Tuesday, 26 August 2014

PART II : CALISTA KAZ “BANGKITNYA SANG NAGA” (Chapter 12)



12. PERTARUNGAN TERAKHIR

Pasukan cahaya Zordius tetap berjaga-jaga disekeliling benteng. Odile terlihat melakukan pengawasan tanpa henti. Sementara aku tak henti hentinya melayangkan pandangan dari balik celah dinding benteng untuk melihat keadaan. Darren datang padaku dengan berlinang airmata. Dipeluknya tubuh rapuhku sebagai ucapan terimakasih yang mendalam. Cleo selamat meski mengalami luka dalam yang cukup serius.
“Mereka menghancurkan beberapa urat sarafnya hingga kecil kemungkinan Cleo dapat mengerahkan tenaga dalamnya lagi,” isak Darren.
Aku terduduk lemas.
“Jika sembuh pun Cleo masih harus memulihkan syarafnya untuk kembali normal seperti sedia kala. Dan itu membutuhkan waktu yang sangat lama.” Sambung Darren berusaha menguasai diri.
“Kekuatan yang begitu besar untuk kembali pada kami membuatnya berjalan sejauh itu memaksakan syaraf-syarafnya yang terluka,” terawangku.
Darren menghembuskan napas panjang. “Mereka telah menghancurkan bakatnya Cal,”
Airmataku menggenang. “Tapi mereka tidak akan bisa menghancurkan semangatnya Darr. Berjanjilah padaku kau akan selalu berada disampingnya,”
“Aku akan selalu mendampinginya tanpa kau harus memintanya,” senyum tipis mengembang di sudut bibir Darren.
“Kita akan memenangkan pertempuran ini. Dan aku akan menghancurkan leviathan Zorca dengan bantuan Arkhataya. Kita akan kembali pulang ke lembah Crystal,” janjiku.
“Aku percaya kau akan melakukan semua itu. Aku percaya padamu Calista,” angguk Darren mantap.
“Terimakasih.“ desahku haru.
Kecemasan sedikit membuat kami merasa tidak bisa begitu saja percaya akan kekuatan mantra Zordius. Zorca adalah seorang iblis kejam yang memilki segala cara untuk menghancurkan semua yang diinginkannya. Mengingat dia menjual jiwa malangnya pada ruh jahat penghuni neraka, semakin meyakinkanku jika Zorca tidak akan menyerah semudah itu. Zorca akan menembus benteng Zordius. Hanya masalah waktu saja hingga itu terjadi. Dan saat itu terjadi. Aku harus membangunkan Arkhataya dan sekuat tenaga meyelamatkan jiwa kami dengan segala resiko yang ada.
Dan saat itu terjadi. Adalah saat dimana jiwa Ness berada dalam bahaya.
Senja telah tiba. Kabut tipis mulai turun perlahan. Hening. Dan tidak ada tanda-tanda apapun akan kedatangan musuh. Pasukan cahaya Odile yang terus berjaga disekitar benteng seolah tak pernah merasakan lelah dan tetap waspada.
Melihat keadaan para penduduk lembah Crystal yang terlihat resah membuatku iba. Aku dapat memahami rasa takut dibenak mereka jika Zorca benar-benar datang untuk membinasakan kami semua. Beberapa penduduk nampak menyalami tanganku dan mengucapkan kata-kata pengharapan secara bersamaan. Kutatap wajah mereka dengan perasaan getir berkepanjangan. Aku bahkan tak sanggup berpikir jernih jika aku adalah alasan bagi mereka untuk bertahan dan membawa mereka kembali ke tanah kelahiran mereka, lembah Crystal. Terkadang aku berharap ini hanya sebuah mimpi buruk dan berharap Orion masih hidup untuk menyelesaikan persoalanku.
Kupandangi Ness yang terlihat tengah menikmati secangkir tehnya. Terlihat tenang seolah-olah tidak merasakan ketegangan yang kurasakan. Kualihkan pandangan di depanku. Semua terlihat tidak bersemangat meski Zordius bersikap seolah semuanya wajar. Bahkan raja peri yang elegan itu dengan santai mengangkat gelas minumnya mengajak kami untuk bersulang demi kemenangan Amorilla.
Kutatap piring-piring perak berisi makanan lezat yang terhidang diatas meja makan ini. Lalu aku teringat oleh para pengungsi yang berlindung di dalam benteng istana.
“Apakah para pengungsi telah mendapatkan ransum makanan meraka?” tanyaku pelan pada Brisa yang mengunyah lambat-lambat sambil termenung.
“Zordius telah memastikan mereka mendapatkan jatah makan setiap hari yang di poskan di taman istana,” sahut Brisa gundah.
Aku kembali terdiam.
“Bisakah aku berbicara denganmu sebentar Calista.” Sosok gemuk berwajah ramah berdiri disampingku.
Aku mengangguk hormat pada Prechia. “Tentu saja, Prechia.”
Prechia membawaku ke kamarnya. Dan mempersilahkan aku untuk duduk.
Aku duduk dengan resah. Prechia sepertinya dapat menangkap kegelisahanku.
“Kau penyihir muda yang brilian Calista.” Ucapnya tanpa basa basi.
“Terimakasih atas pujiannya tapi kurasa semua penyihir bisa mempelajari apapun yang mereka inginkan, bukankah begitu Prechia?” sahutku kikuk.
Prechia tertawa. “Kau begitu rendah hati Calista. Dan aku suka cara pandangmu itu.”
Kini Prechia menatapku lekat lekat. “Kau tahu nak. Penyihir lain membutuhkan panduan dan pengawasan ketika mempelajari sebuah mantra sihir. Tapi kau! Kau tidak membutuhkan semua itu. Kau hanya perlu mendengar dan melihat sekali dan kau melakukannya dengan sangat baik.” Puji Prechia.
Wajahku memerah.
“Kau mengingatkanku pada Orion muda.” Kenang Prechia tersenyum sendirian.
“Kurasa aku hanya beruntung  karena memiliki insting yang kuat,” sanggahku.
Prechia tertawa lepas. “Belum pernah aku tertawa seperti ini sejak mereka merampas semua yang kita miliki di lembah Crystal,” desahnya getir.
“Aku akan merebut kembali rumah kita Prechia, percayalah padaku,” ucapku meyakinkannya.
“Aku tahu. Dan aku percaya padamu,” angguk  Prechia lembut.
Tanpa sadar kupeluk Prechia dengan perasaan haru.
“Berjanjilah kau akan tetap hidup nak,” parau Prechia penuh kesedihan.
Kulepaskan pelukanku dan tertawa getir. “Aku tidak akan mati hari ini jika itu yang kau maksudkan,” kerlingku mengodanya.
Prechia tertawa lepas mendengar gurauanku.
“Tentu saja tidak. Tidak hari ini dan hari kapan pun. Karena kami semua akan berdiri disekelilingmu dan mengorbankan nyawa untukmu nak,” isak Prechia pecah.
Kuusap airmataku yang mulai mengalir dari kedua sudut mata. Karena aku tak ingin terlihat rapuh di mata Prechia.
“Sepertinya aku membutuhkan semua itu,” anggukku seraya tertawa dalam isak tangis.
Prechia mengangguk haru. “Kami semua akan berjuang untukmu dan untuk kembalinya tanah leluhur kami.”
Ucapan Prechia semakin membuat beban dipundakku terasa berat. Ada sedikit rasa bersalah karena tidak menceritakan hal yang sebenarnya perihal Arkhataya.
Kulirik Ness yang tengah duduk bersedekap dan melamun dengan perasaan kacau.
Kulangkahkan kaki ku lebar-lebar dan berdiri dihadapannya dengan wajah tegang.
“Aku akan menceritakan sejujurnya pada Titus akan permintaan Arkhataya, Ness!“ nada suaraku terdengar tertahan.
Ness menatapku dalam. “Jika kau melakukan itu. Kau akan menghancurkan harapan semua orang sekaligus memberi alasan bagi Zordius untuk mengusir kami keluar dari Amorilla. Itukah yang kau inginkan??”
Kugelengkan kepalaku pelan. “Kau terlalu berlebihan, justru Titus akan membantu kita mencari jalan keluar untuk permasalahan ini.”
Ness berdiri dari tempat duduknya. Kini kami saling berdiri berhadapan.
“Aku mengenal Titus lebih dari yang kau tahu Calista. Aku tahu cara berpikirnya. Dia tidak akan mau mengambil resiko besar. Titus akan mencegah rencana kita membangkitkan Arkhataya untuk melawan leviathan Zorca.”
“Tapi kita belum tau pasti Titus akan bersikap seperti itu,” bantahku.
Ness mengatupkan rahangnya menahan kekesalan. Wajahnya pun terlihat tegang.
“Membangunkan Arkhataya adalah satu-satunya harapan kita untuk menghancurkan Zorca dan kembali ke lembah Crystal. Dan aku tidak mau berdebat lagi denganmu. Kuharap kau mengerti itu!!” sentak Ness putus asa.
Kubuang pandanganku darinya. Karena aku sangat tidak menyukai nada suaranya padaku.
“Dalam peperangan selalu ada yang dikorbankan,”desah Ness pelan.
Kupejamkan mata tak ingin menatap wajah Ness yang selalu berada di benakku. Aku benar-benar tak sanggup membayangkan kehilangan sosoknya.
Kurasakan sepasang tangan Ness meraih wajahku. “Tatap aku Calista.” Pintanya lembut.
Kubuka kedua mataku perlahan dan menatapnya sendu.
“Cobalah untuk bersikap ksatria dan perjuangkan terlebih dahulu kepentingan mereka yang membutuhkan kita. Mereka menaruh harapan besar padamu. Jangan kecewakan mereka sekarang.” Ada ketegasan dalam sorot matanya yang dalam kala menatapku.
Kuanggukkan kepalaku layaknya seorang anak kecil.
“Bagus! Sekarang bersiaplah. Sepertinya pengikut Zorca akan kembali melakukan penyerangan ketika senja tiba.” Ingatnya lagi.
Aku hanya dapat mengangguk lemah.
Dan perkiraan Ness tepat.
Sosok-sosok berjubah hitam kembali keluar dari balik pepohonan. Diantara cahaya jingga sang mentari yang mulai memudar, sosok-sosok tersebut terlihat sedikit aneh dari kejauhan.
Cara berjalan mereka yang terlihat kaku dan perlahan tanpa komando di depan mereka seolah-olah mereka bergerak sesuka hati dan keluar dari balik pepohonan secara terpisah-pisah.
Odile mulai menyerukan perintah pada para pasukan cahaya untuk bersiap-siap. Titus, Shenai dan Brisa berlari keatas benteng pertahanan dan mulai mengamati gerakan musuh. Sementara Ness, Helena, Darren, Oggie dan Agnes mulai menyiapkan barisan ksatria dan memberikan instruksi secara bergiliran.
Tak ingin tertinggal, dengan cepat aku berlari menaiki anak tangga menyusul Titus. Seseorang menarik tanganku dari belakang. Ketika aku berbalik kulihat wajah Prechia terlihat tegang, masih memegangi tanganku.
“Jangan terlalu dekat. Dan simpan energimu,” ucap Prechia penuh penekanan.
“Tapi ada sesuatu yang ganjil disana. Ada yang aneh dengan para pengikut Zorca dan aku harus melihatnya,” ujarku bersikeras.
“Aku tahu itu. Biarkan kami yang mengurus semua itu. Tugasmu adalah berkonsentrasi untuk memanggil Arkhataya demi keselamatan kita semua,” tegas Prechia.
“Prechia,” suara Shenai terdengar tegang ketika memanggil nama Prechia. Aku dan Prechia menoleh kearah Shenai secara bersamaan.
Wajah ibunda Tristan tersebut terlihat pucat. “Kemarilah. Kau harus melihat mereka!”
Dengan cepat Prechia melepaskan pegangan tangannya padaku dan berlari menghampiri Shenai. Dengan rasa penasaran aku mengikuti langkah-langkah cepat mereka dari belakang dan menaiki anak tangga ke atas benteng pertahanan Zordius ini.
 Disana sudah ada Titus, Brisa dan Odile yang menatap lurus ke depan kearah sosok-sosok manusia yang mulai bergerak perlahan menuju benteng pertahanan ini.
Kuamati dengan seksama. Meski bias-bias jingga sudah mulai memudar dan malam mulai merayap pelan. Namun aku sempat melihat sebuah sosok dengan jubah kumal dan wajah dingin berjalan lurus dengan pandangan garang. Sosok laki-laki tersebut berjalan lurus diikuti oleh sosok-sosok lain yang mulai berjalan cepat mendekati benteng ini. Postur tubuh mereka berbeda-beda ukuran, bahkan ada beberapa orang dari bangsa kurcaci dengan tubuh cebolnya mulai berteriak garang dan berlarian menuju kearah kami. Sebagian lagi berbadan besar dan kekar dengan wajah sangar dan terlihat tidak menyenangkan. Dengan senjata ditangan masing-masing berupa pedang, pisau dan gada.
Wajah Prechia pucat untuk sesaat. “Darimana orang-orang itu berasal!” seru Prechia tegang.
“Mereka adalah kaum Gregoran.” Cetus Titus.
Seketika itu juga kami menoleh kearah Titus seolah meminta penjelasan.
“Sekelompok orang yang melakukan apa saja demi mendapatkan uang untuk membeli minuman. Mereka adalah sekumpulan pemabuk, perampok dan penjudi yang memiliki kemampuan bertempur sangat baik.” Ujar Titus menjelaskan.
“Sepertinya Zorca sengaja membayar mereka untuk mengintimidasi keberadaan kita,” ucap Prechia.
“Darimana kau tahu mereka adalah para Gregoran?? bisikku pelan disamping Titus.
Titus terlihat kikuk sesaat. “Aku sering bepergian ke berbagai tempat sebelum menetap di lembah Crystal,” sahut  Titus pelan.
 “Apakah mereka dapat menembus sihir yang dibuat Zordius disekeliling benteng ini?” tanya Prechia pada Odile.
Odile menghembuskan napas perlahan. “Sihir yang dibuat Zordius hanya berlaku bagi para penyihir hitam seperti Zorca.”
“Dan mereka bukanlah para  penyihir, ” keluh Brisa cemas.
“Tenang sedikit nona Ackron.  Apapun mereka kita akan menghadapinya bersama-sama.” Ingat Prechia
Odile menatap Prechia dan kami satu-persatu. “Bersiaplah. Jika mereka dapat melewati tiang pembatas benteng di depan sana. Maka semua mantra penghalang Zordius akan pudar. Dan pertempuran kita akan segera dimulai,” desah Odile pelan.
Ketegangan mulai menghiasi raut wajah kami.
Prechia kini menatap kami satu persatu. ‘Jika mereka dapat menembus pertahanan benteng ini, kemungkinan besar penyihir hitam Zorca akan bergerak dibelakang orang-orang bayaran itu. Jadi kuminta lakukan sesuai dengan instruksi yang telah kita rencanakan bersama pada pembicaraan yang lalu.”
Semua mengangguk hormat pada Prechia sebagai tanda mengerti.
Ketakutan mereka terjadi. Tak berapa lama suara teriakan bergema dari mulut-mulut para Gregoran yang berlari cepat dan mulai mendekati benteng pertahanan istana Amorilla.
Mereka berhasil melewati tiang pembatas dengan mudah dan menghancurkan mantra disekeliling benteng dengan mudah.
“Pemanah bersiaplah!!” Teriak lantang Odile kepada pasukan cahaya yang berjejer rapih disepanjang benteng dan mulai memasang anak panah pada busur masing-masing.
“Tunggu aba-abaku!!” perintah Odile lagi.
Ketika para Gregoran telah mendekati benteng Amorilla, Odile kembali berteriak lantang, “Sekarang!!” Teriaknya lantang pada para pemanah kerajaan Amorilla.
Ratusan anak panah beterbangan di langit dan menukik tajam ke tubuh-tubuh para Gregoran tanpa ampun.
“Nyalakan obornya sekarang!!!” teriak Odile memerintahkan para prajurit cahaya untuk menyalakan obor di sekeliling benteng Amorilla.
Pemandangan menakutkan sempat menciutkan siapapun yang melihatnya karena begitu banyaknya Gregoran yang berteriak-teriak dengan beringas sambil berusaha memanjat benteng Amorilla.
Shenai, Titus dan Prechia bergerak menuruni anak tangga dan menghampiri Darren, Agnes dan Helena yang telah bersiap-siap dengan beberapa ksatria Crystal.
Brisa menarik lenganku dan berlari cepat. Brisa membawaku ke jarak pandang aman untuk melihat keadaan.
“Tunggu disini, Cal. Aku akan memanggil Ferin untuk mendampingimu hingga kau membangunkan Arkhataya.” ujar Brisa tegang.
Aku hanya mengangguk dan tidak membantah seperti biasanya.
Brisa mencari-cari sosok Ness diantara para prajurit cahaya yang berlarian menempati pos masing-masing.
“Feriiiiinnnn!!!!” teriak Brisa begitu melihat sosok Ness yang terlihat diam mengamati keadaan di bawah benteng Amorilla.
Ness menoleh kearah kami. Matanya menyorot tajam padaku dan dengan sigap melompat dan berlari kearah kami.
“Pergilah Bris! Aku akan menjaga Calista!” ujar Ness.
Brisa mengangguk lalu memelukku erat. Tubuhku bergetar hebat karena kami sadar ini adalah pertempuran terakhir hidup dan mati kami.
Brisa melepaskan pelukannya dan berlari meninggalkan aku dan Ness tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meski aku sempat menangkap airmata haru di ujung matanya.
Para Gregoran mulai merayapi tembok benteng. Bahkan sebagian sudah mulai bergerak naik dan berhasil masuk benteng. Teriakan-teriakan Titus yang mulai menyerukan rapalan mantra sihir angin mulai terdengar lantang.  Beberapa diantara mereka mulai terjengkang terkena sihir angin Titus
“Ikuti langkahku dan jangan terpisah, mengerti!” tatap Ness padaku.
Aku mengangguk patuh.
Kami berlari menghindari serangan-serangan mantra di udara. Mataku tertuju ke sisi Timur benteng Amorilla. Darren dan Agnes terlihat mulai memberikan aba-aba untuk menyerang pada ksatria Crystal yang tersisa. Dengan gagah berani para ksatria Crystal memberikan perlawanan terakhir mereka.
Sementara itu kakek Ness, Odile memimpin pasukan cahaya untuk bertempur melawan para Gregoran dengan sebilah pedang ditangannya. Odile berhasil melumpuhkan beberapa Gregoran yang berteriak-teriak menyerang dengan membabi buta.
Pertempuran terlihat imbang.
Namun beberapa pemanah prajurit cahaya terlihat berjatuhan satu persatu akibat keganasan para Gregoran yang melemparkan pisau ke dada atau wajah mereka.
Lapisan kedua dari pihak Zorca mulai memasuki benteng pertahanan Amorila. Rufus Black mulai melontarkan mantra api dan membakar semua yang mereka lewati.
 Kepanikan mulai terlihat di wajah barisan pasukan cahaya. Namun teriakan penyemangat yang keluar dari mulut pemimpin mereka, Odile mampu membuat para prajurit cahaya untuk bangkit dan kembali menyusun barisan dan membuat pertahanan disekeliling benteng.
“Calista!!” panggil Ness mengejutkanku.
Ness menarik tanganku kesal. “Lihat ke depan dan ikuti aku mengerti!!!”
“Maaf… sahutku gugup.
Seruan-seruan di sisi barat pertahanan kembali mengalihkan pandanganku.
Kulihat Shenai terlihat sangat terdesak dan dikelilingi para Gregoran yang menyerang tak henti-henti.
Icessendrios!” seru Brisa marah seraya melontarkan hujaman batu es yang keluar dari telapak tangannya. Tubuh para Gregoran tersebut seketika terlempar jauh dan tak sadarkan diri. Shenai mengangguk pada Brisa sebagai tanda terimakasih.
Aku kembali menatap punggung Ness yang berlari di depanku lalu mengikuti langkah-langkah panjangnya dari belakang.  Namun serangan api para penyihir Zorca yang terlontar kearahku tak sengaja memisahkan aku dan Ness. Sosok Ness tiba-tiba hilang dari jarak pandangku.
”Nesss!!! teriakku panik tanpa memperhatikan percikan cahaya yang diarahkan salah satu penyihir Zorca yang akan di lontarkan tepat kearahku.
Belum sempat terarah kepadaku sosok kecil berambut keriting melontarkan serangan kearah penyihir  Zorca yang hampir saja menyarangkan mantra apinya kearahku.
Senyum riang Oogie terlihat puas seraya mengerling kearahku. ”Sudah kubilang kan aku akan melindungimu,” sumbarnya bangga.
Belum sempat aku membuka mulut untuk mengucapkan terikamakasih pada Oogie. Roven Lefre melayangkan sihir anginnya kearah Oogie hingga pelindungku itu terhempas jatuh menghantam tanah. Tubuh Oogie tertelungkup dalam diam.
 Aku menjerit memanggil Oogie. Sementara tawa Roven melengking tinggi dan ia terlihat puas. Kulihat sepasang mata hitamnya yang berkilat licik menyorot tajam kearahku.
”Kau penyihir lemah yang tidak berguna. Ramalan itu hanyalah omong kosong!!.” serunya mengejek.
”Dan kau begitu bodoh karena mempercayai sebuah ramalan,” sahutku sinis seraya melayangkan mantra dizzante kearah Roven yang sama sekali tidak menduganya.
Gulungan asap hitam menderu dan menggulung tubuh Roven terbang ke udara. Wajah Roven terlihat marah dan berusaha membebaskan diri dari gulungan asap hitam buatanku. Kuarahkan kedua tanganku berputar diatas kepala lalu kulepaskan cengkaraman asap hitam ke udara hingga tubuh Roven terbanting ke tanah.
Dengan perasaan masih kesal kuhampiri tubuh Roven yang menggeliat ditanah. Dari tempatku berdiri kupandangi wajah angkuhnya yang terlihat lebam dengan pandangan puas.
”Aku tidak perduli sebuah ramalan. Tapi aku akan memastikan jika Leviathan Zorca akan mati hari ini.” Ucapku pada Roven.
Kutinggalkan Roven yang tengah meringis kesakitan.
Dengan cepat aku berlari menghampiri sosok Oogie yang masih tertelungkup.
”Bangun Oog. Kumohon.... ” parauku.
Wajah tirus Oogie terlihat pucat dan sedikit kotor oleh tanah.
”Ayolah Oog. Kau harus bangun. Kau harus melindungiku,” sengukku menahan tangis.
Kuarahkan pandangan kesekelilingku. Shenai dan Brisa terlihat sibuk menghalau para Gregoran.
Sementara itu Titus terlihat terdesak oleh para penyihir Zorca. Darren, Agnes dan Prechia terlihat mencoba membantu mempertahankan barisan pasukan cahaya yang tengah dipimpin Odile mengingat para prajurit cahaya mulai tumbang satu persatu. 
”Bertahanlah Oog.. ” bisikku pelan.
Kuletakan tangan kananku kearah dada Oogie. Aku masih dapat merasakan denyutnya yang semakin melemah.
Kembali kusapu pandanganku. Dimana kau Ness. Kami membutuhkanmu. Batinku kecut.
”Sepertinya semua tengah sibuk bertempur nak,” suara yang pernah kukenal menyapaku datar.
Kualihkan pandanganku seketika kearah sumber suara tadi.
Kulihat Chaides berdiri sambil memainkan topi bulat hitamnya lalu menaruhnya diatas kepala botaknya perlahan sambil memandangiku.
”Chaides... ” desahku tegang.
”Apa dia sudah mati?” tanya Chaides lagi begitu melihat sosok Oogie yang tak sadarkan diri berada di pangkuan Calista
”Aku... aku tak tahu...” ucapku bingung.
Chaides berdecak pilu. Lalu menatap Calista iba. ”Jika kau terus memikirkan orang lain daripada diri sendiri kau bisa terbunuh sia-sia sebelum menyelesaikan misi mu itu.” Gumam Chaides bersimpati.
”Aku tidak bisa membiarkan Oogie mati. Dia temanku Chaides.” Parauku dengan airmata yang mulai mengalir perlahan.
Caides menghela nafas panjang. ”Benar-benar mulia. Tristan pasti sangat bangga padamu nak.”
Untuk sesaat aku tertegun akan ucapannya.
”Calistaa!” Teriakan Ness membuyarkan lamunanku.
Sepasang mata hijau terang Chaides terlihat menyorot waspada kearah Ness.
”Pergilah!! Maka aku akan mengampunimu mengingat kau telah membantu kami waktu itu!” seru Ness dengan angkuh kepada Chaides.
Chaides terkekeh pelan. ”Kau benar-benar mengagumkan. Sangat percaya diri dan begitu sombong nak.” ujar Chaides tajam.
”Ness. ..” gelengku pelan mencoba mencegah Ness mengucapkan kata-kata buruk kepada Chaides..
Chaides melirikku sekilas. ”Calista Kaz! Kau adalah gadis yang ada dalam ramalan Zorca Anthea. Kuharap kau menuntaskan takdirmu!”
Untuk sesaat Chaides menerawang. ”Zorca akan menghanguskan Amorilla bersama kalian di dalamnya. Kau harus membunuhnya hari ini atau kau tidak akan melihat orang-orang yang kau sayangi lagi esok hari.” Sepasang mata hijau terang Chaides mengerling kearahku lalu melirik kearah Ness seraya tersenyum tipis.
Nafasku memburu mendengar ucapan Chaides. Kulihat Ness terpaku di tempatnya berdiri. Chaides menganggukkan kepalanya kearahku. ”Selamat berjuang nak.” ucapnya datar lalu berlari cepat seraya melayangkan sihir airnya dari jemari pendeknya kearah para prajurit cahaya. Yang seketika itu juga terjerembab jatuh seraya menggigil dalam kebekuan.
Ness segera meraih tubuh kecil Oogie dan meletakkan kedua telapak tangannya di dada Oogie. Dengan pelan Ness membisikkan mantra penyembuh ke dada Oogie. Perlahan lahan bibir Oogie yang membiru mulai terlihat sedikit kemerahan. Aku dapat mendegar nafas Oogie yang tidak beraturan. Ness lalu meletakkan tubuh kecil laki laki malang itu perlahan ke tanah yang tidak rata.
”Kita tidak bisa meninggalkan Oogie sendirian disini Ness,” ucapku cemas.
”Aku tahu, ” dengus Ness kesal.
”Kalian butuh bantuan!” lengking parau Darren mengejutkan aku dan Ness.
Senyum kelegaan dan rasa sukur meliputiku.
”Bisakah kau membawa Kircey ke tempat yang aman Darr.” Pinta Ness.
 Darren tersenyum lebar lalu mengangkat tubuh kecil Oogie ke pundak lebarnya. ”Aku akan mengamankan monyet satu ini. Kalian pergilah dan bunuh Zorca demi kami.”
Lalu Darren berlari kencang membawa tubuh Oogie tanpa kesulitan sedikit pun.
Ness menarik tanganku untuk berlindung dibalik pohon pinus yang separuh hancur.
”Dengar aku Calista. Ketika Zorca datang nanti membawa leviathan jelek itu, aku ingin kau membangunkan Arkhataya. Aku akan mengalihkan perhatian Zorca supaya kau dapat kesempatan untuk membujuk Arkhataya menghancurkan leviathan.”
”Mengapa kita tidak menghadapi leviathan itu bersama sama. Kita tidak membutuhkan Arkhataya,” tolakku bersikeras.
”Kita membutuhkan Arkhataya, Cal. Leviathan terlalu kuat untuk kita hadapi berdua!” seru Ness sedikit kesal..
”Percayalah padaku. Lakukan saja tugasmu. Yakinkan Arkhataya jika kau telah menyiapkan sebuah raga untuknya. Lalu perintahkan dia menghancurkan Zorca dan para pengikutnya.” Ujar Ness dengan nada suara penuh penekanan.
Kutatap Ness dengan gundah.
Tiba-tiba kilatan api terpercik diatas kepala kami hingga membuatku panik dan menjerit keras. Ness menarik tubuhku dalam pelukannya lalu berguling ke samping dengan posisi tubuhnya menutupi tubuhku sebagai upayanya untuk melindungiku.
Suara lengking tawa yang sedikit kasar terdengar sangat puas. Sorot mata Rufus yang kelam menyipit kearah kami.
”Sembunyi adalah suatu hal yang sangat sia-sia saat ini.” Decak Rufus dengan nada mengejek.
Dengan cepat aku dan Ness berdiri.
Para penyihir berjubah hitam kini mengelilingi aku dan Ness.
”Sepertinya pekerjaan ini akan sangat mudah. Bahkan master Zorca tidak perlu datang untuk menghancurkan kalian,” nada angkuh Rufus meremehkan.
”Kau terlalu banyak bicara dan percaya diri.” Ledek Ness dengan nada sinis.
Rufus terkekeh. Kemudian menyorot tajam kearah Ness yang tengah menatapnya dingin. ”Kalau begitu matilah kau brengsek!!” Teriak Rufus.
Rufus melontarkan lidah api yang keluar dari kedua tangannya kearah Ness dan aku.
Ness meraih tubuhku dan kami berguling menghindari lidah api yang nyaris menghanguskan tubuh kami.
Degan cepat aku bangkit tak memperdulikan rasa nyeri ditubuhku. ”Icessendrios!!” Teriakku marah seraya melayangkan kedua tanganku kearah Rufus untuk membalas serangannya tadi. Butiran butiran es yang keluar dari telapak tanganku menghujam keras kearah dada Rufus Black.
Rufus terjerembab keras ke tanah. Dengan panik para penyihir hitam Zorca yang lain membalasa serangan sihie es ku dengan lontaran api yang saling berkejaran. Ness tidak tinggal diam dan melayangkan serangan telekinetisnya kearah para penyihir Zorca. Dua orang terpental kencang hingga jatuh bergulingan.
Kemudian Ness meraih tanganku dan kami kembali berlari mencari tempat yang aman untuk berlindung.
Sekilas kulihat Herzog Mandal meraung marah begitu melihat majikannya Rufus Black terbaring lemas dengan wajah kebiruan.
Sementara aku dan Ness terus berlari menghindari kemungkinan Herzog akan mengejar kami. Bukan kami pengecut dan tak berani menghadapi Herzog. Hanya saja kurasa Ness dan aku memiliki pikiran yang sama jika kami tidak akan membuang tenaga untuk melawan Herzog. Karena pertempuran kami yang sebenarnya belum dimulai.
Tiba-tiba saja sosok laki-laki berjubah hitam panjang berdiri diantara kekacauan pertempuran ini. Sepasang mata hitamnya yang sekelam malam terlihat menyorot dingin menatap kearahku. Wajah putihnya yang seputih mayat terlihat membeku. Jantungku seketika berhenti berdetak.
”Zorca.... ” bisikku dengan nada bergetar.
Ness menatap lurus kearah Zorca yang tengah berdiri tak jauh dari tempat kami berdiri dengan wajah tegang.
”Bersiaplah Calista. Pertempuran kita akan segera dimulai.” Desah Ness pelan.
Kucoba menguatkan hati demi mendengar ucapan laki-laki yang sangat kusayangi ini.
Aku tak akan membiarkan kau mengorbankan ragamu demi Arkhataya. Tidak akan pernah Ness. Batinku seraya melirik Ness dengan sendu.
Sementara itu langit mulai terlihat memerah, menandakan cahaya mentari tak sabar untuk menyambut pagi dalam kekacauan di negri peri Amorilla.

  Writer : Misaini Indra        
Image from :  http://janpospisil.blogspot.com/ Fat Kid blogs and stuff!




Monday, 18 August 2014

PART II : CALISTA KAZ “BANGKITNYA SANG NAGA” (Chapter 11)



11.  PENYIHIR HITAM

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan tak menentu. Jantungku berdebar kencang tidak seperti biasanya. Setiap barang di ruangan kamar ini seolah menolak kusentuh dan terlepas dari genggaman tanganku yang bergetar.
Kubasuh wajahku dengan air dingin. Kutarik napas perlahan dan menutup kedua mataku. Terakhir kali aku merasakan perasaan aneh seperti ini adalah ketika aku akan kehilangan ayahku di Essendra. 
Kutatap wajah lelahku di cermin dan bernapas perlahan-lahan untuk mengurangi keteganganku.
 Aku benci meresakan hal aneh seperti ini.
“Aku akan pergi ke pengungsian. Kau mau ikut?” tanya Brisa mengejutkanku.
Kutatap Brisa mencoba untuk berpikir.
“Jika kau tidak mau aku tidak akan memaksa.” Sepasang alis Brisa yang indah terangkat mengarah padaku.
“Tentu saja aku mau. Aku akan bersiap-siap.” Senyum datar menghias wajahku.
“Bagus. Aku akan menunggumu di luar.” Ujar Brisa seraya melangkahkan kakinya dengan mantap meninggalkan aku yang masih terpaku menatap wajah kuyu di depan cermin.
Selang beberapa waktu aku dan Brisa sudah menyusuri jalan menuju pengungsian. Sepanjang jalan tak henti-hentinya para penduduk lembah Crystal yang tinggal di pinggiran hutan Sphronia menyapa atau sekedar melemparkan senyum mereka padaku.
Suara terompet yang melengking tinggi mengejutkan kami seketika. Para penduduk yang tengah berada di pondok-pondok mereka segera keluar dengan panik dan bertanya-tanya.
Agnes Heron terlihat berlari menghampiri kami.
”Penyihir penyihir hitam Zorca telah memasuki perbatasan hutan Sprhonia!!”teriak Agnes berkali-kali kepada para penduduk.
Seketika itu juga suasana menjadi panik. Para ibu memegang tangan anak-anak mereka dan mulai berlarian mengumpulkan para anggota keluarga masing-masing.
”Tetap tenang dan jangan panik! Kumpulkan keluarga kalian secepatnya!” seru Cleo nyaring mencoba menenangkan.
Brisa yang datang bersama Titus terlihat berlarian panik memberi perintah penduduk untuk segera berbaris menuju istana Amorilla.
”Dash, Kircey!! Amankan penduduk dan bawa mereka masuk ke dalam istana Amorilla!” teriak Brisa.
”Baik Bris!” seru Darren dan Oogie bersamaan seraya berlari menyusuri pondokan rumah penduduk untuk mengosongkan tempat pengungsian secepatnya.
Dengan setengah berlari para penduduk mulai menuju gerbang istana Amorilla mencari perlindungan.
Jantungku berdetak kencang melihat ketenangan pengungsi mulai terusik. Terlihat wajah-wajah ketakutan dan tangisan anak-anak kecil yang tak mau meninggalkan rumah pondokan mereka.
Brisa melirik kearahku lalu berseru kepada Cleo. ”Cleo bawa Calista masuk ke istana Amorilla,” perintah Brisa.
”Tunggu Bris. Biarkan aku  membantu kalian!” seruku tertahan.
”Tidak. Terlalu berbahaya. Biar aku, Titus dan Agnes yang akan mencoba menghalangi serangan mereka!” sahut Brisa dengan nada penekanan.
”Kau sudah melihat kemampuan sihirku Bris. Aku bisa membantu kalian!” cetusku kesal.
Brisa memegang kedua bahuku dan menatapku dalam. ”Tugasmu jauh lebih penting. Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padamu. Kau bisa membantu kami dengan membangkitkan Arkhataya untuk menghancurkan Leviathan Zorca. Mengerti?!”
”Tapi Bris.... ”
”Untuk sekali ini saja tutup mulutmu dan ikuti permintaanku Cal!” seru Brisa bernada marah.
Aku hanya dapat mengangguk pada Brisa dengan pandangan nanar.
”Cleo! Bawa Calista pergi dari sini. Lalu cari Ness di istana Amorilla!” perintah Brisa pada Cleo.
Cleo mengangguk dan dengan cepat menyeret tanganku. ”Ayolah Calista. Aku harus membawamu pada Ness. Ness akan mendampingimu mengalahkan Zorca demi lembah Crystal,” bisik Cleo menunjukkan harapan besar padaku.
Aku mengangguk lemas.
Aku dan Cleo berlarian panik ditengah-tengah para pengungsi. Pasukan cahaya nampak berjalan beriringan menuju arah perbatasan hutan Sprhonia untuk menguatkan pertahanan.
Shenai dan beberapa orang ksatria sihir didikkannya terlihat membariskan penduduk yang panik untuk berjalan teratur menuju istana Amorilla. Sementara dari arah timur Helena yang juga didampingi beberapa ksatria sihir nampak mengawal beberapa penduduk yang berusia lanjut menuju arah yang sama yaitu benteng Amorillla. Benteng pertahanan terakhir dan harapan bagi para penduduk lembah Crystal yang terbuang.
Dari kejauhan kulihat Piphylia nampak melambaikan tangan kearahku. Ditangannya terdapat sekeranjang penuh tanaman. Dan wajah ibu Ness tersebut sama sekali tidak terlihat cemas atau ketakutan akan keadaan disekelilingnya yang hiruk pikuk.
”Cleo! Itu Piphylia!” seruku tertahan.
”Kita harus membawanya ke tempat aman,” ujar Cleo panik.
Aku mengangguk. Degan susah payah akhirnya kami berhasil menghampiri Piphylia yang tegah sibuk memotong tanaman rambat seolah tak terusik oleh arus kepanikan disepanjang jalan menuju istana.
Kuraih bahu Piphylia. ”Apa yang kau lakukan disini, Piphylia?”
”Aku lupa memetik beberapa daun Ethor untuk persedian ramuan obatku, nak?” sahutnya resah.
”Kau harus pergi ke tempat aman karena para penyihir Zorca sudah mendekati Amorilla,” ucapku cemas.
”Ohh..ya aku tahu itu. Aku mendengar beberapa orang berteriak mengingatkan kami,” sahut Piphylia datar sambil memetik dedaunan berwarna marun.
”Apakah kau sudah dapat yang kau inginkan nyoya Ferin?” tanya Cleo tak sabar.
”Baru sedikit kurasa...
”Tidak ada waktu lagi. Kita harus segera berlindung ke istana. Terlalu berbahaya berkeliaran seperti ini,” tandasku.
”Aku tahu nak. Tapi daun Ethor penting sekali untuk campuran obat bagi yang terluka bakar, sayang. Aku takut jumlahnya tak mencukupi. Zorca dan pengikutnya memiliki sihir api yang kuat. Aku harus memastikan memiliki daun Ethor sebanyak mungkin untuk mengobati mereka yang terluka, nantinya.” keluh Piphylia seraya menatapku.
”Aku akan mencarinya untukmu. Berikan daun itu padaku!” pintaku pada Piphylia.
”Tidak Cal! Biarkan aku yang pergi. Kau memiliki tugas yang jauh lebih penting.”  cetus Cleo spontan.
”Tapi Cle..
”Aku segera kembali,” Cleo mengambil daun Ethor dalam genggamanku dengan cepat.
”Berjanjilah kau akan segera kembali Cle!” ucapku memastikannya.
Cleo mengangguk. ”Sekarang bawa Piphylia ke istana. Temui Ness dan bangunkan Arkhataya. Rebut kembali lembah Crystal supaya kita semua bisa pulang Cal,” bisik Cleo.
Tak kuasa membendung rasa haru kupeluk Cleo dengan segenap keresahan dihatiku.
”Tenang saja. Aku pasti kembali,” kerling Cleo membuatku semakin menitikkan airmata.
Cleo berlari menuju hutan Sprhonia dan melawan arus para pengungsi.
Piphylia memegangi bahuku. ”Maafkan aku nak. Aku hanya ingin membantu dengan mengumpulkan sebanyak mungkin daun Ethor yang berada dalam hutan ini.”
Kutatap lembut wajah Piphylia. Ada rasa bersalah bercampur bingung di kedua mata ibu kandung Ness tersebut.
”Tidak apa apa Piphylia. Sekarang kita harus bergabung dengan para pengungsi itu menuju istana Amorilla. Kita akan aman berada disana,” sahutku lembut.
Piphylia mengangguk riang dan memelukku erat. Kami pun membaur dengan arus pengungsi yang tengah berjalan tergesa menuju pintu gerbang istana Amorilla.
Pasukan cahaya nampak berbaris disepanjang jalan dekat gerbang istana.  Zordius terlihat memakai jubah perak kebesarannya didampingi Odile dan Prechia di kiri kanannya. Mata Prechia seketika itu tertuju padaku, ketika melihat aku dan Piphylia memasuki gerbang istana bersama para pengungsi dari lembah Crystal yang mencari perlindungan.
            Seseorang menarik lenganku tiba tiba. Wajah cemas Titus tergambar jelas menatapku resah. “Ikuti aku Calista,” ucapnya gusar. 
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Tunggu Titus!” pinta Piphylia.
Aku dan Titus seketika menghentikan langkah kami. Lalu Piphylia menghampiri dan membelai kedua pipiku dengan lembut. “Kalahkan Zorca! Dan selamatkan kami semua nak,” ucapnya dengan sepasang mata emasnya yang teduh, seteduh tatapan Ness kala menatapku.
Seiring kepergian Piphylia dari hadapanku dan Titus. Wajah Titus menegang. Kembali ditatapnya aku dengan penuh rasa penasaran.
“Aku tidak dapat menemukan Ness dimanapun. Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?” kali ini nada suara Titus memaksaku.
Aku hanya terdiam dan memandangi Titus dengan gelisah.
“Ness seharusnya mendampingimu saat ini untuk menghadapi leviathan Zorca. Karena kami akan sangat disibukkan oleh kaki tangan Zorca yang sudah memasuki perbatasan hutan Sphronia!” seru Titus panik.
Sosok Ness telah berdiri diantara kami dan menatap tajam kearah Titus.
“Aku bukan seorang pengecut Titus. Ada sesuatu yang harus kuurus terlebih dahulu sebelum mendampingi Calista membangunkan Arkhataya,” nada suara Ness terdengar satir.
Titus menoleh dan mendengus kesal. “Jangan berlagak bodoh Ness. Ada sesuatu yang kalian sembunyikan akan kebangkitan Arkhataya. Lebih baik kalian segera menceritakan padaku sebelum terjadi hal yang akan membahayakan kita semua.”
“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu” tandas Ness dengan senyum mengejek.
Titus terdiam.
Ness meraih tanganku ”Ayo Calista. Saatnya untuk pergi.”  Ujar Ness dingin.
Kutatap Titus dengan resah. Sepertinya ia dapat menangkap kegundahan yang kini kurasakan. Meski Titus tak dapat berbuat apa-apa karena kerasnya kemauan Ness.
Gerbang Amorilla kini tertutup rapat. Seluruh pasukan cahaya bersiaga disekeliling benteng Amorilla. Menunggu kedatangan Zorca dan para pengikutnya.
Kutatap wajah wajah cemas dan sorot mata ketakutan diantara para pengungsi dan rakyat Amorilla sendiri. Dadaku berdebar kencang. Kulirik Ness yng berdiri disampingku dan menatap lurus-lurus ke depan untuk melihat kedatangan musuh. Kualihkan pandangan kearah jejeran ksatria Crystal yang tersisa. Terlihat Darren, Oggie, Agnes dan Brisa berdiri tegak dengan wajah tegang. Kembali kususuri satu satu wajah para ksatria Crystal yang berdiri siaga. Hatiku lemas seketika. Aku tidak menemukan wajah Cleo disana.
“Cleo masih diluar sana Ness!” seruku panik.
Ness berbalik menatapku. “Darimana kau tahu itu?”
Jantungku berdetak kencang. Napasku terasa sesak seketika. “Ketika ibumu tengah mencari daun Ethor. Ia menawarkan diri untuk mencarikan daun itu di dalam hutan Sphronia,” nada suaraku sedikit histeris.
Belum sempat Ness menyahutiku. Darren terlihat berlari menghampiri kami.
“Apakah kau melihat Cleo?! Aku telah mencarinya ke setiap sudut istana, tapi dia tidak ada,” keluh Darren cemas seraya menatapku.
Belum sempat aku menyahut. Ness memberi isyarat pada aku dan Darren untuk menatap lurus ke depan dari atas benteng kokoh kerajaan Amorilla ini.
Cleo terlihat berjalan susah payah, berusaha menuju pintu gerbang istana Amorilla yang telah tertutup rapat.
“Ada seseorang diluar sana!!!” seru seorang prajurit cahaya Amorilla yang berjaga di sisi kiri benteng.
“Itu Cleo!” seruku lega.
“Buka gerbangnya. Dia salah satu ksatria lembah Crystal!!” Perintah Prechia keras.
“Tidak!! Teriak Zordius lantang.
Prajurit cahaya segera berhenti begitu mendengar raja mereka melarang permintaan Prechia.
Prechia dan para ksatria lembah Crystal menatap Zordius dengan kebingungan.
“Tapi dia salah satu ksatria lembah Crystal!” teriak Darren panik.
“Diam! Jangan menentang perintah yang mulia raja Zordius!” hardik Odile kasar dengan wajah garang pada Darren.
Darren  terlihat menahan marah dengan wajah tegang.
Prechia menunduk hormat pada Zordius dan Odile. “Maafkan ucapan ksatriaku yang lancang ini yang mulia Zordius. Tapi bisakah kau memberikan alasan pada kami, mengapa kau tidak mengijinkan prajuritmu untuk membuka gerbang Amorilla,” ucap Prechia sedikit tegang.
Zordius menatap Prechia dalam. “Aku tak ingin bersikap kejam tapi aku dapat melihat dari sini bahwa itu sebuah jebakan. Pengikut Zorca telah bersiap dibalik kegelapan hutan Sphronia untuk menembus benteng Amorilla yang telah kumantrai ini.“
Jauh disana Cleo terlihat payah dan berusaha berjalan dengan wajah tegar menuju pintu gerbang Amorilla. Sebelum akhirnya tertelungkup jatuh tak kuat menahan sakit.
Kupalingkan wajah menahan kesedihan bercampur kemarahan.
“Gadis itu sekarat. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menolongnya,’ desah Zordius menatap lurus-lurus kearah Cleo diwajah kakunya yang begitu dingin. Zordius seolah tak perduli akan nasib Cleo yang terbaring lemah jauh disana.
Darren berteriak marah dan Ness terlihat berusaha menenangkan sahabatnya itu dengan memegangi bahunya sekuat tenaga.
“Kau tak pantas menjadi raja. Kau tak memiliki hati nurani seputih Orion yang selalu melindungi kami!” teriak Darren menggila.
“Sebaiknya kau tenang sedikit atau Zordius akan melemparmu keluar menemani kekasihmu itu!” bisik Ness tertahan di telinga Darren.
“Aku tidak perduli Ness!!” teriak Darren kesal.
Odile bergerak maju kearah Ness dan Darren berdiri.
“Tangkap dan jebloskan dia dalam penjara atas penghinaannya terhadap yang mulia Zordius!” perintah Odile marah seraya mengangkat tangan kanannya memberikan isyarat pada dua orang prajurit cahaya yang dengan cepat berlari kearah Darren yang tengah dipegangi oleh Ness.
“Aku yakin ini suatu kesalah fahaman, wahai sahabatku Odile. Kami membutuhkan tuan Dash untuk bertempur bersama kami disini!” seru Prechia mencoba membela Darren dengan berdiri menghalangi.
“Kalian harus menjebloskan kami semua ke dalam penjara jika kalian berusaha menangkap tuan Dash!” teriak lantang Shenai dengan Helena yang berdiri tegang disampingnya.
Shenai dan Helena pun berdiri diantara Prechia yang tengah menghalangi prajurit cahaya yang hendak menangkap Darren.
Dengan cepat barisan ksatria Crystal mulai berkumpul membentuk sebuah pertahanan. Memasang wajah waspada dengan tangan terkepal. Wajah Zordius dan Odile terlihat berubah tegang. Mereka tidak menyangka jika para ksatria Crystal terlihat mengambil sikap untuk melindungi pemimpin dan teman mereka.
Beberapa prajurit cahaya mulai berhamburan dan berhadapan dengan para ksatria Crystal. Raut wajah-wajah penuh ketegangan kini terlihat jelas di masing-masing kubu.
            Titus, Brisa, Agnes bahkan Oogie terlihat mengepalkan tangan masing-masing. Bersiap-siap untuk membalas serangan jika memang diperlukan.
“Apa yang ingin anda perintahkan pada kami Prechia! Sebutkan!” teriak Shenai kalap meminta keputusan pada Prechia.
Wajah Prechia yang tenang terlihat tegang menatap lurus pada Zordius yang membeku. Odile membisikkan sesuatu di telinga Zordius.
Zordius menarik napas panjang dan mendongakkan kepalanya. “Akankah semua berakhir seperti ini Prechia? Inikah yang kau inginkan? Hanya demi sebuah nyawa?” ucap Zordius puitis.
            “Mungkin bagimu itu hanya sebuah nyawa yang tidak berarti. Tapi bagi kami gadis itu adalah keluarga. Aku lebih baik mati menolong para ksatriaku daripada harus berlindung dibawah pemimpin yang tidak memiliki hati,” ucap Prechia menyorot tajam kearah Zordius.
Napasku memburu menyaksikan ketegangan ini
            Zordius tersenyum dingin. “Akan selalu ada yang dikorbankan dalam sebuah peperangan Prechia.
          “Tidak dalam peperangan yang kupimpin Zordius!” cetus Prechia dengan nada tinggi.
Kini Zordius melirik jauh kearah Cleo yang terlihat berusaha bangkit untuk mencapai gerbang Amorilla. “Sayangnya gadis itu menjadi salah satu korban pertempuran ini. Dan aku tidak akan mengambil resiko yang membahayakan penduduk negri ini hanya untuk membuka pintu untuknya. Kalian datang meminta perlindungan padaku. Maka kalian harus menuruti perintahku. Kecuali atas keinginan kalian sendiri keluar dari benteng ini. Maka aku tidak akan menghalangi kalian,” tandas Zordius tajam.
Semua terdiam.
Kutarik napas panjang seraya menatap Zordius tegang.
“Jika itu perintahmu yang mulia. Maka biarkan aku yang menjemputnya!” seruku  seraya berlari cepat kearah benteng sambil merapalkan mantra dizzante dan mengacungkan kedua tanganku pada tubuhku sendiri.
Dengan cepat asap hitam yang keluar dari jemariku menggulung tubuh rapuhku ke udara. Dan dengan kesadaran penuh kulontarkan tubuhku sendiri keluar dari benteng Amorilla yang cukup tinggi.
Terdengar teriakan Prechia memanggil namaku diiringi seruan-seruan terkejut para ksatria Crystal lainnya.
Tubuhku yang masih tergulung asap hitam terlontar keluar dan aku pun jatuh dengan kedua kaki terjejak rapih ditanah. Aku berhasil menggunakan mantra ajaran Tristan dengan sempurna.
 “Calistaaaaaa!!” Teriakan Ness terdengar keras dari atas benteng.
Kulirik Ness dengan dingin. Wajah tampan Ness terlihat resah.
Dengan cepat aku berlari menghampiri Cleo yang tertelungkup cukup jauh dihadapanku.
Aku tak perduli apa kata Zordius dan yang lainnya. Aku hanya merasa memiliki andil atas kesalahan yang kubuat dengan membiarkan Cleo kembali ke hutan itu hanya demi sebuah daun. Dan aku harus menebusnya dengan menjemput Cleo tanpa memperdulikan keselamatanku sendiri.
Aku kembali berlari sekuat tenaga untuk mengejar waktu. Sebelum para pengikut Zorca keluar dari tempat persembunyian mereka dan menyergapku.
Kuraih tubuh Cleo yang tertelungkup ditanah. Aku coba membalikkan tubuhnya perlahan-lahan. “Bangun Cleo. Banguuuunnn!!” seruku tertahan mencoba mengangkat tubuh Cleo sekuat tenaga.
Beberapa pasang wajah mulai bermunculan dari balik jejeran cemara.
Kubelai wajah Cleo yang penuh goresan luka. Sepasang mata birunya yang gelap terlihat lelah menatapku.  “Calista..” desahnya susah payah.
“Aku akan membawamu ke tempat aman,” isakku pelan tak sanggup melihat keadaannya yang cukup parah.
Aku dapat melihat luka bakar disekujur tubuhnya. Sepertinya Cleo sempat mengalami siksaan dari para pengikut Zorca.
“Kau ..datang… untukku..,” napas Cleo terdengar payah.
“Aku datang untukmu. Aku datang untukmu sahabatku,” desahku diantara tangis.
Kini sosok-sosok berjubah hitam mulai bermunculan dan berjalan menuju kearahku dan Cleo. Aku mencoba berdiri sambil memapah tubuh Cleo dengan segenap kekuatanku.
Sebuah sentuhan dibahu membuatku terkejut setengah mati dan hampir saja menjatuhkan tubuh  Cleo kembali ke tanah.
Kulihat sepasang mata emas kecoklatan menatapku lembut.
“Biarkan aku membantumu,” suaraNess terdengar menenangkan rasa takutku.
Darren terlihat berlari menghampiri kami bersama Brisa dan Titus.
“Berikan dia padaku Ness!” isak Darren kasar seraya meraih tubuh Cleo dan menggendongnya.
“Darren…Kaukah itu?” suara Cleo melemah.
“Ya aku disini. Aku disini untukmu…Kau aman bersama ku Cleo..” suara Darren terdengar pilu berusaha menenangkan kekasihnya itu.
Tak kuasa menahan pemandangan di depanku. Kembali airmataku tak terbendung.
“Kita harus membawanya kembali ke benteng. Piphylia akan menyembuhkannya. Bawa Cleo pergi dari sini Darr!” teriakku resah.
Darren mengangguk lemah. “Trimakasih Cal, kau memang ksatria yang hebat.”
Aku hanya terisak tak tahu harus mengucapkan kata-kata apapun.
“Kita harus kembali. Mereka mulai mendekat!” seru Brisa tegang.
Benar saja. Sepuluh orang berjubah hitam nampak berlarian keluar dari jejeran cemara. Tangan mereka terlihat mengepal dan bersiap-siap untuk menyarangkan serangan. Salah satu dari mereka terlihat membuka tudung kepalanya dan terseyum licik kearah kami. Laki laki berjubah hitam itu adalah Roven Lefre. Penyihir sombong yang hampir saja membunuhku.
Wajah Roven menyeringai kejam begitu melihatku.
“Ness bantu aku menahan mereka selama mungkin! Brisa bawa mereka kembali ke benteng Amorilla secepatnya. Kami akan menyusul!” perintah Titus tegang seraya melirik kearah Ness yang hanya menganggukkan kepala pada Titus.
“Bodoh!! Kami tidak akan membiarkan kalian kembali ke benteng Zordius dengan mudah!” teriak Roven seraya melayangkan serangan sihir angin kearah Titus yang langsung terpental keras sepuluh langkah dan tertelungkup ke tanah.
“Kembali ke benteng!! Larilah secepat mungkin!” teriak Brisa pada aku dan Darren yang menggendong Cleo dengan susah payah.
Sementara itu Ness menyarangkan serangan jarak jauh dan membuat seorang penyihir hitam Zorca terpental saat hendak mengarahkan serangan pada Brisa.
Sementara Titus mencoba bangkit dengan susah payah. Kulirik penyihir-penyihir hitam itu dengan geram. Dan berbalik untuk melontarkan sihir apiku pada mereka.
“Dengan segala kekuatan cahaya bumi. Bakar dan hanguskan keinginanku!!! Raungku seraya melontarkan bola cahaya kebiruan di telapak tanganku ini, kearah tiga orang pengikut Zorca yang langsung mati seketika karena tersambar api sihirku yang berwarna biru terang dan berkekuatan besar.
Mereka begitu terkejut melihat serangan sihir apiku yang berbeda.
Roven menatapku kesal dan sedikit terkejut. Ia tidak mengira jika aku ternyata dapat melontarkan sihir api sebagai serangan balasan.
“Dariman kau mempelajari sihir api peri itu hahh?! Brisa terlihat shock dan penasaran.
Tak kuperdulikan pertanyaan Brisa dan hanya berkonsetrasi pada musuh kami yang semakin banyak bermunculan.
 Bakar dan hanguskan keinginanku!!! teriakku lantang seraya kembali menyarangkan sihir apiku pada dua orang penyihir Zorca yang berlari kencang kearahku.
Salah satu dari mereka berhasil menghindar sementara yang satunya langsung menjerit kesakitan dan terjatuh ketanah.
“Pergi dari sini Calista!!” Brisa menarik lenganku dengan kesal.
Aku, Brisa dan Darren terus berlari menuju gerbang Amorilla.
Pintu gerbang sudah dekat. Kedua mataku mencari-cari sosok Titus dan Ness.
Dari jarak pandangku terlihat Ness dan Titus kewalahan akan serbuan para penyihir Zorca.
“Aku harus menolong Titus dan Ness, Bris!” teriakku seraya berbalik kembali menuju pertempuran.
“Apa kau sudah gilaa hah?! teriak Brisa marah.
Aku tak perduli dan berbalik arah kembali ke tempat Ness dan Titus yang tengah bertempur. Sementara Brisa yang menemani Darren yang tengah menggendong Cleo hanya pasrah dan kembali berlari menuju benteng Amorilla.
Kulihat pertempuran terlihat sengit antara Titus, Ness dengan Rufus Black dan Herzog yang bertubi-tubi melontarkan sihir api mereka yang tertuju pada Titus dan Ness.
Bakar dan hanguskan keinginanku!!! teriakku marah tertuju pada Rufus yang nampak terkejut mendapatkan serangan sihir apiku.
Rufus menahan seranganku dengan berlindung dibalik cemara yang seketika itu juga terbakar dahannya.
Titus menatapku tegang. “Darimana kau belajar sihir api para peri itu!!” tanya Titus seraya melayangkan serangan sihir angin keberbagai arah. Seorang penyihir hitam Zorca berteriak ketakutan dan terhempas ke tanah.
“Ness yang mengajariku!” sahutku seraya menghalau penyihir Zorca yang hampir melukai Ness dari sisi kiri.
Ness mengangguk padaku sebagai ucapan rasa terimakasih.
“Bagaimana menurutmu Titus? Karena aku mulai menyukai sihir api ini!” seruku tertahan.
Bibir Titus berkerucut. “Kau cukup hebat nak! Sihir api birumu itu cukup mengesankanku!” serunya Titus bernada pujian dengan kening berkerut lalu meneriakkan mantra angin dan melontarkan sebatang pinus tua yang teronggok ditanah kearah salah satu penyihir Zorca yang langsung roboh tak sadarkan diri.
Kulirik kebelakang dan melihat punggung kekar Darren yang tengah menggendong kekasihnya itu menghilang ke dalam bentenag Amorilla.
“Mereka telah berhasil masuk!” teriakkku lantang pada Titus dan Ness.
“Bagus!” balas Ness seraya menarik tanganku dan berlari menjauhi arena pertempuran diikuti langkah Titus dibelakang kami.
Kulirik Ness yang masih memegang tanganku kuat-kuat.
Kucoba melepaskan genggaman tangannya perlahan, namun Ness malah mengencangkan pegangannya dan melirikku dingin.
Jangan keras kepala. Aku hanya ingin melindungimu Calista. Suara lembut Ness yang penuh ketegasan bermain-main di benakku.
Aku tidak membutuhkan perlindunganmu. Sahutku tajam mencoba membalasnya.
Wajah Ness mengeras. Meski kami berkomunikasi dengan suara batin tapi aku dapat merasakan kekesalan Ness padaku.
Sebuah serangan terlontar kearah kami. Roven mengarahkan sihir anginnya hingga membuat aku, Ness dan Titus terlempar ke tanah.
Meski terasa nyeri diseluruh tubuh setidaknya aku berterimakasih pada Roven karena telah membuat genggaman tangan Ness terlepas dari jemariku.
“Calista, kau tidak apa-apa?” Ness terlihat cemas dan meraih lenganku.
Aku mengangguk sambil berusaha bangkit dari tempatku terjatuh.
Dahiku tergores batu dan terasa perih. Ness mengusapnya pelan dan menatapku resah.
“Ness, bawa Calista pergi dari sini. Aku akan menghalau serangan mereka.” perintah Titus.
“Tidak Titus!” gelengku kuat.
“Pergiii sekarang Ness!! perintah Titus kesal.
Dengan cepat Ness menarik tanganku dan mengajakku berlari.
Napasku memburu kulirik Titus dengan resah. “Kita tidak seharusnya meninggalkan Titus, Ness!”  teriakku marah.
“Lihat keatas!” seru Ness.
Kudongakkan kepalaku mengikuti kemauan Ness.
Prechia duduk diatas Pegasus yang melayang di udara. Prechia terlihat merapalkan mantra seraya mengacungkan tongkat Crystal yang mengeluarkan sinar menyilaukan kearah pengikut Zorca yang terlihat menutupi mata mereka.
Titus dengan cepat melompat ke punggung Pegasus dan duduk dibelakang Prechia. Pegasus terbang dengan sangat cepat menuju gerbang Amorilla.  Seiring dengan terbukanya pintu gerbang Amorilla. Aku dan Ness juga telah sampai dan langsung berlari masuk ke dalam.
Kuatur napas dengan penuh rasa lega.
Kami semua selamat.
Pengikut Zorca yang nyaris mengejar aku dan Ness langsung terlempar keras ke tanah begitu tubuh mereka menyentuh sisi luar gerbang Amorilla yang telah terlindung mantra Zordius.
Mereka meraung kesakitan. Roven terlihat marah dan berteriak-teriak memerintahkan mereka untuk terus maju menembus benteng Amorilla tanpa ampun.
Kulirik Prechia dan Titus turun dari Pegasus dengan bernapas lega.
Tapi pertempuran ini belum usai.
Karena teriakan para pengikut Zorca masih terdengar membahana berusaha menembus bentang Amorilla. Raungan kemarahan mereka sedikit meruntuhkan ketegaran kami yang berada di dalam benteng ini.
Brisa berlari kearahku. Brisa memelukku erat dan nyaris menangis.
“Aku bangga padamu Cal!” ucapnya seraya memegang wajahku dengan kedua tangannya.
Aku hanya mengangguk haru.
Quilla berlari kencang dan menghampiriku. “PENYIHIR SIAL!!” maki Quilla penuh amarah. “Berani sekali kau membahayakan keselamatan Ness demi aksi kepahlawanan konyolmu itu!” hardik Quilla lagi dengan kasar.
“Hentikan Quilla. Kau tidak berhak menyalahkan Calista!” seru Ness marah.
“Kau tidak akan pernah mengerti arti dari ikatan persaudaraan para ksatria lembah Crystal yang sesungguhnya!” sahut Brisa tak kalah keras berusaha membelaku.
“Aku akan membunuhmu jika kau mengucapkan sepatah kata lagi padaku, penyihir!” ancam Quilla pada Brisa.
“CUKUP QUILLA!!” Seru Zordius bergema marah.
Semua terdiam seketika begitu mendengar seruan Zordius.
Zordius menghampiri aku yang hanya menatap lurus-lurus kearahnya.
“Maafkan perlakuan putriku padamu selama ini,” ucap Zordius sopan.
Quilla meradang dan berteriak kesal. “Ayah!! Mengapa harus merendahkan diri pada penyihir sial itu. Dia tidak sederajat dengan kita!!” protes Quilla marah
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Quilla yang langsung shock mendapat perlakuan seperti itu dari sang ayah di depan seluruh mata yang menyaksikan.
Quilla terisak dan berlari kencang menyembunyikan rasa malu. Ratu Orelia hanya dapat memandang cemas kearah Zordius dan menyusul Quilla ke dalam istana.
Dengan wajah tenang Zordius kembali mengarahkan pandangannya padaku. Kutatap mata Zordius tanpa merasa takut lagi.
“Aku melihatmu bertempur dari sini. Kau memang cucu seorang penyihir hebat seperti kakekmu Ghorfinus. Hanya penyihir hebat yang dapat mengubah sihir api bangsa kami menjadi senjata yang sangat mematikan.. Sebaiknya pergunakan dengan bijak karena aku tak ingin kau menodai kesuciannya. Kami menggunakannya hanya untuk kebaikan. Bukan seperti sihir api Zorca yang membawa kematian.” ucap Zordius lembut.
“Aku terpaksa mempergunakannya untuk melawan pengikut Zorca. Setidaknya itu yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan kami,” ucapku seraya mengangguk hormat.
Zordius menatapku. “Kau melakukannya untuk membela sebuah jiwa. Ketulusan hatimu benar-benar membuatku kagum.”
Kuanggukkan kepalaku sebagai tanda penghormatanku pada Zordius.
Zordius balas mengangguk lalu berjalan meninggalkan benteng dan memasuki istana.
Sementara para pengikut Zorca berusaha keras menembus mantra yang dibuat Zordius disekeliling benteng Amorila ini. Sayangnya setiap mereka mempergunakan sihir mereka untuk menembus benteng ini. Sihir mereka menjadi bumerang yang kembali menyerang mereka. Bahkan diantara mereka ada yang mati terkena sihir mereka sendiri yang terlontar kembali pada mereka setiap mereka melontarkan sihir ke benteng Amorilla.
Kualihkan pandangan jauh ke depan. Penyihir kesayangan Zorca, Rufus Black mulai terlihat kesal dan berteriak marah dengan melampiaskan kekesalannya pada Herzog Mandal. Sementara  itu Chaides terlihat santai duduk beristirahat diatas sebatang pohon besar dan terlihat tak begitu perduli dengan kejadian yang tengah berlangsung di hadapannya.
Siang itu serangan pengikut Zorca berhenti. Dibalik benteng Amorilla tak terlihat satu pun penyihir Zorca yang tadi pagi menyerang. Sepertinya mereka telah pergi untuk menyusun strategi baru.

 Writer : Misaini Indra        
Image from : http://davidrapozaart.deviantart.com/art/Real-Mean-Witch-Battle-150732499