Protected by Copyscape Plagiarism Scanner

Saturday, 6 September 2014

PART II : CALISTA KAZ “BANGKITNYA SANG NAGA” (Chapter 13)



13.  KEMATIAN SANG PENYIHIR

Perlahan namun pasti sinar mentari pagi menyebar ke seluruh langit di negri Amorilla.
Zorca Anthea berdiri tegak dengan sorot mata dingin yang tertuju padaku.  Zorca seolah tengah berusaha membaca pikiranku.
Sementara itu terlihat Rufus Black dengan wajah pucat berdiri disamping Zorca diiringi dengan Herzog Mandal dan Roven Lefre yang langsung mengambil posisi melindungi Zorca.
”CALISTA KAZ!” suara parau Zorca terdengar dalam dan bergema.
Pertempuran terhenti beberapa saat. Seluruh mata tertuju kearah Zorca berdiri.
Ness menggenggam tanganku erat lalu berdiri di depan tubuhku, menjadikan tubuhnya sebagai perisaiku.
Rufus terlihat berbisik pada Zorca. Sepasang mata hitam Zorca menatap lurus kearah kami. Jantungku berdegup kencang.
Tangan kanan Zorca teracung perlahan kearahku dan Ness. Bibirnya yang pucat seolah mengucapkan sesuatu padaku. Namun lebih menyerupai sebuah bisikan.
Datanglah padaku wahai Cucu Ghorfinus.
Kau dan aku adalah satu garis darah.
Bergabunglah denganku dan bersama sama menghancurkan mereka!
”Tidakkk!!” Pekikku mendengar bisikan Zorca yang begitu menyakitkan telinga.
”Kenapa Cal?!” Suara Ness terdengar cemas.
”Tidak akan pernah, sampai kapan pun!!” lengkingku parau seraya menatap Zorca dengan marah.
Ness menatapku dengan bingung.
Zorca tertawa keras. Hingga Seluruh mata kini menatap kearah kami bergantian.
”Jika kematian yang kau pilih. Maka bersiaplah untuk menyambutnya,” ujarnya datar.
Bibir Zorca terlihat  membisikkan sesuatu seraya menyilangkan kedua tangannya di dada. Suara angin kencang mulai menderu disekeliling kami dan menerbangkan apa saja yang ringan ke udara.
Prechia berteriak meminta seluruh ksatria Crystal yang tersisa untuk mundur. Lalu ia memegang tongkat sihir pemberian Orion dan mengangkatnya ke udara seraya mengucapkan mantra serangan. Kilau cahaya yang keluar dari tongkat pusaka Orion tertuju cepat kearah Zorca, sayangnya seolah sudah menyadari serangan yang akan datang kerahnya, Zorca dengan cepat menahan serangan Prechia dengan kedua telapak tangannya yang tertuju kearah Prechia. Sambaran api dari kedua tangan Zorca berkobar sangat cepat tertuju  ke arah Prechia mengalahkan cahaya putih yang dilontarkan Prechia sebelumnya. Dan Prechia pun ambruk ke tanah dengan cukup keras. Separuh tubuhnya terkena sambaran api Zorca.
Aku menjerit keras berbarengan dengan Brisa dan Shenai. Helena Ginka yang menyadari akan datangnya kembali serangan Zorca dengan cepat mengantisipasi dengan mengorbankan tubuhnya untuk melindungi Prechia yang terkapar ditanah.
Dan Zorca pun tidak memberi kesempatan pada kami untuk melakukan serangan balasan karena sambaran api kedua berhasil menghanguskan tubuh Helena Ginka, sahabat sekaligus orang kepercayaan Prechia Gold tanpa ampun. Bahkan butiran es yang ditujukan Brisa kearah tubuh Helena terlambat menyelamatkan wanita malang itu. Dengan teriakan histeris Shenai dan Agnes menghampiri tubuh Helena dan Prechia untuk memberikan pertolongan.
Sebuah sambaran cahaya kebiruan datang dengan cepat dari arah utara dan nyaris mengenai tubuh Zorca seandainya Roven Lefre tidak mematahkannya dengan sambutan sihir apinya.
Terjadi ledakan dashyat di udara. Percikan api yang bertebaran diudara sedikit mengenai ujung jubah  Zorca. Yang terlihat tetap tenang tanpa berusaha untuk menghindar.
Sepasang mataku mencari sumber serangan tadi. Zordius berdiri tegak menatap lurus tak berkedip kearah Zorca.
Raja Zordius terlihat gagah mengenakan pakaian perang kebesarannya yang berwarna perak. Sementara Odile berdiri disisi kanannya bersama tujuh orang prajurit cahaya yang menatap waspada kesekeliling Zordius.
Sepertinya Zordius lah yang melontarkan serangan kearah Zorca hingga mengenai ujung jubah penyihir hitam tersebut.
”Yang mulia  Zordius.” Ucap Zorca kaku dengan suara parau yang sangat dalam.
”Roh terkutuk dari sihir hitam tidak diterima di negri mulia Amorilla!!” Seru Zordius lantang. Membuat Zorca tertawa keras hingga bergema.
”Kau pikir kau sesuci itu Zordius?! Kedua Tangan Ayah tercintamu Thadeaus bahkan penuh dengan darah saat merebut Oprhesia dari Seresima. Thadeaus bahkan tidak menyisakan satu pun manusia di negri sihir salju. Amorilla tidaklah sesuci seperti yang kalian banggakan!!” Teriak Zorca penuh amarah seraya menyapukan pandangan ke segala arah.
Semua mata saling berpandangan dengan gugup.
”Keresahan hati akan menghancurkan seorang penyihir hebat sepertimu menjadi penyihir dengan jiwa yang terkutuk. Seharusnya kau tidak membangunkan ketujuh ruh sesat itu ke negri ini.” Sahut Zordius tenang namun kedua matanya tak mau melepaskan pandangan sedikit pun dari Zorca. 
Zorca kembali tertawa dengan keras. ”Kalian bangsa elf memang pintar menyusun kata kata yang indah. Untuk menutupi kemunafikan kalian sendiri. Tapi hari ini aku akan membungkam semua ucapanmu itu yang mulia. Untuk selamanya.” Seringai Zorca puas.
”Kata-katamu itulah yang akan membawa kematian bagi dirimu sendiri Zorca!!” Teriak Odile murka.
Dengan cepat Zordius memberi isyarat pada jendral perangnya, Odile untuk tenang.
”Kami tidak akan menyerahkan siapapun padamu hari ini atau kapan pun juga!” ujar Zordius dengan tegas. Sepasang mata abu abu gelapnya terlihat menatap tajam kearah Zorca.
Zorca tersenyum dingin lalu melayangkan pandangan keji ke segala arah.
”Aku datang bukan untuk itu Zordius. Hari ini aku akan menghancurkan Amorilla dan para sekutumu. Aku akan memastikan tidak ada satu pun yang tersisa hari ini!” parau Zorca dengan teriakan kemarahan yang membahana seraya melemparkan bola api yang berkobar dari tangan kanannya kearah Zordius yang dengan lincah melompat untuk menghindar.
Tiga orang prajurit cahaya maju untuk melindungi Zordius. Sementara Odile melayangkan serangan balasan kearah Zorca. Sayangnya Rufus Black menghalau serangan cahaya Odile dengan sihir apinya yang berkobar.
Ness menarik tanganku untuk menghindar. Kami terus berlari mencari tempat aman dalam hujanan api yang berkobar.
Sementara api mulai yang berkobar kencang membakar sekeliling kami. Zorca Anthea berteriak keras penuh amarah melayangkan sihir api bertubi tubi kearah prajurit cahaya yang memagari Zordius dengan rapat. Empat orang prajurit cahaya langsung terbakar dan berteriak kesakitan.
Odile kembali memerintahkan pasukan cahaya lapis kedua untuk bergerak maju. Mereka melompat gagah dan menerjang para penyihir hitam yang terlihat panik dan mulai melontarkan sihir apinya ke segala arah.
Dari kejauhan terlihat Titus sedikit kewalahan menghadapi si gila Herzog Mandal yang seakan tak pernah lelah menyerangnya dengan lontaran api.
”Ness!! Titus membutuhkan bantuan!” Seruku cemas.
Ness melayangkan pandangannya kearah Titus. Yang kini dikelilingi empat orang penyihir api yang di pimpin oleh Herzog.
Ness mengangguk kearahku dan kami mulai berlari kearah Titus melayangkan serangan. Kuarahkan mantra dizzante kearah salah seorang penyihir yang tengah mengepung Titus sementara Ness melayangkan kedua tangannya kearah dua orang penyihir hitam Zorca yang langsung terpental keras ke tanah.
Herzog berteriak marah dan berbalik untuk menyerang, sayangnya Titus dengan cepat melayangkan sihir anginnya kearah Herzog. Terdengar suara gemuruh yang kencang berbarengan dengan keluarnya kumparan angin dari kedua tangan Titus yang mengarah kepada Herzog. Kumparan angin puyuh itu berputar cepat dan menyapu tubuh Herzog hingga menabrak pinus tua yang separuh hancur. Tubuh Herzog tertelungkup kaku tak bergerak.
”Tituusss!! Kau baik baik saja? Dimana yang lainnya?!” seruku tak sabar.
”Prechia telah dibawa kembali ke istana. Ia terkena luka bakar yang cukup parah. Ibumu sedang berusaha mengobatinya Ness.” Tatap Titus dengan wajah sedih kearah Ness.
Ness hanya menghembuskan napasnya.
”Kita harus mencari tempat aman untuk kalian,” ajak Titus seraya bergerak cepat dan memberi isyarat pada kami untuk mengikutinya.
Namun seolah memiliki mata yang terlalu tajam, Zorca terlihat murka begitu melihat kearah kami yang berusaha menghindari medan pertempuran. Hal yang paling mengerikan mulai membayangiku. Zorca Anthea mengayunkan tangannya ke udara seolah tengah mengisyaratkan pada sesuatu untuk datang. Wajah pucatnya tersenyum kejam. Dan bibir tipisnya kini merapalkan sebuah mantra bernada seperti senandung.
Jantungku berdebar kencang.  Zorca tengah merapalkan nyanyian sihir untuk memanggil makhluk mematikan dari nerakanya untuk menghancurkan lembah ini.
Penyihir hitam itu mulai mengayunkan kedua tangannya ke udara. Bibirnya kembali mendengungkan mantra sihir yang menyerupai nyanyian. Kini suara nyanyian sihir Zorca semakin keras.
Kulihat raja Zordius bersama Odile berdiri terpaku. Pasukan cahaya yang berada dibelakangnya lamgsung mengambil posisi melindungi sang raja. Brisa, Shenai, Agnes terlihat berhenti melakukan serangan dan beralih menatap kearah Zorca dengan wajah tegang.
Ness kembali menggenggam tanganku. Sementara Titus terlihat menghembuskan napas panjang dengan wajah cemas.
Kami melihat ke satu arah.
Menunggu.
Sementara Zorca kembali tertawa keras dan memandang rendah kearah kami yang tengah terpaku. ”Ucapkan selamat tinggal pada kehidupan.” Desis Zorca dengan seringainya yang kejam.
Ness melirik kearahku. ”Bersiaplah untuk membangunkan Arkhataya.” Ucapnya kaku.
Kedua kakiku tiba tiba terasa lemas. Jantungku berdetak lebih kencang.
Samar samar terdengar suara gemerisik pepohonan diantara kencangnya angin yang tengah bertiup. Dan sebuah bayangan hitam merayap pelan dari kejauhan. Bayangan itu kini semakin jelas terlihat. Meliuk liuk seolah tengah menari mengikuti irama nyanyian sihir yang dirapalkan Zorca. Kemudian berhenti tepat dihadapan Zorca seraya mendesis.
Odile mulai berteriak memberikan aba-aba pada pasukannya yang langsung menghunus pedang mereka yang berkilauan. Mereka mulai membuat barisan berlapis. Sementara Zordius terlihat berdiri tegak dengan gagah. Airmuka  Zordius begitu tenang seolah ular berkepala tujuh itu bukanlah makhluk mengerikan yang membuatnya gentar.
Brisa berlari menghampiriku dan memelukku erat. ”Aku percaya padamu Calista. Berjanjilah kita akan mengakhirinya dengan tawa bahagia. Berjanjilah padaku!” Isak Brisa seraya mencium keningku.
Kuanggukkan kepalaku dengan keharuan. Tanpa sadar airmataku terjatuh.
Brisa menoleh pada Ness. ”Jaga dia untukku Ness.”
Segaris senyum tipis terulas di wajah cemas Ness.
Lalu Brisa melepaskan tanganku dan berlari kembali pada posisinya. Berdampingan dengan Shenai yang menatapku sendu seraya menganggukkan kepalanya seolah memberikan dukungannya untukku. Aku membalasnya dengan senyuman kaku.
Ular raksasa yang sangat mengerikan dengan sisik hitamnya yang besar mendesis keras dengan tujuh kepalanya yang  menatap liar ke segala arah terlihat menunggu perintah untuk membunuh. Sepasang mata dari salah satu tujuh kepala ular raksasa tersebut terlihat buta. Meski begitu indra penciumannya yang tajam sepertinya masih sanggup untuk mengikuti keenam kepala lainnya.
Zorca tertawa keras hingga terasa bergema ke seluruh wilayah Amorilla. Wajah-wajah tegang bercampur resah tergambar jelas dari wajah Brisa, Titus, Shenai yang terlihat mengatur ulang barisan pertahanan dari para ksatria Crystal yang tersisa.
”Bunuhhh merekaa!!” Teriakan Zorca bergema keseluruh  negri Amorilla yang diliputi ketegangan.
Ular raksasa itu menggeliatkan badannya hingga menggetarkan tanah tempat kami berpijak. Tujuh kepalanya yang bergerak kesana kemari dan badan besarnya meluncur cepat kearah pertahanan kami.
”Kuatkan hatimu Calista! Selamat berjuang.” Tatap Ness dengan suara parau seolah ini adalah saat perpisahan kami.
Aku hanya dapat mengangguk haru dan mengatupkan rahangku kuat-kuat.
”Tunggu disini. Aku akan kembali bersama Griffin untuk melindungimu!” Seru Ness seraya melompat dengan cepat meninggalkanku dengan segala asa.
Airmataku menetes perlahan. Aku mencintaimu Ness batinku perih dalam hati kecilku.
Kulihat sosok Ness mulai menjauh mencari dataran tinggi untuk memanggil  Griffin.
Ku kuatkan hati dan mulai merapal mantra untuk membangkitkan Arkhataya.
Bangun bangunlah Arkhataya ...
            Tunjukan kesetianmu padaku ...tunjukan kekuatanmu sebagai pelindungku...
            Dengar dengarlah Arkhataya...
            Menyatulah dalam pikiranku ... dengarkan perintahku...
Teriakan para prajurit cahaya mulai bergema dimana-mana.
Beberapa prajurit nampak berlarian menghindari Leviathan yang sibuk menghujamkan taringnya yang besar ke tubuh-tubuh mereka. Sementara barisan penyihir hitam mulai menebarkan teror dengan melontarkan mantra api keseluruh negri Amorilla.
Teriakan ketakutan seiring dengan kepulan asap dari api yang membakar bangunan- bangunan di jantung negri Amorilla semakin membuat suasana mencekam.
Barisan pertahanan Zordius pun goyah. Para ksatria Crystal berusaha keras menghalau Leviathan dengan melontarkan mantra angin untuk menghalaunya. Sayangnya hanya membuat Leviathan semakin murka dan mengamuk lalu melumat tubuh mereka.
Dari kejauhan terlihat awan putih menggumpal di langit. Bergerak pelan seolah memberikan jalan pada sesuatu. Setitik bayangan melayang pelan dan perlahan-lahan semakin terlihat jelas menuju ke bumi. Sosok seekor burung elang raksasa dengan kakinya yang bercakar menyerupai singa terlihat melayang anggun terbang diantara gumpalan awan-awan putih.
Burung elang itu mengeluarkan lengkingan panjang seolah memberitahu kehadirannya pada si pemilik pusaka. Dengan lincah Ness melompat ke punggung Griffin ketika burung elang raksasa itu terbang pada jarak terdekatnya dengan Ness. Ness berpegangan erat pada punggung Griffin dan mulai terbang menuju arah Leviathan yang tengah mengamuk.
Kembali kuramalkan mantra pemanggil Arkhataya dengan perlahan.
Dengarkan aku Arkhataya....
Bangunlah Arkhataya..
Sementara itu Griffin nampak kewalahan karena serangan tiga kepala Leviathan yang meliuk-liuk ganas. Ness mencoba menghindar dengan membawa Griffin menjauh. Sayangnya tiga dari tujuh kepala Leviathan begitu murka dan mengejar Griffin tanpa ampun.
Sayap kanan Griffin pun terluka terkena hujaman taring Leviathan meski sempat melepaskan diri.
Griffin menukik cepat dengan sekuat tenaga yang tersisa meski mengepak lemah dengan separuh sayapnya yang terluka.
Wajah Ness terlihat cemas dan membisikkan Griffin untuk mundur menghindari Leviathan.
Zorca seolah tak mau membiarkan Ness dan Griffin melarikan diri begitu saja. Zorca berteriak lantang merapal mantra api hitamnya dan melemparkannya kearah Ness.
Untungnya Zordius tidak tinggal diam dan menahan serangan api hitam Zorca dengan lontaran cahaya biru yang keluar dari kedua telapak tangannya. Terdengar suara ledakan yang cukup keras begitu api hitam Zorca berbenturan dengan cahaya biru Zordius.
Ness menoleh cemas lalu menepuk punggung Griffin untuk mengepakkan sayapnya lebih cepat lagi meninggalkan medan pertempuran.
Sementara aku berusaha berkomunikasi dengan Arkhataya lewat mantra pemanggil yang diberikan Obidia. Dalam kekacauan dan hingar bingar pertempuran. Bau daging terbakar dan bau asap dari bangunan yang terbakar. Lengkingan kesakitan dari pihak kawan bahkan lawan.
 Dengan teriakan keras kurapalkan mantra pemanggil bagi Arkhataya dengan sepenuh jiwa, mencoba untuk menyatukan pikiran kami,
Bangun bangunlah Arkhataya ...
            Tunjukan kesetianmu padaku ...tunjukan kekuatanmu sebagai pelindungku...
            Dengar dengarlah Arkhataya...
            Menyatulah dalam pikiranku ... dengarkan perintahku...
Setengah putus asa aku berteriak kencang ditengah pertempuran.
BANGUN DAN DATANGLAH DENGAN KEKUATAN SIHIRKU .....
BANGUN DAN TURUTI PERINTAHKU ....
BERIKAN KEKUATANMU PADAKU, WAHAI ARKHATAYAA....
Suara erangan keras terdengar datang dari balik langit yang memerah karena api para penyihir hitam. Dari kejauhan terlihat sosok makhluk yang terbang bagaikan sebuah titik hitam dilangit. Lama kelamaan titik hitam itu mendekat dan semakin jelas.
”GADIS PEWARIS GELANG OBIDIA. APALAGI YANG KAU INGINKANN DARIKU??!!!” erang Arkhataya terdengar jelas di kedua telingaku meski kulihat naga tersebut masih berada jauh diatas langit dan tengah terbang menuju tanah Amorilla ini.
”Bertempurlah untuk ku!! Hancurkan Leviathan itu!!!” Sahutku dalam diam. Mencoba bertelepati padanya.
Kembali terdengar raungan kencang dari sosok hitam yang terbang dan mulai mendekati wilayah pertempuran. Setidaknya itu yang terdengar oleh mereka. Sementara erangan yang terdengar bagiku saat ini adalah sebuah ucapan normal dari jiwa Arkhataya yang terperangkap di tubuh seekor naga berkat berkat gelang warisan Obidia, aku dapat berkomunikasi dengan Arkhataya.
”BERIKAN AKU RAGA!! ATAU AKU AKAN MEMBINASAKAN KALIAN SEMUAA!!” raung Arkhataya gusar.
Napas Calista memburu.
”Jika kuberikan apakah kau akan membantu kami membunuh Leviathan Zorca??” ucap Calista dalam kesunyian. ”Maukah kau bertempur untuk kami??!!!” tuntutku pada Arkhataya.
Arkhataya mengerang keras dan semakin dekat menuju tempat ini.
”BERTEMPURLAH  UNTUK KAMI ARKHATAYAA!! jerit Calista ke udara.
Tubuh besar Arkhataya tiba-tiba saja menukik tajam menuju kearah Leviathan yang di kepung para prajurit cahaya dan ksatria Crystal. Sepasang mata hitamnya yang berbintik merah menatap garang kearah Calista yang berdiri tegak menatapnya.
”AKU AKAN MENGIRIM MEREKA KEMBALI KE NERAKAAA!!!” Raungan keras Arkhataya begitu memekakkan telinga.
Seketika itu juga Arkhataya menukik cepat kearah Leviathan seraya menyemburkan api dari moncongnya yang tertuju pada dua kepala Leviathan yang terdekat darinya. Seketika itu juga dua kepala Leviathan terbakar hangus oleh semburan api yang keluar dari moncong Arkhataya.
Para ksatria Crystal berteriak senang dan mengelu-elukan sang naga.
Wajah Calista terlihat gusar. Diliriknya Ness yang tengah memegang separuh sayap Griffin yang terluka. Ness hanya dapat menganggukkan kepalanya pada Calista dan tersenyum kaku.
Napas Calista memburu. Dengan cepat Calista berlari kearah medan pertempuran dengan perasaan kacau.
Aku harus menemukan Titus. Titus dapat menolongku menyelamatkan jiwa Ness. Batinnya penuh harap.
Calista terus berlari dan berlari. Dengan sepasang matanya mencari-cari sosok kurus Titus.
Sementara itu perlawanan berbalik. Para ksatria Crystal seakan mendapatkan semangat baru dengan adanya bantuan dari sang naga. Beberapa penyihir hitam pun kewalahan karena mendapatkan perlawanan balik.
”Titusss!!!!” panggil Calista lega begitu menemukan sosok Titus yang tengah berusaha mematahkan serangan penyihir Zorca.
”Kau berhasil Calista!!” seru Titus terharu.
Calista terengah-engah. Menatap Titus dengan wajah tegang lalu menarik tangan Titus dari keramaian. ”Kau harus menolongku Titus!” Calista berusaha mengatur napasnya.
”Apa? Kenapa??” wajah tirus Titus terlihat kebingungan.
”Arkhataya menginginkan sebuah raga, Titus! Ness hendak menyerahkan raganya pada Arkhataya demi kemenangan kita.” Isak Calista tak tertahankan.
Titus terpana.
”Ness memintaku untuk merahasiakannya. Dia ..dia akan mengorbankan tubuhnya untuk Arkhataya. Aku tak bisa membiarkan jiwa sesat Arkhataya merasuki Ness, Titus. Kau harus menolongku!” seruku tertahan.
            ”Sial Calistaaa!! Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya???” teriak Titus marah.
            ”Maafkan aku. Tapi Ness melarangku!!” sahut Calista panik.
Titus mengusap dahinya dengan kesal. Ditatapnya Calista dengan gusar.
            ”Aku butuh waktu untuk mencari jalan keluarnya Cal. Butuh pemikiran tepat, apalagi kau sudah membangunkan makhluk itu sekarang! Aku..aku akan mencoba mencarinya meski waktu kita sangat sempit sekali!” Titus berteriak panik.
            ”Kumohon tolong aku Titus.” Isak Calista.
            ”Ferinn memang brengsek!! Dan kau!! Kau seharusnya datang lebih awal padakuuu!” seru Titus kesal bercampur panik.
            Sementara itu Arkhataya kembali menghanguskan dua kepala Leviathan dengan semburan apinya. Sayangnya sayap Arkhataya tak sempat menghindari hujaman taring dari dua kepala leviathan yang berhasil menyerangnya. Sedangkan satu kepala Leviathan dengan sepasang matanya yang buta nampak disibukkan dengan serangan prajurit cahaya.
             Ness Ferin berhasil menyalurkan energi hangat pada sayap Griffin yang terluka. Ness terlihat membisikkan sesuatu pada makhluk indah itu. Dan tak berapa lama Griffin mengepakkan sayapnya yang terluka namun sayangnya makhluk itu kembali tersungkur. Wajah Ness terlihat tegang dan kembali mencoba menyalurkan energi hangat untuk menyembuhkan sayap Griffin.
            Zorca tidak tinggal diam.
            Begitu melihat Leviathannya terluka. Zorca melontarkan serangan apinya bertubi-tubi ke segala arah. Diikuti oleh Rufus dan Roven.
            Titus mendorong tubuh Calista agar terhindar dari jilatan api Zorca.
            Calista terjatuh dan terguling beberapa langkah. Sedangkan Titus menjatuhkan tubuhnya untuk menghindari lontaran api Roven. Lalu Titus berteriak memanggil Calista dengan cemas.
            ”Aku akan pikirkan jalan keluarnya nanti. Sebaiknya kau dan Ness secepatnya bersembunyi!!” teriak Titus yang langsung berdiri dan berlari membantu Shenai menahan serangan api Rufus dan Roven.
            Kali ini Titus bekerjasama dengan Shenai. Mencoba memisahkan Rufus dan Roven yang selalu bersama. Titus mengucapkan mantra dan melontarkan sihir anginnya pada Roven yang langsung terjerembab jatuh. Kemudian Shenai dengan cepat melafalkan mantra dizzante tertuju pada tubuh Roven yang langsung tergulung asap hitam yang membumbung tinggi ke angkasa. Rufus yang panik berusaha menolong Roven namun Titus tidak tinggal diam dan melayangkan sihir apinya kearah Rufus yang nampak terkejut dan tak sengaja malah melontarkan sihir apinya ke tubuh Roven. Seketika itu juga tubuh Roven hangus dan jatuh ke tanah.
            Rufus berteriak marah begitu melihat tubuh Roven yang hangus karena sihir apinya. Sepasang mata liciknya menatap Titus dengan murka.
            ”MATIII!” teriak Rufus seraya melontarkan sihir apinya pada Titus.
            Titus berusaha menghindar namun sayang kakinya tersandung batu hingga bahu kirinya jadi terkena sambaran api Rufus. Titus berteriak kesakitan dan terguling ke tanah menahan luka bakar di bahunya.
            Brisa yang kebetulan melihat langsung melontarkan butiran-butiran es tajam kearah Rufus. Rufus yang terkena serangan dadakan Brisa telat menghindar. Butiran butiran es tajam menghujam wajah Rufus seketika. Rufus berteriak kesakitan. Darah mengalir dari wajahnya yang tertancap butiran es di wajahnya.
            Tanpa membuang waktu Shenai mengucapkan mantra dizzante yang langsung menggulung tubuh Rufus lalu menghempaskannya ke udara dengan bantingan keras ke tanah. Rufus berteriak marah dan bersiap melontarkan sihir apinya kearah Shenai. Dengan gemas Brisa melontarkan hujaman es ke tubuh Rufus yang terdorong keras ke belakang menabrak sebatang dahan pinus yang patah. Tubuh Rufus tertancap dahan pinus patah yang sangat tajam.
Shenai mendekati Rufus yang tengah mengerang kesakitan.
”Ini untuk Tristan.” ujar Shenai seraya mengarahkan jemarinya kepada Rufus. Perlahan-lahan gulungan asap hitam yang tipis mengelilingi leher Rufus. Lalu mengikat leher Rufus dengan erat hingga akhirnya Rufus berhenti bernapas tanpa sempat mengeluarkan umpatan kasar yang biasa terlontar dari mulutnya.
Brisa hanya memalingkan wajah tak mau melihat. Lalu berlari menghampiri Titus.
            ”Kau terluka parah Titus.” Ucap Brisa cemas.
            ”Calista butuh pertolongan Bris...” ucap Titus terengah-engah.
            ”Kau tidak perlu mencemaskan Calista. Arkhataya akan menolongnya.” sahut Shenai ketus yang kini telah berdiri disamping Brisa.
            ”Kalian tidak mengerti! Arkhataya meminta sebuah raga. Dia membantu Calista karena ia menginginkan sebuah raga untuk lompatan jiwanya, Shenai..” napas Titus mulai terputus-putus.
            ”Ya ampun, jika benar naga itu akan sangat berbahaya nantinya!!” seru Shenai.
            ”Aku akan menghukum Calista jika semua ini berakhir karena tidak memberitahukan perihal ruh sesat Arkhataya yang meminta raga!” seru Brisa kesal.
            ”Tidak ada waktu mengumpat Bris. Calista bilang Ness telah memberikan janji untuk memberikan tubuhnya pada Arkhataya.” ucap Titus lemah.
            ”Brengsek!! Aku sudah mencurigai hal ini sebelumnya jika melihat gerak gerik mencurigakan mereka berdua akhir-akhir ini,” maki Brisa lagi gusar.
            ”Sebaiknya kita membawa Titus ke tempat aman terlebih dahulu Bris.” ujar Shenai begitu melihat keringat Titus membasahi dahinya.
            Brisa mengangguk lalu berdua Shenai membantu Titus berdiri dan berjalan meninggalkan medan pertempuran.
            Sementara Calista dengan segenap kemampuan sihirnya berusaha membantu pertahanan di benteng Amorilla. Seraya mengawasi Arkhataya yang tengah bertarung dengan Leviathan Zorca.
            Dari kejauhan Zorca menatap tajam punggung Calista. Zorca berjalan di tengah medan pertempuran menuju tempat dimana Calista berdiri. Calista yang berdiri membelakangi Zorca tidak menyadari kehadiran Zorca dibelakangnya.
            Dengan senyum licik penuh kemenangan Zorca mengangkat tangan kanannya. Mulutnya membisikkan mantra sihir. Kemudian Zorca mengacungkan tangan kanannya tinggi-tinggi tertuju tepat kearah Calista.
            Zordius yang melihat bahaya tengah mengancam Calista dengan secepat kilat melompat dan berlari kearah Calista. Dengan cepat Zordius mengarahkan kedua telapak tangannya ke tubuh rapuh Zorca yang tertutup jubah hitam. Sinar terang kebiruan menyilaukan pandangan Zorca. Seiring dengan lontaran pijaran api berwarna biru yang menghantam tubuh Zorca.
            Tangan kanan Zorca tersambar pijaran api biru milik Zordius. Teriakan parau kemarahan menggema dari mulut Zorca Anthea, si penyihir hitam yang terkutuk jiwanya.
            Zorca memegang bahu kanannya yang terasa perih terkena sambaran api Zordius.
            Calista yang baru menyadari nyawanya diselamatkan Zordius hanya dapat menatap Zordius dengan wajah pucat. Wajah angkuh Zordius terlihat dingin menatap Calista. Kedua tangan Zordius menarik tubuh Calista lalu menatap kedua mata Calista dengan sedikit kesal.
            ”Jangan pernah lepaskan pandanganmu pada musuh meski sebentar, penyihir naga!” nada suara Zordius begitu dingin dan tajam.
            Zordius melepaskan pegangannya pada Calista. ”Sekarang kendalikan naga itu. Sebelum dia menghancurkan kita semua,” ucap Zordius dingin.
            Calista tersentak. Ucapan Zordius padanya seolah-olah menyiratkan jika Zordius sebenarnya telah mengetahui permintaan Arkhataya padanya.
            ”Zorca Anthea milikku. Sekarang pergilah dari sini.” ucap Zordius pelan.
            Aku hanya mengangguk ragu pada Zordius.
            Sepasang mata Zordius kembali tertuju pada Zorca.
            Zorca terlihat murka dan mulai merapalkan mantra. Dengan suara parau Zorca berlari kearah Zordius yang begitu tenang menunggu serangan sihir Zorca. Benturan cahaya tak terhindarkan. Kali ini Zordius terdorong kebelakang beberapa langkah.
            Zorca yang mulai melemah apalagi tangan kanannya Rufus telah binasa mulai marah. Memaksakan tubuh lemahnya untuk berdiri dan mulai merapal mantra.
            Tak ingin membuang waktu  Zordius kembali melemparkan api dari kedua tangannya. Dan kembali pijaran api biru yang keluar dari tangan Zordius menghantam sihir api Zorca yang berwarna merah. Zordius kembali mendesak Zorca dengan menyarangkan pijaran api biru ke tubuh Zorca bertubi-tubi.
            Jubah Zorca terbakar seiring dengan teriakan parau Zorca yang merasakan sakit ditubuhnya terkena hujaman api sihir negri Amorilla.
            Seulas senyum dingin tergambar di bibir Zordius.
            ”Seperti yang kuucapkan sejak awal. Roh terkutuk dari sihir hitam tidak diterima di negri mulia Amorilla.” gumam Zordius seraya menatap Zorca yang meregang menahan rasa sakit diseluruh tubuhnya. Zordius membalikkan badan hendak berlalu dan tak menyadari jika tangan kanan Zorca mencoba mengeluarkan sesuatu dari balik jubah hitamnya. Calista yang kebetulan belum beranjak pergi melihatnya. Begitu dilihatnya Zorca mengeluarkan sebilah pisau perak dari jubah hitamnya itu. Calista segera merapalkan mantra sihir angin dan menyapukannya kearah tangan Zorca yang tengah memegang sebilah pisau.
Seketika itu juga pisau Zorca terjatuh. Zordius menoleh kembali kearah Zorca. Dengan cepat Zorca meneriakan mantra api dan melemparkannya kearah Zordius yang nampak tak menduga akan serangan sihir Zorca.
Icessendrios!!” Teriak Calista geram.
Seketika itu juga hujaman butiran butiran es tajam menghantam Zorca. Sihir api Zorca yang tertuju kepada Zordius pun menghantam pohon cemara yang langsung terbakar.
Dengan geram Zordius menghujamkan sinar kebiruan tepat ke dada Zorca Anthea yang seketika itu juga tewas dengan luka bakar diseluruh tubuh rapuhnya.
Kupandangi wajah raja Zordius yang puas akan kematian Zorca.
”Kau telah menyelamatkan aku,” ujar Zordius datar.
”Sekarang kita impas yang mulia,” sahutku seraya menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan padanya.
Zordius tersenyum dingin pada Calista.
            Sementara itu pertarungan antara naga dan ular raksasa tersebut masih berlangsung sengit. Arkhataya terbang mengelilingi Leviathan dengan menyemburkan api dari moncongnya tak henti-henti. Membakar sisik sisik Leviathan yang tebal.
            Leviathan Zorca mulai goyah dan meliuk-liuk kesana kemari. Arkhataya mengambil kesempatan tersebut dengan menghujamkan cakarnya ke salah satu leher leviathan yang mulai melemah.
            Aku tidak punya banyak waktu. Arkhataya akan segera membunuh Leviathan terkutuk milik Zorca. Batin Calista cemas.
            Diliriknya Ness yang masih berusaha menyembuhkan sayap Griffin.
            Berpikirlah Calista. Kau harus menyelamatkan Ness. Laki-laki yang kau cintai selama ini.
            Butiran airmata Calista mulai jatuh perlahan.
            Pikirannya mulai kacau.
            Calista menarik napas perlahan Memejamkan mata dan mencoba berpikir tenang mencari jawaban.
            Arkhataya, ruh penyihir yang dikutuk. Ruh Arkhataya bersemayam di tubuh naga untuk hidup lebih lama meski tidak menyukai raganya yang sekarang.
Calista menghembuskan napas panjang.
Aku tidak akan membiarkan ruh jahat Arkhataya mengisi raga Ness.
Kini pandangannya tertuju kepada Arkhataya yang mulai menumbangkan Leviathan. Arkhataya tanpa ampun menyemburkan api tak henti-henti keseluruh tubuh makhluk yang mulai tak berdaya itu. Dan akhirnya semburan api Arkhataya berhasil menumbangkan Leviathan.
Berpikirlah Calista. Berpikirlah... batin Calista tegang.
Tiba-tiba Calista teringat ucapan Titus beberapa waktu yang lalu ketika Titus tengah menceritakan dongeng tentang ruh hitam Orua yang menginginkan jiwa Coress salah satu penyihir kembar yang terbujuk rayuan Orua. Dan jiwa Coress terselamatkan oleh saudara kembarnya sendiri yang bernama Therice yang menjadikan tubuhnya sebagai perisai Coress saat jiwa terkutuk Orua tengah berusaha memasuki raga Coress. Ruh hitam Orua tidak berhasil menembus tubuh Coress yang terhalang tubuh Therice. Karena Therice adalah seorang penyihir berjiwa ksatria yang memiliki segala kebaikan dan ketulusan hati. Dan Therice akhirnya berhasil menyelamatkan Coress dari ruh hitam Orua.
Calista menghembuskan napas panjang perlahan.
Wajahnya begitu tegang begitu melihat sorak sorai para ksatria Crystal dan prajurit cahaya yang mengelu-elukan sang naga yang berhasil membunuh Leviathan.
Arkhataya sepertinya tidak mau membuang waktu. Naga hitam yang mengerikan itu mengepakkan sayapnya ke udara. Matanya garang mencari sosok seseorang yang telah menjanjikannya sebuah raga.  Dan sosok yang dicarinya itu adalah Calista.
Calista menoleh kearah Ness. Ness yang berhasil menyembuhkan Griffin tersenyum lega begitu  melihat Griffin mulai berdiri dan mengepakkan sayapnya yang terluka.
”Nessss!!!” Panggil Calista dengan nada suara cemas.
Ness berpaling dan mendapatkan wajah Calista yang terlihat begitu resah.
            Sementara itu Arkhataya menukik tajam kearah Calista. Sepasang cakarnya yang besar dan tajam siap mencengkram tubuh rapuh Calista hanya dalam hitungan jari saja.
            Wajah Ness berubah pucat menyadari jika Calista berada dalam bahaya.
            Dengan cepat Ness melompat ke punggung Griffin yang baru saja ia sembuhkan sayapnya.
            Tapi terlambat.
            Cakar-cakar kokoh Arkhataya telah berhasil mencengkram tubuh Calista yang langsung menjerit panik.
            Membawa gadis pewaris gelang Arkhataya itu terbang tinggi ke langit biru yang berkilau.
            ”CALISTAAAAA!!!!” teriakan Ness terdengar pilu membahana di tengah raungan amarah Arkhataya yang begitu memekakkan telinga.


 Writer : Misaini Indra        
Image from : http://awoiaf.westeros.org/index.php/Dragon


  

Tuesday, 26 August 2014

PART II : CALISTA KAZ “BANGKITNYA SANG NAGA” (Chapter 12)



12. PERTARUNGAN TERAKHIR

Pasukan cahaya Zordius tetap berjaga-jaga disekeliling benteng. Odile terlihat melakukan pengawasan tanpa henti. Sementara aku tak henti hentinya melayangkan pandangan dari balik celah dinding benteng untuk melihat keadaan. Darren datang padaku dengan berlinang airmata. Dipeluknya tubuh rapuhku sebagai ucapan terimakasih yang mendalam. Cleo selamat meski mengalami luka dalam yang cukup serius.
“Mereka menghancurkan beberapa urat sarafnya hingga kecil kemungkinan Cleo dapat mengerahkan tenaga dalamnya lagi,” isak Darren.
Aku terduduk lemas.
“Jika sembuh pun Cleo masih harus memulihkan syarafnya untuk kembali normal seperti sedia kala. Dan itu membutuhkan waktu yang sangat lama.” Sambung Darren berusaha menguasai diri.
“Kekuatan yang begitu besar untuk kembali pada kami membuatnya berjalan sejauh itu memaksakan syaraf-syarafnya yang terluka,” terawangku.
Darren menghembuskan napas panjang. “Mereka telah menghancurkan bakatnya Cal,”
Airmataku menggenang. “Tapi mereka tidak akan bisa menghancurkan semangatnya Darr. Berjanjilah padaku kau akan selalu berada disampingnya,”
“Aku akan selalu mendampinginya tanpa kau harus memintanya,” senyum tipis mengembang di sudut bibir Darren.
“Kita akan memenangkan pertempuran ini. Dan aku akan menghancurkan leviathan Zorca dengan bantuan Arkhataya. Kita akan kembali pulang ke lembah Crystal,” janjiku.
“Aku percaya kau akan melakukan semua itu. Aku percaya padamu Calista,” angguk Darren mantap.
“Terimakasih.“ desahku haru.
Kecemasan sedikit membuat kami merasa tidak bisa begitu saja percaya akan kekuatan mantra Zordius. Zorca adalah seorang iblis kejam yang memilki segala cara untuk menghancurkan semua yang diinginkannya. Mengingat dia menjual jiwa malangnya pada ruh jahat penghuni neraka, semakin meyakinkanku jika Zorca tidak akan menyerah semudah itu. Zorca akan menembus benteng Zordius. Hanya masalah waktu saja hingga itu terjadi. Dan saat itu terjadi. Aku harus membangunkan Arkhataya dan sekuat tenaga meyelamatkan jiwa kami dengan segala resiko yang ada.
Dan saat itu terjadi. Adalah saat dimana jiwa Ness berada dalam bahaya.
Senja telah tiba. Kabut tipis mulai turun perlahan. Hening. Dan tidak ada tanda-tanda apapun akan kedatangan musuh. Pasukan cahaya Odile yang terus berjaga disekitar benteng seolah tak pernah merasakan lelah dan tetap waspada.
Melihat keadaan para penduduk lembah Crystal yang terlihat resah membuatku iba. Aku dapat memahami rasa takut dibenak mereka jika Zorca benar-benar datang untuk membinasakan kami semua. Beberapa penduduk nampak menyalami tanganku dan mengucapkan kata-kata pengharapan secara bersamaan. Kutatap wajah mereka dengan perasaan getir berkepanjangan. Aku bahkan tak sanggup berpikir jernih jika aku adalah alasan bagi mereka untuk bertahan dan membawa mereka kembali ke tanah kelahiran mereka, lembah Crystal. Terkadang aku berharap ini hanya sebuah mimpi buruk dan berharap Orion masih hidup untuk menyelesaikan persoalanku.
Kupandangi Ness yang terlihat tengah menikmati secangkir tehnya. Terlihat tenang seolah-olah tidak merasakan ketegangan yang kurasakan. Kualihkan pandangan di depanku. Semua terlihat tidak bersemangat meski Zordius bersikap seolah semuanya wajar. Bahkan raja peri yang elegan itu dengan santai mengangkat gelas minumnya mengajak kami untuk bersulang demi kemenangan Amorilla.
Kutatap piring-piring perak berisi makanan lezat yang terhidang diatas meja makan ini. Lalu aku teringat oleh para pengungsi yang berlindung di dalam benteng istana.
“Apakah para pengungsi telah mendapatkan ransum makanan meraka?” tanyaku pelan pada Brisa yang mengunyah lambat-lambat sambil termenung.
“Zordius telah memastikan mereka mendapatkan jatah makan setiap hari yang di poskan di taman istana,” sahut Brisa gundah.
Aku kembali terdiam.
“Bisakah aku berbicara denganmu sebentar Calista.” Sosok gemuk berwajah ramah berdiri disampingku.
Aku mengangguk hormat pada Prechia. “Tentu saja, Prechia.”
Prechia membawaku ke kamarnya. Dan mempersilahkan aku untuk duduk.
Aku duduk dengan resah. Prechia sepertinya dapat menangkap kegelisahanku.
“Kau penyihir muda yang brilian Calista.” Ucapnya tanpa basa basi.
“Terimakasih atas pujiannya tapi kurasa semua penyihir bisa mempelajari apapun yang mereka inginkan, bukankah begitu Prechia?” sahutku kikuk.
Prechia tertawa. “Kau begitu rendah hati Calista. Dan aku suka cara pandangmu itu.”
Kini Prechia menatapku lekat lekat. “Kau tahu nak. Penyihir lain membutuhkan panduan dan pengawasan ketika mempelajari sebuah mantra sihir. Tapi kau! Kau tidak membutuhkan semua itu. Kau hanya perlu mendengar dan melihat sekali dan kau melakukannya dengan sangat baik.” Puji Prechia.
Wajahku memerah.
“Kau mengingatkanku pada Orion muda.” Kenang Prechia tersenyum sendirian.
“Kurasa aku hanya beruntung  karena memiliki insting yang kuat,” sanggahku.
Prechia tertawa lepas. “Belum pernah aku tertawa seperti ini sejak mereka merampas semua yang kita miliki di lembah Crystal,” desahnya getir.
“Aku akan merebut kembali rumah kita Prechia, percayalah padaku,” ucapku meyakinkannya.
“Aku tahu. Dan aku percaya padamu,” angguk  Prechia lembut.
Tanpa sadar kupeluk Prechia dengan perasaan haru.
“Berjanjilah kau akan tetap hidup nak,” parau Prechia penuh kesedihan.
Kulepaskan pelukanku dan tertawa getir. “Aku tidak akan mati hari ini jika itu yang kau maksudkan,” kerlingku mengodanya.
Prechia tertawa lepas mendengar gurauanku.
“Tentu saja tidak. Tidak hari ini dan hari kapan pun. Karena kami semua akan berdiri disekelilingmu dan mengorbankan nyawa untukmu nak,” isak Prechia pecah.
Kuusap airmataku yang mulai mengalir dari kedua sudut mata. Karena aku tak ingin terlihat rapuh di mata Prechia.
“Sepertinya aku membutuhkan semua itu,” anggukku seraya tertawa dalam isak tangis.
Prechia mengangguk haru. “Kami semua akan berjuang untukmu dan untuk kembalinya tanah leluhur kami.”
Ucapan Prechia semakin membuat beban dipundakku terasa berat. Ada sedikit rasa bersalah karena tidak menceritakan hal yang sebenarnya perihal Arkhataya.
Kulirik Ness yang tengah duduk bersedekap dan melamun dengan perasaan kacau.
Kulangkahkan kaki ku lebar-lebar dan berdiri dihadapannya dengan wajah tegang.
“Aku akan menceritakan sejujurnya pada Titus akan permintaan Arkhataya, Ness!“ nada suaraku terdengar tertahan.
Ness menatapku dalam. “Jika kau melakukan itu. Kau akan menghancurkan harapan semua orang sekaligus memberi alasan bagi Zordius untuk mengusir kami keluar dari Amorilla. Itukah yang kau inginkan??”
Kugelengkan kepalaku pelan. “Kau terlalu berlebihan, justru Titus akan membantu kita mencari jalan keluar untuk permasalahan ini.”
Ness berdiri dari tempat duduknya. Kini kami saling berdiri berhadapan.
“Aku mengenal Titus lebih dari yang kau tahu Calista. Aku tahu cara berpikirnya. Dia tidak akan mau mengambil resiko besar. Titus akan mencegah rencana kita membangkitkan Arkhataya untuk melawan leviathan Zorca.”
“Tapi kita belum tau pasti Titus akan bersikap seperti itu,” bantahku.
Ness mengatupkan rahangnya menahan kekesalan. Wajahnya pun terlihat tegang.
“Membangunkan Arkhataya adalah satu-satunya harapan kita untuk menghancurkan Zorca dan kembali ke lembah Crystal. Dan aku tidak mau berdebat lagi denganmu. Kuharap kau mengerti itu!!” sentak Ness putus asa.
Kubuang pandanganku darinya. Karena aku sangat tidak menyukai nada suaranya padaku.
“Dalam peperangan selalu ada yang dikorbankan,”desah Ness pelan.
Kupejamkan mata tak ingin menatap wajah Ness yang selalu berada di benakku. Aku benar-benar tak sanggup membayangkan kehilangan sosoknya.
Kurasakan sepasang tangan Ness meraih wajahku. “Tatap aku Calista.” Pintanya lembut.
Kubuka kedua mataku perlahan dan menatapnya sendu.
“Cobalah untuk bersikap ksatria dan perjuangkan terlebih dahulu kepentingan mereka yang membutuhkan kita. Mereka menaruh harapan besar padamu. Jangan kecewakan mereka sekarang.” Ada ketegasan dalam sorot matanya yang dalam kala menatapku.
Kuanggukkan kepalaku layaknya seorang anak kecil.
“Bagus! Sekarang bersiaplah. Sepertinya pengikut Zorca akan kembali melakukan penyerangan ketika senja tiba.” Ingatnya lagi.
Aku hanya dapat mengangguk lemah.
Dan perkiraan Ness tepat.
Sosok-sosok berjubah hitam kembali keluar dari balik pepohonan. Diantara cahaya jingga sang mentari yang mulai memudar, sosok-sosok tersebut terlihat sedikit aneh dari kejauhan.
Cara berjalan mereka yang terlihat kaku dan perlahan tanpa komando di depan mereka seolah-olah mereka bergerak sesuka hati dan keluar dari balik pepohonan secara terpisah-pisah.
Odile mulai menyerukan perintah pada para pasukan cahaya untuk bersiap-siap. Titus, Shenai dan Brisa berlari keatas benteng pertahanan dan mulai mengamati gerakan musuh. Sementara Ness, Helena, Darren, Oggie dan Agnes mulai menyiapkan barisan ksatria dan memberikan instruksi secara bergiliran.
Tak ingin tertinggal, dengan cepat aku berlari menaiki anak tangga menyusul Titus. Seseorang menarik tanganku dari belakang. Ketika aku berbalik kulihat wajah Prechia terlihat tegang, masih memegangi tanganku.
“Jangan terlalu dekat. Dan simpan energimu,” ucap Prechia penuh penekanan.
“Tapi ada sesuatu yang ganjil disana. Ada yang aneh dengan para pengikut Zorca dan aku harus melihatnya,” ujarku bersikeras.
“Aku tahu itu. Biarkan kami yang mengurus semua itu. Tugasmu adalah berkonsentrasi untuk memanggil Arkhataya demi keselamatan kita semua,” tegas Prechia.
“Prechia,” suara Shenai terdengar tegang ketika memanggil nama Prechia. Aku dan Prechia menoleh kearah Shenai secara bersamaan.
Wajah ibunda Tristan tersebut terlihat pucat. “Kemarilah. Kau harus melihat mereka!”
Dengan cepat Prechia melepaskan pegangan tangannya padaku dan berlari menghampiri Shenai. Dengan rasa penasaran aku mengikuti langkah-langkah cepat mereka dari belakang dan menaiki anak tangga ke atas benteng pertahanan Zordius ini.
 Disana sudah ada Titus, Brisa dan Odile yang menatap lurus ke depan kearah sosok-sosok manusia yang mulai bergerak perlahan menuju benteng pertahanan ini.
Kuamati dengan seksama. Meski bias-bias jingga sudah mulai memudar dan malam mulai merayap pelan. Namun aku sempat melihat sebuah sosok dengan jubah kumal dan wajah dingin berjalan lurus dengan pandangan garang. Sosok laki-laki tersebut berjalan lurus diikuti oleh sosok-sosok lain yang mulai berjalan cepat mendekati benteng ini. Postur tubuh mereka berbeda-beda ukuran, bahkan ada beberapa orang dari bangsa kurcaci dengan tubuh cebolnya mulai berteriak garang dan berlarian menuju kearah kami. Sebagian lagi berbadan besar dan kekar dengan wajah sangar dan terlihat tidak menyenangkan. Dengan senjata ditangan masing-masing berupa pedang, pisau dan gada.
Wajah Prechia pucat untuk sesaat. “Darimana orang-orang itu berasal!” seru Prechia tegang.
“Mereka adalah kaum Gregoran.” Cetus Titus.
Seketika itu juga kami menoleh kearah Titus seolah meminta penjelasan.
“Sekelompok orang yang melakukan apa saja demi mendapatkan uang untuk membeli minuman. Mereka adalah sekumpulan pemabuk, perampok dan penjudi yang memiliki kemampuan bertempur sangat baik.” Ujar Titus menjelaskan.
“Sepertinya Zorca sengaja membayar mereka untuk mengintimidasi keberadaan kita,” ucap Prechia.
“Darimana kau tahu mereka adalah para Gregoran?? bisikku pelan disamping Titus.
Titus terlihat kikuk sesaat. “Aku sering bepergian ke berbagai tempat sebelum menetap di lembah Crystal,” sahut  Titus pelan.
 “Apakah mereka dapat menembus sihir yang dibuat Zordius disekeliling benteng ini?” tanya Prechia pada Odile.
Odile menghembuskan napas perlahan. “Sihir yang dibuat Zordius hanya berlaku bagi para penyihir hitam seperti Zorca.”
“Dan mereka bukanlah para  penyihir, ” keluh Brisa cemas.
“Tenang sedikit nona Ackron.  Apapun mereka kita akan menghadapinya bersama-sama.” Ingat Prechia
Odile menatap Prechia dan kami satu-persatu. “Bersiaplah. Jika mereka dapat melewati tiang pembatas benteng di depan sana. Maka semua mantra penghalang Zordius akan pudar. Dan pertempuran kita akan segera dimulai,” desah Odile pelan.
Ketegangan mulai menghiasi raut wajah kami.
Prechia kini menatap kami satu persatu. ‘Jika mereka dapat menembus pertahanan benteng ini, kemungkinan besar penyihir hitam Zorca akan bergerak dibelakang orang-orang bayaran itu. Jadi kuminta lakukan sesuai dengan instruksi yang telah kita rencanakan bersama pada pembicaraan yang lalu.”
Semua mengangguk hormat pada Prechia sebagai tanda mengerti.
Ketakutan mereka terjadi. Tak berapa lama suara teriakan bergema dari mulut-mulut para Gregoran yang berlari cepat dan mulai mendekati benteng pertahanan istana Amorilla.
Mereka berhasil melewati tiang pembatas dengan mudah dan menghancurkan mantra disekeliling benteng dengan mudah.
“Pemanah bersiaplah!!” Teriak lantang Odile kepada pasukan cahaya yang berjejer rapih disepanjang benteng dan mulai memasang anak panah pada busur masing-masing.
“Tunggu aba-abaku!!” perintah Odile lagi.
Ketika para Gregoran telah mendekati benteng Amorilla, Odile kembali berteriak lantang, “Sekarang!!” Teriaknya lantang pada para pemanah kerajaan Amorilla.
Ratusan anak panah beterbangan di langit dan menukik tajam ke tubuh-tubuh para Gregoran tanpa ampun.
“Nyalakan obornya sekarang!!!” teriak Odile memerintahkan para prajurit cahaya untuk menyalakan obor di sekeliling benteng Amorilla.
Pemandangan menakutkan sempat menciutkan siapapun yang melihatnya karena begitu banyaknya Gregoran yang berteriak-teriak dengan beringas sambil berusaha memanjat benteng Amorilla.
Shenai, Titus dan Prechia bergerak menuruni anak tangga dan menghampiri Darren, Agnes dan Helena yang telah bersiap-siap dengan beberapa ksatria Crystal.
Brisa menarik lenganku dan berlari cepat. Brisa membawaku ke jarak pandang aman untuk melihat keadaan.
“Tunggu disini, Cal. Aku akan memanggil Ferin untuk mendampingimu hingga kau membangunkan Arkhataya.” ujar Brisa tegang.
Aku hanya mengangguk dan tidak membantah seperti biasanya.
Brisa mencari-cari sosok Ness diantara para prajurit cahaya yang berlarian menempati pos masing-masing.
“Feriiiiinnnn!!!!” teriak Brisa begitu melihat sosok Ness yang terlihat diam mengamati keadaan di bawah benteng Amorilla.
Ness menoleh kearah kami. Matanya menyorot tajam padaku dan dengan sigap melompat dan berlari kearah kami.
“Pergilah Bris! Aku akan menjaga Calista!” ujar Ness.
Brisa mengangguk lalu memelukku erat. Tubuhku bergetar hebat karena kami sadar ini adalah pertempuran terakhir hidup dan mati kami.
Brisa melepaskan pelukannya dan berlari meninggalkan aku dan Ness tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meski aku sempat menangkap airmata haru di ujung matanya.
Para Gregoran mulai merayapi tembok benteng. Bahkan sebagian sudah mulai bergerak naik dan berhasil masuk benteng. Teriakan-teriakan Titus yang mulai menyerukan rapalan mantra sihir angin mulai terdengar lantang.  Beberapa diantara mereka mulai terjengkang terkena sihir angin Titus
“Ikuti langkahku dan jangan terpisah, mengerti!” tatap Ness padaku.
Aku mengangguk patuh.
Kami berlari menghindari serangan-serangan mantra di udara. Mataku tertuju ke sisi Timur benteng Amorilla. Darren dan Agnes terlihat mulai memberikan aba-aba untuk menyerang pada ksatria Crystal yang tersisa. Dengan gagah berani para ksatria Crystal memberikan perlawanan terakhir mereka.
Sementara itu kakek Ness, Odile memimpin pasukan cahaya untuk bertempur melawan para Gregoran dengan sebilah pedang ditangannya. Odile berhasil melumpuhkan beberapa Gregoran yang berteriak-teriak menyerang dengan membabi buta.
Pertempuran terlihat imbang.
Namun beberapa pemanah prajurit cahaya terlihat berjatuhan satu persatu akibat keganasan para Gregoran yang melemparkan pisau ke dada atau wajah mereka.
Lapisan kedua dari pihak Zorca mulai memasuki benteng pertahanan Amorila. Rufus Black mulai melontarkan mantra api dan membakar semua yang mereka lewati.
 Kepanikan mulai terlihat di wajah barisan pasukan cahaya. Namun teriakan penyemangat yang keluar dari mulut pemimpin mereka, Odile mampu membuat para prajurit cahaya untuk bangkit dan kembali menyusun barisan dan membuat pertahanan disekeliling benteng.
“Calista!!” panggil Ness mengejutkanku.
Ness menarik tanganku kesal. “Lihat ke depan dan ikuti aku mengerti!!!”
“Maaf… sahutku gugup.
Seruan-seruan di sisi barat pertahanan kembali mengalihkan pandanganku.
Kulihat Shenai terlihat sangat terdesak dan dikelilingi para Gregoran yang menyerang tak henti-henti.
Icessendrios!” seru Brisa marah seraya melontarkan hujaman batu es yang keluar dari telapak tangannya. Tubuh para Gregoran tersebut seketika terlempar jauh dan tak sadarkan diri. Shenai mengangguk pada Brisa sebagai tanda terimakasih.
Aku kembali menatap punggung Ness yang berlari di depanku lalu mengikuti langkah-langkah panjangnya dari belakang.  Namun serangan api para penyihir Zorca yang terlontar kearahku tak sengaja memisahkan aku dan Ness. Sosok Ness tiba-tiba hilang dari jarak pandangku.
”Nesss!!! teriakku panik tanpa memperhatikan percikan cahaya yang diarahkan salah satu penyihir Zorca yang akan di lontarkan tepat kearahku.
Belum sempat terarah kepadaku sosok kecil berambut keriting melontarkan serangan kearah penyihir  Zorca yang hampir saja menyarangkan mantra apinya kearahku.
Senyum riang Oogie terlihat puas seraya mengerling kearahku. ”Sudah kubilang kan aku akan melindungimu,” sumbarnya bangga.
Belum sempat aku membuka mulut untuk mengucapkan terikamakasih pada Oogie. Roven Lefre melayangkan sihir anginnya kearah Oogie hingga pelindungku itu terhempas jatuh menghantam tanah. Tubuh Oogie tertelungkup dalam diam.
 Aku menjerit memanggil Oogie. Sementara tawa Roven melengking tinggi dan ia terlihat puas. Kulihat sepasang mata hitamnya yang berkilat licik menyorot tajam kearahku.
”Kau penyihir lemah yang tidak berguna. Ramalan itu hanyalah omong kosong!!.” serunya mengejek.
”Dan kau begitu bodoh karena mempercayai sebuah ramalan,” sahutku sinis seraya melayangkan mantra dizzante kearah Roven yang sama sekali tidak menduganya.
Gulungan asap hitam menderu dan menggulung tubuh Roven terbang ke udara. Wajah Roven terlihat marah dan berusaha membebaskan diri dari gulungan asap hitam buatanku. Kuarahkan kedua tanganku berputar diatas kepala lalu kulepaskan cengkaraman asap hitam ke udara hingga tubuh Roven terbanting ke tanah.
Dengan perasaan masih kesal kuhampiri tubuh Roven yang menggeliat ditanah. Dari tempatku berdiri kupandangi wajah angkuhnya yang terlihat lebam dengan pandangan puas.
”Aku tidak perduli sebuah ramalan. Tapi aku akan memastikan jika Leviathan Zorca akan mati hari ini.” Ucapku pada Roven.
Kutinggalkan Roven yang tengah meringis kesakitan.
Dengan cepat aku berlari menghampiri sosok Oogie yang masih tertelungkup.
”Bangun Oog. Kumohon.... ” parauku.
Wajah tirus Oogie terlihat pucat dan sedikit kotor oleh tanah.
”Ayolah Oog. Kau harus bangun. Kau harus melindungiku,” sengukku menahan tangis.
Kuarahkan pandangan kesekelilingku. Shenai dan Brisa terlihat sibuk menghalau para Gregoran.
Sementara itu Titus terlihat terdesak oleh para penyihir Zorca. Darren, Agnes dan Prechia terlihat mencoba membantu mempertahankan barisan pasukan cahaya yang tengah dipimpin Odile mengingat para prajurit cahaya mulai tumbang satu persatu. 
”Bertahanlah Oog.. ” bisikku pelan.
Kuletakan tangan kananku kearah dada Oogie. Aku masih dapat merasakan denyutnya yang semakin melemah.
Kembali kusapu pandanganku. Dimana kau Ness. Kami membutuhkanmu. Batinku kecut.
”Sepertinya semua tengah sibuk bertempur nak,” suara yang pernah kukenal menyapaku datar.
Kualihkan pandanganku seketika kearah sumber suara tadi.
Kulihat Chaides berdiri sambil memainkan topi bulat hitamnya lalu menaruhnya diatas kepala botaknya perlahan sambil memandangiku.
”Chaides... ” desahku tegang.
”Apa dia sudah mati?” tanya Chaides lagi begitu melihat sosok Oogie yang tak sadarkan diri berada di pangkuan Calista
”Aku... aku tak tahu...” ucapku bingung.
Chaides berdecak pilu. Lalu menatap Calista iba. ”Jika kau terus memikirkan orang lain daripada diri sendiri kau bisa terbunuh sia-sia sebelum menyelesaikan misi mu itu.” Gumam Chaides bersimpati.
”Aku tidak bisa membiarkan Oogie mati. Dia temanku Chaides.” Parauku dengan airmata yang mulai mengalir perlahan.
Caides menghela nafas panjang. ”Benar-benar mulia. Tristan pasti sangat bangga padamu nak.”
Untuk sesaat aku tertegun akan ucapannya.
”Calistaa!” Teriakan Ness membuyarkan lamunanku.
Sepasang mata hijau terang Chaides terlihat menyorot waspada kearah Ness.
”Pergilah!! Maka aku akan mengampunimu mengingat kau telah membantu kami waktu itu!” seru Ness dengan angkuh kepada Chaides.
Chaides terkekeh pelan. ”Kau benar-benar mengagumkan. Sangat percaya diri dan begitu sombong nak.” ujar Chaides tajam.
”Ness. ..” gelengku pelan mencoba mencegah Ness mengucapkan kata-kata buruk kepada Chaides..
Chaides melirikku sekilas. ”Calista Kaz! Kau adalah gadis yang ada dalam ramalan Zorca Anthea. Kuharap kau menuntaskan takdirmu!”
Untuk sesaat Chaides menerawang. ”Zorca akan menghanguskan Amorilla bersama kalian di dalamnya. Kau harus membunuhnya hari ini atau kau tidak akan melihat orang-orang yang kau sayangi lagi esok hari.” Sepasang mata hijau terang Chaides mengerling kearahku lalu melirik kearah Ness seraya tersenyum tipis.
Nafasku memburu mendengar ucapan Chaides. Kulihat Ness terpaku di tempatnya berdiri. Chaides menganggukkan kepalanya kearahku. ”Selamat berjuang nak.” ucapnya datar lalu berlari cepat seraya melayangkan sihir airnya dari jemari pendeknya kearah para prajurit cahaya. Yang seketika itu juga terjerembab jatuh seraya menggigil dalam kebekuan.
Ness segera meraih tubuh kecil Oogie dan meletakkan kedua telapak tangannya di dada Oogie. Dengan pelan Ness membisikkan mantra penyembuh ke dada Oogie. Perlahan lahan bibir Oogie yang membiru mulai terlihat sedikit kemerahan. Aku dapat mendegar nafas Oogie yang tidak beraturan. Ness lalu meletakkan tubuh kecil laki laki malang itu perlahan ke tanah yang tidak rata.
”Kita tidak bisa meninggalkan Oogie sendirian disini Ness,” ucapku cemas.
”Aku tahu, ” dengus Ness kesal.
”Kalian butuh bantuan!” lengking parau Darren mengejutkan aku dan Ness.
Senyum kelegaan dan rasa sukur meliputiku.
”Bisakah kau membawa Kircey ke tempat yang aman Darr.” Pinta Ness.
 Darren tersenyum lebar lalu mengangkat tubuh kecil Oogie ke pundak lebarnya. ”Aku akan mengamankan monyet satu ini. Kalian pergilah dan bunuh Zorca demi kami.”
Lalu Darren berlari kencang membawa tubuh Oogie tanpa kesulitan sedikit pun.
Ness menarik tanganku untuk berlindung dibalik pohon pinus yang separuh hancur.
”Dengar aku Calista. Ketika Zorca datang nanti membawa leviathan jelek itu, aku ingin kau membangunkan Arkhataya. Aku akan mengalihkan perhatian Zorca supaya kau dapat kesempatan untuk membujuk Arkhataya menghancurkan leviathan.”
”Mengapa kita tidak menghadapi leviathan itu bersama sama. Kita tidak membutuhkan Arkhataya,” tolakku bersikeras.
”Kita membutuhkan Arkhataya, Cal. Leviathan terlalu kuat untuk kita hadapi berdua!” seru Ness sedikit kesal..
”Percayalah padaku. Lakukan saja tugasmu. Yakinkan Arkhataya jika kau telah menyiapkan sebuah raga untuknya. Lalu perintahkan dia menghancurkan Zorca dan para pengikutnya.” Ujar Ness dengan nada suara penuh penekanan.
Kutatap Ness dengan gundah.
Tiba-tiba kilatan api terpercik diatas kepala kami hingga membuatku panik dan menjerit keras. Ness menarik tubuhku dalam pelukannya lalu berguling ke samping dengan posisi tubuhnya menutupi tubuhku sebagai upayanya untuk melindungiku.
Suara lengking tawa yang sedikit kasar terdengar sangat puas. Sorot mata Rufus yang kelam menyipit kearah kami.
”Sembunyi adalah suatu hal yang sangat sia-sia saat ini.” Decak Rufus dengan nada mengejek.
Dengan cepat aku dan Ness berdiri.
Para penyihir berjubah hitam kini mengelilingi aku dan Ness.
”Sepertinya pekerjaan ini akan sangat mudah. Bahkan master Zorca tidak perlu datang untuk menghancurkan kalian,” nada angkuh Rufus meremehkan.
”Kau terlalu banyak bicara dan percaya diri.” Ledek Ness dengan nada sinis.
Rufus terkekeh. Kemudian menyorot tajam kearah Ness yang tengah menatapnya dingin. ”Kalau begitu matilah kau brengsek!!” Teriak Rufus.
Rufus melontarkan lidah api yang keluar dari kedua tangannya kearah Ness dan aku.
Ness meraih tubuhku dan kami berguling menghindari lidah api yang nyaris menghanguskan tubuh kami.
Degan cepat aku bangkit tak memperdulikan rasa nyeri ditubuhku. ”Icessendrios!!” Teriakku marah seraya melayangkan kedua tanganku kearah Rufus untuk membalas serangannya tadi. Butiran butiran es yang keluar dari telapak tanganku menghujam keras kearah dada Rufus Black.
Rufus terjerembab keras ke tanah. Dengan panik para penyihir hitam Zorca yang lain membalasa serangan sihie es ku dengan lontaran api yang saling berkejaran. Ness tidak tinggal diam dan melayangkan serangan telekinetisnya kearah para penyihir Zorca. Dua orang terpental kencang hingga jatuh bergulingan.
Kemudian Ness meraih tanganku dan kami kembali berlari mencari tempat yang aman untuk berlindung.
Sekilas kulihat Herzog Mandal meraung marah begitu melihat majikannya Rufus Black terbaring lemas dengan wajah kebiruan.
Sementara aku dan Ness terus berlari menghindari kemungkinan Herzog akan mengejar kami. Bukan kami pengecut dan tak berani menghadapi Herzog. Hanya saja kurasa Ness dan aku memiliki pikiran yang sama jika kami tidak akan membuang tenaga untuk melawan Herzog. Karena pertempuran kami yang sebenarnya belum dimulai.
Tiba-tiba saja sosok laki-laki berjubah hitam panjang berdiri diantara kekacauan pertempuran ini. Sepasang mata hitamnya yang sekelam malam terlihat menyorot dingin menatap kearahku. Wajah putihnya yang seputih mayat terlihat membeku. Jantungku seketika berhenti berdetak.
”Zorca.... ” bisikku dengan nada bergetar.
Ness menatap lurus kearah Zorca yang tengah berdiri tak jauh dari tempat kami berdiri dengan wajah tegang.
”Bersiaplah Calista. Pertempuran kita akan segera dimulai.” Desah Ness pelan.
Kucoba menguatkan hati demi mendengar ucapan laki-laki yang sangat kusayangi ini.
Aku tak akan membiarkan kau mengorbankan ragamu demi Arkhataya. Tidak akan pernah Ness. Batinku seraya melirik Ness dengan sendu.
Sementara itu langit mulai terlihat memerah, menandakan cahaya mentari tak sabar untuk menyambut pagi dalam kekacauan di negri peri Amorilla.

  Writer : Misaini Indra        
Image from :  http://janpospisil.blogspot.com/ Fat Kid blogs and stuff!