Protected by Copyscape Plagiarism Scanner

Tuesday, 9 August 2011

Calista Kaz "Penyihir Naga Arkhataya" (Chapter 8)

8. PERTENGKARAN DI BUKIT FORESSE

Sepasang mata ungu itu mulai membuka perlahan. Wajah tampannya yang pucat nampak terkejut begitu mendapatiku bersama Ness dan Titus yang tengah memandanginya. Tristan berusaha untuk bangun dari tempatnya berbaring namun dengan cepat kutahan tubuhnya untuk tetap berada disana.
”Kau terluka cukup parah,” ingatku padanya. 
Tak memperdulikan ucapanku, Tristan memaksakan diri untuk duduk dan melirik kearah Ness dan Titus dengan marah. ”Apa yang terjadi? Dimana Chaides dan Amara?” bisiknya dikupingku namun sepasang mata ungunya tetap waspada mengawasi Ness dan Titus.
”Entahlah. Mungkin masih berada di Essendra atau dalam perjalanan kemari untuk menolongmu,” ujarku pelan sambil meliriknya takut takut.

Tristan menatapku bingung seolah meminta penjelasan.

”Serangan sihir air Chaides yang ditujukan pada Titus secara tak sengaja mengenaimu. Kau tak sadarkan diri dan terluka,”  ujarku berusaha menjelaskan kejadian yang menimpanya.

”Dan sekarang mereka menawanku?” sahutnya geram.

Sepasang mata emas Ness terlihat mengawasi kami.

Wajah resah Tristan nampak semakin geram.

Sementara Titus yang sedari tadi diam perlahan menjauhi kami dan duduk di pinggiran sungai Olyms seraya membuang pandangannya jauh ke dalam hutan kecil di depan kami.

Kutatap Tristan dengan keraguan. ”Akulah yang meminta mereka untuk membawamu kembali ke lembah Crystal,” bisikku pelan.

”Apa kau sudah gila!!” teriak Tristan marah seraya bangkit dari duduknya lalu menatapku tajam.

”Aku tak bisa meninggalkanmu terluka parah seperti itu. Kau hampir mati disana,” sanggahku gugup berusaha untuk meraih tangannya.

Dengan kasar Tristan menepisnya dan berbalik memunggungiku. ”Aku takkan perduli jika aku harus mati saat itu juga asal tidak menjadi tawanan seperti ini dan kembali ke lembah sial itu!” nada suara Tristan masih terdengar tinggi.

Kutatap punggung Tristan dengan perasaan tak karuan.

Dia benar benar keras kepala. Batinku resah.

”Apakah kau bersungguh sungguh dengan ucapanmu barusan,” ucapku pelan.

Tristan hanya diam tak menyahutiku.

Ness berjalan kearahku. ”Seharusnya kita tak perlu membawanya,” ucapnya dengan sengaja dikupingku seraya berlalu meninggalkan kami.

Seketika itu juga Tristan berbalik dan menatap sinis kearah Ness yang tak begitu memperdulikan reaksi kemarahannya.

Kupandangi wajah beku Tristan dengan kesal. ”Kau tahu. Sudah tiga hari ini kau tak sadarkan diri selama perjalanan kita melewati kota Hordos. Titus tak pernah mengeluh memanggulmu dipundaknya atas permintaanku. Dan Ness berusaha sekuat tenaganya untuk menyembuhkan lukamu. Sementara aku tak pernah benar benar terlelap dalam tidurku hanya untuk merawatmu dan memastikan kau masih bernapas...” sengalku marah.

”Tapi aku tidak pernah meminta semua itu,” potong Tristan sinis.

Kutatap wajah angkuh itu dengan kekecewaan yang mendalam.

”Mengapa kau tidak membiarkan saja kematian menjemputku, Calista!” raung Tristan lagi mencoba untuk menguji kesabaranku.

Kualihkan pandanganku dari tatapan sinisnya yang terluka.

Dengan geram Tristan meninjukan tangan kanannya ke salah satu dahan pohon disamping kami hingga bergetar. ”Mengapa kau melakukan hal yang sangat bodoh dan mempermalukan diriku seperti ini,” kata katanya begitu keras dan terdengar sangat menyudutkanku.

”Aku hanya mencoba untuk menyelamatkanmu...” bisikku pelan, mencoba untuk menahan jatuhnya butiran hangat dari kelopak mataku yang mulai memanas.

Tristan menghela napas panjang. Kutatap sepasang mata ungunya yang mulai meredup. Namun Tristan membuang tatapannya seakan tak ingin melihatku.



”Setibanya di lembah Crystal nanti, aku akan meminta Orion Xander untuk mengampunimu,” tekadku dengan suara parau.

Sepasang mata ungu itu menatapku galau. ”Sepertinya kau telah merencanakan semua ini untukku ya.”

Kubuang pandanganku dari tatapan matanya yang dingin. Ucapannya membuatku malu karena semua itu benar.

Tristan tersenyum tipis. ”Tatap aku Calista,” bisik Tristan lembut.

Kuberanikan diri menatap matanya yang terlihat lelah dan menyorot dalam.  

”Terimakasih untuk semua kesalahan yang telah kau buat untukku, tapi aku lebih memilih mati daripada kembali ke lembah Crystal,” ucapannya benar benar menusuk dan meninggalkan lubang dihatiku.

”Kuharap kalian sudah selesai bicara. Karena kita akan meneruskan perjalanan ke bukit Foresse,” ujar Ness mengingatkan seraya bersedekap menatap kami.

Kutatap wajah Ness yang terlihat bercahaya dibawah sinar matahari.

”Sebaiknya kita tidak perlu terburu buru meneruskan perjalanan ini mengingat keadaan Tristan yang baru saja pulih,” sahutku galau, kedua ekor mataku melirik sekilas kearah Tristan karena masih mencemaskan keadaannya.

”Aku baik baik saja,” sahut Tristan dingin.

Airmuka Ness terlihat tenang dan datar. Sepasang mata emasnya menatapku tajam. ”Ia tanggung jawabmu sekarang,” liriknya malas kearah Tristan. ”Tapi aku akan mengawasi kalian berdua.”

”Sepertinya, Quilla telah membuatmu semakin percaya diri dengan kekuatan antingnya itu,” sindir Tristan parau menantang Ness.

Segaris senyum sinis tersamar dari bibir Ness. ”Aku membiarkanmu hidup karena permintaan Calista,” tukas Ness dingin.

”Tak perlu menunggu. Sekarang pun aku siap menghadapimu!” seru Tristan marah.

”Kau sudah kalah. Dan berada dalam penahanan kami ke lembah Crystal. Terimalah kekalahanmu itu dengan besar hati Readick,” balas Ness tajam dengan airmukanya yang berubah kaku dan menunjukkan rasa ketidak senangannya pada Tristan.

Tristan tertawa sinis. Kemudian sepasang mata ungunya menatap tajam kearah Ness yang hanya mengamatinya tak berkedip.

”Ada masalah?” tanya Titus yang tiba tiba saja sudah berada dihadapan kami dengan wajah was was.

”Tidak ada, Titus. Kami baru saja bersiap siap untuk meneruskan perjalanan,” sahut Ness datar seolah tak terjadi apa apa.

”Waktu kita terbatas. Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini sebelum senja,” Titus menatap kami satu persatu.

”Bagaimana keadaanmu Tristan. Sudah merasa lebih baik,” tanya Titus mencoba memberi perhatian.

Dengan angkuh Tristan menatap Titus lantang. ”Tak perlu perdulikan aku.”

Titus terdiam.

Kuhampiri Titus dan menatap sepasang mata cekungnya yang terlihat sedih. ”Kurasa keadaannya sudah semakin membaik Titus...” sahutku mencoba mencairkan suasana.

Airmuka Titus berubah cerah. ”Bagus. Sepertinya kekuatan cahaya Ness perlahan lahan membuat ia pulih kembali,” lirik Titus pada Tristan yang membuang pandangannya jauh jauh dengan kesal karena ucapannya.

Ada sedikit rasa bersalah dibenakku sewaktu melihat sikap dingin Tristan. Sementara, kulihat senyum kemenangan mengembang di sudut bibir Ness yang tersamar.

Sepanjang perjalanan menuju bukit Foresse, Tristan hanya membisu. Berkali kali ia memegangi dadanya seolah menahan rasa sakit. Dan setiap kali kuulurkan tanganku untuk membantunya berjalan ia selalu menolakku dengan raut wajah kaku.

 Akhirnya kami tiba di sebuah hamparan bukit berbunga dengan beraneka warnanya yang cerah. Udara dingin yang sejuk menyapu kulitku dengan lembut. Titus tersenyum riang dan mengatakan padaku jika kita telah tiba di bukit Foresse.

Kupandangi bukit Foresse yang terlihat indah berlatar belakang warna jingga kemerahan diambang senja itu dengan penuh kekaguman.

Kami terus melangkah menyusuri jalan utama. Tanpa sadar, aku semakin terbius oleh suasana disekililing jalan yang ditumbuhi ilalang liar yang meliuk liuk tertiup angin seolah olah tengah menari, menyambut kehadiran kami.

Berbeda sekali dengan pemandangan dipinggiran kota ataupun daerah pemukiman pertambangan yang pernah kulalui. Rumah rumah penduduk yang bermukim sepanjang bukit ini bernuansa kehijauan dan sedikit kekuningan dengan adanya bunga bunga matahari yang berjejer lantang menghadap kemilau temaram matahari senja disepanjang jalan utama bukit ini.

”Tempat ini indah sekali. Seperti dalam dongeng saja,” gumamku terpesona.

Ness melirikku. ”Itu benar. Tapi apapun yang tengah kau pikirkan tentang bukit ini. Cobalah untuk tidak terbawa suasana disini,” bisik Ness pelan.

Kutatap Ness penuh tanda tanya.

Ness menghela napas. ”Kita hanya akan singgah semalam disini. Aku tak ingin kau terlalu menyukai tempat ini.”

”Kurasa itu sulit untuk tidak kulakukan mengingat tempat ini begitu mempesonaku,” protesku pelan.

”Itulah salah satu keahlian mereka untuk mempengaruhi pikiran pikiran kita,” ucap Ness datar sebelum akhirnya berjalan mendahuluiku dan meninggalkan beberapa pertanyaan dibenakku.

Tristan yang sedari tadi hanya membisu mulai menjajari langkahku dan mengenggam tanganku perlahan. Sepasang mata ungunya terlihat mengawasi punggung Ness dari belakang lalu menatapku resah. ”Apa yang kalian bicarakan?” tanyanya dingin.

”Bukan sesuatu yang penting. Hanya mengagumi keindahan bukit ini,” sahutku kikuk.

”Menjauhlah darinya Calista,” bisik Tristan dengan airmuka tegang.

Kulirik Tristan dengan ekor mataku.

”Kau milikku. Dan aku takkan membiarkan si brengsek itu menyentuh apa pun yang sudah menjadi milikku,” ujar Tristan penuh penekanan. Ada nada kecemburuan yang kutangkap dari nada suaranya.

Dadaku berdesir hebat. Kurasakan genggaman tangan Tristan semakin erat mengunci jemariku. Kulirik Tristan kembali dengan sedikit malu malu. Airmukanya terlihat dingin dan wajahnya tampannya hanya menatap lurus lurus ke depan.

”Kita telah memasuki desa bukit Foresse. Cobalah untuk tidak bertatapan langsung dengan mata mereka,” ujar Tristan mengingatkanku.

”Boleh kutahu mengapa,” bisikku tegang. Seraya melayangkan pandangan ke sekeliling dan mendapati beberapa orang yang nampak memperhatikan kedatangan kami dengan raut wajah penasaran.

”Hampir seluruh penduduk bukit ini memiliki kekuatan ilusi. Mereka tidak berbahaya. Hanya saja memiliki keahlian tinggi mengendalikan pikiran seseorang hanya dengan bertatapan mata. Mereka tidak begitu menyukai orang asing. Itulah sebabnya mereka selalu mempengaruhi pikiran siapapun yang singgah ke desa ini dengan perasaan yang sekarang kau rasakan. Semata mata untuk melindungi bahaya yang mengacam desa mereka,” ujar Tristan menjelaskan.

Hipnotis. Kini aku mengerti maksud perkataan Ness.

”Beberapa orang penduduk desa ini, bahkan ada yang memiliki kekuatan meramal masa depan,” ujar Tristan pelan seraya menyapukan pandangannya kesekeliling kami dengan cemas begitu melihat penduduk desa ini begitu antusias menatap kami satu persatu.

Kucoba membuang pandanganku dari tatapan mereka. Kemudian kulirik Tristan sekilas. ”Lalu apa yang kau risaukan. Ness bilang kita hanya singgah semalam saja disini,” tukasku mencoba untuk menenangkannya.

Tristan tersenyum dingin. Wajah tampannya yang sedari tadi resah kini lebih sedikit bersahabat.

”Tidak. Kau benar, tak ada yang perlu kita cemaskan. Hanya saja mereka benci para penyihir,” sahut Tristan spontan.

Penjelasannya membuatku terperangah. Begitu melihat raut wajahku yang sedikit tegang, Tristan kembali mempererat genggaman tangannya.

”Tenang saja. Bukit Foresse adalah salah satu sekutu Lembah Crystal,” ujarnya lagi mencoba untuk menenangkanku.

Kuhembuskan napas lega. ”Bagaimana kau bisa tahu begitu banyak tentang bukit ini,” desahku.

Ditatapnya kedua mataku tak berkedip. Airmukanya kali ini terlihat lebih bersahabat. ”Kau lupa ya jika aku pernah menjadi salah satu ksatria sihir di lembah Crystal.”

Aku tersipu malu menyadari kebodohanku.

Dari kejauhan nampak beberapa orang mulai berbisik dan menatap kearah kami terang terangan. Titus dan Ness terus berjalan dan tak memperdulikan semua itu. Sementara aku dan Tristan hanya mengikuti langkah langkah mereka dari belakang.

Kami tiba disebuah penginapan sederhana yang bernuansa hijau. Penginapan ini terlihat nyaman dan asri. Berbagai macam bunga dari berbagai jenis menghiasi sekeliling penginapan ini. Sesaat, aku teringat akan kota Willow yang begitu teduh dan hijau dengan deretan pohon cemara yang tumbuh teratur di sepanjang jalan utamanya. Hanya saja kota Willow tidak ditumbuhi terlalu banyak bunga bunga liar seperti desa ini.

Seorang laki laki tua menyambut kami dengan ramah. Dengan cepat ia memberikan dua kamar untuk kami. Sebuah kamar ukuran yang besar untuk Ness, Titus dan Tristan dan satu lagi sebuah kamar yang lebih kecil untukku.

Menjelang makan malam tak ada satu pun dari kami yang berbicara. Tristan duduk membeku dikursinya. Titus terlihat sibuk mengunyah makanan sementara Ness masih dengan gaya khasnya yang tenang dan datar duduk termenung sambil menyesap teh hangatnya.

Berulang kali Titus mencuri pandang kearahku seolah ada yang ingin disampaikannya. Ketika aku berbalik menatapnya, wajah Titus yang sedih itu nampak tersenyum gugup dan mengalihkan pandangannya kembali ke piring makan yang ada di depannya.

Kualihkan pandanganku kearah Ness. ”Bisakah kau tuangkan segelas teh yang sama untukku,” pintaku ramah.

Ness hanya menatapku datar dan tak berkedip. Sepertinya ia tak menyangka jika aku akan meminta suatu pertolongan kecil padanya mengingat keberadaan Tristan yang selalu ada disampingku dan rela melakukan apa saja untukku.

Dengan segenap keberanian kupaksakan diri menatap sepasang mata emasnya yang indah. Wajah tampannya yang elegan tersenyum kaku. ”Tentu saja,” sahutnya sopan.

Dengan antusias kuambil cangkir kecil pemberian Ness dan kusesap perlahan. Seketika itu juga aku merasa sedikit tenang. Kulirik Tristan yang masih membeku sambil memainkan makanan dalam piringnya. ”Apakah kau mau secangkir teh untuk menghangatkan tubuhmu,” tawarku hati hati padanya.

Tristan tersenyum kaku. ”Aku benci teh. Minum teh adalah kebiasaan orang yang sudah lanjut usia,” sindirnya sinis seraya melirik Ness yang nampak tak terpengaruh oleh ucapannya. Tetap tenang dan menikmati secangkir tehnya dengan santai.

Kutatap Tristan sedikit gusar. ”Cobalah untuk makan sedikit, kau membutuhkan tenaga untuk perjalanan besok.”

Airmuka Tristan terlihat tegang. ”Berhentilah mengaturku,” tukasnya dingin.

Aku terdiam.

Entah mengapa, ucapannya sedikit menyakiti perasaanku.

”Calista, bisakah aku bicara denganmu sebentar setelah makan malam,” sela Titus canggung seraya menatapku penuh harap.

Kuanggukkan kepala seraya melayangkan senyum hambarku.

Titus tersenyum senang. Dialihkan pandangannya kearah Tristan penuh perhatian. ”Sebaiknya kau mendengarkan ucapan Calista karena perjalanan kita kembali ke lembah Crystal masih cukup jauh.”

Wajah angkuh Tristan mengeras. ”Aku lebih baik mati kelaparan daripada ikut kalian kembali ke sana,” tandasnya dengan nada tinggi.

Kulirik gemas kearah Tristan yang mulai berulah lagi. ”Bisakah kau pelankan sedikit nada suaramu, Tristan. Titus hanya bermaksud baik padamu,” desisku setengah berbisik.

Tristan tersenyum mengejek kearahku. ”Aku tak perduli,” ucapnya dingin.

Sikapnya yang kaku dan keras kepala sangat mengintimidasiku. Kedua mata kami saling bertatapan. Ada amarah yang meluap diantara kami. 

Wajah Titus berubah jengkel. Sementara Ness terlihat berusaha keras menjaga emosinya, namun aku sempat menangkap kilatan geram di sepasang mata emasnya.

Mungkin Ness benar, ada sedikit rasa sesal yang kurasakan karena telah memintanya untuk membawa Tristan kembali ke lembah Crystal.

”Sebaiknya kau nikmati makan malammu tanpa banyak bicara,” sahut Ness suram dan sedikit enggan.

Tristan tertawa keras keras. ”Kau berbicara seolah olah kau ini seorang keturunan sejati bangsawan elf. Sadarlah Ferin, kau hanya separuh keturunan bangsa elf.”

Airmuka Ness berubah tegang. Begitu pula denganku.

”Kau hanya beruntung karena Quilla telah memilihmu, selebihnya kau hanya seseorang berdarah campuran yang terbuang di lembah Crystal,” ada kepuasan dari nada suara Tristan yang terdengar sedikit melecehkan.

Pertahanan Ness retak. Ketenangan yang biasa terlihat diwajahnya kini berganti dengan luapan amarah. ”Sepertinya mereka telah mencuci otakmu, hingga kau tak dapat berpikir jernih saat berbicara dengan orang lain,” sindir Ness tajam.

”Setidaknya aku masih dapat berjalan dengan harga diri diatas kakiku dengan kemampuanku sendiri tanpa bantuan orang lain!” balas Tristan setengah berteriak.

”Kumohon, hentikanlah pertengkaran kalian itu!” jeritku gusar dari tempat dudukku.

Tristan menatapku tak puas sementara Ness hanya melirik datar kearahku.

”Calista benar. Pertengkaran kalian akan menarik perhatian orang orang disekeliling kita,” bisik Titus sedikit tegang seraya mengawasi kesekeliling ruangan dan mendapati beberapa pasang mata mulai melirik ke meja makan kami.

Kuatur napasku perlahan. ”Bisakah kita duduk bersama menikmati makan malam ini dengan tenang,” pintaku seraya merendahkan nada suaraku. Kutatap Tristan dan Ness bergantian.

Tristan tertawa sinis. ”Jangan membuatku tertawa, Calista. Siapa yang dapat duduk tenang bersama dengan seorang musuh.”

”Kau tak perlu bersikap seperti ini, Tristan. Sesampainya di lembah Crystal nanti, Orion yang akan memutuskan nasibmu. Dan aku yakin sekali, jika keputusannya adalah yang terbaik untukmu,” sela Titus mencoba memberi pengertian.

Ditatapnya Titus dengan raut wajah tak senang. ”Aku tidak perduli. Bahkan jika Orion memutuskan untuk menginginkan kematianku,” ujarnya ketus.

”Itu takkan terjadi. Orion cukup bijak menentukan apa yang akan dilakukannya padamu mengingat kau juga pernah berjasa sebagai mantan ksatria sihir di lembah Crystal,” gigih Titus meyakinkan Tristan.

Tak mau menanggapi ucapan Titus, Tristan malah menatapku dingin. ”Seharusnya kau membiarkan aku mati saja disana,” ujarnya kembali menyalahkanku.

Seketika dadaku terasa sesak begitu mendengar ucapannya. Kutatap mata ungunya dengan tegar. ”Itukah yang kau inginkan.”

”Tentu saja. Daripada berada disini dan menjadi seorang pesakitan!” teriak Tristan meluapkan emosi, mengejutkanku, Ness dan Titus.

Ness berdiri seraya menatap Tristan kaku. ”Kau membuatku muak dengan semua rengekkanmu itu,  Readick.”

”Sudahlah. Hentikan pertengkaran kalian. Orang orang diruangan ini mulai memperhatikan kembali,” ingat Titus gugup.

”Jika kau sudah muak padaku. Mengapa kau tidak bersikap jantan dan berduel denganku sekarang,” tantang Tristan tak mau kalah seraya berdiri dari kursi makannya.

Kini mereka telah berdiri berhadapan hadapan.

”Melawan seorang pesakitan seperti kau, sangat bertentangan dengan prinsipku, tapi jika kau memintanya kurasa aku tidak punya pilihan lain,” ejek Ness sinis.

Tristan terbahak. ”Kau pasti sudah tersungkur di kedua kakimu dalam hitungan jari meski kau menggunakan kekuatan anting Quilla padaku.”

”Baiklah jika itu maumu,” ucap Ness ringan.

Aku hanya terduduk lemas di kursi makanku. Kepalaku terasa penat.

”Kapanpun kau siap Ferin,” ujar Tristan seraya mengepalkan tangan kanannya.

Kutatap meja makan yang penuh dengan tumpukan piring berisi makanan dan gelas gelas yang masih penuh.

”Apakah kalian sudah gila!” teriak Titus tertahan. ”Jangan membuat kekacauan di sini. Pikirkanlah,” suara Titus terdengar putus asa.

Sepertinya Ness maupun Tristan sudah tak mau mendengarkan peringatan Titus. Keduanya tetap bersitegang karena telah terbakar amarah.

Kupejamkan kedua mataku yang mulai terasa lelah. Masih terdengar seruan Titus yang berusaha keras mencegah duel mereka. Tapi suara suara kemarahan Ness dan Tristan yang bersahutan seolah mengabaikan perintah Titus.

”Hentikan...” seruku lemah.

Sia sia mereka tak mendengarkan keinginanku dan terus saja berdebat dan mulai bersiap siap untuk saling menyerang.

 Kesabaranku habis dengan teriakan kemarahan aku kembali menyerukan permintaan untuk menghentikan pertengkaran mereka.

Dan sesuatu yang hebat terjadi. Suara teriakan keras dari amarahku yang tertahan telah memecahkan piring piring makan dan gelas gelas diatas meja kami hingga berkeping keping dengan suara dentingan yang keras.

Teriakan teriakan cemas terdengar diseluruh ruangan. Beberapa orang ada yang beranjak pergi untuk menghindari kekacauan yang telah kami buat.

Ness menatapku terkesima.

Sementara Tristan nampak terkejut melihat kekuatan yang baru saja kulakukan meski itu diluar kesadaranku.

Dengan cepat Titus memegang bahuku. Wajah tirusnya terlihat cemas. ”Kau baik baik saja, Calista...”

Bukannya menjawab pertanyaan Titus aku hanya memandangi hamparan kepingan kaca diatas meja makan kami yang yang berkilauan.

”Ini tidak mungkin. Kau tidak bisa melakukan sihir...” geleng Tristan masih tak percaya akan penglihatannya.

”Aku merasa lebih baik sekarang...” gumamku pelan seraya menatap Titus.

Aku benar benar tak mengira jika kekuatan sihirku kembali. Ternyata Brisa benar. Begitu aku melepaskan beban pikiranku maka kekuatan sihir yang kumiliki akan kembali lagi padaku.

”Sepertinya kita kedatangan teman lama, Titus.” gumam Ness pelan seraya menatap kearah pintu dimana tiga orang laki laki tengah berjalan kearah kami. Mereka mengenakan jubah putih dengan lambang bunga matahari menempel di dada kiri masing masing.

”Biar aku saja yang bicara,” perintah Titus seraya menatap kami satu persatu. Airmukanya terlihat tegang.

Ketiga laki laki tersebut kini berdiri dihadapan kami. Titus memasang wajah ramah dan berusaha bersikap wajar. ”Sudah lama sekali sejak pertemuan terakhir kita, Otto!” sapa Titus berusaha terdengar wajar dan mengangguk sopan kearah laki laki yang berdiri ditengah.

 Laki laki yang berdiri ditengah yang dipanggil Otto terlihat mencoba untuk membalas sapaan Titus. ”Seharusnya kau mengirim pesan supaya kami dapat menyambutmu dengan pantas disini Titus, ” balasnya kaku.

Titus tertawa getir.

Aku, Ness dan Tristan hanya membisu.

”Maafkan kami yang tak sengaja membuat sedikit keributan. Kau tahu, perjalanan pulang sehabis menjalankan misi begitu melelahkan hingga membuat kami terkadang tak dapat menjaga emosi satu sama lain,” seringai Titus kikuk.

Otto memandangi kami satu persatu. Pertama ia menganggukkan kepala kearah Ness yang menyambutnya dengan senyum datar lalu mengalihkan pandangannya kearah Tristan yang diam membeku. Terakhir ia menatap kearahku lekat lekat untuk beberapa saat seolah berusaha membaca pikiranku.

Kulirik Titus meminta pertolongan.

Titus menangkap isyarat dariku. ”Gadis ini bernama Calista Kaz. Seorang penyihir muda yang akan ikut ke lembah Crystal bersama kami,” ucapnya hati hati.

Untuk beberapa saat Otto masih memandangiku dan tak mengindahkan ucapan Titus. Kuputuskan untuk membalas tatapannya dengan lantang sekaligus menunjukkan rasa ketidaksenanganku karena pandangannya yang begitu mengintimidasi.

”Tak sopan rasanya menatap seseorang seperti itu tanpa memperkenalkan dirimu terlebih dahulu Otto,” tegur Ness mengingatkan.

Pandangan Otto kini beralih pada Ness. ”Maafkan aku Ferin. Aku tak bermaksud untuk tidak sopan padanya,” ujar Otto seraya melirik kearahku. ”Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang terlihat begitu berbeda. Ia seperti memiliki aura yang sangat kuat hingga menarik seluruh perhatianku dari kekacauan yang kalian buat,” gumam Otto menerawang.

”Dengan menelanjanginya oleh tatapan matamu yang liar dan menjijikkan itu,” kecam Tristan sinis.

”Hentikan Tristan!” sentak Titus panik.

Tristan mendengus kesal sementara Otto hanya tersenyum.

”Tak apa Titus. Aku mengerti kegelisahan Tristan akan keselamatan nona Kaz.”

Otto mengulurkan tangan kanannya padaku. ”Namaku Otto Cursen. Aku adalah orang yang bertanggung jawab atas keamanan desa ini.”

Kusambut uluran tangannya dengan ragu. Begitu kami berjabat tangan raut wajah ramah Otto Cursen berubah tegang. Kucoba melepaskan tanganku tapi Otto seolah makin mempereratnya dan tak mau melepaskan.

”Kau tak perlu membaca isi pikiran kami Otto. Karena kami tidak berniat buruk dan hanya singgah semalam di sini,” seru Titus melirik kearahku dan Otto bergantian.

Akhirnya kedua tangan kami terlepas. Wajah Otto masih terlihat tegang untuk sesaat. Kutatap laki laki itu dengan jengkel. Namun dengan cepat Otto menguasai diri dan kembali tersenyum ramah. ”Tenang saja Titus. Aku tahu itu. Tapi terkadang kalian para penyihir seringkali tidak dapat menahan diri. Kehadiran kalian sedikit meresahkan penduduk disini. Kuharap kau mengerti akan keinginan kami juga.”

”Tentu Otto. Itulah sebabnya kami berniat segera pergi secepat mungkin keesokan paginya  tanpa kalian sadari,” janji Titus meyakinkan.

Otto mengangguk puas. Sebelum berlalu dari hadapan kami bersama dua orang pendampingnya. Otto menyempatkan diri  menatapku.  ”Kau memiliki energi yang kuat dan berbeda dengan penyihir penyihir muda yang pernah kutemui sebelumnya, sepertinya kau ditakdirkan untuk sesuatu yang besar.”

Belum sempat aku bertanya maksud perkataannya ia telah memunggungiku dan berlalu dari hadapan kami.

”Dia hanya mempermainkan pikiranmu,” dengus Tristan seraya melirikku.

Titus menatap ragu kearah Tristan. ”Kurasa tidak. Otto Cursen adalah seorang illusionist hebat yang terpilih untuk memimpin desa ini. Hampir semua ramalannya menjadi kenyataan.”

Seketika tubuhku bergetar. Membayangkan ucapan Otto Cursen yang mengatakan jika aku ditakdirkan untuk sesuatu yang besar membuatku resah.  Bagaimana jika ia benar. Bagaimana jika aku adalah gadis dalam ramalan yang selama ini di cari Zorca Anthea.

Kutepiskan pikiran bodoh itu secepatnya. Membayangkannya saja sudah membuatku ketakutan setengah mati.

Seolah dapat membaca pikiranku Ness yang sejak tadi diam saja, menatapku lekat lekat. ”Satu atau dua hari lagi kita akan tiba di lembah Crystal. Kau dapat mengetahui asal usulmu yang sebenarnya,” ujarnya lembut.

Kutatap sepasang mata keemasan itu dengan lega. Untuk satu hal ini aku setuju dengannya. Pergi ke lembah Crystal adalah satu satunya jalan terbaik yang harus kulakukan sebagai tempat persembunyianku dari para penyihir hitam Zorca yang tengah memburuku.

Sebelum aku sempat masuk ke dalam kamarku, Titus menyempatkan diri untuk mengajakku bicara. Wajah sedihnya terlihat begitu tegang. ”Aku hanya ingin tahu. Ketika di Essendra, saat kita melawan dua penyihir Zorca. Apakah kau telah melepaskan mantra panggil supaya kita bisa melarikan diri,” tanyanya pelan.

Aku tak dapat berbohong pada Titus. ”Ya,” sahutku datar.

Titus menatapku kagum. ”Ini benar benar luar biasa. Brisa jelas jelas mengatakan padaku kalau kau telah kehilangan kekuatan sihirmu. Namun kejadian malam ini menunjukkan jika kau masih memiliki harapan.”

”Itu benar Titus. Tapi seseorang membantuku mengembalikan kekuatan sihirku.”

”Siapa?”

Kutatap Titus ragu. ”Penyihir wanita yang bersama Tristan waktu itu.”

Titus terdiam sesaat. ”Untuk apa ia melakukan itu.”

”Untuk sebuah pertemanan.” sahutku pelan.

Dahi Titus berkerut. ”Sungguh tak masuk akal. Para penyihir Zorca takkan pernah mau mengajarkan sihir mereka pada siapapun untuk alasan apapun,” ujarnya menganalisa.

Aku menggeleng lemah. ”Entahlah. Selama berada dibawah penawanan mereka. Aku tidak terlalu merasa terancam. Mereka memperlakukanku dengan baik begitu pula dengan Tristan.”

Titus menatapku dalam. ”Sepertinya ucapan Otto Cursen ada benarnya. Kau seperti memiliki suatu aura untuk menarik simpati seseorang.”

Aku termenung. Kurasa ucapannya terlalu berlebihan.  ”Apakah kau berpikir jika aku adalah gadis dalam ramalan Zorca,” gumamku pelan.

”Masih terlalu dini untuk menyimpulkan hal itu. Seharusnya kau tak boleh mengetahui isi ramalan tersebut. Namun karena para penyihir Zorca telah memberitahukanmu terlebih dahulu. Aku tak punya pilihan lain selain membawamu secapatnya ke lembah Crystal untuk menemui Orion.”

”Kuharap ini suatu kesalahan. Aku tak mungkin memiliki kekuatan besar untuk mengalahkan penyihir hebat seperti Zorca,” gelengku kesal.

Titus menatapku iba. ”Berharap saja memang suatu kesalahan. Tak dapat kubayangkan jika kau harus menanggung beban seberat itu dipundakmu untuk melawan penyihir kejam macam Zorca dan para pengikutnya.”

Seketika itu juga tubuhku bergidik kencang.

Dan malam itu untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama bayangan wajah seorang wanita berambut panjang dengan sorot mata hitamnya yang kelam kembali menghantuiku.

Wanita itu berdiri ditengah derasnya hujan seraya mengacungkan tangan kanannya yang mengeluarkan kumparan angin puyuh yang berputar cepat kearah seorang laki laki muda berwajah mirip dengannya. Laki laki itu nampak berteriak marah dan mengeluarkan kilatan api yang cukup besar dan menghantam angin puyuh yang ditujukan kearahnya. Terdengar suara dentuman keras yang memekakkan telinga dan seketika itu juga aku terbangun dalam tidurku, berpeluh keringat dingin dengan tubuh yang gemetaran.

Keesokannya, kami bangun pagi pagi sekali karena Titus telah berjanji pada Otto untuk segera meninggalkan bukit Foresse secepat mungkin.

Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam.

Tristan nampak sedikit lesu. Sementara Ness terlihat begitu tenang.

Kujejeri langkah langkah panjang Titus. Jujur saja saat ini aku tak ingin berjalan berdampingan dengn Tristan maupun Ness karena peristiwa semalam. Sekilas, kulirik mereka dengan ekor mataku. Ness nampak waspada mengawasi setiap langkah Tristan dari belakang.

”Menurutmu apa yang akan dilakukan Orion pada Tristan?” tanyaku pelan pada Titus seolah tak ingin Tristan mendengarku.

Titus menghela napas. ”Tristan seorang pemuda yang baik. Penyihir hebat jika rajin berlatih. Namun perbuatannya yang bergabung dengan Zorca tetap dianggap salah dan tak bisa dimaafkan begitu saja.”

Kulirik Tristan yang kini nampak merapatkan jubahnya karena udara memang agak dingin sepanjang pagi ini.

”Apakah Orion akan melakukan hal hal yang buruk padanya, Titus.”

Titus tertawa mendengar ucapanku. ”Tidak Calista. Itu sama sekali bukan sifat Orion. Orion Xander adalah pemimpin yang sangat bijaksana. Tristan akan diperlakukan adil di lembah Crystal.”

”Saat aku meminta Ness untuk membawanya pulang ke lembah Crystal aku memiliki keyakinan jika Tristan akan berubah. Dia bukan orang yang jahat. Hanya saja jiwanya tengah terluka,” desahku.

Titus menatapku dengan pandangan serius.

”Tristan sangat melindungiku ketika aku dalam penawanan mereka.”

Titus menghela napas panjang. ”Mungkin kau bisa jadikan itu sebagai alasan pada Orion untuk menolongnya nanti.”

Kulirik Tristan sesaat.

Titus benar. Aku harus memberikan pembelaan yang layak pada Tristan. Orion pasti mengerti dan memberikan kesempatan kedua pada Tristan.

”Terimakasih Titus,” gumamku pelan.

Titus mengangguk senang.

Malam itu Titus memutuskan agar kami bermalam dipinggiran hutan kecil yang dipenuhi dengan hamparan rumput tebal sepanjang jalan. Suara suara burung hantu dan jangkrik yang saling bersahutan terdengar seperti irama malam dan menjadi hiburan tersendiri bagi kami berempat yang hanya terdiam mengelilingi api unggun.

Sepanjang hari ini Tristan seolah menghindari setiap tatapan mataku. Meski terasa menyakitkan namun aku pura pura tak mengetahuinya.

”Bagaimana keadaanmu. Apakah lukamu semakin membaik,” tanyaku mencoba memberi perhatian.

”Aku baik baik saja,” sahut Tristan acuh tanpa menoleh kearahku.

Ness melirikku datar sementara Titus pura pura mengalihkan pandangannya ke langit malam yang penuh taburan bintang.

”Aku hanya mencemaskanmu Tristan,” ucapku memberi alasan.

Sepasang mata ungu Tristan menatapku kesal. ”Berhentilah mengurusiku seperti bayi, Calista. Semakin dekat menuju lembah Crystal, semakin membuatku ingin mati saja. Seharusnya kau membiarkan saja aku terkapar sekarat di Essendra,” sentaknya marah dengan wajah tampannya yang nampak tertekan seolah ingin menghukumku dengan ucapannya yang tajam.

Dia berhasil.

Aku terpancing dan merasakan kepedihan luar biasa di hatiku. Dadaku terasa nyeri dan berdebar cepat. Dengan kesadaran penuh, aku berdiri dan menyeret langkahku yang terasa berat. Tak kuperdulikan panggilan Titus padaku. Dan terus berlari tanpa arah menembus hutan kecil yang gelap ini.

Tristan benar benar telah mempermalukan aku di depan Ness dan Titus.

Seseorang memegangi lenganku dari belakang. Membalikkan tubuhku yang meronta marah. Saat aku berbalik untuk menatap pelakunya. Sepasang mata coklat keemasan menatapku iba.

”Tinggalkan aku sendiri Ness,” raungku marah.

”Aku tidak bisa membiarkanmu masuk ke dalam hutan lebih jauh.”

”Karena aku akan menyusahkanmu yang terpaksa harus mencariku karena tersasar dalam hutan ini atau karena Titus yang menyuruhmu,” sindirku halus.

Ness terdiam.

Kuhapus airmata yang telah membasahi kedua pipiku sejak tadi.

”Aku pasti terlihat menyedihkan sekali dimatamu,” aku mencoba bernapas teratur dan menguasai emosiku.

Wajah tampan itu menatapku datar. ”Tidak juga.”

Aku tertawa sumbang. ”Kurasa kau menang. Saat ini aku benar benar menyesal telah memintamu membawanya kembali ke lembah Crystal.”

Ness masih diam tapi sepasang mata emasnya tetap mengawasiku.

”Mengapa kau jadi begitu pendiam. Kau yakin tak ingin mengucapkan satu atau dua kata sindiran untukku,” sindirku dengan suara parau.

Ness terlihat melamun dan menatapku dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.

”Kurasa Tristan bukan orang yang tepat untukmu,” desahnya pelan sambil menghela napas panjang.

Desiran halus menyapu perasaanku. Berani sekali ia berkata seperti itu padaku.

”Sudahlah. Aku tak ingin mendengar apapun darimu saat ini apalagi mengenai Tristan,” sergahku kasar.

Alis Ness terangkat satu. ”Baiklah. Kupikir kau tadi tak senang melihatku jadi pendiam,” nada suaranya merendah.

Kulirik ia dengan ekor mataku. Ada segaris senyum di wajah tampannya.

”Jika kau butuh udara segar aku akan berada disini menemanimu. Aku berjanji tak akan mengeluarkan sepatah kata pun padamu jika itu yang kau inginkan,” ucapnya lagi bernada penekanan.

Kuberanikan diri menatap wajah tampannya yang begitu elegan. Sepasang mata emasnya yang menawan masih menatapku. Pangeran peri ini begitu mempesona dibawah terangnya sinar rembulan. Dengan bimbang kuanggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.

Tanpa canggung Ness duduk santai diantara rerumputan tebal seraya menatap bulan yang bersinar penuh.

Dengan ragu aku duduk disampingnya. Kini kami hanya terdiam dan memandangi bulan yang terlihat indah diantara taburan bintang.

”Seharusnya ada kunang kunang disini?” gumam Ness sendirian.

Dengan sedikit bingung kupandangi garis wajahnya yang lembut dan sempurna itu. Tampan dan menakjubkan. Berbeda dengan ketampanan Tristan yang selalu muram dan terlihat dingin.

”Biasanya mereka selalu keluar pada malam hari,” ujarnya lagi, tak memperdulikan tatapanku.

”Mungkin tangisanku membuat mereka ketakutan,” gurauku parau mencoba untuk melucu.

Ness menatapku lekat lekat. ”Kau tak seharusnya menangis untuk sesuatu yang tak pantas untukmu.”

”Bukankah kau sudah berjanji tak akan mengatakan sepatah kata pun padaku,” rengutku menampakkan kekesalan padanya.

”Kau benar,” ucapnya datar menyadari kesalahannya.

Kuluruskan kedua kakiku dan berusaha terlihat santai. ”Mungkin sebaiknya kita tetap membicarakan kunang kunang,” saranku padanya.

Ness tertawa. Sepasang mata coklat keemasannya nampak bersinar terang. ”Tunggu sebentar,” pintanya dengan suara merdu.

Telunjuk tangan Ness seketika bergerak pelan membentuk setengah lingkaran. Sebuah cahaya redup berpendar keluar dari jari telunjuknya. Cahaya itu sedikit demi sedikit terlihat terang ketika ia telah membuat telunjuknya menjadi gerakan lingkaran penuh.

Cahaya terang yang terpendar dari jari telunjuknya adalah cahaya yang sama yang pernah kulihat keluar dari telapak tangan Ness beberapa waktu yang lalu. Bedanya cahaya ini tidak terlalu menyilaukan.

Karena masih terpaku oleh cahaya yang keluar dari telunjuknya aku tak terlalu memperhatikan cahaya cahaya kecil yang beterbangan dan melayang layang disekitar cahaya yang dibuat Ness.

Ness menurunkan jari telunjuknya dan cahaya yang keluar dari jari telunjuknya pun seketika padam. Saat aku tersadar, puluhan kunang kunang yang datang telah berterbangan mengelilingi aku dan Ness. Mereka terlihat indah kala mengeluarkan cahaya dari tubuh kecil mereka di terangnya sinar bulan.

Aku tertawa lepas.

”Mereka cantik sekali,” seruku senang seraya berdiri dan berputar putar berusaha menangkap kunang kunang yang kini tengah melayang layang di udara.

Pangeran peri yang tampan itu hanya tersenyum melihat kelakuanku.

Seperti anak kecil yang polos, aku terus saja berputar putar dan berusaha menangkap salah satu kunang kunang sambil berteriak kesenangan. Ness hanya memandangiku dari tempat duduknya.

Bebanku terasa hilang. Aku bisa sedikit melupakan kekesalanku pada sikap Tristan. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika aku akan menghabiskan malam yang menyenangkan bersama Ness saat ini.

Genre : Novel Fantasy Romance 
Writer : Misaini Indra


Tuesday, 2 August 2011

Calista Kaz "Penyihir Naga Arkhataya" (Chapter 7)


7. SEBUAH MISI PENYELAMATAN

          Sungguh menyenangkan. Kekakuan Chaides yang bersikeras tak mau melewati keramaian ternyata berujung pada keberuntunganku. Sepanjang perjalanan, kami sama sekali tidak menemukan hutan ataupun bukit berbatu. Melainkan jalan utama menuju sebuah tempat yang sudah sangat kukenal. Senyum lebar menghiasi wajahku. Kunikmati jalan utama ini dalam setiap langkahku. Perjalanan ke utara membuat kami harus berbalik kembali kesebuah tempat yang sangat kurindukan yaitu rumah.
          Kutatap papan sederhana di pintu masuk desa yang tidak terjaga. Suasana di desa Essendra terlihat tenang. Chaides nampak menyapukan pandangan kesekeliling dengan tatapan waspada. Sementara kami mengikuti langkah langkah pendeknya dari belakang.
Amara menyikut lenganku. Kuanggukkan kepalaku dengan gerakan perlahan, aku tak ingin Chaides mencurigaiku. Karena sepanjang perjalanan ini diam diam Amara mengajariku mantra pemanggil. Mantra ini memiliki kekuatan untuk memanggil semua jenis binatang untuk mengalihkan perhatian musuh sekaligus memberi perintah penyerangan.  
Kuhafalkan dalam hati dan berkonsentrasi penuh untuk merapalkannya. Amara menyarankan aku untuk memanggil sesuatu yang lebih kecil seperti kupu kupu agar tidak menarik perhatian Chaides dan Tristan.
Sayangnya, aku selalu gagal.
Dengan kesal kutendang kerikil kerikil kecil sebagai pelampiasanku. Meski kecewa namun langkah langkah kami yang telah memasuki pusat desa Essendra cukup menghiburku. Berharap saja ada keajaiban untukku disana.
Tristan yang telah mengetahui rasa antusiasku terlihat sedikit resah. Dari sorot matanya, seolah ia ingin memberitahuku jika kami takkan berhenti di Essendra. Sepertinya ia ingin mengingatkanku untuk melupakan rumah.
”Aku lelah. Bisakah kita berhenti di sini,” cetus Amara menatap galak kearah Chaides.
”Bagaimana jika aku tak mau. Apakah kau akan menyerangku lagi?” sindir Chaides santai.
”Mungkin saja!” lengking Amara lantang.
Chaides mengalihkan pandangannya kearah Tristan seraya melirikku. ”Apakah kekasihmu itu masih kuat jika kita meneruskan perjalanan ini?”
Belum sempat Tristan menjawab pertanyaan Chaides segera kulontarkan ucapanku yang paling pedas pada laki laki cebol itu. ”Jika kau menginginkan aku mati kelelahan terlebih dahulu sebelum Rufus membunuhku, kurasa aku tak keberatan,” raungku gusar.
Chaides tertawa keras keras.
Tristan menahan napas dan menatapku dengan ekspresi wajah yang sulit kutebak.
”Kekasihmu ini memang pintar bicara ya. Baiklah kita istirahat sebentar di desa kecil ini. Sepertinya tidak terlalu berbahaya. Tapi ingat aku takkan mengampuni kalian jika kalian membuat masalah, sedikit saja,” tegas Chaides sambil membetulkan topinya.
Jantungku berdetak cepat. Kutatap Amara penuh semangat, tak bisa menutupi perasaan senangku.
”Jangan melakukan hal yang bodoh,” bisik Tristan mengingatkanku.
Kuputuskan untuk tidak mendebatnya dan hanya melirik tajam dengan ekor mataku.
”Aku tak yakin dapat membantumu jika kau bermasalah lagi dengan Chaides,”  bisiknya lagi tapi kali ini terdengar lebih lembut dikupingku.
Sikapnya yang dingin dan mencair tiba tiba terkadang membuatku sedikit ragu untuk mempercayai perasaannya padaku. Sungguh suatu sifat yang bertentangan dengan Ness yang selalu terlihat tenang dan datar.
Namun, tetap saja keduanya terlihat sama dimataku. Dua orang laki laki yang berkepribadian rumit yang tak dapat kupahami. Dua buah misteri hati yang sama sekali tak dapat kupecahkan.
”Calista, bukankah sekarang waktu yang tepat untukmu mencoba mantra pemanggil yang telah kuajarkan,” seringai Amara setengah berbisik membuyarkan lamunanku.
Aku baru tersadar jika kini hanya ada aku dan Amara tengah berdiri disini.
”Chaides dan Tristan tengah pergi untuk mencari penginapan,” bisik Amara lagi.
Kutatap sekelilingku. Sepertinya posisi kami cukup aman dan tersembunyi karena dikelilingi pohon cemara.
”Baiklah,” sahutku mantap seraya menatap wajah gemuk Amara yang tengah menyeringai kearahku.
Kuhembuskan napas perlahan dan mencoba untuk berkonsentrasi. ”Untuk semua yang terbang dan melayang, dengarlah bisikku berdendang, datanglah padaku sekarang.....”
Hening.
Tak ada apa pun.
Hanya desiran angin dingin menembus kulitku.
”Cobalah sekali lagi,” ujar Amara menghiburku.
Kurapalkan mantra tersebut sekali lagi dengan konsentrasi penuh.  
Namun hasilnya tetap sama.
Tidak ada yang terjadi.
Dengan kesal kuhentakkan kakiku dan duduk ditanah.
Amara menatapku dalam. ”Berpikirlah sesuatu yang membahagiakan nak. Mungkin itu akan sedikit membantu,” sarannya.
Amara benar. Kurasa, terlalu banyak kesedihan mengendap diotakku. Brisa pernah mengingatkanku tentang hal ini sebelumnya. Kutatap Amara lagi, kali ini dengan penuh keyakinan. ”Aku akan mencobanya lagi,” gumamku.
”Bagus. Sekarang pikirkanlah sesuatu yang menyenangkan. Rapalkan kembali mantra itu dan juga pikirkan tentang kupu kupu..,” seringai Amara.
Kulakukan semua perintahnya.
Dari semua kenangan menyenangkan yang pernah kualami ternyata bukan kenangan akan kebersamaanku dengan ayahku, Arman. Akan tetapi kenangan menyenangkan saat aku menyusuri jalan setapak yang menuju hutan Voswood untuk sekedar melepas rasa penat dan menikmati sejuknya udara lembap dari tetes embun padang rumput halus yang melingkar dengan bunganya yang melambai lambai tertiup angin semilir. Rasa tenang dan damai yang kurasakan ketika berada di dalam hutan Voswood yang hijau dan teduh. 
Kupejamkan kedua mataku dan membayangkan bunga bunga liar beraneka ragam dengan warna warni yang cerah beserta kupu kupu yang melayang layang hinggap diatas kuntumnya. Tidak hanya satu namun beberapa kupu kupu kini melayang terbang kesana kemari. Dengan setengah berbisik kembali kurapalkan mantra panggil itu sepenuh hatiku.
 ”Untuk semua yang terbang dan melayang, dengarlah bisikku berdendang, datanglah padaku sekarang.....”
Kembali hening tak ada suara.
”Untuk semua yang terbang dan melayang, dengarlah bisikku berdendang, datanglah padaku sekarang.....”
Desiran angin terasa semakin dingin menembus kulitku. Dan tiba tiba saja kurasakan sesuatu bergerak gerak disekeliling rambutku seolah olah tengah mengelitikku dan kemudian berpindah untuk kembali menggelitik wajahku.
”Buka matamu Calista! Cepat bukalah..,” seru Amara tak sabar.
Seketika itu kubuka lebar lebar kedua mataku.
Sungguh menakjubkan.
Entah datang darimana, serombongan kupu kupu beraneka ragam dengan sayapnya yang indah berwarna warni terbang mengelilingku.
”Aku berhasil Amara!” pekikku kegirangan diantara puluhan kupu kupu yang sibuk mengelilingiku.
”Sekarang tataplah lurus lurus jalan setapak dihadapanmu. Perintahkan mereka untuk terbang kesana dengan kedua matamu seraya merapalkan mantra pemanggil dalam hatimu,”  perintah Amara.
Kembali kuturuti perintahnya.
Sekarang puluhan kupu kupu tersebut terbang melayang beriringan menuju jalan setapak dihadapanku. Kutatap kepergian makhluk makhluk kecil itu hingga hilang diujung jalan seolah masih tak percaya.
”Selamat nak. Kau telah lulus pelajaran sihir pertamamu,” ujar Amara dengan nada tulus hingga membuatku sedikit terharu.
”Terimakasih Amara. Kau telah mengajarkan salah satu sihirmu padaku. Semua ini sangat berarti untukku,” pelukku senang.
Amara terkikik riang seolah ikut merasakan kebahagianku. ”Dengar aku Calista, jika kau ingin memanggil binatang lain yang merangkak, berjalan ataupun yang melata yang perlu kau lakukan hanya mengganti kata pertamanya saja. Dan jika kau inginkan mereka untuk menjadi senjatamu. Kau harus menatap musuhmu lekat lekat dan perintahkan mereka menyerang tanpa ragu.”
Kutatap balik Amara dengan ragu. ”Amara jika Rufus tahu kau mengajarkan sihirmu padaku. Kau pasti akan berada dalam kesulitan.”
”Kurasa aku harus mengambil resiko itu,” hela Amara pelan.
”Tapi bagaimana jika ia marah dan melakukan sesuatu yang buruk padamu,” nada suaraku menjadi cemas.
”Aku hanya akan bersikap seperti orang bodoh di depannya hingga ia kesal setengah mati. Lalu berharap, semoga ia menunda kematianku,” kikiknya geli mencoba untuk menutupi perasaannya.
Suara teriakan Tristan yang memanggil kami memotong pembicaraan kami. Ada rasa gundah dihatiku kala menatap punggung besar Amara yang tengah berjalan di depanku.
Kami menyusuri keramaian desa Essendra dengan waspada. Tristan memegangi tanganku erat untuk menjaga segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Dia pasti sudah gila jika berpikir aku akan melarikan diri darinya.
Kutatap nanar kios pengasah batu milik tuan Farrow tempat dimana ayahku pernah bekerja. Tempat itu masih sama seperti dulu. Saat kulayangkan pandangan kearah kios bahan makanan tempat kejadian mengerikan dimana aku kehilangan ayahku, dengan cepat kutundukkan wajahku dalam dalam.
Jemari Tristan menelusuri jemariku dengan lembut. Menguncinya dalam sebuah genggaman erat seolah mencoba mengatakan jika ia memahami perasaanku.
”Aku tak sanggup melihat tempat ini,” bisikku sedikit marah.
Tristan menghela napas dan melepaskan jemarinya untuk memeluk bahuku. Kurasakan sedikit kehangatan yang menenangkan dari pelukannya itu.
Chaides memutuskan untuk bermalam disebuah penginapan diujung perbatasan desa dekat pinggiran hutan Voswood.  Ada getir didadaku. Luka di hatiku kembali terasa perih. Melihat hutan kecil Voswood mengingatkanku pada rumah kami yang kini tak berpenghuni dan juga tempat peristirahatan terakhir ayahku, Arman.
Sepanjang perjalanan menuju desa Essendra, aku tak merasakan keanehan sedikit pun namun ketika memasuki penginapan kecil ini ada sedikit keresahan menggelayutiku. Aku merasa seolah olah seseorang tengah mengikuti kami.
Tristan mengantar aku dan Amara ke sebuah kamar sempit dan memintaku membersihkan diri sebelum makan malam. Tubuhku terasa segar kembali setelah membasuh diri. Perjalanan yang melelahkan ini benar benar menguras pikiran dan tenagaku.
Desiran angin dingin yang berhembus di kisi kisi jendela kamar membuat tengkukku meremang. Kuamati jendela kayu yang agak berdebu dari tempatku berdiri. Aku merasa ada sepasang mata yang tengah mengamatiku. Kembali bulu bulu halus ditengkukku meremang. Rasa takut mulai menyelimutiku. Teguran Amara membuatku tersadar. Dengan tak sabar ia menyeret lenganku untuk pergi ke ruang makan.
Sesampainya diruang makan yang kecil itu dengan rakus Amara mulai menyantap makanan yang tersedia tanpa rasa malu. Aku begitu mual melihat selera makannya yang mengerikan. Amara menaruh piring yang berisi sepotong ayam panggang di depan hidungku. ”Makan ini. Kau terlihat pucat dan sangat kurus,” cengir Amara.
Aku hanya memandangi isi piring itu tanpa selera.
”Bisakah kau ambilkan jus plum itu untukku,” pintaku sopan pada Amara yang tengah sibuk menyantap makan malamnya.
Diletakkannya gelas yang berisi jus plum dengan sedikit kasar di depan hidungku. Isinya sedikit bertumpahan diatas meja dan percikannya sedikit mengenai lengan bajuku.
Aku meminumnya sedikit sedikit. Rasa segar membasahi kerongkonganku yang sedari tadi terasa kering. Ketika kutaruh gelas milikku diatas meja makan, sebuah ledakan menyambar meja makan kami hingga berantakan. Aku menjerit kencang. Jantungku seketika berhenti berdetak sementara Amara yang sejak tadi sibuk mengunyah tiba tiba saja sudah tersungkur dari kursinya dan terbaring di lantai dalam keadaan kaku dan tak bergerak.
Semua pengunjung penginapan yang berada diruang makan ini berlarian keluar karena ketakutan. Sementara Amara terlihat marah dan memandang kesekelilingnya seraya mengeluarkan makian dan sumpah serapah pada penyerang gelap yang telah melancarkan mantra pelumpuh tubuh padanya.
Rasa takut mulai menyelimutiku.
Kukatupkan rahangku rapat rapat dan hanya terpaku menatap Amara yang memanggil manggil namaku dan menyuruhku pergi mencari Tristan.
Aku hanya menutup wajahku dengan kedua telapak tangan dan terduduk lemas di lantai. Kurasakan kehadiran seseorang dihadapanku. Kuberanikan diri untuk membuka mata dan mendongakkan kepala untuk menatap sosok di depanku itu.
Seorang laki laki berwajah tirus, dengan perawakannya yang tinggi kurus menatapku dengan wajah sedih. Kedua matanya yang cekung menatapku dalam seolah memberi perintah untuk duduk tenang dan tak bersuara.
Amara kembali berteriak memperingatkan untuk tidak memperdulikan bisikannya. Namun pengaruh laki laki kurus berjubah coklat lusuh itu sangat kuat. Ia semakin dalam menatapku. ”Jangan takut Calista. Aku datang untuk menolongmu,” bisiknya pelan.
          Dia tahu namaku. Batinku resah.
Pandanganku terasa hampa. Dan aku juga telah terbius oleh ucapannya.
Diluar dugaan aku melihat kembali sosok yang sudah begitu akrab di kehidupanku akhir akhir ini. Sosok tinggi langsing dengan rambut hitamnya yang kecoklatan. Ia muncul dari balik punggung laki laki kurus berwajah sedih. Sepasang mata coklat keemasannya menatapku penuh kelegaan.
          ”Sukurlah kau masih hidup, Kaz..” ucapnya lembut.
Tak percaya kupandangi lekat lekat wajah tampan yang elegan itu. Raut mukanya masih sama seperti yang terakhir kuingat. Begitu tenang dan datar dengan pesonanya yang sulit untuk ditepiskan. ”Bangunlah. Kita harus segera pergi dari sini,” disorongkan tangan kanannya yang kokoh tepat di depan hidungku.
Aku hanya terduduk lemas di lantai menatap sepasang mata emasnya yang teduh. Laki laki berwajah sedih disampingnya nampak tak sabar. ”Kita tidak punya banyak waktu Ness. Tristan pasti telah mengetahui kedatangan kita!” serunya lagi.
Tak ingin membuang waktu. Ness menarik tubuhku ke dalam pelukannya lalu menggendongku dipundaknya. ”Tunjukkan jalan keluarnya, Titus!” seru Ness sementara aku hanya terdiam pasrah.
Laki laki berwajah sedih yang mengenakan jubah lusuh berwarna coklat menganggukkan kepalanya dan menunjuk pintu keluar.
”Tidak secepat itu Ferinnn!!” teriak Tristan berang seraya melontarkan mantra untuk menjatuhkan Ness. Tapi dengan lincah Ness berhasil menghindarinya.
Kini Tristan berdiri dihadapan Ness dan Titus dengan tatapan dingin.
Ness menurunkan aku dari pundaknya lalu memeluk pinggangku erat. Aku dapat melihat sorot mata ungu Tristan yang berkilat marah menatap tajam kearah Ness.
”Sepertinya kau masih belum dapat mengendalikan emosimu itu, Readick...” sindir Ness halus.
Tristan tersenyum sinis. Ditatapnya Ness dan Titus bergantian. ”Kalian tidak akan bisa meninggalkan tempat ini dengan mudah!” raung Tristan geram.
”Belum terlambat untuk memperbaiki semua yang telah kau lakukan Tristan,” sela Titus mengingatkan.
Tristan tergelak. ”Cara berpikirmu itu sangat lugu sekali Titus,” ujarnya melecehkan.
”Berhentilah berbasa basi dan cepat lepaskan aku dari mantra sialan ini, Tristannn!” lengking Amara berteriak marah.
Diliriknya Amara yang masih tergeletak di lantai tak bergerak.
Sepasang mata ungu Tristan berkilat marah menatap tajam kearah Ness. ”Dizzante!” teriak Tristan seraya mengarahkan serangan sihirnya kearah Ness yang masih memelukku.
Ness menarik tubuhku dan berusaha menghindar namun terlambat, asap hitam menggelung tubuh kami dengan cepat. Tubuh kami berputar putar di udara. Jeritan suaraku tertelan gemuruh gulungan asap hitam buatan Tristan. Ness hanya dapat memelukku erat seolah mencoba untuk menenangkanku. Usahanya tak berhasil karena aku terus menerus menjerit ketakutan.
”Folloness..!” tangan kiri Titus mengarah ke bahu Tristan.
Seketika itu juga, tubuh Tristan langsung terdorong kencang menabrak kursi makan. Bersamaan dengan tubuhku dan Ness yang terhempas jatuh ke lantai. Kurasakan sakit luar biasa di punggungku. Titus menghampiriku dan membantuku berdiri. Sementara Ness terlihat tak bergerak.
”Berdiri Ness! Kita harus segera pergi dari sini!” teriak  Titus panik seraya menopang bahuku.
Ness bangun dengan susah payah. Begitu pula dengan Tristan yang juga telah menguasai diri dan kini berdiri tegak dihadapan kami.
”Kau tak apa apa!” gusar Ness melirik kearahku.
Aku hanya mengangguk lemah.
”Bawa dia keluar dari sini Titus!” pinta Ness dingin.
Titus nampak kebingungan. Ditatapnya Ness dengan ragu.
”Kubilang bawa dia pergi dari sini. Biar aku yang menghadapi Tristan!” seru Ness kesal.
Dengan cepat Titus merangkulku dan menyeret tubuhku yang masih lemas. Kucoba untuk menahan rasa sakit disekujur tubuh dan berjalan tegar mengikuti langkah langkahnya meski kedua kakiku terasa nyeri.
Sayangnya, sosok laki laki cebol dengan topi bulat berwarna hitam telah berdiri menghalangi langkah kami menuju pintu keluar. Dengan tenang Chaides membenarkan letak topi di kepalanya.
Kutatap wajah Chaides yang tengah tersenyum dengan panik.
”Ahh, para ksatria dari lembah Crystal rupanya...”  sapa Chaides ramah.
Seketika itu juga aku dan Titus menghentikan langkah.
”Sepertinya wajahmu tak asing. Apakah aku mengenalmu?” sepasang mata hijau terang Chaides menatap Titus penasaran.
Titus tersenyum kecut. ”Menyingkirlah atau aku akan menghabisimu,” gusarnya masih dalam posisi menopang tubuhku dengan tangan kirinya.
”Kau tahu, ucapanmu itu benar benar lancang dan sangat mengancam padahal aku telah bersikap sopan padamu...” gumam Chaides geram karena Titus tidak menggubris pertanyaannya.
Kini Chaides mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi.
Kulirik Titus dengan gugup. ”Kita harus berlindung atau ia akan membekukan kita dengan gumpalan airnya yang sangat dingin,” bisikku lemas pada Titus.
Titus menatapku bingung. ”Maksudmu...laki laki cebol itu menguasai sihir air?”
Aku mengangguk lemah. ”Sihirnya sangat hebat,” sahutku tegang berusaha mengingatkannya.
Tapi semua sudah terlambat. Belum sempat Titus menyeret langkah kami untuk mencari perlindungan Chaides telah membisikkan sebuah mantra dan dengan cepat mengayunkan kedua tangannya kearah kami. Seketika itu juga butiran butiran air mengalir keluar dari jemarinya.
Tubuh rapuhku kembali terhempas menghantam meja makan sementara Titus terpelanting jatuh diatas tumpukkan kursi yang beberapa sudah terlihat rusak dan patah akibat terkena serangan serangan Ness yang kini tengah berduel dengan Tristan.
 Dadaku terasa penuh dengan air. Aku tersedak dan terbatuk batuk. Rasa dingin yang luar biasa kurasakan disekujur tubuhku yang memang sudah kesakitan sejak tadi. Persendianku terasa ngilu. Seketika itu juga aku menggigil kedinginan.
Titus nampak tak bergerak. Dengan senyum penuh kemenangan Chaides berjalan menghampiriku seraya berdendang. Setelah jarak kami hanya tinggal beberapa langkah saja, Titus kini berdiri dan meneriakkan mantra balasan kearah Chaides yang nampak sangat terkejut.
Terdengar suara gemuruh yang kencang berbarengan dengan keluarnya kumparan angin dari kedua tangan Titus yang mengarah ke Chaides. Kumparan angin puyuh itu berputar cepat dan menyapu tubuh Chaides hingga menabrak dinding ruangan. Tubuh kecil Chaides jatuh tertelungkup tak bergerak.
Dengan susah payah Titus menghampiri aku yang kini terduduk di lantai ruangan sambil memeluk kedua kakiku dan menggigil kedinginan.
”Kkau bisa berdiri...” gemeletuk Titus dengan wajah tirusnya yang terlihat basah dan sangat pucat.
”Aakkan ...kkkuuccoobaa...” sahutku seraya menggigil menahan kebekuan.
Kembali Titus membantuku berdiri namun sepuluh langkah dari hadapan kami, Chaides juga tengah bersusah payah untuk bangun. Setelah berdiri tegak, sepasang mata hijaunya menatap geram kearah kami.
Aku menelan ludah dan menatap Titus resah. ”Chaides tidak akan menyerah. Itu bukan sifatnya.”
Titus mengernyitkan dahinya yang sempit. ”Tunggu disini, aku segera kembali,” ujarnya tak yakin.
Aku hanya dapat mengangguk lemah.
Titus berjalan tegar beberapa langkah di depanku.
”Menyerahlah dan serahkan anak itu, kawan!” seru Chaides dengan senyum getir.
Wajah tirus Titus terlihat tegang. Ditatapnya Chaides dengan sedih. ”Maaf, tapi aku tidak bisa melakukannya.”
Airmuka Chaides berubah masam. Diayunkan tangan kanannya itu dengan sekuat tenaga kearah Titus berdiri. ”Aquarishh!” teriak Chaides lantang.
Butiran butiran air sekepalan tangan kembali meluncur keluar dari telapak tangannya dan melayang cepat kearah Titus yang nampaknya sudah siap menyambut serangan Chaides.
Titus memutar kedua tangannya dengan cepat seraya merapalkan mantra. Dari kedua tangannya yang berputar terbentuk angin puyuh yang meliuk liuk dan menyambar gumpalan air Chaides, lalu menggelungnya dengan cepat hingga gumpalan besar air dingin itu sekarang berbalik menyerang kearah Chaides, yang langsung menghindar dengan lincah.
Serangan sihir angin Titus pun meleset dan mengenai jendela kayu yang langsung hancur berantakan dan basah terkena cipratan gumpalan air dingin yang pecah dalam gulungan sihir anginnya.
Tak ingin membiarkan musuhnya lolos, Chaides terus melancarkan sihir airnya kearah Titus. Gumpalan air kembali melayang tepat kearah Titus berdiri. Dengan cepat Titus berlari kearahku dan menarik lenganku untuk merunduk agar terhindar dari serangan sihir air Chaides.
Aku terpekik ketakutan dan jatuh tertelungkup disamping Titus.
”Kau baik baik saja, Calista!” teriak Titus cemas seraya meraih tubuhku untuk membangunkanku.
”Yah ya.. kurasa begitu  ... ” sahutku gugup, mencoba untuk bangun dan duduk.
Kupegangi kedua lenganku yang terlihat memar dan terasa sakit luar biasa. Sebuah sentuhan lembut tangan seseorang diatas bahuku, memaksaku untuk membalikkan seluruh tubuhku kehadapannya. Sepasang mata coklat terang keemasan menatapku dengan penuh kecemasan. ”Kita harus segera pergi dari tempat ini,” suara Ness terdengar begitu lembut dan terasa menenangkan dikupingku.
Kubalas tatapannya nanar. ”Dimana Tristan?” tanyaku ragu.
Ness melayangkan pandangan kearah Tristan yang tengah terbaring pingsan tak jauh dari tempat kami.
”Sepertinya ia terluka parah...” desah Ness ragu.
”Tidak.. tidak...” gelengku parau seraya berdiri dan berusaha mendekati tempat dimana Tristan terbaring namun kedua tangan kokoh Ness telah terlebih dulu menahanku.
”Aku ingin melihat keadaannya,” mohonku pada Ness.
Wajah tampan itu menatapku dengan sedikit bingung.
”Bawa dia pergi dari sini, Ness!” seru Titus mengejutkan kami.
Ness mengangguk. Lalu kembali menatapku. Wajah tampannya kembali tenang dan datar tapi tidak dengan Titus yang terlihat tegang ketika menatap Chaides yang tengah bersiap siap melancarkan serangan sihirnya lagi.
”Sihir anginmu tidak buruk, kawan. Selama ini belum pernah ada yang bisa menahan serangan sihir air ku sebelumnya,” senyum Chaides getir.
Titus tak bergeming. Begitu pula dengan Ness. Sementara aku melirik cemas kearah Tristan yang masih terbaring pingsan.
”Ness biarkan aku melihat keadaannya,” bisikku, kembali memohon.
Raut wajah Ness yang tenang terlihat sedikit terganggu dengan rengekkanku. ”Untuk apa?” tanyanya datar.
”Tristan tidak seburuk perkiraanku. Ia banyak membantuku selama ini. Aku harus melihat keadaannya. Tolonglah Ness,” seruku dengan nada tinggi berusaha meyakinkannya.
”Tidak!” tolak Ness tegas seraya berdiri menghalangi langkahku.
Kudorong Ness dengan sekuat tenaga namun sia sia. Dengan cepat Ness memegangi kedua tanganku, meraih tubuh rapuhku dan merengkuhku dalam pelukkannya. Ditatapnya wajahku dengan sepasang mata emasnya yang menawan.
Kuatur napas perlahan untuk menguasai perasaanku. ”Lepaskan aku atau....”
”Atau apa?” air muka Ness terlihat begitu tenang dan datar. Mata emasnya menatapku tak berkedip.
”Kau tahu Ness, sikapmu ini sangat tidak menyenangkan. Dan aku sangat tidak menyukainya, sekarang!” teriakku kesal.
”Ohh benarkah...” sahutnya tak mau kalah.
Kedua mataku berkilat marah menatap wajah tampannya yang masih terlihat tenang seolah tengah mempermainkanku.
”Baiklah. Asal kau tahu saja. Aku takkan pergi dari sini tanpa Tristan,” geramku seraya berusaha melepaskan diri dari pelukkannya.
Ness mendekatkan wajahnya pada wajahku. Aku dapat mencium napasnya yang wangi dan melihat garis wajahnya yang sempurna. Begitu halus dan lembut.
Kurasakan kedua pipiku terasa hangat. Bentuk wajah si pangeran peri ini terlalu sempurna dan sangat menawan. Aku bahkan tak sanggup menolak pesonanya. Ketika tersadar dengan cepat kupalingkan wajahku dari tatapan mata emasnya yang terlihat indah dari jarak sedekat ini. Segaris senyum samar terlukis disudut bibirnya yang indah.
”Sepertinya kau sudah sedikit tenang,” sindir Ness lembut dengan nada suara yang sengaja menggodaku.
Kupingku terasa panas.
”Dan sepertinya kau sangat menyukaiku mengingat betapa eratnya kau memelukku dan tak mau melepaskanku..” sahutku sinis membalas ucapannya.
”Sepertinya begitu..” ucapnya datar.
Keterlaluan. Dalam situasi seperti ini masih saja ia berusaha mempermainkan perasaanku.
”Katakan padaku, Ness. Apakah nama Quilla mengingatkanmu pada sesuatu?” cetusku dengan nada tinggi.
Airmuka Ness berubah untuk sesaat. Namun dengan cepat ia dapat menguasai diri dan kembali mempertahankan raut wajahnya yang tenang.
”Bisa kubayangkan betapa kecewanya putri peri itu jika melihat kekasihnya tengah memelukku seperti ini,” sindirku tajam dengan nada kemenangan seraya mengamati  raut wajahnya.
Sepasang mata emas Ness justru semakin menatapku dalam. ”Kurasa Brisa terlalu banyak bicara,” sesalnya datar tanpa berusaha melepaskan pandangannya dariku.
Wajahku memanas.
Kuberanikan diri untuk terus menatap sepasang matanya dan menyipitkan pandanganku padanya.
Akhirnya Ness mengalah.
Ia mengendurkan pelukannya perlahan. Seketika itu juga aku menghambur kearah Tristan yang tengah terbaring pingsan.
”Calistaa..” lengking Amara memanggilku. Tubuhnya masih terbaring kaku terkena mantra pelumpuh dekat meja makan tempat dimana kami tadi duduk.
Dengan cepat Ness meloncat dan berdiri disampingku, bersikap melindungi. Amara menatap geram kearah Ness.
”Apa yang diinginkan penyihir wanita itu padamu,” selidik Ness seraya melayangkan pandangannya pada Amara.
”Biarkan saja. Dia sudah tak berdaya,” perintahku pada Ness.
”Hatimu benar benar mulia..” gumam Ness mengejekku.
Aku tak memperdulikan ucapannya. ”Maafkan aku Amara, aku tak dapat menolongmu,” sesalku.
Amara hanya tersenyum kecut. ”Selamatkan saja Tristan. Sepertinya ia terluka parah,” ujarnya lirih.
Keadaan Tristan memang parah. Tubuhnya membeku. Aku bahkan dapat melihat darah segar masih tersisa dari bibirnya yang mulai membiru. Kuraih kedua tangannya yang sedingin es. ”Sebenarnya apa yang telah  terjadi padanya,” tanyaku kebingungan. Kulirik Ness dengan ekor mataku.
”Sebelum ia sempat bangun untuk membalas seranganku, sihir temannya itu telah menghantamnya begitu keras hingga ia jadi membeku seperti itu,” ujar Ness datar seraya melayangkan pandangan kearah Chaides.
Kulirik Chaides yang masih berduel dengan Titus. Nampaknya duel mereka seri. Karena baik Titus atau Chaides masih tegak berdiri meski mereka mulai terlihat kelelahan.
”Ini kesempatan kita Calista. Titus tidak dapat bertahan lama. Kita harus segera pergi dari sini..” ingat Ness padaku.
Aku menggeleng lemah. ”Tidak tanpa Tristan,” ujarku keras kepala.
”Rasanya akan sangat sulit membawanya pergi bersama kita dalam keadaan beku seperti itu,” alis mata Ness terangkat satu seraya menatapku kesal.
”Kumohon Ness. Aku harus membawanya ke lembah Crystal bersamaku. Masih ada harapan untuknya,” gusarku.
Ness menatap ragu kesungguhan di wajahku.
”Percayalah padaku. Aku berhutang padanya,” sengauku putus asa.
Sepasang mata emas itu kini nampak resah. Wajah tampannya yang biasa tenang dan datar kini sedikit berkerut. Menunjukkan jika ia tak setuju dengan permintaanku. ”Aku tak ingin kau menyesal akan keinginanmu ini, nanti,” desah Ness mengingatkan.
”Aku tahu itu. Dan aku sendiri yang akan meminta Orion untuk mengampuninya,” serakku putus asa.
Ness memalingkan wajahnya kearah Titus yang berjuang menahan gumpalan gumpalan air Chaides dengan angin puyuh buatannya. Aku dapat merasakan angin yang cukup besar mulai memporak porandakan tempat ini dan membuat seluruh isi ruangan ini bergetar hebat.
Ness berjongkok untuk melindungiku dari angin kencang yang telah bercampur dengan percikan air dingin dan membasahi seluruh wajahku. ”Sepertinya Titus butuh pertolongan. Aku segera kembali,” dengan cepat Ness melompat dan menghilang dari sisiku.
Kembali, kutatap wajah tampan Tristan yang sedikit membiru. Suhu tubuhnya masih sama. Beku sedingin es. Dadaku berdebar cepat. Tiba tiba saja aku merasa takut akan kehilangan sosoknya.
”Calista, gunakan sihir yang kuajarkan padamu,” lengking Amara mengejutkanku.
”Kurasa aku tak sanggup melakukannya,” rengekku seperti seorang pengecut.
Amara menatapku lembut. ”Kau pasti bisa, nak. Hanya itu satu satunya jalan keluar untuk melepaskan diri dari Chaides.”
”Tapi.. sihir Chaides terlalu kuat, Amara. Tempat ini saja sudah mulai hancur dan tergenang air,” parauku kesal sendiri.
”Itulah sebabnya aku menyuruhmu melakukan mantra pemanggil itu. Karena aku juga tak mau mati tenggelam ditempat kotor ini!!” teriak Amara tak kalah kesal.
Kutatap Amara ragu.
”Dengarkan aku dan mulailah berkonsentrasi memikirkan tikus tikus parit yang besar besar,” lengking Amara padaku.
Kutatap Amara dengan jijik. ”Tikus ...” protesku.
Amara malah terkikik geli. ”Chaides benci tikus. Jadi, segera panggil mereka untuk menyerang Chaides supaya kau bisa pergi dengan temen temanmu itu ke lembah Crystal.”
Kutatap Amara dengan haru.
”Selamatkan jiwamu dari Rufus, nak” wajah gemuk tersebut terlihat tulus ketika menatapku.
Kuanggukkan kepalaku tanda persetujuan. ”Baiklah akan aku lakukan. Tapi maafkan aku karena tidak bisa menolongmu saat ini,” sesalku.
”Jangan perdulikan aku. Aku akan hidup. Percayalah,” seringainya memamerkan deretan giginya yang runcing.
Kupejamkan kedua mata dan mulai membayangkan tikus tikus parit yang besar besar. Meski ada rasa jijik namun aku harus melakukannya. Sebuah kursi terlempar tepat disampingku dan mengenai bahu kananku. Aku mengerang kesakitan menahan rasa nyeri yang tak tertahankan, dan memecahkan konsentrasiku.
”Ayo coba lagi. Kau pasti bisa,” lengking Amara membimbingku.
Kuanggukkan kepalaku seraya melirik kearah Titus dan Ness yang mulai kewalahan menghadapi hempasan hempasan air yang membekukan dari Chaides.
Aku kembali berkonsentrasi membayangkan tikus besar yang keluar dari parit parit. Tikus itu nampak mengendus ngendus dan membaui sekelilingnya. Kini binatang itu berlari cepat dan memasuki ruang makan di penginapan ini. Begitu dilihatnya banyak makanan yang jatuh berserakan bercampur dengan genangan air, makhluk itu nampak mencicit senang.
Kubisikkan mantra pemanggil itu sekali lagi dan kini kubayangkan puluhan tikus dari jenis yang sama keluar dari lubang, selokan dan parit untuk berlari ke tempat dimana aku berada. Dengan mantap kubuka kedua mataku dan melihat puluhan tikus berlomba lomba masuk dari pintu ruang makan.
Chaides nampak terkejut dan berteriak marah. Begitupula dengan Titus dan Ness yang sama terkejutnya dengan Chaides. Amara terkikik geli seolah puas melihat reaksi Chaides.
Dengan marah kutatap Chaides. Dan kubisikkan kembali mantra pemanggil dan memerintahkan puluhan tikus tikus besar tadi untuk menyerang Chaides. Seketika itu juga puluhan tikus tikus tadi melompat ke tubuh Chaides dan mencakar cakar wajah dan tubuh laki laki cebol itu.
Chaides nampak kewalahan. Berusaha menghalau serangan tikus tikus tersebut dengan butiran butiran air dinginnya yang membekukan. Beberapa diantaranya langsung mati membeku.
Karena tak ingin memberinya kesempatan kembali kubayangkan puluhan tikus tikus besar untuk datang dan menyerangnya. Puluhan tikus tikus besar kini kembali datang bergabung untuk menyerang Chaides lebih ganas sesuai perintahku.
”Ness!” panggilku kencang seraya menatapnya penuh harap.
Dengan sigap Ness menghampiriku dan memanggul Tristan dibahunya. Sementara Titus hanya menatapku dan Ness bergantiaan.
”Aku sudah siap pergi dari sini,” ujarku pada Titus yang masih terlihat bingung melihat Ness yang tengah memanggul Tristan dibahunya.
Kualihkan pandanganku pada Amara.”Terimakasih untuk semuanya Amara,” ucapku tulus.
”Semoga beruntung nak. Kau memang ditakdirkan untuk menjadi seorang penyihir hebat,” seringainya seolah mengucapkan salam perpisahannya.
Kualihkan pandanganku pada Titus. ”Tolong bebaskan temanku dari mantra pelumpuh mu, Titus.. ” pintaku dengan suara memohon.
”Temanmu?? Tapi ...” Titus menatap ragu kearah Amara yang masih terbaring tak berdaya  dibawah pengaruh sihir pelumpuh.
”Percayalah padaku...lakukan saja permintaanku supaya kita segera pergi dari tempat ini,” desakku tak sabar.
Titus mengalah.
Akhirnya, Amara terbebas dari mantra pelumpuh Titus dan hanya diam terpaku menatap kepergian kami dari tempatnya berdiri.
Dengan cepat aku dan Titus bergerak meninggalkan tempat ini. Menyusul Ness yang telah berjalan terlebih dahulu di depan kami sambil membawa Tristan dibahunya.
Sementara itu Chaides terlihat sibuk menghalau serangan tikus tikus ganas yang tak terkendali itu. Sesekali ia beteriak teriak marah dan memaki puluhan tikus tikus yang menyerangnya itu.
Bahkan saat kami sudah berada diluar dan melihat puluhan pasang mata yang menatap kearah kami dengan penasaran karena keributan yang telah kami buat dirumah penginapan ini, aku masih dapat mendengar lengkingan keras suara tawa Amara yang terdengar puas karena telah berhasil membalas perlakuan Chaides padanya, lewat mantra sihir yang kurapalkan.

Genre : Novel Fantasy Romance
Writer : Misaini Indra