Monday, 18 August 2014

PART II : CALISTA KAZ “BANGKITNYA SANG NAGA” (Chapter 11)



11.  PENYIHIR HITAM

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan tak menentu. Jantungku berdebar kencang tidak seperti biasanya. Setiap barang di ruangan kamar ini seolah menolak kusentuh dan terlepas dari genggaman tanganku yang bergetar.
Kubasuh wajahku dengan air dingin. Kutarik napas perlahan dan menutup kedua mataku. Terakhir kali aku merasakan perasaan aneh seperti ini adalah ketika aku akan kehilangan ayahku di Essendra. 
Kutatap wajah lelahku di cermin dan bernapas perlahan-lahan untuk mengurangi keteganganku.
 Aku benci meresakan hal aneh seperti ini.
“Aku akan pergi ke pengungsian. Kau mau ikut?” tanya Brisa mengejutkanku.
Kutatap Brisa mencoba untuk berpikir.
“Jika kau tidak mau aku tidak akan memaksa.” Sepasang alis Brisa yang indah terangkat mengarah padaku.
“Tentu saja aku mau. Aku akan bersiap-siap.” Senyum datar menghias wajahku.
“Bagus. Aku akan menunggumu di luar.” Ujar Brisa seraya melangkahkan kakinya dengan mantap meninggalkan aku yang masih terpaku menatap wajah kuyu di depan cermin.
Selang beberapa waktu aku dan Brisa sudah menyusuri jalan menuju pengungsian. Sepanjang jalan tak henti-hentinya para penduduk lembah Crystal yang tinggal di pinggiran hutan Sphronia menyapa atau sekedar melemparkan senyum mereka padaku.
Suara terompet yang melengking tinggi mengejutkan kami seketika. Para penduduk yang tengah berada di pondok-pondok mereka segera keluar dengan panik dan bertanya-tanya.
Agnes Heron terlihat berlari menghampiri kami.
”Penyihir penyihir hitam Zorca telah memasuki perbatasan hutan Sprhonia!!”teriak Agnes berkali-kali kepada para penduduk.
Seketika itu juga suasana menjadi panik. Para ibu memegang tangan anak-anak mereka dan mulai berlarian mengumpulkan para anggota keluarga masing-masing.
”Tetap tenang dan jangan panik! Kumpulkan keluarga kalian secepatnya!” seru Cleo nyaring mencoba menenangkan.
Brisa yang datang bersama Titus terlihat berlarian panik memberi perintah penduduk untuk segera berbaris menuju istana Amorilla.
”Dash, Kircey!! Amankan penduduk dan bawa mereka masuk ke dalam istana Amorilla!” teriak Brisa.
”Baik Bris!” seru Darren dan Oogie bersamaan seraya berlari menyusuri pondokan rumah penduduk untuk mengosongkan tempat pengungsian secepatnya.
Dengan setengah berlari para penduduk mulai menuju gerbang istana Amorilla mencari perlindungan.
Jantungku berdetak kencang melihat ketenangan pengungsi mulai terusik. Terlihat wajah-wajah ketakutan dan tangisan anak-anak kecil yang tak mau meninggalkan rumah pondokan mereka.
Brisa melirik kearahku lalu berseru kepada Cleo. ”Cleo bawa Calista masuk ke istana Amorilla,” perintah Brisa.
”Tunggu Bris. Biarkan aku  membantu kalian!” seruku tertahan.
”Tidak. Terlalu berbahaya. Biar aku, Titus dan Agnes yang akan mencoba menghalangi serangan mereka!” sahut Brisa dengan nada penekanan.
”Kau sudah melihat kemampuan sihirku Bris. Aku bisa membantu kalian!” cetusku kesal.
Brisa memegang kedua bahuku dan menatapku dalam. ”Tugasmu jauh lebih penting. Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padamu. Kau bisa membantu kami dengan membangkitkan Arkhataya untuk menghancurkan Leviathan Zorca. Mengerti?!”
”Tapi Bris.... ”
”Untuk sekali ini saja tutup mulutmu dan ikuti permintaanku Cal!” seru Brisa bernada marah.
Aku hanya dapat mengangguk pada Brisa dengan pandangan nanar.
”Cleo! Bawa Calista pergi dari sini. Lalu cari Ness di istana Amorilla!” perintah Brisa pada Cleo.
Cleo mengangguk dan dengan cepat menyeret tanganku. ”Ayolah Calista. Aku harus membawamu pada Ness. Ness akan mendampingimu mengalahkan Zorca demi lembah Crystal,” bisik Cleo menunjukkan harapan besar padaku.
Aku mengangguk lemas.
Aku dan Cleo berlarian panik ditengah-tengah para pengungsi. Pasukan cahaya nampak berjalan beriringan menuju arah perbatasan hutan Sprhonia untuk menguatkan pertahanan.
Shenai dan beberapa orang ksatria sihir didikkannya terlihat membariskan penduduk yang panik untuk berjalan teratur menuju istana Amorilla. Sementara dari arah timur Helena yang juga didampingi beberapa ksatria sihir nampak mengawal beberapa penduduk yang berusia lanjut menuju arah yang sama yaitu benteng Amorillla. Benteng pertahanan terakhir dan harapan bagi para penduduk lembah Crystal yang terbuang.
Dari kejauhan kulihat Piphylia nampak melambaikan tangan kearahku. Ditangannya terdapat sekeranjang penuh tanaman. Dan wajah ibu Ness tersebut sama sekali tidak terlihat cemas atau ketakutan akan keadaan disekelilingnya yang hiruk pikuk.
”Cleo! Itu Piphylia!” seruku tertahan.
”Kita harus membawanya ke tempat aman,” ujar Cleo panik.
Aku mengangguk. Degan susah payah akhirnya kami berhasil menghampiri Piphylia yang tegah sibuk memotong tanaman rambat seolah tak terusik oleh arus kepanikan disepanjang jalan menuju istana.
Kuraih bahu Piphylia. ”Apa yang kau lakukan disini, Piphylia?”
”Aku lupa memetik beberapa daun Ethor untuk persedian ramuan obatku, nak?” sahutnya resah.
”Kau harus pergi ke tempat aman karena para penyihir Zorca sudah mendekati Amorilla,” ucapku cemas.
”Ohh..ya aku tahu itu. Aku mendengar beberapa orang berteriak mengingatkan kami,” sahut Piphylia datar sambil memetik dedaunan berwarna marun.
”Apakah kau sudah dapat yang kau inginkan nyoya Ferin?” tanya Cleo tak sabar.
”Baru sedikit kurasa...
”Tidak ada waktu lagi. Kita harus segera berlindung ke istana. Terlalu berbahaya berkeliaran seperti ini,” tandasku.
”Aku tahu nak. Tapi daun Ethor penting sekali untuk campuran obat bagi yang terluka bakar, sayang. Aku takut jumlahnya tak mencukupi. Zorca dan pengikutnya memiliki sihir api yang kuat. Aku harus memastikan memiliki daun Ethor sebanyak mungkin untuk mengobati mereka yang terluka, nantinya.” keluh Piphylia seraya menatapku.
”Aku akan mencarinya untukmu. Berikan daun itu padaku!” pintaku pada Piphylia.
”Tidak Cal! Biarkan aku yang pergi. Kau memiliki tugas yang jauh lebih penting.”  cetus Cleo spontan.
”Tapi Cle..
”Aku segera kembali,” Cleo mengambil daun Ethor dalam genggamanku dengan cepat.
”Berjanjilah kau akan segera kembali Cle!” ucapku memastikannya.
Cleo mengangguk. ”Sekarang bawa Piphylia ke istana. Temui Ness dan bangunkan Arkhataya. Rebut kembali lembah Crystal supaya kita semua bisa pulang Cal,” bisik Cleo.
Tak kuasa membendung rasa haru kupeluk Cleo dengan segenap keresahan dihatiku.
”Tenang saja. Aku pasti kembali,” kerling Cleo membuatku semakin menitikkan airmata.
Cleo berlari menuju hutan Sprhonia dan melawan arus para pengungsi.
Piphylia memegangi bahuku. ”Maafkan aku nak. Aku hanya ingin membantu dengan mengumpulkan sebanyak mungkin daun Ethor yang berada dalam hutan ini.”
Kutatap lembut wajah Piphylia. Ada rasa bersalah bercampur bingung di kedua mata ibu kandung Ness tersebut.
”Tidak apa apa Piphylia. Sekarang kita harus bergabung dengan para pengungsi itu menuju istana Amorilla. Kita akan aman berada disana,” sahutku lembut.
Piphylia mengangguk riang dan memelukku erat. Kami pun membaur dengan arus pengungsi yang tengah berjalan tergesa menuju pintu gerbang istana Amorilla.
Pasukan cahaya nampak berbaris disepanjang jalan dekat gerbang istana.  Zordius terlihat memakai jubah perak kebesarannya didampingi Odile dan Prechia di kiri kanannya. Mata Prechia seketika itu tertuju padaku, ketika melihat aku dan Piphylia memasuki gerbang istana bersama para pengungsi dari lembah Crystal yang mencari perlindungan.
            Seseorang menarik lenganku tiba tiba. Wajah cemas Titus tergambar jelas menatapku resah. “Ikuti aku Calista,” ucapnya gusar. 
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Tunggu Titus!” pinta Piphylia.
Aku dan Titus seketika menghentikan langkah kami. Lalu Piphylia menghampiri dan membelai kedua pipiku dengan lembut. “Kalahkan Zorca! Dan selamatkan kami semua nak,” ucapnya dengan sepasang mata emasnya yang teduh, seteduh tatapan Ness kala menatapku.
Seiring kepergian Piphylia dari hadapanku dan Titus. Wajah Titus menegang. Kembali ditatapnya aku dengan penuh rasa penasaran.
“Aku tidak dapat menemukan Ness dimanapun. Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?” kali ini nada suara Titus memaksaku.
Aku hanya terdiam dan memandangi Titus dengan gelisah.
“Ness seharusnya mendampingimu saat ini untuk menghadapi leviathan Zorca. Karena kami akan sangat disibukkan oleh kaki tangan Zorca yang sudah memasuki perbatasan hutan Sphronia!” seru Titus panik.
Sosok Ness telah berdiri diantara kami dan menatap tajam kearah Titus.
“Aku bukan seorang pengecut Titus. Ada sesuatu yang harus kuurus terlebih dahulu sebelum mendampingi Calista membangunkan Arkhataya,” nada suara Ness terdengar satir.
Titus menoleh dan mendengus kesal. “Jangan berlagak bodoh Ness. Ada sesuatu yang kalian sembunyikan akan kebangkitan Arkhataya. Lebih baik kalian segera menceritakan padaku sebelum terjadi hal yang akan membahayakan kita semua.”
“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu” tandas Ness dengan senyum mengejek.
Titus terdiam.
Ness meraih tanganku ”Ayo Calista. Saatnya untuk pergi.”  Ujar Ness dingin.
Kutatap Titus dengan resah. Sepertinya ia dapat menangkap kegundahan yang kini kurasakan. Meski Titus tak dapat berbuat apa-apa karena kerasnya kemauan Ness.
Gerbang Amorilla kini tertutup rapat. Seluruh pasukan cahaya bersiaga disekeliling benteng Amorilla. Menunggu kedatangan Zorca dan para pengikutnya.
Kutatap wajah wajah cemas dan sorot mata ketakutan diantara para pengungsi dan rakyat Amorilla sendiri. Dadaku berdebar kencang. Kulirik Ness yng berdiri disampingku dan menatap lurus-lurus ke depan untuk melihat kedatangan musuh. Kualihkan pandangan kearah jejeran ksatria Crystal yang tersisa. Terlihat Darren, Oggie, Agnes dan Brisa berdiri tegak dengan wajah tegang. Kembali kususuri satu satu wajah para ksatria Crystal yang berdiri siaga. Hatiku lemas seketika. Aku tidak menemukan wajah Cleo disana.
“Cleo masih diluar sana Ness!” seruku panik.
Ness berbalik menatapku. “Darimana kau tahu itu?”
Jantungku berdetak kencang. Napasku terasa sesak seketika. “Ketika ibumu tengah mencari daun Ethor. Ia menawarkan diri untuk mencarikan daun itu di dalam hutan Sphronia,” nada suaraku sedikit histeris.
Belum sempat Ness menyahutiku. Darren terlihat berlari menghampiri kami.
“Apakah kau melihat Cleo?! Aku telah mencarinya ke setiap sudut istana, tapi dia tidak ada,” keluh Darren cemas seraya menatapku.
Belum sempat aku menyahut. Ness memberi isyarat pada aku dan Darren untuk menatap lurus ke depan dari atas benteng kokoh kerajaan Amorilla ini.
Cleo terlihat berjalan susah payah, berusaha menuju pintu gerbang istana Amorilla yang telah tertutup rapat.
“Ada seseorang diluar sana!!!” seru seorang prajurit cahaya Amorilla yang berjaga di sisi kiri benteng.
“Itu Cleo!” seruku lega.
“Buka gerbangnya. Dia salah satu ksatria lembah Crystal!!” Perintah Prechia keras.
“Tidak!! Teriak Zordius lantang.
Prajurit cahaya segera berhenti begitu mendengar raja mereka melarang permintaan Prechia.
Prechia dan para ksatria lembah Crystal menatap Zordius dengan kebingungan.
“Tapi dia salah satu ksatria lembah Crystal!” teriak Darren panik.
“Diam! Jangan menentang perintah yang mulia raja Zordius!” hardik Odile kasar dengan wajah garang pada Darren.
Darren  terlihat menahan marah dengan wajah tegang.
Prechia menunduk hormat pada Zordius dan Odile. “Maafkan ucapan ksatriaku yang lancang ini yang mulia Zordius. Tapi bisakah kau memberikan alasan pada kami, mengapa kau tidak mengijinkan prajuritmu untuk membuka gerbang Amorilla,” ucap Prechia sedikit tegang.
Zordius menatap Prechia dalam. “Aku tak ingin bersikap kejam tapi aku dapat melihat dari sini bahwa itu sebuah jebakan. Pengikut Zorca telah bersiap dibalik kegelapan hutan Sphronia untuk menembus benteng Amorilla yang telah kumantrai ini.“
Jauh disana Cleo terlihat payah dan berusaha berjalan dengan wajah tegar menuju pintu gerbang Amorilla. Sebelum akhirnya tertelungkup jatuh tak kuat menahan sakit.
Kupalingkan wajah menahan kesedihan bercampur kemarahan.
“Gadis itu sekarat. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menolongnya,’ desah Zordius menatap lurus-lurus kearah Cleo diwajah kakunya yang begitu dingin. Zordius seolah tak perduli akan nasib Cleo yang terbaring lemah jauh disana.
Darren berteriak marah dan Ness terlihat berusaha menenangkan sahabatnya itu dengan memegangi bahunya sekuat tenaga.
“Kau tak pantas menjadi raja. Kau tak memiliki hati nurani seputih Orion yang selalu melindungi kami!” teriak Darren menggila.
“Sebaiknya kau tenang sedikit atau Zordius akan melemparmu keluar menemani kekasihmu itu!” bisik Ness tertahan di telinga Darren.
“Aku tidak perduli Ness!!” teriak Darren kesal.
Odile bergerak maju kearah Ness dan Darren berdiri.
“Tangkap dan jebloskan dia dalam penjara atas penghinaannya terhadap yang mulia Zordius!” perintah Odile marah seraya mengangkat tangan kanannya memberikan isyarat pada dua orang prajurit cahaya yang dengan cepat berlari kearah Darren yang tengah dipegangi oleh Ness.
“Aku yakin ini suatu kesalah fahaman, wahai sahabatku Odile. Kami membutuhkan tuan Dash untuk bertempur bersama kami disini!” seru Prechia mencoba membela Darren dengan berdiri menghalangi.
“Kalian harus menjebloskan kami semua ke dalam penjara jika kalian berusaha menangkap tuan Dash!” teriak lantang Shenai dengan Helena yang berdiri tegang disampingnya.
Shenai dan Helena pun berdiri diantara Prechia yang tengah menghalangi prajurit cahaya yang hendak menangkap Darren.
Dengan cepat barisan ksatria Crystal mulai berkumpul membentuk sebuah pertahanan. Memasang wajah waspada dengan tangan terkepal. Wajah Zordius dan Odile terlihat berubah tegang. Mereka tidak menyangka jika para ksatria Crystal terlihat mengambil sikap untuk melindungi pemimpin dan teman mereka.
Beberapa prajurit cahaya mulai berhamburan dan berhadapan dengan para ksatria Crystal. Raut wajah-wajah penuh ketegangan kini terlihat jelas di masing-masing kubu.
            Titus, Brisa, Agnes bahkan Oogie terlihat mengepalkan tangan masing-masing. Bersiap-siap untuk membalas serangan jika memang diperlukan.
“Apa yang ingin anda perintahkan pada kami Prechia! Sebutkan!” teriak Shenai kalap meminta keputusan pada Prechia.
Wajah Prechia yang tenang terlihat tegang menatap lurus pada Zordius yang membeku. Odile membisikkan sesuatu di telinga Zordius.
Zordius menarik napas panjang dan mendongakkan kepalanya. “Akankah semua berakhir seperti ini Prechia? Inikah yang kau inginkan? Hanya demi sebuah nyawa?” ucap Zordius puitis.
            “Mungkin bagimu itu hanya sebuah nyawa yang tidak berarti. Tapi bagi kami gadis itu adalah keluarga. Aku lebih baik mati menolong para ksatriaku daripada harus berlindung dibawah pemimpin yang tidak memiliki hati,” ucap Prechia menyorot tajam kearah Zordius.
Napasku memburu menyaksikan ketegangan ini
            Zordius tersenyum dingin. “Akan selalu ada yang dikorbankan dalam sebuah peperangan Prechia.
          “Tidak dalam peperangan yang kupimpin Zordius!” cetus Prechia dengan nada tinggi.
Kini Zordius melirik jauh kearah Cleo yang terlihat berusaha bangkit untuk mencapai gerbang Amorilla. “Sayangnya gadis itu menjadi salah satu korban pertempuran ini. Dan aku tidak akan mengambil resiko yang membahayakan penduduk negri ini hanya untuk membuka pintu untuknya. Kalian datang meminta perlindungan padaku. Maka kalian harus menuruti perintahku. Kecuali atas keinginan kalian sendiri keluar dari benteng ini. Maka aku tidak akan menghalangi kalian,” tandas Zordius tajam.
Semua terdiam.
Kutarik napas panjang seraya menatap Zordius tegang.
“Jika itu perintahmu yang mulia. Maka biarkan aku yang menjemputnya!” seruku  seraya berlari cepat kearah benteng sambil merapalkan mantra dizzante dan mengacungkan kedua tanganku pada tubuhku sendiri.
Dengan cepat asap hitam yang keluar dari jemariku menggulung tubuh rapuhku ke udara. Dan dengan kesadaran penuh kulontarkan tubuhku sendiri keluar dari benteng Amorilla yang cukup tinggi.
Terdengar teriakan Prechia memanggil namaku diiringi seruan-seruan terkejut para ksatria Crystal lainnya.
Tubuhku yang masih tergulung asap hitam terlontar keluar dan aku pun jatuh dengan kedua kaki terjejak rapih ditanah. Aku berhasil menggunakan mantra ajaran Tristan dengan sempurna.
 “Calistaaaaaa!!” Teriakan Ness terdengar keras dari atas benteng.
Kulirik Ness dengan dingin. Wajah tampan Ness terlihat resah.
Dengan cepat aku berlari menghampiri Cleo yang tertelungkup cukup jauh dihadapanku.
Aku tak perduli apa kata Zordius dan yang lainnya. Aku hanya merasa memiliki andil atas kesalahan yang kubuat dengan membiarkan Cleo kembali ke hutan itu hanya demi sebuah daun. Dan aku harus menebusnya dengan menjemput Cleo tanpa memperdulikan keselamatanku sendiri.
Aku kembali berlari sekuat tenaga untuk mengejar waktu. Sebelum para pengikut Zorca keluar dari tempat persembunyian mereka dan menyergapku.
Kuraih tubuh Cleo yang tertelungkup ditanah. Aku coba membalikkan tubuhnya perlahan-lahan. “Bangun Cleo. Banguuuunnn!!” seruku tertahan mencoba mengangkat tubuh Cleo sekuat tenaga.
Beberapa pasang wajah mulai bermunculan dari balik jejeran cemara.
Kubelai wajah Cleo yang penuh goresan luka. Sepasang mata birunya yang gelap terlihat lelah menatapku.  “Calista..” desahnya susah payah.
“Aku akan membawamu ke tempat aman,” isakku pelan tak sanggup melihat keadaannya yang cukup parah.
Aku dapat melihat luka bakar disekujur tubuhnya. Sepertinya Cleo sempat mengalami siksaan dari para pengikut Zorca.
“Kau ..datang… untukku..,” napas Cleo terdengar payah.
“Aku datang untukmu. Aku datang untukmu sahabatku,” desahku diantara tangis.
Kini sosok-sosok berjubah hitam mulai bermunculan dan berjalan menuju kearahku dan Cleo. Aku mencoba berdiri sambil memapah tubuh Cleo dengan segenap kekuatanku.
Sebuah sentuhan dibahu membuatku terkejut setengah mati dan hampir saja menjatuhkan tubuh  Cleo kembali ke tanah.
Kulihat sepasang mata emas kecoklatan menatapku lembut.
“Biarkan aku membantumu,” suaraNess terdengar menenangkan rasa takutku.
Darren terlihat berlari menghampiri kami bersama Brisa dan Titus.
“Berikan dia padaku Ness!” isak Darren kasar seraya meraih tubuh Cleo dan menggendongnya.
“Darren…Kaukah itu?” suara Cleo melemah.
“Ya aku disini. Aku disini untukmu…Kau aman bersama ku Cleo..” suara Darren terdengar pilu berusaha menenangkan kekasihnya itu.
Tak kuasa menahan pemandangan di depanku. Kembali airmataku tak terbendung.
“Kita harus membawanya kembali ke benteng. Piphylia akan menyembuhkannya. Bawa Cleo pergi dari sini Darr!” teriakku resah.
Darren mengangguk lemah. “Trimakasih Cal, kau memang ksatria yang hebat.”
Aku hanya terisak tak tahu harus mengucapkan kata-kata apapun.
“Kita harus kembali. Mereka mulai mendekat!” seru Brisa tegang.
Benar saja. Sepuluh orang berjubah hitam nampak berlarian keluar dari jejeran cemara. Tangan mereka terlihat mengepal dan bersiap-siap untuk menyarangkan serangan. Salah satu dari mereka terlihat membuka tudung kepalanya dan terseyum licik kearah kami. Laki laki berjubah hitam itu adalah Roven Lefre. Penyihir sombong yang hampir saja membunuhku.
Wajah Roven menyeringai kejam begitu melihatku.
“Ness bantu aku menahan mereka selama mungkin! Brisa bawa mereka kembali ke benteng Amorilla secepatnya. Kami akan menyusul!” perintah Titus tegang seraya melirik kearah Ness yang hanya menganggukkan kepala pada Titus.
“Bodoh!! Kami tidak akan membiarkan kalian kembali ke benteng Zordius dengan mudah!” teriak Roven seraya melayangkan serangan sihir angin kearah Titus yang langsung terpental keras sepuluh langkah dan tertelungkup ke tanah.
“Kembali ke benteng!! Larilah secepat mungkin!” teriak Brisa pada aku dan Darren yang menggendong Cleo dengan susah payah.
Sementara itu Ness menyarangkan serangan jarak jauh dan membuat seorang penyihir hitam Zorca terpental saat hendak mengarahkan serangan pada Brisa.
Sementara Titus mencoba bangkit dengan susah payah. Kulirik penyihir-penyihir hitam itu dengan geram. Dan berbalik untuk melontarkan sihir apiku pada mereka.
“Dengan segala kekuatan cahaya bumi. Bakar dan hanguskan keinginanku!!! Raungku seraya melontarkan bola cahaya kebiruan di telapak tanganku ini, kearah tiga orang pengikut Zorca yang langsung mati seketika karena tersambar api sihirku yang berwarna biru terang dan berkekuatan besar.
Mereka begitu terkejut melihat serangan sihir apiku yang berbeda.
Roven menatapku kesal dan sedikit terkejut. Ia tidak mengira jika aku ternyata dapat melontarkan sihir api sebagai serangan balasan.
“Dariman kau mempelajari sihir api peri itu hahh?! Brisa terlihat shock dan penasaran.
Tak kuperdulikan pertanyaan Brisa dan hanya berkonsetrasi pada musuh kami yang semakin banyak bermunculan.
 Bakar dan hanguskan keinginanku!!! teriakku lantang seraya kembali menyarangkan sihir apiku pada dua orang penyihir Zorca yang berlari kencang kearahku.
Salah satu dari mereka berhasil menghindar sementara yang satunya langsung menjerit kesakitan dan terjatuh ketanah.
“Pergi dari sini Calista!!” Brisa menarik lenganku dengan kesal.
Aku, Brisa dan Darren terus berlari menuju gerbang Amorilla.
Pintu gerbang sudah dekat. Kedua mataku mencari-cari sosok Titus dan Ness.
Dari jarak pandangku terlihat Ness dan Titus kewalahan akan serbuan para penyihir Zorca.
“Aku harus menolong Titus dan Ness, Bris!” teriakku seraya berbalik kembali menuju pertempuran.
“Apa kau sudah gilaa hah?! teriak Brisa marah.
Aku tak perduli dan berbalik arah kembali ke tempat Ness dan Titus yang tengah bertempur. Sementara Brisa yang menemani Darren yang tengah menggendong Cleo hanya pasrah dan kembali berlari menuju benteng Amorilla.
Kulihat pertempuran terlihat sengit antara Titus, Ness dengan Rufus Black dan Herzog yang bertubi-tubi melontarkan sihir api mereka yang tertuju pada Titus dan Ness.
Bakar dan hanguskan keinginanku!!! teriakku marah tertuju pada Rufus yang nampak terkejut mendapatkan serangan sihir apiku.
Rufus menahan seranganku dengan berlindung dibalik cemara yang seketika itu juga terbakar dahannya.
Titus menatapku tegang. “Darimana kau belajar sihir api para peri itu!!” tanya Titus seraya melayangkan serangan sihir angin keberbagai arah. Seorang penyihir hitam Zorca berteriak ketakutan dan terhempas ke tanah.
“Ness yang mengajariku!” sahutku seraya menghalau penyihir Zorca yang hampir melukai Ness dari sisi kiri.
Ness mengangguk padaku sebagai ucapan rasa terimakasih.
“Bagaimana menurutmu Titus? Karena aku mulai menyukai sihir api ini!” seruku tertahan.
Bibir Titus berkerucut. “Kau cukup hebat nak! Sihir api birumu itu cukup mengesankanku!” serunya Titus bernada pujian dengan kening berkerut lalu meneriakkan mantra angin dan melontarkan sebatang pinus tua yang teronggok ditanah kearah salah satu penyihir Zorca yang langsung roboh tak sadarkan diri.
Kulirik kebelakang dan melihat punggung kekar Darren yang tengah menggendong kekasihnya itu menghilang ke dalam bentenag Amorilla.
“Mereka telah berhasil masuk!” teriakkku lantang pada Titus dan Ness.
“Bagus!” balas Ness seraya menarik tanganku dan berlari menjauhi arena pertempuran diikuti langkah Titus dibelakang kami.
Kulirik Ness yang masih memegang tanganku kuat-kuat.
Kucoba melepaskan genggaman tangannya perlahan, namun Ness malah mengencangkan pegangannya dan melirikku dingin.
Jangan keras kepala. Aku hanya ingin melindungimu Calista. Suara lembut Ness yang penuh ketegasan bermain-main di benakku.
Aku tidak membutuhkan perlindunganmu. Sahutku tajam mencoba membalasnya.
Wajah Ness mengeras. Meski kami berkomunikasi dengan suara batin tapi aku dapat merasakan kekesalan Ness padaku.
Sebuah serangan terlontar kearah kami. Roven mengarahkan sihir anginnya hingga membuat aku, Ness dan Titus terlempar ke tanah.
Meski terasa nyeri diseluruh tubuh setidaknya aku berterimakasih pada Roven karena telah membuat genggaman tangan Ness terlepas dari jemariku.
“Calista, kau tidak apa-apa?” Ness terlihat cemas dan meraih lenganku.
Aku mengangguk sambil berusaha bangkit dari tempatku terjatuh.
Dahiku tergores batu dan terasa perih. Ness mengusapnya pelan dan menatapku resah.
“Ness, bawa Calista pergi dari sini. Aku akan menghalau serangan mereka.” perintah Titus.
“Tidak Titus!” gelengku kuat.
“Pergiii sekarang Ness!! perintah Titus kesal.
Dengan cepat Ness menarik tanganku dan mengajakku berlari.
Napasku memburu kulirik Titus dengan resah. “Kita tidak seharusnya meninggalkan Titus, Ness!”  teriakku marah.
“Lihat keatas!” seru Ness.
Kudongakkan kepalaku mengikuti kemauan Ness.
Prechia duduk diatas Pegasus yang melayang di udara. Prechia terlihat merapalkan mantra seraya mengacungkan tongkat Crystal yang mengeluarkan sinar menyilaukan kearah pengikut Zorca yang terlihat menutupi mata mereka.
Titus dengan cepat melompat ke punggung Pegasus dan duduk dibelakang Prechia. Pegasus terbang dengan sangat cepat menuju gerbang Amorilla.  Seiring dengan terbukanya pintu gerbang Amorilla. Aku dan Ness juga telah sampai dan langsung berlari masuk ke dalam.
Kuatur napas dengan penuh rasa lega.
Kami semua selamat.
Pengikut Zorca yang nyaris mengejar aku dan Ness langsung terlempar keras ke tanah begitu tubuh mereka menyentuh sisi luar gerbang Amorilla yang telah terlindung mantra Zordius.
Mereka meraung kesakitan. Roven terlihat marah dan berteriak-teriak memerintahkan mereka untuk terus maju menembus benteng Amorilla tanpa ampun.
Kulirik Prechia dan Titus turun dari Pegasus dengan bernapas lega.
Tapi pertempuran ini belum usai.
Karena teriakan para pengikut Zorca masih terdengar membahana berusaha menembus bentang Amorilla. Raungan kemarahan mereka sedikit meruntuhkan ketegaran kami yang berada di dalam benteng ini.
Brisa berlari kearahku. Brisa memelukku erat dan nyaris menangis.
“Aku bangga padamu Cal!” ucapnya seraya memegang wajahku dengan kedua tangannya.
Aku hanya mengangguk haru.
Quilla berlari kencang dan menghampiriku. “PENYIHIR SIAL!!” maki Quilla penuh amarah. “Berani sekali kau membahayakan keselamatan Ness demi aksi kepahlawanan konyolmu itu!” hardik Quilla lagi dengan kasar.
“Hentikan Quilla. Kau tidak berhak menyalahkan Calista!” seru Ness marah.
“Kau tidak akan pernah mengerti arti dari ikatan persaudaraan para ksatria lembah Crystal yang sesungguhnya!” sahut Brisa tak kalah keras berusaha membelaku.
“Aku akan membunuhmu jika kau mengucapkan sepatah kata lagi padaku, penyihir!” ancam Quilla pada Brisa.
“CUKUP QUILLA!!” Seru Zordius bergema marah.
Semua terdiam seketika begitu mendengar seruan Zordius.
Zordius menghampiri aku yang hanya menatap lurus-lurus kearahnya.
“Maafkan perlakuan putriku padamu selama ini,” ucap Zordius sopan.
Quilla meradang dan berteriak kesal. “Ayah!! Mengapa harus merendahkan diri pada penyihir sial itu. Dia tidak sederajat dengan kita!!” protes Quilla marah
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Quilla yang langsung shock mendapat perlakuan seperti itu dari sang ayah di depan seluruh mata yang menyaksikan.
Quilla terisak dan berlari kencang menyembunyikan rasa malu. Ratu Orelia hanya dapat memandang cemas kearah Zordius dan menyusul Quilla ke dalam istana.
Dengan wajah tenang Zordius kembali mengarahkan pandangannya padaku. Kutatap mata Zordius tanpa merasa takut lagi.
“Aku melihatmu bertempur dari sini. Kau memang cucu seorang penyihir hebat seperti kakekmu Ghorfinus. Hanya penyihir hebat yang dapat mengubah sihir api bangsa kami menjadi senjata yang sangat mematikan.. Sebaiknya pergunakan dengan bijak karena aku tak ingin kau menodai kesuciannya. Kami menggunakannya hanya untuk kebaikan. Bukan seperti sihir api Zorca yang membawa kematian.” ucap Zordius lembut.
“Aku terpaksa mempergunakannya untuk melawan pengikut Zorca. Setidaknya itu yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan kami,” ucapku seraya mengangguk hormat.
Zordius menatapku. “Kau melakukannya untuk membela sebuah jiwa. Ketulusan hatimu benar-benar membuatku kagum.”
Kuanggukkan kepalaku sebagai tanda penghormatanku pada Zordius.
Zordius balas mengangguk lalu berjalan meninggalkan benteng dan memasuki istana.
Sementara para pengikut Zorca berusaha keras menembus mantra yang dibuat Zordius disekeliling benteng Amorila ini. Sayangnya setiap mereka mempergunakan sihir mereka untuk menembus benteng ini. Sihir mereka menjadi bumerang yang kembali menyerang mereka. Bahkan diantara mereka ada yang mati terkena sihir mereka sendiri yang terlontar kembali pada mereka setiap mereka melontarkan sihir ke benteng Amorilla.
Kualihkan pandangan jauh ke depan. Penyihir kesayangan Zorca, Rufus Black mulai terlihat kesal dan berteriak marah dengan melampiaskan kekesalannya pada Herzog Mandal. Sementara  itu Chaides terlihat santai duduk beristirahat diatas sebatang pohon besar dan terlihat tak begitu perduli dengan kejadian yang tengah berlangsung di hadapannya.
Siang itu serangan pengikut Zorca berhenti. Dibalik benteng Amorilla tak terlihat satu pun penyihir Zorca yang tadi pagi menyerang. Sepertinya mereka telah pergi untuk menyusun strategi baru.

 Writer : Misaini Indra        
Image from : http://davidrapozaart.deviantart.com/art/Real-Mean-Witch-Battle-150732499


Monday, 4 August 2014

PART II : CALISTA KAZ “BANGKITNYA SANG NAGA”



10. PATAH

Malam itu sepulang dari makan malam di istana Amorilla, Oogie terus mengekoriku ketika kukatakan hendak berjalan-jalan sebentar menikmati cahaya bulan purnama yang begitu mempesona menyinari malam yang indah ini.

Mulut kecil Oogie tak henti-hentinya menceritakan keindahan para penari kerajaan yang begitu gemulai menari menghibur para tamu sepanjang makan malam berlangsung.
                                                                                     “Seandainya saja aku punya kesempatan mengajak salah satu penari itu untuk berdansa denganku. Kurasa aku tidak akan bisa tidur malam ini, Cal.”  Kekeh Oogie. 
 “Senang mendengar angan-anganmu yang tidak kesampaian itu Oog,” sindirku sambil tertawa.
“Kenapa tertawa?  Kau pikir aku tak pantas berdansa dengan mereka?” delik Oogie kesal.
Aku semakin tertawa lepas.
“Bukan itu. Hanya saja sulit bagiku membayangkan kau berdiri di samping salah satu penari itu Oog. Sadarkah kau begitu tingginya tubuh mereka.”
“Mengapa kau senang sekali menghancurkan semua harapanku Cal,” Oogie menggelengkan kepalanya.
Aku pun kembali tertawa. “Maafkan aku.”
Tawaku terhenti begitu sepasang mata coklat keemasan mengawasi kami dari jauh. Perlahan namun pasti pemilik sepasang mata emas itu melangkah menghampiriku.
“Lihat itu! Sepertinya masalah tak henti-hentinya datang padamu Calista,” ujar Oogie sinis.
Kuhembuskan napas panjang saat melihat Ness mulai mendekati kami.
“Apapun yang dimintanya sebaiknya kau menolak. Demi kebaikanmu sendiri.” Oogie mengingatkanku dengan merendahkan nada suaranya.
“Dan kuharap kau menjaga mulutmu jika dia sudah berdiri di sini. Aku tidak ingin kau membuatnya gusar karena aku tak mau melihat kalian mencoba membunuh satu sama lain,” ucapku tertahan seraya melirik Oogie yang mengerutkan dahi memandangi Ness.
“Maaf tapi aku tidak bisa berjanji padamu. Karena Ferin adalah makhluk aneh yang menyebalkan,” sahut Oogie asal.
Kukatupkan rahangku kuat-kuat. Aku jadi teringat kejadian di kamar ku siang itu kala Ness melempar tubuh mungil Oogie dengan cepat hanya dengan kibasan tangannya karena terbakar amarah.
“Ingat Oog. Ness akan menghajarmu lebih keras jika kali ini kau kembali melontarkan kata-kata tak pantas padanya seperti tempo hari,” ingatku pada Oogie.
“Heyy! Dengar Calista, Dialah yang memulai perselisihan ini terlebih dahulu! kau kan melihat semua itu dengan sangat jelas,” sungut Oogie kesal.
 “Aku tahu itu tapi Ness tak akan perduli siapa yang memulai. Tolonglah Oog, turuti saja permintaanku,” desahku resah.
Oogie menarik napas panjang.
“Berhentilan bermain api. Jauhi Ferin. Aku bisa melihat keadaan semakin kacau kini dengan kehadiranmu dalam percintaan Ferin dan Quilla. Justru kaulah yang akan tersakiti nantinya Calista,” sindir Oogie sinis.
 “Terimakasih banyak telah mengingatkanku Oog, kau sungguh perhatian padaku,” sahutku kesal.
Oogie tersenyum sinis, “Itulah gunanya seorang teman, sayang.”
Ness kini berdiri di depan kami. Matanya tak berkedip menatapku.
“Ikutlah denganku. Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” nada suara Ness terdengar memerintah.
Oogie mencondongkan tubuh mungilnya kearah Ness lalu berdehem keras.
“Calista tidak akan pergi kemana pun tanpa aku,” lengking Oogie.
Ness hanya menarik napas pendek lalu menatap Oogie datar.
“Kesetianmu itu sudah melebihi harapan semua orang. Harus kuakui kau sangat hebat Kircey tapi.. kau itu tak lebih dari seekor anjing penjaga yang tengah melakukan tugas. Sebaiknya kau meredam sedikit gonggonganmu padaku,” sindir Ness santai.
“Kau memang brengsek dan tak tahu malu!” seru Oogie kesal.
“Sudahlah Oog. Hentikan semua ini,” pintaku seraya meraih lengan Oogie untuk menjauhi Ness.
Ness tertawa pelan. Begitu datar dan merdu.
“Kau harus mengajarkan Kircey cara bersikap di depan tamu tuannya, Calista.” sindir Ness tajam pada Oogie.
“Setidaknya aku tidak harus menjual diriku pada Zordius seperti yang telah kau lakukan selama ini. Terima takdir mu dan nikahi putri sinting itu. Kau tahu Ferin? Aku ini jauh lebih berharga dibanding kau dan sifat munafikmu itu,” ejek Oogie puas sambil tersenyum sinis.
Ness terdiam. Sepasang matanya hanya mengawasi Oogie.
“Kau ikut denganku atau tidak Cal?”  tanya Ness padaku tanpa melepaskan tatapannya pada Kircey.
Kulangkahkan kakiku untuk menghampiri Ness namun Oogie menarik tanganku dengan cepat. “Ingat! Terakhir kali kau ikut dengannya kau terlibat masalah dengan Quilla. Pikirkan itu!”
Kutatap Ness ragu.
“Kalian tidak perlu takut. Aku bebas menemui siapapun yang ku mau. Quilla tahu itu dan dia tidak akan bisa melarangku,” ujar Ness tinggi seraya menatap tajam pada Oogie.
“Quilla akan tetap menyalahkan Calista jika semua itu berhubungan dengan kau Ferin! dan Quilla tidak akan berhenti sampai melihat Calista hancur!” Oogie berteriak marah.
Ucapan Oogie ada benarnya. Terakhir kali aku terlihat berduaan dengan Ness, Brisa dan Cleo terluka terkena pelampiasan amarah Quilla.
“Jika ada yang ingin kau sampaikan padaku, kau bisa mengatakannya disini.” ucapku pelan.
Ness tersenyum kecut. “Kini kau mulai termakan ucapan Kircey.”
“Aku benar-benar lelah Ness. Dan sikapmu semakin membuat semuanya begitu melelahkan untukku…”  kutatap Ness takut-takut.
Ness tertegun.
Oogie memandangku dengan sorot aneh dan kerut di dahi sempitnya.
Kubuang pandanganku dari tatapan Ness.  “Lupakan saja perkataanku. Tapi aku benar-benar sangat lelah dan tidak dapat berpikir jernih untuk saat ini..
Ness meraih lenganku dengan sedikit memaksa.
“Ikut denganku dan berhenti mendramatisir keadaan,” ucap Ness mencoba membujukku.
Oogie tidak tinggal diam. Dengan penuh emosi Oogie menarik tanganku dari cengkraman tangan Ness.  
“Apakah kau sudah tuli Ferin. Calista tidak ingin ikut denganmu mengerti!” seru Oogie marah.
“Aku tidak tuli. Mungkin kau lah yang sudah mulai sinting dan haus pujian Prechia untuk tugas bodohmu menjaga Calista!” ejek Ness sinis.
“Brengsek!!” dengan sekuat tenaga Oogie melayangkan tinjunya ke wajah Ness.
Ness terjatuh.
Aku mencoba melindungi Ness dan berteriak kesal pada Oogie. “Hentikann Oog! Sudah cukup!”
Oogie terlihat marah dan mengepalkan tinjunya ke udara. “Brengsek!!”
Dengan menggerutu Oogie berjalan pergi meninggalkan aku dan Ness yang kini terduduk di tanah.
Kulirik pipi Ness yang mulai terlihat membiru. Aku berjongkok disamping Ness dan mengusap lembut pipi Ness dengan cemas. “Kau tidak apa apa?”.
Ness memegang tanganku yang menyentuh pipinya. Meremasnya pelan dan menatap mataku dengan sorot mata emasnya yang terlihat aneh ketika menatapku. Lalu dengan cepat kedua tangan Ness memegang wajahku, mendekatkannya ke wajah tampannya. Aku dapat merasakan hembusan napasnya yang memburu.
Dengan kasar Ness mencium bibirku tanpa memberi kesempatan untukku bernapas. Aku tak kuasa menolak dan terhanyut dalam kehangatan ciumannya itu. Perlahan kurasakan kelembutan di bibirnya. Rasanya begitu menyenangkan. Aku merasa tenang dan nyaman. Dengan kesadaran penuh aku membalas ciumannya tanpa merasa takut akan rasa bersalah. Seakan Ness hanyalah milikku seorang. Kami begitu menikmatinya. Dan ketika Ness menarik bibirnya perlahan-lahan menjauhi bibirku, ada perasaan kesal karena aku tak ingin ia menghentikannya.
Kuhembuskan napas panjang mencoba untuk mengendalikan perasaan yang bergemuruh di hatiku. Membuka kedua mataku dan mendapati Ness tengah mengamatiku dengan senyum tipis di bibirnya yang indah. Kubuang pandanganku darinya. Dia benar-benar telah membuatku tersipu karena malu. Tangan kanan Ness menyentuh dagu ku dan mengarahkan wajahku untuk menatapnya. Untuk sesaat aku begitu terpesona menatap sepasang mata coklat emasnya yang terlihat berkilau di tengah indahnya sinar bulan purnama malam ini.
“Kau telah meracuni pikiranku,” ucap Ness pelan seraya menatapku tak berkedip.
Kata-katanya melambungkan perasaanku. Ucapannya seolah mempertegas perasaannya padaku.
Ness menarik napas panjang. “Aku …
Jantungku berdebar kencang mencoba menahan gemetar yang kurasakan diseluruh tubuhku. Sepertinya Ness hendak mengungkapkan perasaannya padaku.
“Maafkan aku. Seharusnya aku tidak mencium mu tadi,“ ucap Ness nyaris tak terdengar.
Aku tertegun.
Hanya itu. Batinku lemas.
Setelah ciuman kami yang begitu hebat dan deru jantung yang saling menderu. Kini ia menyesal telah menciumku.
Ness kemudian berdiri. Mengulurkan tangannya padaku.
Dengan rasa marah yang tertahan. Kuputuskan untuk tidak menyambut uluran tangannya. Aku berdiri cepat lalu memalingkan wajahku darinya.
Dengan sedikit terkejut tangan Ness yang kokoh menarik lenganku.
“Lepaskan aku!” teriakku marah seraya menepis pegangan tangannya.
Ness tak mau melepaskanku begitu saja sebaliknya ia merengkuh tubuhku dengan kedua tangan kokohnya lalu memelukku kencang. Sepasang mata Ness menatapku dalam.
“Dengarkan aku dulu Calista,” desahnya dengan nada sedikit bersalah.
“Aku tidak perlu mendengarkan apapun lagi darimu. Kata-katamu hanya membuatku marah!” seruku kesal.
Sepasang mata emasnya yang berkilau indah menatapku dengan resah,” Lalu apa yang harus kukatakan padamu untuk membuatmu tenang Calista? Katakan padaku?! sahut Ness tak kalah kesalnya.
Kudorong tubuh Ness dengan marah. “Lepaskan akuu!! Menjauhlah dariku!.”
Ness mengendurkan kedua tangannya dan membiarkan aku lepas dari pelukannya. Kubalikkan tubuhku dan berlari kencang meninggalkannya. Meninggalkan Ness yang menatapku dengan wajah penuh penyesalan.
Aku terus berlari.
Kurasakan airmataku mulai mengalir hangat membasahi pipi.  Hatiku terasa sakit. Aku merasa sangat bodoh saat ini.
Seharusnya aku menahan diri dan menolak ciumannya. Seharusnya aku menjauhi Ness sejak awal. Ness tidak akan pernah menyatakan perasaannya padaku sampai kapan pun karena dia tahu, itu hanya akan menyakiti perasaanku saja. Seharusnya aku tahu itu.
Ness tidak mau memberikan harapan palsu padaku. Karena kami memang tidak pernah ditakdirkan untuk saling memiliki.
Aku benar benar lelah. Tubuh dan pikiranku seakan mati perlahan. Kulihat wajah cemas Oogie yang berdiri di depan pintu kamarku. Matanya menyipit dan mulutnya mengerucut menanyakan banyak pertanyaan tentang Ness.
Mendengar nama Ness yang disebutnya membuat hatiku semakin sakit. Rasa kecewa yang mendalam ini benar-benar menguras pikiran dan energiku. Kesedihan ini begitu melelahkan. Kurasakan pandanganku mulai mengabur. Kepalaku pun terasa pusing. Lambat laun pandanganku menjadi gelap. Samar-samar kudengar teriakan Oogie memanggil manggil namaku. Setelah itu aku tidak mendengar atau melihat apapun. Yang ada hanyalah kegelapan.
Aku tersadar dengan Brisa yang duduk disamping tempat tidurku. Brisa tersenyum haru dengan airmata membasahi pipinya.
“Sukurlah kau telah sadar Calista,” ujar Brisa lega seraya mencium keningku.
“Aku haus ..
Dengan cepat Brisa mengambil segelas air lalu memberikannya padaku. Kuminum dengan rakus tanpa menarik napas.
Brisa meraih gelas kosong dari genggaman tanganku. Lalu menaruh gelas tersebut diatas meja. Dan kembali duduk untuk mengamati wajahku.
“Kau tak sadarkan diri selama dua hari dan membuat kami semua ketakutan karena cemas,“ ucap Brisa hati-hati.
Aku hanya diam.
“Hampir semua orang ingin melihat kondisimu. Hingga aku meminta Oogie dan Darren melakukan penjagaan ketat di depan pintu kamar kita dan memilih penjengukmu dengan hati-hati,” ujar Brisa.
“Aku tak tahu jika aku begitu dirindukan orang,” sahutku getir.
Brisa tersenyum. “Siapa yang tidak? Tentu saja kami sangat merindukan mu...
Aku tersenyum kaku pada Brisa
“Seharusnya kau tidak mengijinkan orang mengunjungiku Bris. Lihat betapa menjijikkan rambutku ini,” gusarku sambil memegangi ujung rambutku yang dua hari ini tidak kucuci.
“Anehnya, kau terlihat semakin cantik saat tak sadarkan diri,” hibur Brisa padaku.
“Kau yakin tak menginginkan sesuatu padaku untuk ucapanmu itu?” sindirku.
Brisa tergelak senang mendengar sindiranku.
Aku hanya terenyum datar. “Trimakasih telah berada disampingku selalu, Bris?”.
Brisa menganggukkan kepalanya padaku dan tersenyum lembut.
Pintu kamar terbuka.
Oogie dan Darren tersenyum lebar menatapku. Oogie menghambur cepat dan duduk disamping tempat tidurku.
“Kau sadar!” ujar Oogie girang
Aku tertawa pelan
“Oogie sempat menangis saat pertama kali kau tak sadarkan diri,” ledek Darren.
“Kau sungguh berlebihan kera besar,” protes Oogie kesal.
Darren hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut.
“Oh ya monyet kecil? Justru kau yang terlalu berlebihan karena menolak siapapun yang hendak mengunjungi Calista,” sambung Darren geli.
“Larangan konyol Oogie membuatku harus menjelaskan pada semua orang di Amorilla jika kau tidak terkena penyakit menular atau kutukan penyihir jahat,” ujar Brisa.
Oogie hanya menaikkan kedua bahunya seraya menatapku.
“Benar-benar merepotkan,” sambung Brisa lagi sambil menepuk kepala Oogie gemas.
“Ouch! Untuk apa kau lakukan itu padaku Bris?” protes Oogie. “Kau kan tahu aku terpaksa melakukan semua itu supaya Ferin tidak datang mengganggu Calista lagi,” seru Oogie.
Untuk sesaat jantungku berhenti berdetak mendengar ucapan Oogie.
“Tapi sayangnya si brengsek itu memang tidak punya perasaan. Karena dia sama sekali tidak datang untuk sekedar melihat keadaanmu,” ucap Oogie puas seraya melirikku.
“Ness tidak seperti itu Oog. Dia hanya tidak mau terjadi kesalah fahaman lagi jika ia mengunjungi Calista disini. Kau kan tahu betapa menyebalkan sikap Quilla pada Calista,” sahut Darren membela sahabatnya itu.
“Sudahlah, kalian berdua benar-benar tolol jika membahas Ness saat ini.” ucap Brisa setengah berbisik seraya melirik kearahku yang hanya diam memandangi jendela kamar.
Oogie dan Darren menjadi salah tingkah.
“Sebaiknya kau meminum ramuan yang telah disiapkan Piphylia untukmu.” Brisa meraih botol diatas meja kayu disamping sisi tempat tidurku.
“Piphylia…” bisikku pelan.
Semua terdiam sesaat.
“Wanita itu datang mengunjungiku,” senyum tipis terulas di bibirku.
“Tentu saja Piphylia datang. Dia kan harus menyembuhkanmu dan memastikan keadaanmu akan baik-baik saja,” sahut Brisa riang.
Aku kembali terdiam. Berusaha keras, mencoba untuk tidak memikirkan Ness. Kuraih ramuan dari gelas yang disodorkan Brisa padaku. Lalu meminumnya perlahan.
Malam itu aku hampir tidak bisa tidur. Mungkin karena terlalu banyak memejamkan mata saat tidak sadarkan diri. Kuakui tubuhku memang terasa sangat lelah diitambah lagi rasa penat di otakku memikirkan urusan Arkhataya.
Kucoba turun dari tempat tidurku. Brisa nampak begitu lelap. Sepertinya ia kelelahan karena telah menjagaku selama dua hari ini. Kulirik jendela kamar. Ada rasa aneh menjalari seluruh tubuhku. Rasanya seperti ada bisikan suara yang memintaku untuk menghampiri jendela itu lalu membukanya.
Kucoba untuk menepiskan keinginan itu. Tapi rasa itu semakin kuat. Hingga akhirnya aku tak kuasa untuk tidak melakukannya. Kuhampiri jendela kamar dan membukanya perlahan.
Kulihat Ness berdiri tak jauh dari jendela kamar dan tengah menatapku. Sepasang mata coklat keemasannya terlihat sayu. Raut wajah Ness yang biasa terlihat sinis kala menatapku kini terlihat begitu cemas bercampur lega. Segaris senyum kaku terlihat samar tertuju padaku.
Aku hanya membeku. Menatapnya dengan pandangan kosong.
Kau baik baik saja. Suara lembut Ness bermain dalam pikiranku. Ness mencoba mengajakku berbicara lewat pikiranku. Kubalikkan tubuhku untuk menghindari tatapannya dari kejauhan.
Jangan berpaling dariku. Aku datang karena aku sangat khawatir padamu Calista. Suara lembut Ness terdengar setengah memohon.
Kubalikkan tubuhku kembali untuk menatap Ness yang masih berdiri menatapku dari luar jendela kamar. Kupejamkan kedua mataku dan menarik napasku perlahan. Pergilah Ness. Dan jangan perdulikan aku lagi. Kubuka kedua mataku. Kini sepasang mata coklat keemasan itu terlihat semakin sayu. Memandangiku. Sepertinya jawabanku sampai juga dalam pikirannya.
Kututup jendela kamarku pelan. Membiarkan Ness yang masih tak beranjak dari tempatnya berdiri dan masih terus menatap kearahku.
Aku tidak tahu. Hati siapa yang hancur malam ini.Tapi yang aku tahu, Aku sangat lelah. Dan perasaanku begitu hampa. Aku benar-benar merasa sendirian. 

Writer : Misaini Indra        
Image from : moonglowlilly.deviantart.com