengar lembut ditelingaku.
Kualihkan pandangan pada Ness yang datang membawa dua ekor kelinci yang telah mati ditangan kanannya. Dilemparkannya dua binatang malang itu ke tanah lalu berjongkok untuk menyusun ranting ranting kayu kering yang nampaknya telah ia persiapkan sebelumnya. Setelah selesai ia menatapku.
“Sekarang buatkan api untukku,”  pintanya sopan seraya melirik susunan ranting kayu yang telah disusunnya.
Kutatap sepasang mata emasnya kebingungan. “Tapi aku tak pernah melakukan sihir api sebelumnya,” ujarku dengan nada tinggi.
Ness tesenyum datar. “Aku tahu. Bukankah sekarang waktu yang tepat untuk mempelajarinya,” desaknya penuh penekanan.
Aku tertawa getir. “Dengan senang hati jika aku mengetahui mantranya,” sahutku tanpa berusaha mengejeknya.
Ness berdiri seketika lalu ditatapnya aku dengan sorot mata aneh.
“Bangunlah. Aku akan mengajarkannya padamu,” pintanya sopan.
Seketika itu juga tawaku pecah. Kutatap wajah tampannya dengan sedikit meremehkan. “Kau seorang psychic Ness.”
“Aku separuh peri. Bangsa peri memiliki kekuatan sihir murni saat mereka terlahir ke dunia. Namun kami hanya menggunakan kekuatan sihir kami untuk kebaikan dan sebatas yang diperlukan saja,” ujar Ness menjelaskan.
Kini kami saling bertatapan. Ness masih berdiri tegak dan menanti jawaban. Kurasa tak ada salahnya aku mempelajari sihir api dari seorang keturunan peri sepertinya. Maksudku apa yang salah dengan hal itu.
“Baiklah,” ujarku seraya berdiri dan menatapnya lurus lurus mencoba menunjukkan keseriusanku.
Ness menatapku datar. “Sekarang berdirilah disampingku dan coba perhatikan aku baik baik,” perintahnya.
Kuturuti permintaanya. Kuambil posisi disebelah kanan tubuhnya dan mulai memperhatikan raut wajahnya yang tenang. Bibirnya nampak membisikkan sesuatu seiring dengan telunjuk tangannya yang berputar dan mengeluarkan sebuah cahaya redup yang sedikit demi sedikit membesar berwarna kebiruan. Dengan tenang, ia menggerakkan jari telunjuknya itu terarah pada tumpukan ranting ranting kayu yang telah disusunnya. Sebuah liukan api tersulut keluar dari telunjuk tangannya dan mulai membakar tumpukan ranting ranting kayu itu dengan cepat.
Seketika itu aku berdecak kagum.
“Sewaktu serangan Zorca ke lembah Crystal, mengapa kau tidak melakukan sihir api mu untuk melawan kaki tangan mereka?” tukasku penasaran.
Ness tersenyum hambar.  Sepasang mata emasnya menatapku. “Seperti yang kubilang meski kami memiliki kekuatan sihir sejak kelahiran kami, tapi sihir kami begitu lemah jka dibandingkan kalian bangsa penyihir.”
Dahiku mengerut. Mencoba menganalisa penjelasannya.
Ness tersenyum begitu melihat raut wajahku. Mungkin sekarang ia berpikir aku gadis bodoh yang kurang pengetahuan.
“Jika kau perhatikan, sihir api yang kubuat lebih menyerupai sebuah cahaya yang berubah menjadi sebuah api dengan sinarnya yang kebiruan. Sementara sihir api yang dilontarkan Zorca terlihat terang, merah dan membara.”
Ness benar. Aku bahkan masih dapat merasakan hawa panas api sihir Zorca ketika menghanguskan sebagian wilayah lembah Crystal dan bau daging terbakar teman teman kami yang terkena sihir apinya yang mengerikan itu. Sedangkan api yang tersulut dari telunjuk Ness, nampak lebih bersahabat, hangat dan sepertinya tidak terlalu berbahaya.
Buku tengkukku meremang. Aku benci sekali jika harus kembali mengingat serangan Zorca dan pengikutnya ke lembah Crystal. Kutatap sepasang mata emas yang tengah termenung menatap api yang meliuk liuk di depan kami.
“Apakah sihir api yang kau hasilkan dapat mengalahkan kekuatan sihir api Zorca?” tanyaku antusias.
Ness tersenyum.”Kurasa aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu. Karena aku belum pernah mencobanya.”
Ada sedikit rasa kecewa di hatiku begitu mendengar jawabannya.
 “Kau tidak perlu mempelajarinya jika kau tidak menginginkannya,” tandas Ness menghentikan lamunanku. Dari nada suaranya sepertinya ia memahami kekecewaanku.
Aku menggeleng cepat dengan wajah memerah.”Maaf. aku tak bermaksud seperti itu. Tentu saja dengan senang hati aku mau mempelajari sihir api mu itu,” sahutku canggung.
Ness tertawa. Sepasang mata emasnya terlihat bersinar dan menyenangkan untuk dipandang.
“Baiklah. Sekarang ikutilah ucapanku,” perintahnya pelan.
Kini kami berdiri sejajar menghadap sebuah pohon pinus kering yang dahannya hangus terbakar semburan api Arkhataya kemarin. Ness kembali mengangkat telunjuknya dan bibirnya kembali mengucapkan sebuah mantra dengan perlahan,
“Dengan segala kekuatan cahaya bumi. Datang dan sinarilah keinginanku”
Telunjuk tangan Ness kembali berputar dan mengeluarkan sebuah cahaya redup yang sedikit demi sedikit membesar berwarna kebiruan. Lalu ia menggerakkan jari telunjuknya itu terarah pada dedaunan yang tersisa di pohon pinus yang telah hangus. Sebuah liukan api mulai membakar dedaunan dengan perlahan.
Ness melirik kearahku. Kuanggukkan kepala dan mulai meniru gerakkannya seiring dengan mengucapkan mantra sihir apinya. Ness, nampak puas begitu melihatku dapat melakukannya tanpa harus mengulang untuk kedua kali. Kupandangi sinar kebiruan yang mulai membakar dahan perlahan dengan rasa tak puas.
“Jika kau tak keberatan. Aku akan melakukannya sekali lagi dengan caraku sendiri,” ucapku meminta persetujuan seraya memandangi wajah tampannya yang sedikit keheranan.
Ness mengangguk ragu.
Kutarik napas panjang perlahan mencoba memfokuskan pikiranku. Dengan sangat perlahan kuangkat tangan kananku hingga setinggi dada dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas, aku mulai mengucapkan mantra sihir api dari Ness untuk yang kedua kalinya,
“Dengan segala kekuatan cahaya bumi. Datang dan sinarilah keinginanku …
Sebuah cahaya terang kebiru biruan nampak berputar menyerupai bola sekepalan tangan dengan sinarnya yang terlihat lebih terang dan sangat menyilaukan. Bola cahaya itu berputar sangat cepat di dalam genggaman tanganku. Dan dengan lantang kuteriakkan kembali rapalan mantra sihir api Ness dibibirku,
“Bakar dan hanguskan keinginanku!!! Raungku seraya melontarkan bola cahaya kebiruan di telapak tanganku ini, kearah pohon pinus hangus yang kini menjadi terbakar kembali oleh kobaran api sihir buatanku dengan menimbulkan suara mengelegar. Pohon malang itu berderak dan tumbang dengan api yang masih menyala dan membakar batangnya yang sebenarnya memang sudah hangus.
Wajah tampan Ness terlihat pucat seketika.
Kutatap Ness dengan perasaan senang dan tersenyum puas.  
“Aku sedikit mengubah mantranya. Tadinya kupikir tidak akan berhasil tapi ternyata …” kulirik jilatan api yang masih membakar batang pinus hangus di depanku itu.
Ness hanya melemparkan senyum samar tanpa berkata apa apa. Dan sepanjang hari itu kami lebih banyak terdiam. Hingga aku tak tahan dan mulai melontarkan pertanyaan konyol yang sebenarnya tak perlu kulontarkan padanya.
“Katakan sesuatu Ness. Apakah aku telah membuat kesalahan?” lengkingku dengan nada tinggi.
Ness menatapku datar. “Untuk apa kau menanyakan hal itu?” sahutnya rendah seolah menjaga nada suaranya.
“Entahlah. Kau… begitu pendiam..”
Kini sepasang mata emasnya menatapku dalam. “Satu satunya kesalahanmu adalah terlahir menjadi seorang penyihir alami yang brilian,” gumamnya tanpa terkesan menyanjungku.
Pipiku terasa hangat. “Apakah itu suatu hal yang buruk?”
Ness menggeleng lemah. “Tidak untukmu.”
Ness kembali mengulangi kebiasaan lamanya yang berkata sepotong sepotong dan meninggalkan misteri untuk kupecahkan. Aku benci itu.
“Sebaiknya kita kembali ke Amorilla. Karena misi pemanggilan Arkhataya telah terselesaikan,” ucapnya datar.
Sekelebat bayangan tiba tiba saja berdiri dihadapan kami.
“Cis, sebaiknya kalian mematikan api sial itu terlebih dahulu karena asapnya sangat menggangguku!!” seru seorang laki laki bertubuh kecil dengan wajahnya yang terlihat tua dengan kupingnya yang meruncing dan wajahnya yang sangat tirus. Nada bicaranya terdengar aneh seolah tengah mengejek.
Aku berdiri tegak dan mengepalkan kedua tanganku bersiap untuk melancarkan serangan. Ness memberi isyarat dengan tangan kanannya yang terangkat keatas memintaku untuk menahan serangan.
“Sudah lama sekali kita tidak berjumpa, Pinsky,” sapa Ness ramah.
Laki laki bertubuh kecil yang dipanggil Pinsky nampak mengerutkan wajah tirusnya. Sepasang matanya yang bulat dan berwarna hijau terang menatap Ness angkuh lalu melirikku tajam.
Aku terkesiap. Tiba tiba aku teringat perkataan Orion padaku beberapa waktu lalu. Seorang peri buangan bernama Pinsky memberitahu Ghorfinus akan keberadaan bayi Zorca yang telah terlantar berhari hari ditinggal mati ibunya.
“Cis, tidak cukupkah keributan yang kau bawa dengan membangunkan Arkhataya hingga mengganggu seluruh penghuni Farfasian. Dan sekarang, Cis.. dengan sihir apimu itu,” cemoohnya masih dengan logat anehnya itu.
Nada cemoohnya membuat darahku mendidih.
Kembali kutatap wajah angkuh peri buangan itu yang menatapku tak berkedip. Ingatanku akan wajah licik Alberich yang bergumam kesal muncul dibenakku seketika,”Si dungu Pinsky yang memberitahukan Zorca perihal gelang itu. Dasar peri hina dan tercela. Aku akan membunuhnya suatu hari nanti,”
Dengan luapan emosi kulayangkan sihir asapku ke tubuh kecilnya. Seketika itu juga asap hitam yang tebal menggulung tubuhnya keatas hingga ia berteriak ketakutan.
 ”Hentikan Calista. Apakah kau sudah sinting?!” teriak Ness marah.
”Dia yang memberitahukan Zorca perihal gelang Arkhataya, Ness. Dan aku akan menghukumnya untuk itu!” teriakku marah.
”Turunkan dia sekarang juga!” perintah Ness garang.
Aku tidak memperdulikan ucapan Ness, sebaliknya malah mempermainkan tubuh peri malang itu di udara dengan sihir asapku. Hingga akhirnya sebuah dorongan angin keras menghempaskan tubuhku dan membuyarkan sihir asapku seketika.
Pinsky terhempas keras jatuh ke tanah sementara aku terguling enam langkah dengan posisi tertelungkup. Aku terbatuk batuk karena tersedak debu tanah. Kudongakkan kepala dan mendapati Ness tengah meletakkan telapak tangannya di dada peri kecil itu seraya menggumamkan sesuatu di bibirnya.
Dengan kesal kuhampiri Ness dengan wajah kusut dan debu diseluruh pakaianku.
”Mengapa kau menyerangku, Ness! Aku harus memberikan pelajaran pada makhluk pengadu itu!” teriakku marah.
Ness tak memperdulikan ucapanku dan terus berusaha mengembalikan keadaan Pinsky yang kini tak sadarkan diri.
”Apakah kau sudah mulai tuli Ferin!” kali ini aku berteriak kalap karena ia sama sekali tidak menggubris ucapanku.
 Ness berdiri seketika dan mencengkeram kedua lenganku dengan tatapan berkilat. Wajah tampannya terlihat sangat marah. ”Kau dulu begitu rapuh dan rendah hati. Tapi sekarang kau sangat sombong dan pemarah!” serunya tertahan.
Aku terhenyak seketika.
”Memiliki kekuatan sihir sehebat itu bukan berarti kau dapat berbuat sesukamu dan menyakiti yang lemah. Kau hampir saja membunuh peri malang itu,” ingat Ness tajam seraya melepaskan cengkeramannya dari kedua lenganku dengan kasar dan kembali menyalurkan energi murni ke dada Pinsky untuk mengobati luka dalamnya.
Aku tersadar oleh ucapannya. Tubuhku terasa lemas. Aku merasa malu dan tercela. Sepertinya hubungan baikku yang telah terjalin kuat dengan Ness akan menjadi rusak kembali karena keangkuhanku.
Pinsky terbatuk batuk pelan. Dengan cepat Ness memegangi dahi peri kecil itu.
”Kau baik baik saja. Apakah kau dapat mendengarku?” tanya Ness pelan.
Kelopak mata Pinsky membuka perlahan. Raut wajahnya terlihat lemah. ”Cis, mengapa ia mencoba membunuhku?” ujarnya pelan.
Tak sanggup melihat pemandangan di depanku aku membalikkan badan dan berlari menjauhi mereka dengan pikiran kacau.
Kini aku terduduk lemas di depan air terjun tempat peraduan Arkhataya. Menatap derasnya air terjun yang meluncur tajam dengan riaknya yang cepat. Mencoba memikirkan perbuatanku ditengah derasnya suara air terjun ini. Untuk beberapa saat aku terhanyut oleh irama riaknya dan merasa sedikit lebih baik.
Sebuah sentuhan lembut di bahuku menyadarkan lamunan. Tanpa berani menoleh aku dapat mengira jika Ness telah berhasil menemukanku. Sosok menawan itu duduk disampingku dengan menghembuskan napas kencang.
”Aku tak berniat menyakitimu,” dengusnya canggung.
Aku tersenyum datar. ”Kurasa ucapanmu itu ada benarnya,” sahutku pelan.
Ness terdiam.
”Bagaimana keadaan peri itu?”
”Lukanya tidak dalam. Namun ia sangat ketakutan jika kau akan kembali dan membunuhnya.” Dahi Ness berkerut menatapku. ”Pinsky langsung pergi dan menghilang dibalik pepohonan pinus karena rasa takut yang berlebihan,” tambahnya.
Aku menggeleng kesal. ”Ini salahku. Aku melampiaskan kemarahanku akan Zorca, padanya.”
Ness tersenyum. ”Yah setidaknya, sekarang Pinsky bisa belajar mengendalikan ucapannya dan berhenti mencampuri urusan orang lain.”
Kutatap Ness bingung.
Ness menghela napas panjang. ”Thaddeus mengasingkan Pinsky ke Farfasian karena ia telah membuat kesalahan fatal dengan mencampuri urusan kerajaan. Dia menyebarkan berita kebohongan akan kebencian bangsa penyihir dari negri Ophresia yang sengaja membunuh unicorn kesayangan Thaddeaus untuk memicu perang.”
Kedua alisku terangkat tinggi. ”Hingga berakhir dengan kehancuran negri Ophresia oleh Amorilla,” desahku.
”Benar. Meski sebenarnya semua itu murni ketidaksengajaan Ira Molina yang membunuh unicorn Thaddeaus ketika tengah berburu elang di hutan Sphronia.”
Aku melirik Ness ragu. ”Yang kudengar Thaddeus memang tak menginginkan perdamaian dengan Seresima karena tak mau menyerahkan Ira Molina. Hingga Thaddeaus murka dan memutuskan untuk menghancurkan Ophresia dengan kejam.”
”Awalnya Thaddeaus bersedia melakukan perdamaian dengan Seresima, pemimpin negri Ophresia. Tapi kemarahan Thaddeus kembali muncul berdasarkan prasangka yang dibuat Pinsky yang telah menyebarkan berita kebohongan itu ke seluruh negri Amorilla.”
Mataku mengerjap. ”Ternyata mulut peri kecil itu sangat tajam.”
”Bangsa elf seperti yang kau lihat sangat menyukai keseimbangan. Hidup dalam keteraturan sebagai peri hutan. Begitu halus, sopan dan sangat peka terhadap situasi apapun. Thaddeaus tidak seburuk perkiraan orang. Meski raut wajah mereka terlihat begitu dingin dan datar namun saat merasa terancam dan tidak nyaman mereka akan berubah garang dan jadi mengerikan untuk dipandang,” desah Ness.
Kulirik Ness dengan ekor mataku.
”Harga diri kami terlalu tinggi untuk menitikkan air mata. Kami berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi kesedihan karena hanya akan melemahkan jiwa kami sendiri. Tangisan kesedihan hanya akan membunuh kami perlahan lahan,” hembus Ness kencang.
Terbayang isak tangis Piphylia ditengah pemakaman ibunya, Anella beberapa waktu lalu. ”Seperti yang dilakukan Piphylia,” gumamku tak sadar.
Ness tersenyum. ”Jiwa Piphylia telah menjelma menjadi manusia begitu Aisling membawanya untuk hidup bersama di lembah Crystal. Kenangan indah dan kebahagian yang dirasakannya bersama Aisling tidak akan melemahkan jiwanya.” Ness kini menatapku. ”Sebaliknya, kerinduan dan kesedihan akan kehilangan anak satu satunya yang memilih pergi, membuat Anella terus menangis hingga membunuh jiwanya perlahan lahan.”
Kubalas tatapannya ragu.
”Odile tahu itu. Itulah sebabnya ia memintaku dan Piphylia untuk kembali dan mengobati penderitaannya akan rasa kehilangan yang cukup besar yang dirasakannya pada Anella.”
 Ness kini membuang pandangannya ke air terjun Farfasian. Pikirannya nampak melayang sebelum akhirnya ia membuka suara. ”Yang aku tahu, separuh anting pemberian Quilla telah membuatku terlatih untuk mengendalikan seluruh perasaanku.”
”Kau seharusnya tidak mengembalikan anting tersebut,” ucapku nyaris tak terdengar.
Senyum datar terbentuk kaku disudut bibir indah Ness. ”Jiwaku tidak akan melemah hanya kerena melepaskan anting Quilla. Aku ini hanya separuh peri. Separuh darah manusia yang mengalir ditubuhku akan menguatkan separuh jiwa keperianku.”
Kulempar senyum terbaikku untuknya.
”Jadi, apa rencanamu selanjutnya terhadap makhluk itu,” tanya Ness seraya melirik kearah air terjun di hadapan kami yang mengalir deras.
Aku terdiam untuk beberapa saat. Dan hanya memandangi air terjun di depan kami dengan seksama.
”Naga itu, maksudku ruh Arkhataya yang bersemayam dalam tubuh naga itu telah berbicara banyak padamu, meski aku tak mendengarnya tapi aku sempat mendengar ucapanmu padanya Calista,” nada suara Ness terdengar penasaran.
Kutatap Ness bimbang. ”Arkhataya menginginkan sebuah raga baru bagi ruh nya Ness.”
”Tentu saja. dia membutuhkan tubuh manusia sebagai tempat bersemayamnya yang baru. Berada dalam tubuh naga itu merupakan satu satunya jalan yang terpaksa diambilnya karena ia tidak memiliki pilihan lain saat itu,” tukas Ness dalam.
”Arkhataya sangat cerdas. Aku takkan mungkin bisa mengelabuinya,” ucapku putus asa.
Ness menatapku tajam. ”Dia berharap dengan tubuh barunya akan kembali menjadi Arkhataya yang dulu. Kita tak mungkin membiarkan itu terjadi. Jika ia mendapatkan tubuh manusia bagi ruhnya, akan sangat berbahaya mengingat ia penyihir hitam yang kejam dan hebat  di masanya,” ujar Ness meninggi.
”Tapi kita membutuhkan kekuatannya untuk membebaskan seluruh negri dari cengkaraman Zorca dan leviathan terkutuk itu,” lengkingku kesal.
Ness berdiri dari sisiku.
Diulurkan tangannya kearahku dengan tatapan lembut. ”Kita akan pikirkan itu nanti. Sebaiknya kita kembali ke Amorilla sekarang dan melaporkan misi ini pada Prechia,” ujar Ness tanpa bermaksud untuk mengecilkan perasaanku.
Kusambut uluran tangannya dan memutuskan jika tindakan yang diambil oleh Ness adalah sebuah langkah terbaik untuk saat ini.
Pegasus membawa kami melayang diantara awan awan putih dengan cepat. Pelukan erat Ness disekeliling pinggangku membuat rasa nyaman dan terasa sangat menyenangkan. Untuk sesaat aku sempat melupakan Tristan. Aku benar benar merasa bersalah pada Tristan setiap aku merasakan kehangatan yang ditawarkan Ness padaku.
Menjelang senja kami tiba di Amorilla. Sambutan hangat Prechia terasa berlebihan dan membuatku merasa semakin terbebani. Kulirik senyum kaku Titus dengan sebelah tangannya yang terbebat kain.
”Meski kami tidak dapat melihatnya tapi kami mendengarnya dari mereka yang melihat sosok naga Arkhataya yang melayang terbang diatas hutan Farfasian. Selamat nak, kau berhasil membangunkan kekuatan yang telah kami nantikan selama ini,” suara Prechia terdengar tulus dan bangga.
”Tapi Prechia....
”Kami membutuhkan istirahat Prechia. Setelah perjalanan dari misi yang melelahkan ini,” ujar Ness memotong ucapanku.
Prechia menatap aku dan Ness bergantian. ”Tentu saja,” senyum riang menghiasi wajah gemuk Prechia.
Ness menarik tanganku. ”Sebaiknya kita tidak perlu menjelaskan apapun pada Prechia atau siapa pun tentang permintaan Arkhataya,” bisiknya.
Kutatap Ness tak sabar. ”Mereka perlu mengetahui yang sebenarnya, Ness.”
”Dan mengecewakan mereka semua begitu tahu jika Arkhataya hanya makhluk kejam yang sangat angkuh,” nada suara Ness penuh penekanan.
Kubuang pandanganku jauh jauh darinya dengan galau.
Ness meraih daguku dengan lembut. Kedua mata kami kini saling bertautan. ”Sebaiknya kita tidak menceritakan hal yang sebenarnya sampai aku mempunyai rencana pada makhluk menyebalkan itu,” kerling Ness mencoba menghiburku.
Kutatap Ness ragu. ”Entahlah Ness...
”Percayalah padaku Calista. Tapi aku ingin kau berjanji padaku jika kau tidak akan menceritakan hal yang sebenarnya tentang permintaan Arkhataya pada mereka,” pinta Ness lembut.
Aku mengangguk ragu.
”Bagus. Aku hanya tak ingin menghancurkan harapan mereka pada Arkhataya. Biarkan mereka berpikir jika lembah Crystal akan terselamatkan oleh Arkhataya yang akan menghancurkan leviathan Zorca.” Sepasang mata emas itu kini membulat.
”Katakan padaku rencanamu itu Ness,” tuntutku.
Ness menggeleng. ”Jika waktunya telah tiba aku akan memberitahukanmu. Saat ini kau harus meyakinkan diri untuk mengalahkan Zorca dan para pengikutnya ketika pertempuran itu tiba.”
Ness mengucapkan hal itu seolah olah Amorilla akan diserang esok. Dan harapan kami hanya bertumpu pada Arkhataya yang menolak memberikan kekuatannya tanpa imbalan.
Memikirkan permasalahan Arkhataya membuat pikiranku lelah. Kamar tamu Amorilla yang indah tak mampu membuatku merasa nyaman sedikit pun. Ditambah lagi dengan pertanyaan pertanyaan antusias Brisa yang  sangat menantikan kisah kebangkitan sang naga dari mulutku sendiri.
Malam itu aku bermimpi berjalan diantara kelamnya hutan Farfasian. Berjalan jauh diantara patahan ranting ranting di dalam hutan mengerikan ini dengan kaki kaki telanjangku. Suara erangan keras mengejutkanku seketika. Dengan rasa takut luar biasa aku berlari menjauh dan terus berlari diantara pepohonan pinus. Sepasang mata hitam kemerahan terlihat terbang dan memburuku. Kucoba melarikan diri dari makhluk mengerikan itu. Sayangnya aku terjatuh. Dan begitu aku mencoba untuk bangkit kulihat sosok Ness berdiri diantara kami. Sepasang mata emasnya terlihat redup. Dia hanya menatapku datar. Namun aku dapat merasakan kesedihan yang mendalam dari sorot matanya. Belum sempat aku berteriak untuk memanggilnya, makhluk pengejarku telah mencengkram tubuhnya dan terbang diantara deretan pinus dan membawanya pergi jauh dariku.
Aku terbangun dengan gemetar dan sekujur tubuhku basah keringat. Kulirik Brisa yang terlihat lelap di ranjangnya.
Kuusap wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku tidak pernah memimpikan Ness sebelum ini. Kuhembuskan napas perlahan mencoba untuk menjernihkan pikiranku.
Itu hanya mimpi buruk. Batinku menenangkan diri.
Untuk sesaat aku tertegun begitu teringat kembali ucapan Ness akan rencana yang telah dipersiapkannya untuk Arkhataya. Napasku memburu. Kusingkirkan selimutku dengan tegesa dan melompat turun dari ranjangku. Aku berlari menyusuri anak tangga dan terus berlari keluar menuju kolam kecil disamping taman istana Amorilla.
Sosok punggung kekar yang sangat kukenal, terlihat, tengah duduk dengan menopang dagu. Dari tempatku berdiri aku dapat melihat sepasang mata emasnya terlihat meredup dan ia nampak termenung sambil memandangi cucuran air di kolam kecil yang menetes perlahan.
Ketika menyadari kehadiranku, ia memalingkan wajahnya untuk menatapku. Dan setitik airmata mulai jatuh perlahan di kedua pelupuk mata lelahku ini.

Writer : Misaini Indra        
Image source : http://amazzingpicture.blogspot.com/2010_04_01_archive.html

Thursday, 8 March 2012

PART II : Calista Kaz “Bangkitnya Sang Naga” (Chapter 3)


3. BANGKITNYA SANG NAGA

Kugenggam tangan Ness dan menariknya pelan untuk berjalan disisiku mendekati air terjun besar dihadapan kami.
Aku berhenti di depan gundukan bebatuan yang tak rata tepat diujung jatuhnya air terjun yang mengalir deras. Tak kuperdulikan cipratan halus butiran airnya yang dingin membasahi pakaianku. Kulepaskan genggaman tanganku dari tangan Ness dan menatapnya sendu.
”Jangan pernah berpaling dariku saat aku membangunkan Arkhataya, Ness.” pintaku lembut, menyiratkan rasa takutku.
Seolah memahami perasaan takut ini, Ness membelai rambut coklatku dengan ujung jemarinya. ”Aku akan memastikan kau hidup dan menaklukkan makhluk itu Calista,” ucapnya dengan ketegasan diantara sepasang mata emasnya.
 Kali ini kupejamkan kedua mataku. Mencoba mendengarkan suara derasnya air terjun Farfasian yang keras dan berisik. Kukosongkan pikiranku dan mencoba untuk tenang. Kuambil napas dalam dalam dan kembali menyelami irama air terjun ini dengan hatiku seperti saran Chaides.
Sayangnya, masih belum dapat kurasakan.
Sentuhan di bahu membuatku terpaksa membuka mata dan menatap Ness yang tengah tersenyum menatapku.
”Mungkin aku bisa membantumu sedikit.”
Aku menatap Ness dengan bingung.
”Tatap mataku dan jangan berkedip meski sesaat,” perintahnya.
Kutatap sepasang mata emasnya yang indah. Tak berapa lama kemudian, pikiranku terasa jauh lebih tenang. Dan Ness kembali mempertegas tatapannya. Kali ini ia memintaku untuk menutup kedua mata dan berkonsentrasi penuh mendengarkan riak air terjun yang terdengar deras.
Iramanya masih sama. Keras dan deras.
Suara lembut Ness yang memintaku untuk terus berpikir tenang seolah membiusku. Hal yang sama yang pernah kurasakan sebelumnya ketika Tristan menghipnotisku dengan sihir mimpinya.
Samar samar suara deras air terjun mengalun seirama. Meski masih terdengar keras dan berisik namun aku mulai mendengar irama yang teratur, seperti nada nyanyian yang menenangkan.
Ini pasti mimpi. Karena suara irama air terjun itu kini mengalun merdu di kupingku. Kunikmati irama air terjun dihadapanku dengan memejamkan kedua mata. Tiba tiba aku menangkap suara lain. Suara dengkuran kasar yang perlahan lahan terdengar jelas. Suara itu berasal dari balik air terjun.
”Aku mendengarnya Ness. Aku dapat mendengar suara Arkhataya yang tengah tertidur,” bisikku antusias masih dengan mata terpejam.
”Ini kesempatanmu. Segera ucapkan mantra itu Calista!” perintah Ness samar di kupingku.
Kutarik napas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian dengan penuh keyakinan kembali kubisikkan mantra pemanggil Arkhataya dengan sepenuh hati.
Bangun bangunlah Arkhataya ...
            Tunjukan kesetianmu padaku ...tunjukan kekuatanmu sebagai pelindungku...
            Dengar dengarlah Arkhataya...
            Menyatulah dalam pikiranku ... dengarkan perintahku...
Tidak ada respon.
Tidak. ini salah. Suaraku terlalu pelan untuk didengarnya. Seingatku Obidia mendendangkan mantra pemanggil Arkhataya ini dengan perlahan seperti sebuah nyanyian. Lalu menghentaknya dengan suara lengkingan tinggi dan mengakhirinya dengan teriakan keras sebagai suatu perintah. Tapi aku harus terlebih dulu menyatukan jiwaku dengan Arkhataya. 
Kembali kuatur napasku, seraya berdendang pelan mengucapkan mantra pemanggil dengan sepenuh jiwaku,
Bangun bangunlah Arkhataya ...
            Tunjukan kesetianmu padaku ...tunjukan kekuatanmu sebagai pelindungku...
            Dengar dengarlah Arkhataya...
            Menyatulah dalam pikiranku ... dengarkan perintahku...
            Dan kini dengan penuh keyakinan, kuhentakkan suaraku dengan lengkingan tinggi, seraya menatap tajam kearah air terjun dihadapanku,
Bangun dan datanglah dengan kekuatan sihirku...
            Bangun dan turuti perintahku...
Berikan kekuatanmu padaku, wahai Arkhataya....
Suara erangan keras terdengar dari balik air terjun besar di depanku hingga mengalahkan derasnya suara air yang mengalir jatuh. Kutegaskan pandanganku dan menguatkan hati. Sementara Ness berdiri disampingku dengan raut tegang.
Kembali erangan parau yang cukup keras terdengar dari balik air terjun.
Bulu kudukku meremang. Aku dapat merasakan suatu kekuatan besar akan datang. Sebuah kepala bertanduk perlahan lahan keluar dari balik air terjun. Begitu besar dengan moncongnya yang mengeluarkan napas yang berasap. Sepasang mata hitam dengan bintik kemerahan di bola matanya kini menatap buas mengarah padaku.
”Kau berhasil membangunkannya,” bisik Ness tertahan.
Dengan cepat kutarik Ness untuk mundur beberapa langkah kebelakang bersamaku karena Arkhataya sepertinya hendak keluar dari balik air terjun di depan kami dengan tak sabar.
Arkhataya kembali mengerang keras seraya menunjukkan deretan giginya yang besar dan tajam. Dengan gerakan cepat naga itu keluar dari peraduannya. Tubuhnya yang sama besarnya dengan leviathan Zorca terlihat bergerak perlahan ke kanan dan ke kiri. Ia mengepakkan kedua sayapnya yang bersirip dan setajam mata pisau itu dengan gerakan cepat. Punggung besarnya yang bertanduk hingga ujung buntutnya terlihat menakutkan. Sementara kedua kakinya yang memiliki cakar tajam terlihat mencengkram bebatuan dipinggiran air terjun yang mengalir deras. Punggungnya terlihat licin dan basah karena siraman air terjun yang deras. Sepasang mata hitam dengan bintik merah di bola matanya kini menatapku buas seraya mengerang keras.
”BERANI SEKALI KAU MEMANGGILKUUU!!!” erang Arkhataya marah.
Aku tersentak kaget. Napasku memburu.
Naga ini berbicara padaku. Batinku dengan jantung berdebar seolah masih tak percaya. Dia terlihat tak senang akan perbuatanku ini.
Dengan tergesa aku mundur beberapa langkah ke belakang diantara bebatuan yang tak sama besarnya.
Naga itu kini mengibaskan kedua sayapnya dan mengejar langkah langkah kecilku dengan amarah yang meluap. ”KAUU BUKANN OBIDIAA. DIMANA OBIDIAAA!!!” Erangnya keras seraya menunjukkan deretan giginya yang setajam pedang.
Ness berusaha melindungiku dengan menyarangkan serangan ke punggung Arkhataya yang nampak terkejut dan berbalik arah padanya dengan erangan keras. 
Arkhataya mengibaskan buntutnya yang bertanduk ke tubuh Ness hingga ia terhempas delapan langkah diantara bebatuan keras ini.
Kini sepasang mata hitam Arkhataya terlihat memerah dan pandangannya tertuju pada Ness yang jatuh tertelungkup.
            ”KUMOHON HENTIKANN!” teriakku begitu melihat reaksi Arkhataya atas serangan Ness padanya.
            ”AKU AKAN MEMBUNUH KALIANNN!!” raung Arkhataya seraya bersiap siap untuk meniupkan api dari moncongnya kearahku.
            Perlahan Ness berusaha keras mendongakkan kepalanya dan menatapku. ”GELANGNYA CALISTA!! TUNJUKKAN GELANGNYA!! teriak Ness kesal dari tempatnya berbaring dengan wajah penuh goresan luka.
Dengan cepat kuacungkan gelang pusaka di lengan kananku pada naga yang terlihat murka tersebut. ”OBIDIA MEWARISKAN GELANG INI PADAKU. KAU DENGARR!!! LIHATLAH GELANG INI!! LIHATLAH GELANG INIII!!”  Teriakku panik.
Arkhataya memiringkan kepalanya untuk melihat gelang yang melingkar di tangan kananku. Dan dengan gerakan cepat, pandangan makhluk itu kini mengarah padaku. Sepasang mata liarnya seolah menembus pandanganku. Tak mau melewatkan kesempatan ini, dengan cepat kuteriakkan kembali rapalan mantra panggilnya dengan menatap langsung kedua mata liarnya itu,
TUNJUKKAN KESETIANMU PADAKU...
TUNJUKKAN KEKUATANMU SEBAGAI PELINDUNGKU...
DENGARLAH ARKHATAYA...
MENYATULAH DALAM PIKIRANKU...
DENGARKAN PERINTAHKU...
Sepasang mata liar itu terpaku begitu mendengarkan rapalan mantra yang kuucapkan. Seolah terbius. Arkhataya terlihat memiringkan kepalanya kembali dan terdiam.
Berhasil. Napasku memburu dan dengan lengkingan tinggi seraya menunjukkan gelang Obidia kearahnya kuucapkan mantra perintah yang kedua pada naga mematikan ini,
            DENGAN KEKUATAN SIHIRKU.. TURUTI PERINTAHKU...
            BERIKAN KEKUATANMU PADAKU, WAHAI ARKHATAYA...
            Arkhataya terlihat lebih tenang. Tubuhnya yang berukuran besar dan tinggi menjulang kini membeku.
            ”Mulai sekarang kau akan menuruti perintahku!!” seruku tertahan.
            Arkhataya hanya mengibaskan buntutnya yang besar dan panjang.
            ”Namaku Calista. Obidia mewariskan gelang ini padaku. Dan kau akan menuruti semua perintahku!!” tegasku.
            ”Apakah kau tengah berbicara pada makhluk itu?” desah Ness terheran heran yang kini telah berdiri disampingku. Ada goresan darah terlihat jelas di pelipisnya.
            Kutatap Ness bingung. ”Ya. Bukankah kau juga mendengar semua ucapan dan kemarahannya?!” ujarku balik bertanya.
            ”Sayangnya tidak,” geleng Ness seraya melirik Arkhataya yang terlihat membeku ditempatnya berdiri. ”Apakah dia tengah tertidur saat ini?” tanya Ness lagi dengan nada setengah mengejek.
Kualihkan kembali pandanganku pada naga dihadapanku ini.
”Aku tahu kau ada di dalam sana Arkhataya,” ucapku hati hati.
Kini Arkhataya menghembuskan napasnya yang berasap. ”APA YANG KAU INGINKAN DARIKUU!” erangnya pelan.
Kutatap sepasang mata hitamnya lekat lekat. ”Aku ingin kau membantuku membunuh leviathan, makhluk dari neraka yang telah merampas negri leluhurku,” ujarku tertahan menunggu reaksinya.
Arkhataya mengerang kencang seolah tengah tertawa keras keras.
Membuat aku dan Ness terkejut karena suara tawanya lebih menyerupai jeritan panjang.
”KAU TIDAK BISA MEMBUNUH JIWA TERKUTUK YANG TELAH MATII!!” pandangan liarnya tertuju padaku.
”Kalau begitu kembalikan jiwa jiwa terkutuk itu kembali ke asalnya. Kau pernah melakukan itu sebelumnya kan?!” desakku putus asa.
”BODOH!! KAU MERAGUKAN KEHEBATANKUU. AKUU, ARKHATAYA ADALAH PENYIHIR TERHEBAT DARI UTARA!!!” erangnya bergema keseluruh hutan, mengalahkan derasnya suara air terjun Farfasian ini.
Ternyata legenda itu benar. Batinku resah. Rupanya ruh Arkhataya, telah masuk ke dalam tubuh naga mematikan milik kerajaan Amorilla ini.
”KETIKA OBIDIA MEMBANGUNKAN TUBUHKU. DIA MENJANJIKAN SESUATU PADAKU!!” kini Arkhataya menatapku dengan sorot garang.
Aku menatap bingung kearah makhluk mengerikan itu.
”KAU INGIN KEKUATANKU, KAU HARUS MEMENUHI PERMINTAANKU!!” erangnya kasar.
Hatiku ciut seketika.
”Apa yang kau inginkan dariku?” tanyaku ragu.
Ness melirikku resah. ”Sebenarnya apa yang tengah kalian rundingkan? Bukankah seharusnya makhluk itu menuruti semua permintaanmu?” nada suara Ness terdengar gusar karena tidak dapat mendengar satu pun ucapan Arkhataya.
Kutatap Ness nanar. Arkhataya adalah seorang penyihir cerdas di masanya. Tapi, sepertinya, jiwanya itu sekelam ilmu sihir yang dimilikinya.
Kini aku mulai mengetahui arti mimpiku beberapa hari yang lalu, akan ucapan Obidia yang melarangku untuk membangkitkan Arkhataya.
”Percayalah padaku Ness. Tapi ini benar benar diluar dugaan. Tidak semudah seperti yang kita bayangkan sebelumnya,” bisikku pelan pada Ness tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun pada Arkhataya yang tengah mengawasiku.
”Jangan turuti permintaannya, kau dengar aku Calista?!!” seru Ness marah. Sepasang mata emasnya kini menatap tajam pada naga Arkhataya.
Arkhataya mendengus keras seolah terusik oleh seruan Ness.
Dengan cepat kuangkat tangan kananku tinggi tinggi kearah sang naga. ”Aku pewaris gelang pusaka milik Obidia. Itu berarti kau harus menuruti semua perintahku!!” seruku sedikit bergetar.
Arkhataya kembali mengeluarkan suara erangan tinggi. Menyerupai suara tawa bernada mengejek.
”KAU PIKIR KAU DAPAT MENGENDALIKANKU LEWAT GELANG ITU!!”  
Wajahku terasa tegang. Kata katanya membuatku kehilangan percaya diri dan semakin tersudut. Apakah makhluk buas ini hanya ingin menakutiku saja dengan ucapannya barusan.
Seakan dapat membaca pikiranku. Arkhataya kembali tertawa keras yang bernada raungan tinggi. ”OBIDIA MEMBUAT GELANG YANG ADA DITANGANMU ATAS PERMINTAANKU. TAPI AKULAH YANG MEMANTRAI GELANG ITU!!” kini sepasang mata merah sang naga menyorot tajam padaku. ”SAAT KAU MEMAKAINYA MAKA KAU DAPAT MENDENGAR SEMUA UCAPANKU!!” raungnya kasar.
Aku terperangah untuk beberapa saat. Kupandangi gelang perak dilengan kananku dengan ragu. Jadi gelang ini hanya berfungsi sebatas itu saja. Batinku kecut.
”TAPI OBIDIA MENGKHIANATIKUUU!!!  DIA MEMBUAT MANTRA UNTUK MENGURUNGKU DILUBANG KOTOR INI!!!” raungnya seraya memiringkan kepalanya kearah air terjun Farfasian.
Nafasku memburu. Sepertinya aku cukup beruntung karena dalam keadaan marah, Arkhataya telah membuka rahasia terbesar yang belum kuketahui sebelumnya akan fungsi gelang pusaka ini.
”BERTARUNGLAH UNTUKKU!!! DAN DAPATKAN KEMBALI KEHORMATANMU!!” teriakku mencoba membujuknya.
Naga mematikan dihadapanku ini mengerang keras, ”BERIKAN AKU SEBUAH RAGA!! MAKA AKU AKAN BERTARUNG UNTUKMUU!!” raungnya tinggi mengalahkan derasnya suara air terjun seraya mengibaskan sayapnya ke udara dan terbang tinggi ke langit biru hutan Farfasian yang luas ini.
”NESS!!! AKU HARUS MENIDURKANNYA KEMBALI. DIA TERLALU BERBAHAYA UNTUK DIBIARKAN BEBAS!!!” teriakku panik seraya berlari cepat mencoba untuk mengejar naga tersebut dengan sekuat tenaga.
Dengan sigap, Ness melompat lincah mengikuti langkah langkah rapuhku.
Kurapalkan mantra penidur Arkhataya dengan putus asa tapi naga tersebut terlalu cepat dan telah berada jauh dari jangkauan. Kini ia mulai menyemburkan api dari moncongnya ke segala arah hingga menghanguskan sebagian pohon pohon pinus yang dilaluinya.
”Sial! Kita tidak mungkin mengejarnya seperti ini,” maki Ness kesal.
Aku hampir menangis mendengar kebenaran dalam ucapannya itu. ”Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kekuatan pikiran dari ruh Arkhataya lah yang mengendalikan tubuh naga mematikan itu,” sahutku parau.
Ness hanya menatapku resah.
”Seharusnya aku tidak membangunkannya. Obidia telah memperingatkanku sebelumnya dalam mimpi. Dan itu juga penyebab Obidia berduel mati matian dengan Balthazar dengan tujuan mencegah makhluk mengerikan itu bangkit dari tidurnya. Arkhataya hanya mementingkan dirinya sendiri dan ambisinya. Dia sangat berbahaya Ness!” cerocosku kalut.
”Baiklah, aku mengerti maksudmu. Kita akan menidurkan kembali makhluk itu,” ujar Ness mencoba menenangkanku.
Airmata mulai menggenang disudut kedua mataku. Kuhapus dengan kasar dan merasa muak dengan sikap cengengku.
Ness menatapku ragu. ”Aku akan mencoba mengalihkan perhatiannya untuk mengejarku. Lalu membawanya pada jarak pandang terdekatmu. Setelah itu berusahalah untuk memantrainya,” suara Ness terdengar lembut mencoba untuk menenangkanku.
Aku mengangguk dengan rasa gemetar disekujur tubuhku.
”Kau harus bisa melakukan itu Calista,” tegas Ness.
Seperti orang bodoh aku kembali menganggukkan kepala tanpa bersuara.
”Bagus! karena jika kau tidak dapat melakukannya, kita berdua akan mati di hutan ini dengan sia sia,” desah Ness datar seraya menghembuskan napas kencang.
Kukatupkan rahangku rapat rapat. Aku benci mendengarnya tapi semua ucapan Ness itu benar.
”Bersembunyilah dibalik pohon pinus dekat batu besar itu. Jika aku berhasil membawanya kemari. Berjanjilah padaku, kau akan menidurkan makhluk jelek itu,” sungut Ness bernada sarkastis.
Aku hanya mengatupkan rahangku kuat kuat.
Ness melompat lincah diantara bebatuan dipinggiran tebing. Dan mulai mendaki dengan cepat. Sementara aku berlari dengan segenap kekuatanku dan bersembunyi di tempat yang diperintahkan Ness padaku.
Jantungku terus berdetak kencang. Tak henti hentinya aku memaki diriku yang begitu bodoh membangunkan Arkhataya, tanpa pemikiran matang.
Kudongakkan kepala dan melihat Ness berdiri diantara undakan tebing tertinggi. Ia berdiri tegak disebuah batu besar kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada lalu menatap langit biru seraya mengucapkan sesuatu.
Dari jarak pandangku yang cukup jauh, aku masih dapat melihat sinar menyilaukan yang terpancar dari kedua gelang kembar perak Griffin yang berada di pergelangan tangan Ness.
Keajaiban terjadi. Awan awan putih yang menggumpal di langit terlihat bergerak pelan seolah memberikan jalan pada sesuatu. Setitik bayangan melayang pelan dan perlahan lahan semakin terlihat jelas menuju kearah Ness. Sosok seekor burung elang raksasa dengan kakinya yang bercakar menyerupai singa terlihat melayang anggun terbang diantara gumpalan awan awan putih.
Burung elang itu mengeluarkan lengkingan panjang seolah memberitahu kehadirannya pada si pemilik pusaka. Burung elang raksasa bercakar singa itu adalah Griffin sang penjaga matahari. Senjata pusaka milik Odile, jenderal pasukan cahaya negri Amorilla, yang diwariskan pada cucu satu satunya, Ness Ferin.
Dengan gerakan lincah Ness melompat ke punggung Griffin ketika burung elang raksasa itu terbang pada jarak terdekatnya dengan Ness. Sosok Griffin pun menghilang bersamaan dengan Ness yang duduk diatas punggung, tubuh besarnya.
Sementara itu, aku hanya berjongkok kesal dibalik pohon pinus dengan perasaan sangat tersiksa. Menunggu kedatangan sang naga.
Ketakutan terbesarku adalah kegagalan menidurkan kembali makhluk buas yang cerdas itu kedalam gua dibalik air terjun Farfasian dihadapanku ini.
Tak perlu menunggu terlalu lama, samar samar terlihat sosok Ness duduk diatas punggung burung elang raksasa yang terbang menukik dari kejauhan dengan diikuti seekor naga berwajah garang yang tengah memburunya.
Sepertinya Ness benar benar telah membuat Arkhataya marah. Wajah tampan Ness yang duduk diatas punggung Griffin terlihat tegang. Sementara itu sosok Griffin terlihat semakin dekat dan menukik tajam kearahku. Sedangkan Arkhataya mengekorinya terus seraya mengerang keras dengan garang.
Dengan murka Arkhataya menyemburkan api dari moncongnya, ditujukan pada punggung Griffin, untungnya dengan lincah burung elang raksasa itu berbelok arah menuju deretan pinus tempat persembunyianku dan terhindar dari semburan api Arkhataya.
”SEKARANG CALISTAA!!!” teriak Ness sekuat tenaga diatas punggung Grifin yang terbang begitu rendah hingga nyaris menghantam bebatuan.
Aku berlari sekuat tenaga dan menghadang Arkhataya yang tengah menukik tajam, berusaha mengejar sosok Grifin.
Dengan teriakan keras kurapalkan mantra nyanyian tidur bagi Arkhataya dengan sepenuh jiwa, mencoba untuk menyatukan pikiran kami,
DENGARLAH AKU ARKHATAYA YANG AGUNG...
PEJAMKAN MATA DAN BERMIMPILAH KEMBALI ....
DENGARLAH AKU ARKHATAYA YANG HEBAT ...
PEJAMKAN MATA SAMPAI AKU MEMANGGILMU LAGI ....
Tubuh besar Arkhataya mendarat dengan cepat dan menghancurkan beberapa bebatuan besar yang diinjaknya. Sepasang mata hitam berbintik merah itu menatap buas kearahku. Kembali kurapalkan mantra nyanyian tidur untuknya. Kali ini ia meraung keras, memekakkan telinga. Kutatap sorot mata liarnya yang tengah menatapku. Aku bahkan dapat merasakan hawa panas yang keluar dari tenggorokannya.
Dengan cepat kembali kurapalkan mantra penidur untuk yang ketiga kali,
Raungannya berubah menjadi erangan yang mulai melemah. Tubuh besarnya nampak sedikit bergetar.
”Kembalilah ke peraduanmu dan tidurlah dengan damai,” ucapku pelan sebagai penutup nyanyian sihir penidur untuknya.
Sepasang mata kelam Arkhataya nampak meredup. Dalam keadaan terbius tubuh besar Arkhataya perlahan menembus derasnya curahan air terjun untuk masuk kembali dalam gua dibalik air terjun di hadapanku. Perlahan lahan tubuh besarnya menghilang diantara derasnya riak air terjun yang meluncur deras.
Kutarik napas panjang penuh kelegaan. 

Writer : Misaini Indra        
Image source :http://img-cache.cdn.gaiaonline.com/af1ff49b3d75cea37ac6156ebb7224b2/http://i245.photobucket.com/albums/gg44/Pheonix_flower_rising/dragon%20warriors/Wyvern-3.jpg

Wednesday, 29 February 2012

PART II : Calista Kaz “Bangkitnya Sang Naga” (Chapter 2)


2. GRIFFIN

Keinginan kuatku untuk kembali ke hutan Farfasian akhirnya terwujud. Prechia menyetujui rencanaku untuk kembali kesana bersama Titus. Mengingat perjalanan kearah barat yang sangat berbahaya, Prechia meminta aku dan Titus untuk lebih berhati hati.
Namun kejadian buruk menghambat perjalanan kami. Ketika kami tiba dipinggiran hutan Sprhonia, disana telah terjadi keributan. Beberapa pengungsi nampak berlarian kearah kami ketika aku dan Titus melewati pemukiman sementara penduduk lembah Crystal itu.
Beberapa orang terlihat menderita luka bakar dan raut kepanikan terlihat jelas di wajah mereka. Tiga orang pasukan cahaya dan dua orang ksatria sihir yang tengah bertugas jaga di tempat pengungsian itu nampak mengepung dua orang penyusup yang telah membuat keributan.
Dan aku mengenali salah satunya. Dia adalah Herzog Mandal. Laki laki sinting yang menyeramkan itu nampak tertawa riang dan tengah menikmati kekacauan yang diciptakannya. Sementara yang satunya terlihat masih sangat muda. Wajahnya yang kekanak kanakan mengingatkanku pada Oggie. Raut wajahnya terlihat tegang sementara sepasang mata hitamnya nampak menyipit dan menatap waspada kearah para pengepungnya.
Aku dan Titus segera bergabung. Begitu melihat wajahku seketika itu juga Herzog melancarkan sihir apinya yang terarah padaku dengan cepat. Untungnya, aku telah terlebih dahulu menahan serangannya dengan membentuk perisai es yang besar untuk melindungi seluruh tubuhku.
Dua orang pasukan cahaya segera menghunus pedang dan melancarkan serangan kearah Herzog yang seketika itu juga langsung terjengkang terkena serangan dadakan pasukan cahaya. Sayangnya, teman Herzog berhasil melancarkan serangan balasan yang ditujukan pada Titus dengan sangat cepat. Seketika itu juga, Titus terhempas keras menghantam pohon tumbang dan tubuhnya terbanting ke tanah dengan posisi tangan kanan melintir dan tertindih tubuh kurusnya sendiri.
Sihir angin. Ia menguasai sihir angin yang sempurna seperti Titus. Desahku resah.
Dua orang ksatria Crystal kembali melancarkan sihir balasan namun sayangnya mereka mengalami nasib yang serupa dengan Titus. Dengan geram kuteriakkan mantra warisan Tristan. Seketika itu juga gulungan asap hitam keluar cepat dari kedua tanganku dan menggulung tubuh penyihir hitam itu hingga naik ke udara. Ia meronta dan mencoba melepaskan sihir asapku dengan sekuat tenaga namun aku tidak memberikannya kesempatan dan dengan cepat menghempaskan tubuh langsingnya ke tanah. 
Setelah merasa aman, kuhampiri Titus setengah berlari. Titus mengalami patah tangan yang sangat parah.
”Jangan perdulikan aku. Temui Prechia dan katakan padanya telah terjadi penyusupan di pengungsian ini!” seru Titus panik.
Aku menggeleng kuat kuat. ”Tidak. Aku harus tinggal dan melawan mereka. Berbaringlah sebentar disini, aku akan meminta salah satu ksatria kita untuk mencari bantuan,” ujarku seraya membaringkan Titus dan beranjak pergi tak memperdulikan panggilannya yang bernada marah.
Laki laki tadi berdiri dengan cepat seolah tak merasakan sakit. Semantara Herzog nampak sudah pulih dan mulai bangkit dari tempatnya terpuruk. Kurasakan jantungku berdetak kencang dan tubuhku sedikit menegang melihat mereka berdiri dihadapanku dengan wajah garang dan posisi tubuh siap menyerang.
”Jika kita membunuh gadis itu sepertinya kita tidak perlu menemui Zordius, Roven,” kekeh Herzog menjijikkan.
Wajah laki laki yang dipanggil Roven berkerut sesaat lalu ia melemparkan pandangannya kearahku. ”Kaukah penyihir naga Arkhataya itu?!” serunya seraya menatap angkuh kearahku.
Aku tak menyahutinya namun kedua mataku menatap waspada kearahnya. Sementara tiga orang pasukan cahaya mulai kembali begabung disampingku dan berjaga jaga akan serangan berikutnya.
”Pergilah ke Amorilla Lenas. Cari Prechia. Ceritakan keadaan disini,” perintahku setengah berbisik kepada salah satu prajurit cahaya yang berdiri di sisi kananku.
Wajah Lenas terlihat bimbang.
”Apalagi yang kau tungguu!!” seruku kesal hingga membuat Lenas berubah pikiran dan bergegas pergi.
”Tidak secepat itu!” raung Herzog geram seraya melancarkan sihir apinya kearah Lenas yang tak sempat menghindar. Lenas melengking keras menahan luka bakar disekujur tubuhnya.
Aku berteriak panik memanggil nama Lenas yang tengah berguling ditanah mencoba memadamkan api yang merambat keseluruh tubuhnya. Belum sempat kulancarkan sihir es ku ke tubuh Herzog, laki laki sinting itu ternyata lebih cepat bergerak dan melancarkan sihir apinya kearahku dengan brutal. ”Aku akan membunuhmu untuk Zorcaaa. Matilah kau penyihir Arkhatayaaa..!!” teriaknya parau.
Salah satu pasukan cahaya Zordius segera mendorongku dan menjadikan tubuhnya sebagai perisaiku. Aku terlempar empat langkah ke samping. Tubuhku bergetar hebat begitu mendengar teriakannya yang pilu menahan panasnya api disekujur tubuhnya. Teriakan kematian dari laki laki peri yang tubuhnya separuh terbakar itu membuatku merinding karena telah mengorbankan jiwanya untukku.
Dengan marah kulayangkan sihir angin ku tepat kearah Herzog dan membuatnya melayang terbang menghantam batang cemara yang langsung berderak terkena kerasnya hantaman tubuh besar Herzog. Seketika itu juga Herzog Mandal tak sadarkan diri.
Tiba tiba dalam sekelebatan saja, penyihir muda yang dipanggil Roven segera meloncat dan berdiri tepat di depanku. Sepasang mata hitamnya yang keji, menatapku tajam. Untuk sesaat mengingatkanku pada Rufus Black, penyihir kesayangan Zorca.
Belum sempat aku menghindar, tangan kanannya telah mencekik leherku kuat kuat. Kini ia tersenyum sinis padaku. Kupegangi tangan kanannya dengan kedua tangan rapuhku berusaha melepaskan diri dari cekikkannya. Namun tangan laki laki itu sekuat baja dan tak mau lepas. Kurasakan sakit luar biasa dileherku. Nyaris tak bernapas. Pandanganku perlahan lahan mulai memudar. Dan saat aku hampir kehilangan kesadaranku. Kurasakan cekikan tangannya terlepas dari leherku seketika dan aku jatuh terduduk memegangi leherku yang terasa sakit. Aku terbatuk batuk dan berusaha menghirup udara sebanyak mungkin mengingat aku hampir saja mati kehabisan napas.
Meski kepalaku masih sedikit pusing namun aku dapat melihat laki laki penyihir yang mencekik leherku tadi terlihat mencoba bangun dari tempatnya terjatuh. Zordius dan Prechia nampak berdiri tegak dihadapannya. Dan sepuluh orang pasukan cahaya berdiri disekeliling Odile dan menatap waspada kearah Roven yang tersenyum sinis meremehkan.
”Kau akan merasakan lebih dari itu jika kau tidak pergi dari sini!” perintah Zordius dingin.
Roven Lefre terbahak. Sepasang mata hitamnya menatap licik kearah Zordius. ”Aku membawa pesan dari Master Zorcaa!!” teriaknya lantang.
Sementara itu Herzog Mandal mulai tersadar dan bangun dengan susah payah berusaha menghampiri rekannya.
Seseorang memegang bahuku lembut. Aku mendapati Ness yang telah berjongkok disampingku. Sepasang mata coklat emasnya menatapku cemas. ”Kau baik baik saja?”
Aku mengangguk lemah. ”Titus...” sahutku galau.
”Shenai dan Helena telah membawanya ke tempat aman,” suara Ness terdengar berusaha menenangkanku. Aku mengangguk dan kembali mengalihkan pandangan kearah Roven dan Herzog.
”Serahkan penyihir naga Arkhataya atau master Zorca akan menghancurkan Amorillaa!” teriak Roven masih dengan wajah angkuhnya.
Pesan yang bernada ancaman itu membuat kami semua menarik napas dan berpaling pada raut dingin Zordius yang nampak tak senang. Mencoba menebak nebak keputusan yang akan diberikannya pada Zorca sebagai jawaban.
Zordius menatap lurus tepat ke wajah Roven. ”Katakan pada Zorca. Aku tidak membuat perjanjian dengan penyihir buangan seperti dirinya!” nada suara Zordius dingin dan meninggi.
Roven tersenyum licik. ”Kau akan menyesal yang mulia. Keputusanmu itu akan menghancurkan negrimu sendiri, tunggu saja,” kekehnya seraya memberi isyarat pada Herzog untuk mundur.
Herzog yang terlihat masih sempoyongan nampak melirik tajam kearahku. Lalu dengan cepat menyusul langkah Roven dan menghilang diantara jejeran cemara yang merapat. Sementara itu kabut tipis mulai merayap disekeliling hutan Sphronia.
”Pastikan mereka telah menjauhi hutan ini,” perintah Odile pelan pada lima orang pasukan cahaya yang dipanggilnya.
Dengan sekelebatan saja mereka telah menghilang diantara kabut tipis yang mulai menebal, mengikuti arah kepergian dua penyihir pengikut Zorca itu.
”Sebaiknya kau menunda kepergianmu ke hutan Farfasian,” nada suara Prechia terdengar cemas.
Seketika itu darahku mendidih.
”Tidak Prechia. Aku tidak akan menundanya lagi. Waktu kita sedikit. Aku tak ingin Zorca menghancurkan Amorilla karena keterlambatanku,” ujarku bersikeras.
”Kau hampir mati jika kami terlambat datang sedikit saja tadi!” bentak Prechia galak.
Kutatap Prechia dengan kesal. ”Tapi aku tidak mati!  Kumohon Prechia, aku harus pergi ke Farfasian. Aku harus membangunkan Arkhataya sebelum semuanya terlambat.”
Prechia menatapku galau. ”Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku telah berjanji pada Orion untuk menjagamu tetap hidup meski harus kehilangan nyawaku,” ujarnya dengan nada suara sedikit tertahan.
Tubuhku lemas seketika. Kutatap Prechia nanar. ”Aku telah membuat Orion kehilangan jiwanya untuk melindungiku dan saat ini aku juga tak ingin kau mengorbankan jiwamu untuk menjagaku,” getarku pelan menahan rasa duka yang dalam.
Untuk sesaat Prechia terdiam.
”Aku akan menemaninya,” ujar Ness mencoba memecah keheningan.
Kutatap Ness dengan bingung.
Sepasang mata Prechia tertuju pada Ness.  
”Aku akan menjaga Calista dengan seluruh hidupku,” suara lembut Ness terdengar berusaha untuk meyakinkan Prechia.
Jantungku berhenti berdetak sesaat demi mendengar ucapan Ness.
Prechia menghela napas. ”Tawaran yang menarik, sayangnya, nona Kaz harus didampingi oleh seorang penyihir berpengalaman seperti tuan Titus Lader. Misi ini terlalu berbahaya untuk kalian berdua,” tegas Prechia.
”Kau salah, Prechia. Kekuatan Ness lebih dari seorang penyihir. Dia adalah pilihan tepat bagimu untuk mengawal gadis itu untuk menyelesaikan takdirnya,” potong Odile lantang. Kakek Ness itu tiba tiba saja sudah berdiri diantara kami.
Wajah Ness terlihat tegang begitu melihat keseriusan di wajah tua Odile. Demikian pula denganku dan Prechia. Odile menatap tajam kearah Ness yang terlihat menunggu alasan atas pernyataannya itu.
Odile menghela napas panjang dan menatap kami bergantian.
”Karena aku akan memberikan kekuatan Griffin ku padanya,” kali ini nada suara Odile terdengar penuh penekanan dan menyorot tajam pada Ness.
Ness mendesah. Sekilas terlihat ada sedikit penolakan diwajahnya. Sementara wajah Prechia terlihat memerah karena bersemangat.
”Kalau begitu tidak ada alasan bagiku untuk menolak kepergian kalian?” ujar Prechia mantap dengan pandangan berbinar tertuju kearah Ness.
Ness membuang napas sedikit keras dan menatap Odile dengan wajah bercampur kesal.
”Jika kau ingin menyelamatkan negrimu dan gadis ini. Sebaiknya kau menerima  tawaranku,” tandas Odile lagi masih dengan sorot tajam dari sepasang mata tegasnya yang tak mau beranjak dari wajah Ness.
Ness sedikit tersudut lalu berpaling menatapku. Sorot matanya yang resah seolah tengah memikirkan sesuatu. Ada rasa jengah ketika ia memandangiku seperti itu.
”Mengapa kau ingin memberikan satu satunya kebanggaanmu itu padaku?” kedua mata Ness kini terarah tajam pada Odile.
Odile menghela napas perlahan. Ditatapnya Ness dengan sorot mata penuh kelembutan. ”Karena kau adalah cucuku satu satunya. Aku hanya mencoba untuk memperbaiki masa lalu. Dan aku benar benar menyesal atas semua yang telah terjadi,” ditatapnya Ness lekat lekat.
Kulirik Prechia yang terlihat tak nyaman, sama sepertiku karena telah berada dalam percakapan pribadi keluarga mereka.
”Seharusnya kau menyingkirkan harga dirimu sejak dulu dan menyatukan kami,” nada suara Ness meninggi.
Odile membuang pandangannya dari tatapan Ness. ”Aku tahu,” desahnya. ”Tapi sulit bagiku untuk melupakan kejadian itu.. jika melihat ibumu.”
Kini Odile menatap Ness dengan pandangan melunak. ”Sewaktu aku melihatmu untuk yang pertama kali, aku merasakan sebuah harapan telah lahir dan meyakinkan diriku untuk mewarisi semua milikku padamu hingga aku bisa tenang menjelang ajalku,” ujarnya seraya menatap Ness lekat lekat.
Ness terdiam untuk sesaat begitu mendengar penjelasan Odile.
Odile menarik jubah putihnya yang menutupi kedua lengannya perlahan. Kini ia memperlihatkan dua buah gelang perak kembar di kedua tangannya itu. Gelang ditangan kanannya terukir gambar kepala burung elang sementara yang ditangan kirinya bergambar matahari.
Perlahan Odile melepaskan gelang ditangan kirinya yang bergambar matahari lalu memakaikannya pada tangan kiri Ness. Berikutnya gelang bergambar kepala burung elang ke tangan kanan Ness.
”Ini adalah pusaka Griffin. Gelang perak kembar yang akan mendatangkan cahaya matahari yang dibawa Griffin untukmu. Sumber kekuatan terhebat, sebagai cahaya kehidupan yang terbesar dan dapat digunakan untuk menghalau kekuatan jahat. Satukan gelang kembar ini, berbisiklah ke langit dan meminta Griffin datang membawakanmu cahaya untuk menghancurkan musuh musuhmu.”
Ness menatap sepasang gelang kembar di kedua lengannya tak berkedip.
”Jika kau kehilangan salah satu gelang ini. Griffin takkan pernah mendengar bisikanmu lagi,” ujar Odile mengingatkan.
Sepasang mata emas Ness nampak melunak.
Tangan kanan Odile kini memegang bahu Ness. ”Lindungi gadis itu dan selamatkanlah negrimu dari cengkraman Zorca,” Odile mempertegas ucapannya.
Aku dan Prechia hanya dapat menghela napas panjang sambil menatap Odile dan Ness dengan wajah haru.
Kini Odile tua mengalihkan pandangannya dari Ness dan menatapku tajam. ”Ghorfinus seorang penyihir yang hebat. Tapi ia tidak pernah memiliki kesempatan membangunkan Arkhataya dari tidurnya. Sepertinya takdir itu memang berada ditanganmu sekarang,” ucapnya dalam hingga membuatku tertegun beberapa saat akan ucapannya.
Odile mengangguk pelan kearah Prechia lalu berjalan menghampiri Zordius yang telah menunggunya. Kini mereka berjalan beriringan dikelilingi pengawalan ketat dari pasukan cahaya untuk kembali ke istana Amorilla. Meninggalkan kami dengan pikiran masing masing.
”Sebaiknya kalian menunda perjalanan ke hutan Farfasian. Sampai keadaan benar benar aman dan dua pengikut Zorca berada jauh dari sini,” perintah Prechia tegas.
Aku dan Ness hanya terdiam dan menuruti perintah Prechia untuk menunda keberangkatan kami.
Malam itu aku kembali bermimpi buruk. Kulihat sosok berjubah hitam tengah tertawa diatas kehancuran Amorilla. Asap hitam membumbung tinggi di atas bangunan istana megah milik Zordius. Bau daging terbakar dan jeritan panik terdengar hampir disetiap sudut istana. Dan hawa panas bercampur jilatan api yang menghanguskan mulai menjalar ke seluruh negri peri yang dingin ini.
Sementara itu aku berlari dengan seluruh kekuatanku menuju sosok tinggi berjubah hitam yang menjauhiku dengan cepat. Aku harus melawannya, batinku kalut. Semakin ku kejar sosok nya semakin cepat ia menjauh. Seluruh tubuhnya yang terbalut jubah hitam seolah melayang terbang dan menjauhiku.
Dengan cepat kuangkat tangan kananku yang mengenakan gelang Arkhataya kemudian mengarahkannya tepat ke tubuhnya yang memunggungiku. Dengan napas memburu kurapalkan mantra pemanggil Arkhataya dengan lantang. Hingga membuat sosok berjubah hitam itu kini berbalik menatap mataku seraya membuka penutup kepalanya. ”Jangan bangunkan sang naga!!” serunya garang dengan sepasang mata kelamnya yang telihat sangat cekung, menatap dalam hingga menembus jantungku.
Aku terbangun seketika dengan napas memburu. Kuatur napasku perlahan. Mencoba menenangkan diri. Sambil mengingat ingat kembali sosok berjubah hitam dalam mimpiku. Sepasang mata cekung sekelam malam itu bukan milik Zorca. Itu sepasang mata milik Obidia. Tapi mengapa ia melarangku membangunkan Arkhataya.
Kubenamkan wajahku dalam dalam pada kedua telapak tanganku yang gemetar. Mengapa Obidia melarangku membangunkan Arkhataya. Renungku galau. Lalu untuk apa ia mengungkapkan mantra pembangkit naga mematikan itu dalam jurnalnya. Kini pandanganku beralih pada gelang pusaka yang berada dilengan kananku dengan bingung.
Pikiranku buntu. Aku sedang tak ingin memecahkan sebuah misteri. Tapi setiap kehadiran Obidia dalam mimpi dan penglihatanku adalah sebuah pertanda yang tidak dapat kuabaikan begitu saja. Entah ini hanya sebuah mimpi buruk karena rasa kalut yang melanda perasaanku atau Obidia memang sengaja datang dalam mimpiku dan memberikan sebuah petunjuk.
Kucoba memejamkan kedua mata lelahku meski aku tahu keresahan di hati ini membuatku sulit untuk kembali tidur.
Pagi itu kuputuskan untuk menemui Titus. Selain untuk melihat keadaannya akibat serangan penyihir hitam Zorca kemarin, aku juga ingin menumpahkan seluruh kegalauanku akan mimpi anehku semalam.
Kutatap dari kejauhan sosok laki laki kurus yang tengah duduk dengan wajah serius menatap jurnal tua milik Obidia. Tangan kanannya yang kurus nampak dibebat kain dan menopang jurnal Obidia. Sementara itu tangan kirinya nampak kesulitan membuka lembaran kertas dalam jurnal tersebut hingga membuat buku jurnal dalam topangannya terjatuh. Terlontar sebuah makian pelan dari bibir tipisnya yang terlihat mengerucut.
Ketika menyadari kehadiranku yang tengah memperhatikan gerak geriknya itu, Titus berdehem pelan seraya meraih jurnal Obidia yang terjatuh tepat di kakinya sendiri. Kemudian tangan kirinya nampak menggenggam jurnal tersebut dengan erat.
”Senang melihatmu datang untuk menengok keadaanku,” ujar Titus cerah.
Kuanggukkan kepala dengan enggan lalu duduk disamping kursi kayu tempat Titus duduk. Kuhela napas panjang tanpa mengucap sepatah kata pun.
”Sepertinya kita harus menunda misi ke hutan Farfasian hingga kondisi tanganku pulih kembali,” tandas Titus mencoba untuk menyemangatiku.
Aku menggeleng pelan. ”Lupakan saja,” gumamku.
Titus menatapku heran.
Kulirik Titus sekilas. ”Ness yang akan mendampingiku pergi ke Farfasian.”
Bibir tipis laki laki itu mengerucut kesal. ”Sungguh menggelikan, maksudku, sudah menjadi tugasku mendampingimu melalui semua ini. Akulah mentor yang ditunjuk Prechia untuk melindungimu dalam misi berbahaya ini, Calista.” protes Titus kesal.
Kusunggingkan senyum datar. ”Prechia yang memintanya.”
Dahi Titus terlihat berkerut. Kemudian ia menghela napas pendek.
”Lihatlah dirimu. Butuh waktu lama untuk membuat tangan kananmu berfungsi normal untuk melayangkan serangan sihir pada musuh musuh kita,” ejekku setengah bercanda.
”Tapi Ness tidak memiliki kekuatan sihir untuk melindungimu,” sungut Titus.
”Jangan khawatir, Odile memberikan gelang pusaka Griffin padanya.”
Airmuka Titus terlihat sedikit terkejut atas perkataanku.
”Owh.. akhirnya laki laki tua itu mewariskan kebanggaannya pada Ness,” gumam Titus kembali dengan dahi berkerut.
Kulirik Titus, ”Obidia datang kembali dalam mimpiku.”
Titus menatapku tegang.
”Dia melarangku membangunkan Arkhataya.”
”Mengapa ia memintamu untuk melakukan itu?” tanya Titus bingung.
Kuangkat kedua bahu,”Aku berharap kau memiliiki jawabannya, mengingat kau sering sekali membaca jurnalnya. Mungkin kau menemukan petunjuk di dalam jurnal itu,” harapku.
Titus menggeleng. ”Seingatku tidak ada. Jika Obidia melarangmu membangunkan Arkhataya, lalu untuk apa ia menuliskan rapalan mantra untuk membangkitkan Arkhataya dalam jurnalnya itu.”
”Entahlah Titus. Aku hanya berpikir, kehadirannya dalam mimpiku seolah hendak mengatakan sesuatu ketika ia melarangku untuk membangunkan Arkhataya.”
”Jangan konyol. Jika kau tidak membangunkan naga itu, kita takkan pernah pulang kembali ke lembah Crystal. Dan cepat atau lambat, Zorca akan menghancurkan tempat perlindungan terakhir kita ini,” omel Titus setengah bergumam.
Ucapan Titus ada benarnya. Penduduk Crystal membutuhkan kekuatan Arkhataya untuk mengembalikan tanah leluhur mereka. Rumah mereka.
”Dengarkan aku Calista. Itu hanya mimpi. Mungkin kau terlalu lelah memikirkan semua beban yang ada dipundakmu. Tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi,” ucap Titus tegas.
Kutatap Titus ragu.
”Berhentilah berpikiran aneh dan bangunkan Arkhataya untuk melawan kekuatan leviathan Zorca,” dengus Titus penuh semangat.
Sebuah tepukan tangan mengejutkanku dan Titus yang serentak menoleh kearah datangnya suara tepukan tersebut. Kulihat Brisa berdiri dengan senyum mengembang di sudut bibirnya yang indah.
”Kau beruntung memiliki seorang mentor hebat yang selalu menyemangatimu,” ujar Brisa seraya menatap aku dan Titus bergantian.
Airmuka Titus berubah kikuk. Wajah tirusnya terlihat sedikit memerah dari jarak pandangku.
”Sepertinya, kau harus selalu mengucapkan kata kata tadi pada si keras kepala ini, Titus.” ucap Brisa dengan nada sindiran seraya menepuk kepalaku seenaknya.
”Hey,” protesku pelan seraya menepis tangannya dari kepalaku.
Airmuka Titus terlihat tak nyaman. ”Aku hanya melakukan apa yang sudah menjadi tugasku,” ucapnya kikuk.
Brisa tertawa. ”Baiklah. Terserah kau saja.”
Raut tirus itu nampak tersipu. Dan tanpa sadar aku tersenyum sendirian.
Sepertinya Titus memiliki perasaan khusus pada Brisa.
Kualihkan pandangan pada Brisa yang terlihat santai dan sama sekali tak dapat membaca raut wajah tirus yang terlihat semakin kikuk.
Sepasang mata biru Brisa menatap Titus lurus lurus. ”Aku kemari atas perintah Prechia.”
Titus mengangguk pelan.
Kini Brisa menatapku dan Titus bergantian.
”Sejak serangan mendadak para pengikut Zorca di perbatasan hutan Sprhonia kemarin. Zordius memutuskan untuk memperketat penjagaan di sepanjang perbatasan. Odile juga telah memerintahkan beberapa prajurit cahayanya untuk melindungi penduduk Amorilla dan juga para pengungsi lembah Crystal.”
Aku dan Titus hanya terdiam.
”Prechia meminta para ksatria Crystal untuk melakukan hal yang sama. Cepat atau lambat Zorca akan segera tiba di Amorilla karena penolakan Zordius. Dan kita harus memastikan jika kita siap menghadapi mereka,” desah Brisa.
Kupalingkan wajah kearah pintu dengan resah.
”Jangan terlalu khawatir. Aku yakin semua akan baik baik saja. Zordius dan Odile adalah pejuang tangguh begitu pula Prechia, Shenai Helena dan kau Titus. Dan kami akan memastikan Zorca tidak akan menguasai Amorilla dan menghancurkannya. Seperti yang telah ia lakukan pada lembah Crystal,” desah Brisa seraya melirik kearahku.
”Lalu pesan apa yang kau bawa dari Prechia,” Titus memberanikan diri menatap Brisa.
Senyum tipis terlihat disudut bibir Brisa. ”Setelah kau pulih, secepatnya kau mengatur strategi pertahanan dan melatih para ksatria Crystal yang tersisa.”
Ironis. Tapi ucapan Brisa adalah suatu kebenaran.
Keesokan paginya aku dan Ness bersiap siap melakukan perjalanan ke Farfasian. Namun sebelumnya kami mengunjungi Prechia terlebih dahulu untuk berpamitan.  
Kupandangi Ness yang masih tertegun menatap gelang kembar pemberian Odile dikedua tangannya. ”Kau pantas mendapatkannya Ness,” ucapku setengah berbisik.
”Kakek tua itu bener benar telah kehilangan akal sehatnya,” gumam Ness datar.
Prechia tersenyum. ”Calista benar. Kau memang pantas mendapatkannya karena kau adalah ksatria terbaik yang pernah dimiliki lembah Crystal, Ferin,” tegas Prechia.
Kali ini Ness menghela napas penuh kelegaan. Ditatapnya wajah lelah Prechia dengan segurat senyum datar. ”Terimakasih Prechia. Kurasa sudah saatnya bagi kami untuk pergi,” nada suara Ness terdengar mantap seraya melirik kearahku dengan ekor matanya.
Prechia tersenyum senang. ”Bagus. Tunggu sebentar.”
Kali ini Prechia memandang langit dan mulai bersiul dengan nada tinggi. Dari kejauhan terlihat pegasus mengepakkan sayapnya yang kokoh diantara gumpalan awan putih yang bergerombol. Kuda tunggangan Orion yang besar dan gagah itu kini mendaratkan keempat kaki kakinya dengan mulus di hadapan kami seraya meringkik ramai. Sepasang matanya seolah menanti perintah Prechia.
Kedua tangan gemuk Prechia kini mengelus punggung pegasus dengan lembut. ”Pergilah bersama pegasus untuk menghindari pengikut Zorca. Sepertinya para penyihir hitam itu telah menguasai hampir seluruh wilayah diluar Amorilla.”
Aku mengangguk haru hingga tak sanggup mengucap sepatah kata pun padanya.
Ness meraih pinggangku dan menaikkan tubuh rapuhku keatas punggung pegasus. Kemudian dengan gerakan lincah ia melompat ke punggung pegasus untuk duduk dibelakangku. ”Kami segera kembali dengan kabar baik Prechia,” nada suara Ness terdengar mantap seraya melingkari pinggangku dengan sebelah tangan kekarnya. Sementara aku berpegangan pada leher pegasus.
Prechia mengangguk lemah. Ness menepuk leher pegasus pelan dan dengan cepat kuda itu mengepakkan kedua sayapnya dan terbang dengan cepat ke langit. Meninggalkan Prechia yang menatap kami dengan raut cemas yang tergambar jelas di wajah gemuknya.
Perjalanan menuju hutan Farfasian berjalan lancar dan tanpa hambatan. Berada diatas punggung pegasus dan terbang diantara gumpalan awan putih seperti ini membuatku merasa terbebas dari semua beban. Aku bahkan sempat melupakan keberadaan Ness yang duduk bersamaku dipunggung pegasus ini. Kedua tangan kokohnya memeluk erat pinggangku. Dan jantungku berdetak cepat seketika, bukan karena perasaan senang terbang melayang seperti ini namun karena aku dapat merasakan  hidungnya yang seolah sengaja ia benamkan dirambutku yang terurai bebas. Pipiku menghangat. Ness seorang laki laki yang sopan, entah mengapa ia melakukan hal itu. Tapi aku menyukainya. Separuh hati kecilku seolah bersorak senang dan menikmati perlakuannya. Sayangnya yang separuh lagi terasa sesak akan pengkhianatan yang telah kulakukan atas kenangan Tristan.
Tebing tinggi yang dipenuhi tebalnya lumut hutan diantara deretan pinus mulai terlihat. Dengan semangat aku berteriak kencang memberitahukan Ness akan tempat bersemayam naga Arkhataya yang terletak di sekitar air terjun yang terlihat indah dari punggung pegasus. Ness mengelus leher pegasus dan terdiam beberapa saat seolah tengah berkomunikasi dengannya. Benar saja, dengan perlahan ia segera terbang rendah dan mengurangi kecepatannya. Pegasus menurunkan kami di dataran landai beralaskan rerumputan tebal tak jauh dari air terjun Farfasian ini.
Ness meloncat turun dari punggung pegasus. Lalu dengan lembut ia meraih pingangku dengan kedua tangannya dan menurunkanku perlahan dari punggung pegasus. Dielusnya kembali leher pegasus, lalu ia membisikkan sesuatu dikuping makhluk menakjubkan itu, yang dengan cepat mengepakkan kedua sayapnya dan terbang perlahan menuju langit cerah hingga menghilang diantara gumpalan awan putih yang berkejaran.
Kutatap Ness penasaran. ”Sebenarnya apa yang kau bisikkan ditelinga makhluk itu hingga ia menurutimu?” gumamku sedikit keras ditengah derasnya suara air terjun.
Ness tertawa seraya memamerkan senyumnya yang menawan. ”Sebenarnya hanya seorang penyihir hebat seperti Orion dan Prechia yang dapat memantrai pegasus dan membisikinya agar menuruti keinginan mereka!” serunya.
Aku semakin bingung dengan penjelasannya yang hanya separuh.
Ness membungkukkan badannya kearahku. ”Aku seorang psychic illusionist, Calista. Aku dapat melakukan apa yang dilakukan Tristan dengan sihir ilusinya,” kali ini ia berkata tepat dikupingku mencoba memperjelas ucapannya diantara suara air terjun.
Seketika dadaku bergetar begitu ia menyebutkan nama Tristan. Kenangan pahit kembali menggores hatiku. Sadar telah mengucapkan hal yang telah membangkitkan lukaku. Ness menatapku canggung. ”Maaf,” gumamnya ragu.
Aku menggeleng lemah. ”Lupakan saja,” senyumku kaku.
Ness terdiam untuk beberapa saat. Begitupula denganku. Suasana pun mendadak jadi sedikit aneh. Sementara gemerisik keras suara air terjun seolah tak memperdulikan keresahan hati diantara kami dalam situsi yang tak nyaman ini.
”Sebaiknya kita tidak membuang waktu!” seruku mencoba memecah kebekuan diantara kami.
Ness mengangguk sebagai tanda persetujuan. ”Dimana guanya?!” tanya Ness setengah berteriak.
”Dibalik air terjun itu!” tunjukkku tepat di depan air terjun dihadapan kami.
Wajah Ness terlihat tegang. Sepasang mata emasnya mengamati derasnya air terjun di depan kami dengan waspada. Seolah tengah meraba sesuatu yang sekiranya akan membahayakan keselamatan kami.
Dengan lincah aku melompati dua tiga deret bebatuan yang besarnya tak sama. Ness mengawasi empat langkah di belakangku. Kucoba untuk berkonsentrasi dengan memejamkan mata. Kutarik napas panjang dan mulai menggumamkan mantra untuk membangkitkan naga mematikan itu.
Gagal...
Kucoba untuk yang kedua kali.
Masih sama. Tak ada perubahan. Hanya ada suara curahan air terjun yang terdengar keras di telinga kami.
Kubuka kedua mataku dan menatap air terjun di depanku yang tengah mengalir deras itu.
”Semuanya baik baik saja Calista,” tanya Ness cemas.
Aku tak menyahut. Dengan geram kembali kurapalkan mantra pemanggil Arkhataya dan kali ini dengan nada suara sedikit kesal dan memaksakan diri.
Tetap sama. Tidak ada apapun.
Aku berteriak marah melampiaskan kekesalanku. Ness membalikkan kedua bahuku dari belakang kemudian menatap lembut padaku.
”Sebaiknya kau menenangkan pikiranmu,” sarannya pelan.
”Aku selalu gagal Ness.  Aku tak mengerti apa penyebabnya!” isakku histeris.
”Jika kau terus merengek seperti itu tentu saja kau takkan pernah dapat membangunkan naga terkenal itu!” seru Chaides dari balik pepohonan pinus sambil memainkan buliran buliran air dikedua jemarinya.
Seruannya mengejutkan kami. Dengan cepat Ness melancarkan serangan kearah Chaides dengan sekuat tenaga. Namun sayangnya Chaides dapat membaca serangan itu dan dengan lincah menghindar seraya melayangkan buliran buliran air mengarah tepat ke dada Ness. Dengan kesadaran penuh, kudorong Ness dengan seluruh kekuatanku dan melancarkan sihir es ku kearah buliran buliran air sebesar kepalan tangan orang dewasa itu, yang langsung membeku terkena sihir es ku dan jatuh menjadi kepingan batu es yang berserakan.
Chaides bersorak senang. ”Hebaaatt!! Kau sudah banyak kemajuan rupanya?!” teriaknya girang, menyemangatiku.
Kutatap sosok laki laki cebol itu dengan waspada dan berusaha untuk tidak terpengaruh oleh ucapannya. Ness bergerak maju dan menarik tubuhku dibalik tubuh kekarnya. Mencoba untuk melindungiku.
”Ahh sepertinya kau telah memiliki pengganti Tristan ya,” keluhnya, menyindirku.
Kutatap Chaides dengan kesal. ”Apa yang kau lakukan di sini Chaides?!” tukasku dingin.
Chaides tertawa geli seolah ucapanku adalah sesuatu yang sangat lucu baginya.
Ness segera melirik kesekeliling kami, mewaspadai ancaman lain yang mungkin saja datang bersama dengan Chaides.
”Aku hanya sendirian, nak!” seru Chaides tertuju pada Ness seraya duduk diantara bebatuan besar yang hanya berjarak sepuluh langkah dihadapan aku dan Ness yang masih berdiri tegak dan menatap waspada padanya.
”Apa yang kau inginkan Chaides?!” teriakku marah karena ia telah mengabaikan pertanyaanku.
Ditatapnya aku dengan sepasang mata hijaunya yang ramah. ”Kau tahu, air adalah sesuatu yang menenangkan,” ujarnya datar, tak menjawab semua pertanyaanku.
Aku dan Ness bertatapan bingung.
”Kau harus mengetahui sifat dasar air sebelum kau melakukan sesuatu padanya,” sambung Chaides santai.
”Apakah kau sudah sinting hingga memberikan pelajaran tentang air pada kami, sekarang!” teriak Ness dengan nada suara setengah mengejek.
Chaides tergelak keras dari tempat duduknya. ”Kau tahu nak. Kurasa, aku  menyukai kekasihmu yang ini, dibandingkan Tristan yang pemurung. Ahh malang benar nasib anak itu, harus berakhir seperti ayahnya,” ujar Chaides menerawang.
Sepasang mata hijau terang Chaides kini menatapku riang. ”Tapi yang satu ini, benar benar menghiburku,” kekehnya seraya menatap Ness dan aku bergantian.
Kutatap wajah Chaides lekat lekat. Sepertinya Chaides memang sudah menjadi sinting. ”Dimana Amara?” tanyaku mengulur waktu sambil membaca raut wajahnya yang seketika menjadi muram dan termenung.
Chaides hanya melamun dan tak menjawab pertanyaanku.
”Apakah dia berada disini, Chaides. Kau selalu bepergian bersamanya kan?” tanyaku seraya melirik kesekeliling berusaha mencari sosok penyihir gemuk yang sempat dekat denganku dulu.
Chaides menatapku linglung. ”Dia berhenti mengekoriku,” desahnya pelan.
Kusipitkan pandanganku padanya. Itu bukan jawaban yang kuharapkan darinya.
”Aku senang telah terbebas dari wanita dungu tak berguna itu,” gumam Chaides getir seraya menatapku kosong.
Kugelengkan kepalaku bingung. ”Apa maksudmu Chaides. Dimana dia sekarang?”
Chaides menarik napas dalam dalam kemudian sepasang mata hijau terangnya menatapku dingin. ”Amara sudah mati. Zorca telah mengorbankan jiwanya untuk persembahan pada ruh hitam penghuni neraka.”
Jawabannya sedikit mengejutkanku. Tiba tiba aku teringat perkataan Tristan beberapa waktu yang lalu di lembah Crystal saat kami hendak melarikan diri.
”Mengapa Zorca melakukan perjanjian dengan kekuatan ruh jahat seperti itu, Chaides. Apakah, hanya demi membangkitkan ular raksasa mengerikan yang telah menghancurkan tanah leluhurku itu. Mengapa Zorca tidak bersikap ksatria dan menghadapi Orion dengan kekuatan sihirnya sendiri!” seruku marah.
Chaides memiringkan kepalanya lalu memandangiku. ”Kurasa kau sama dungunya dengan Amara jika berpikir seperti itu nak,” ucapnya datar.
Darahku mendidih. ”Jika kau datang hanya untuk menghinaku, aku bersumpah akan membunuhmu sekarang juga, Chaides!” tandasku dingin.
Chaides kembali menarik napas panjang dan mengalihkan pandangannya ke deretan pinus. ”Ketika seorang laki laki tidak dapat berdiri di kakinya sendiri untuk mempertahankan diri, seharusnya kau telah mengetahui ada sesuatu yang salah dengan laki laki tersebut.” Kini Chaides berdiri dan menatapku nanar.
Untuk sesaat aku terdiam, mencoba menganalisa perkataannya, kemudian kutatap Chaides dengan pandangan seolah tak percaya. ”Maksudmu, kekuatan sihir Zorca mulai melemah?” tanyaku ragu.
Chaides tersenyum samar. ”Jauh lebih buruk, Zorca sekarat. Ketika ia membuat perjanjian dengan kekuatan jahat untuk membangkitkan kembali leviathan dengan ketujuh ruh hitam yang terkutuk dan terkurung dalam tubuh makhluk tersebut, Zorca harus membayar mahal. Pada akhirnya iblis itu sendiri yang meminta jiwanya.”
”Lalu untuk apa ia mengorbankan Amara sebagai persembahan jika iblis itu sendiri hanya meminta jiwa kotornya,” sahutku sengit.
”Zorca mencoba mengulur waktu. Dengan mengorbankan darah penyihir hitam seperti si dungu, ia berharap dapat memuaskan dahaga sang iblis meski ia tahu, pada akhirnya ia tidak dapat menghindar dari kematiannya sendiri. Setidaknya Zorca telah mencapai tujuannya untuk membalas dendam,” tandas Chaides.
Aku menjadi mual begitu mendengar penuturan Chaides.
Ness memegang tangan kananku. ”Apakah ucapannya itu bisa di percaya?” bisiknya lembut.
Pertanyaan Ness membuatku berpaling untuk menatap Chaides kembali, dengan perasaan bimbang. ”Mengapa kau mengatakan semua ini padaku?”
Chaides membuang napas panjang lalu menatapku datar. ”Entahlah. Mungkin aku melakukannya untuk Tristan dan Amara,” matanya terlihat menerawang.
Mendengarnya menyebut nama Tristan membuat dadaku perih dan kembali teringat sosok dingin yang sempat mengisi hatiku itu.
Chaides tersenyum hambar. Sepasang mata hijaunya menatapku dalam. ”Dengarkanlah irama air terjun itu dengan hatimu. Jika kau bisa melakukannya maka kau akan menembus apapun yang tertutup dibalik suara deras curahannya.”
”Bagaimana jika itu tidak berhasil?” sahutku hati hati.
Chaides menatapku tajam. ”Sebagai seorang penyihir yang mewarisi gelang pusaka Arkhataya kau terdengar kurang percaya diri dengan kemampuan sihirmu,” sindir Chaides menyudutkan.
Wajahku memerah. ”Untuk apa aku mendengarkan saran seorang musuh sepertimu,” rengutku kesal.
”Karena kau akan menjadi seorang penyihir muda yang sama dungunya dengan Amara jika kau tidak mau mendengarkan saranku,” senyum Chaides terlihat tulus.
Segurat senyum kaku terlukis diwajahku, mengungkapkan rasa terimakasihku atas sarannya.
”Bangunkanlah naga jelek itu nak. Dan hentikan aksi Zorca dan ular kepala tujuhnya. Karena aku bisa gila jika terus bersama mereka,” keluh Chaides seraya membalikkan tubuh cebolnya dan memunggungiku. Lalu ia berjalan pelan menuju deretan pinus di depan kami. Dan menghilang dengan cepat.
Ness menatapku penuh kekaguman. ”Sulit dipercaya.”
”Zorca telah melukai perasaannya dengan mengambil satu persatu sahabatnya,” desahku.
Ness terdiam.
Kucoba memberanikan diri untuk meraih telapak tangannya yang sehalus sutra.
”Jangan pernah berpaling dariku saat aku membangunkan Arkhataya, Ness.” pintaku lembut, menyiratkan rasa takutku.
Sepasang mata emas itu hanya menyorot dalam dan menyunggingkan senyum samar.
  
Writer : Misaini Indra        
Image taken from : http://craigssketchpad.co.uk/2009/06/the-griffin/